
Berita tentang Yun Chaoyin yang menuntut tahata itu pun sampai ke telinga Yun Aoyin, bahkan dikatakan paduka raja bernat mengirimkan sang pangeran Yun Aoyin dari kerajaan agar masuk hutan pengasingan.
Maka setelah sang Raja mengakhiri persaingan nya, datanglah Yun Aoyin dan Lang Situ Bei menghadap ayahanda dan bersembah "Janganlah ayahanda berkecil hati terhadap peringatan ibunda Chu lei. Seorang raja yang sempurna kebijaksanaannya adalah memegang janjinya, melaksanakan apa yang telah disanggupinya. Yang demikian itu niscaya akan memudahkan kelepasan jiwanya.
Seorang putera sebagai hamba iní berkewajiban memudahkan segala sesuatunya bagi ayahanda raja.
Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, hamba dengan adinda situ akan meninggalkan istana. Hamba akan masuk ke dalam hutan pegunungan untuk menghabiskan waktu dalam persaingan yang membahagiakan."
Sang Raja amat terharu sekali mendengar sembah sang putra tercintanya dan berkata "Yun Aoyin dan Lang Situ menantuku, sehelai rambut dibelah seribu tak ada sekali-kali niatku untuk mempersempit Yun Aoyin puteraku dan mempersulit Lang Situ Bei puteriku. Jauh dari itu. Aku ingin memberikan segala-galanya kepadamu untuk kebahagiaanmu,namun janjiku di masa lalu telah mengikat kebijaksanaanku." "Ayahanda raja," sembah sang pangeran Yun Aoyin, "kesenangan dunia yang digenangi oleh keingkaran janji ayahanda tidak akan membahagiakanhamba.
Hamba berdua telah ikhlas dan bulat hati mengundurkan diri dari alam keramaian yang fana ini. Di asrama persaingan yang hening dan tenang akan lebih mendekatkan hamba dengan sang pencipta untuk mencapai nirwana. Kehidupan nirwana mendatangkan kebahagiaan abadi."
Bersembah demikian, Yun Aoyin dan Lang Situ Bei lalu bersujud di kaki ayah handa raja, kemudian mengundurkan diri dari istana. Mereka berjalan
tiada menoleh, melangkahkan kaki tanpa ragu, diikuti oleh pandangan ayahanda Raja Yun Chen, diringi oleh tetesan air mata raja berderai.
Setelah Yun Aoyin dan lang Situ Bei yang berbudi pergi dari area istana masuklah sang Raja ke persaingan lagi, membenam segala derita batinnyayang tak terhingga.
Sang pangeran keluar dari istana diikuti oleh Lang situ isterinya tercinta. Di pintu gerbang Kepada Perdana Yun Baoyin adiknya, Menteri, sang Jenderal, punggawa, serta prajurit dan hamba kerajaan berkumpul berniat mengikuti Yun Aoyin dan istrinya, Yun Aoyin pun berkata: "Janganlah kalian gelisah apabila saya pergi ke hutan karena dengan ini saya meringankan beban batin ayahanda raja.
Meringankan beban dan memudahkan jalan adalah kewajiban anak kepada ayah yang mengukir dirinya, yang menunjukkan arah utara dan
selatan, dan yang melindunginya terhadap berbagai bahaya. Besar sekalilah perhatian raja kepadaku. Tindakanku menyingkir dari istana masih jauh dari memadai kasih sayang ayahanda raja kepadaku. Maka
dari itu lebih baik aku mati dari pada memberatkan beban batinayahanda raja. Hai kawan-kawanku semua, janganlah kalian bersusah hati. Hormatilah adikku, Yun Chaoyin, sebagai raja pada waktu yang akan datang tanpa ragu. Sebab apakah aku ataukah adikku Yun Bao yang menjadi raja, itu tidak berbeda sama sekali. Hindarkanlah rajamu dari segala macam kesedihan".
Kata-kata sang pangeran Yun Aoyin yang amat mengesankan sebenarnya mengandung maksud, janganlah para pembesar, prajurit dan orang
banyak mengikuti perjalanannya masuk hutan, namun tiada seorang pun yang membatalkan maksudnya mengikuti perjalanan Yun Aoyin dan Lang Situ Bei.
Di waktu senja perjalanan mereka sampai di tepi Danau dalam hutan yang serba rimbun. Setelah menjelang gelap, mereka berhenti dan menginap di dalam hutan yang gelap pekat dan menye
ramkan. Segenap pengiringnya merasakan lelah dirundung susah seolah-olah tak ada harapan baru.
Maka di dalam genangan kesedihan mereka diserang kantuk yang memenatkan, akhirnya tertidurlah
mereka. Ada yang berbaring, ada yang sambil duduk, bahkan ada yang berdiri bersandar pada batang pohon.
Yun Dao menjaga keselamatan mereka dari kemungkinan penyerbuan binatang-binatang buas Dengan membuat garis perlindungan yang mengelilingi rombongan pengikutnya.
Setelah semua pengiringnya tertidur, Yun Dak dengan diam-diam tetapi tergesa-gesa meninggalkan mereka.
Situ Bei dan Yun Baoyin sajalah yang mengikutinya. Yun Aoyin sengaja meninggalkan segenap pengiringnya agar supaya mereka kembali ke ibukota hingga tak terjadi kekosongan di negerinya karena para pembesar kerajaan mengiringi perjalanannya. Mereka
itu masing-masing mempunyai tugas terhadap negeri dan pemerintanan
Yun Aoyin dan Lang Situ bei istrinya masuk hutan yang lebih dalam. Mereka berjalan dalam gelap yang hanya kadang-kadang diterangi oleh kilatan halilintar. Mereka menghilang di dalam hutan bagaikan ditelan oleh kegelapan hutan rimba yang maha besar.
Pagi harinya para pengiringnya terkejut, bahwa Yun Aoyin, Yun Baoyin dan Lang Situ Bei idak ada lagi di tengah-tengah mereka.
Tidak seorang pun yang melihat mereka pergi menghilang tanpa meninggalkan bekas, Seluruh pembesar bersedih hati. Terdengarlah ratap tangis yang amat mengharukan. Sia-sialah mereka akan mencari sang Pahlawan mereka, karena
hutan yang besar dan rimba yang luas rimbun penuh tumbuh-tumbuhan dan siluman yang menghalangi usaha menemukan sang pangeran yang dengan sengaja meninggalkan pengiringnya agar tidak menambah kesusahan dalam negerinya.
Para pengiringnya lalu kembali ke kerajaan angin dengan kesusahannya yang makin mendalam, karena pikiran mereka tidak lepas dari sang Pahlawan mereka yang peri meninggalkan mereka. Yun Aoyin,adiknya dan istrinya telah membebaskan diri dari keramaian dunia, menempuh jalan bersatu dengan alam, dalam suka dan duka.