King Of The Crown Island

King Of The Crown Island
Episode 45 - Pohon Persembunyian XGuard



Kousei membaca sebuah surat dari K yang dikirim oleh utusannya.


Saat melihat surat tersebut, raut wajah Kousei seketika berubah.


Dia mengerutkan dahinya dengan diiringi helaan nafas yang berat, telapak tangannya dikepalkan dan dia terlihat sangat marah.


Nampaknya, rasa dendam dihatinya masih belum dia lupakan. Namun dirinya berusaha menahan diri, dan menunggu untuk membalasnya di waktu yang tepat.


Kemudian Kousei memanggil salah satu penjagaannya yang berada diluar ruangan.


"Bawalah surat ini dan tunjukan kepada Ken, biarkan dia yang memutuskannya!"


"Baik, Master!"


Para Hunter Penjaga pun kemudian berlarian pergi ke tempat Ken dan Kai berada, yang saat itu mereka sedang melatih para anggotanya.


"Bagaimana ini?" Tanya Rigen.


"Biarkan saja, selama Divisi Tempur tidak dikumpulkan, itu berarti bukan suatu masalah yang besar.


"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita berangkat!" Seru Rigen.


"Yosha...." Teriak Tsuhira.


"Ikut aku! Kita akan pergi dengan kereta kudaku."


"Mantap!"


**


Kala itu, tiga Hunter dari Divisi Bayangan mencoba mengikuti seseorang yang terlihat sangat mencurigakan. Dan mereka mengikutinya dari tempat yang berbeda.


Hingga kemudian orang-orang yang dicurigai itu pun berhenti di satu tempat yang sama, dan tempat itu terletak jauh di dalam Hutan Terlarang.


Akan tetapi mereka ini tidak datang ke tempat tersebut dengan waktu yang bersamaan.


Sesampainya mereka di sana, mereka selalu meletakan telapak tangannya di salah satu pohon besar yang terdapat di tempat tersebut.


Setiap kali telapak tangan mereka menyentuh pohon tersebut, mereka pun seolah seperti terhisap kedalamnya dan seketika menghilang dengan cepat.


Kemudian seorang Hunter dari Divisi Bayangan yang bernama Erick muncul. Dia berjalan mendekati pohon tersebut dan mencoba melakukan hal yang sama.


Namun sebelum tangannya menyentuh pohon tersebut, tiba-tiba saja seseorang datang dan dengan cepat menjauhkannya dari pohon tersebut.


Orang itu memegangi Erick dengan kencang, dan kemudian dia melompat kesebuah pohon yang tinggi untuk membawanya bersembunyi.


"Senior, Ron...."


"Ssssttt...," Rondo menutup mulut Erick. "Pelankan suaramu." Bisik Rondo, dan Erick pun menganggukan kepalanya.


"Senior, apa yang terjadi?"


"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu mengikutinya sampai kepohon itu?"


"Entahlah aku juga tidak mengerti. Aku mendengar suara-suara aneh yang agak samar, dan tiba-tiba saja tubuhku seperti seolah bergerak dengan sendirinya."


"Hmm... Ternyata dia merasakannya juga."


Saat itu ketika pertama kali Rondo sampai di tempat tersebut, dia sempat merasakan hal yang sama seperti yang baru saja dialami oleh Erick.


Namun beruntung saat itu Rondo masih bisa mengendalikan pikirannya, sehingga dia pun terlepas dari efek sihir negatif tersebut.


"Senior...? Apa yang Anda lakukan disini?"


"Dengar, Aku sudah berada disini sebelum kamu datang. Aku mengikuti seseorang dengan ciri-ciri yang sama masuk kedalam pohon itu."


"Jadi, apa mereka kelompok yang dimaksud itu?"


"Jika dilihat dari ciri-cirinya, sepertinya begitu."


Saat itu Rondo dan Erick sedang bersembunyi di atas pohon yang besar dan rindang.


Di tempat persembunyiannya itu, tiba-tiba saja mereka merasakan suatu energi sihir muncul dari arah belakang mereka.


Dengan refleknya, Erick pun mencoba berteriak untuk memberi tanda kepada Rondo yang saat itu berada di sebelahnya.


Namun sebelum itu terjadi, seseorang yang tiba-tiba ada dibelakangnya itu langsung membungkam mulutnya.


