LAGENDA A

LAGENDA A
kembali



Kedatangan kembali Pangeran Yun Aoyin dengan putri Lang Situ Bei yang disertai ayahanda raja Yun chen disambut oleh seluruh hamba kerajaan dan seluruh rakyat dengan riang gembira, bagaikan Dewa dan Dewi yang turun dari surga dan memberi kebahagiaan kepada dunia.


Raja Yun chen memerintahkan bawahannya untuk mempersiapkan pesta perkawinan putranya selama tujuh hari tujuh malam.


Seluruh negeri memuji kesaktian pangeran Yun Aoyin yang juga di rumorkan sebagai reinkarnasi dewa. Setiap orang Senang memandang pasangan sepadan Pangeran Yun Aoyin dan putri Lang Situ bei.


Kecantikan lang Situ bei mengalahkan para perempuan di benua barat,Sinar wajahnya menyamai cahaya bulan purnama, berimbang dan sepadan dengan Yun Aoyin yang tampan serta gagah perkasa.


Sepasang pengantin bagaikan Rama dan Shinta


dari cerita Mahabarata Sesungguhnya lah, putri Lang penjelmaan Dewi Sinta dan pangeran Yun penjelmaan Rama. Dua-duanya diturunkan ke bumi untuk melindungi dunia dan memberi ajaran kebajikan kepada manusia.


Nama Sang Yun Aoyin terpuji di benua barat dan di berbagai benua. Ia disanjung dari kalangan rakyat sampai bangsawan sebagai pahlawan muda, penjaga kerajaan angin serta pelindung kaum lemah dan pembasmi kejahatan. Ayahanda raja amat sayang sekaligus bangga akan putranya.


Putra Raja Yun Chen berjumlah tiga orang. Yang Pertama bernama Yun Aoyin, yang kedua Yun Baoyin, yang didapatnya dari permaisurinya yang sudah meninggal dan yang ke Tiga bernama Yun Caoyin yang lahir dari istri kedua atau permaisurinya saat ini


Kegembiraan Raja Yun Chen meluap, sehingga keluarlah dekrit, bahwa Yun Aoyin puteranya itulah yang akan dijunjung menjadi penggantinya memimpin kerajaan angin. Seluruh negeri bagaikan bersorak sorai menyambut dekrit baginda raja dan menantikan hari penobatan sang pangeran Yun Aoyin dengan tak sabar lagi.


Mendengar berita akan rencana penobatan Yun Aoyin, Chu Lei permaisuri raja Yun chen menjadi amat gelisah. Seketika ia iri kepada Yun Aoyin meskipun pangeran Yun Aoyin ini selalu hormat dan sopan terhadap ibu tiri nya. Chu Lei tidak senang apabila Yun Aoyin yang akan menduduki singgasana kerajaan angin, karena ia


ingin sekali puteranya sendiri lah, Yun Chaoyin, yang memegang tampuk kekuasaan negeri angin.


maafkanlah adinda yang picik ini memberanikan diri mengingatkan kakanda Raja kepada janji yang telah paduka sanggupi. Pada waktu kakanda raja melamar hamba, hamba menyatakan kesediaan menjadi istri ke paduka raja dengan suatu janji, bahwa putra yang akan baginda dapat dari hamba akan menggantikan Baginda raja menduduki singgasana kerajaan angin ini. Janji itu telah kakanda sanggupi.


Sekarang, bukanlah adinda semata-mata menuntut takhta untuk pangeran ke dua, namun takutlah saya


akan dosa dan kutuk Dewa-dewa kepada Baginda raja bila mengingkari janji, bagaikan menjilat ludah yang telah tertumpah. Saya tidak ingin melihat Baginda raja bergelimang dosa dan terkutuk oleh Dewa-dewa, sehingga tak akan mencapai nirwana."


Terperanjatlah Raja Yun chen. Matanya membelalak memandang tajam permaisurinya. Mukanya merah, tangannya gemetar karena menahan marah, namun dalam hatinya ia membenarkan ucap permaisurinya dan menyalahkan diri sendiri.


"Adinda hanya mengingatkan Baginda Raja kepada jalan yang lurus," sembah sang permaisuri dengan tegas, "jalan yang sebaiknya ditempuh oleh raja ialah sebaiknya mengirim Yun Aoyin dan istrinya ke dalam hutan, untuk persaingan, hingga tak menghalangi penobatan Yun Chaoyin dan jalannya pemerintahan."


Sang Prabu tampak kehilangan daya dan gaya, namun ingat kedudukannya sebagai raja, maka setelah kembali tenang hatinya, ia berdiri dari tempat duduknya seraya berkata pada Chu lei "Janji raja akan ditepati." Sang Raja berjalan laju menuju ke ruang pertapaan untuk menenangkan dan menenteramkan pikiran dan hati agar dapat menetapkan kebijaksanaan yang setepat-tepatnya.


Seluruh istana telah mengetahui bahwa sang Raja dirundung ke sedihan dan kebingungan karena soal takhta kerajaan yang dirindukan oleh Yun Chaoyin.


Demikianlah diberitakan orang sampai di luar istana, bahwa Yun Chaoyin menuntut menjadi pengganti sang Raja.


Padahal Yun Chaoyin waktu itu tidak di dalam istana kerajaan, karena sedang dalam persaingan mengasah kesaktian dan menambah pengetahuan bersama kakeknya.