Akan tetapi, di leher orang tersebut malah sudah terbentang pedang panjang milik Rondo yang siap menebasnya.


"Rondo, itukah namamu? Untuk seseorang dengan Class Warrior, pergerakanmu itu cukup cepat."


"Omong kosong! Cepat lepaskan tanganmu darinya!" Rondo mengerutkan dahinya.


Pujiannya itu lantas tidak membuat Rondo besar kepala, dan dirinya malah menyadari hal yang sebaliknya.


Dan jika saja tangannya itu adalah sebuah pedang, maka nyawa Erick pasti akan melayang terlebih dahulu.


"Sssttt... Tenanglah," Riotan menunjukan Lencana nya yang ternyata dia juga adalah salah satu anggota dari Divisi Bayangan.


Erick dan Rondo merupakan salah satu anggota Divisi Bayangan dari Aliansi Mawar Merah. Sedangkan Riotan berasal dari Aliansi Bulan Sabit.


Kemudian Riotan melepaskan tangangya, dan Rondo pun menurunkan senjatanya.


"Apa yang kau lakukan tadi itu bodoh sekali. Aku heran, kenapa bisa orang sepertimu masuk kedalam Divisi ini."


Mendengar hal itu, Erick pun hanya terdiam sambil tertunduk.


"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kita dilarang berada di satu tempat yang sama?!" Tanya Rondo.


"Aku sudah berada disini sebelum kalian datang."


"Aku ingat sekarang, Kau adalah Riotan, Aku pernah menyapamu di markas. Orang pemalu sepertimu tidak pantas mengucapkan kata-kata kasar seperti itu." Ucap Rondo.


Riotan menutup mulutnya sambil tertawa pelan.


"Ssssttt... Lihat itu!" Ucap Erick.


Terlihat seseorang dengan logo X dibahunya datang dan mendekati pohon yang sama.


Namun kali ini dia ditemani oleh satu orang wanita dengan tangannya yang terikat, yang ternyata wanita tersebut adalah seorang tawanan.


"Wanita yang bersamanya itu, lihatlah... Tanganya terikat!" Ucap Erick.


"Tidak salah lagi, mereka adalah target kita!"


"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?"


"Tunggu saja dan tetap awasi. Aku sudah memberikan pesan kepada Ketua K sebelum kalian datang, mungkin tidak lama lagi Divisi Penghancur akan datang." Jawab Riotan.


"Baguslah, kalau begitu sekarang kita cukup awasi mereka saja."


**


Dengan waktu yang singkat, surat itu pun akhirnya sampai ke tangan Ken yang saat itu sedang melatih pasukan Divisi Penghancur.


Setelah selesai membaca surat tersebut, Ken pun bergegas memanggil Kai dan Arcus yang saat itu sedang melatih regu yang berbeda.


Ken menjelaskan isi surat tersebut dan kemudian merundingkannya dengan mereka.


Meskipun saat itu adalah bukan waktu yang tepat untuk berunding, namun mereka harus tetap melakukannya agar langkah dan tindakannya tepat dan benar.


Setelah berunding dengan waktu yang sangat singkat, akhirnya keputusan pun diambil dan disepakati.


Arcus memanggil salah satu Regu Penghancur dan kemudian menjelaskan situasinya kepada mereka.


Regu Harimau. Regu ini berisikan lima orang Hunter yang berasal dari tiga aliansi yang berbeda.


Regu ini dipimpin oleh Shiro Hunter Rank S Peringkat #5 Guild Gagak Hitam (Class Mage), dan para anggotanya adalah :


Maki Hunter Rank S Peringkat #10 Guild Gagak Hitam (Class Priest).


Rigrid Hunter Rank S Peringkat #9 Guild Bulan Sabit (Class Warrior).


Arian Hunter Rank S Peringkat #7 Guild Mawar Merah (Class Guardian).


Venus Hunter Rank S Peringkat #10 Guild Bulan Sabit (Class Ninja).


Dengan sangat bersemangat dan tanpa keraguan, mereka pun berangkat untuk melaksanakan tugas pertamanya.


"Shiro! Berhati-Hatilah." Teriak Nobu.


Menjawab hal itu, Shiro hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Teriakan Nobu itu ternyata memancing para Hunter lain untuk memberikan semangat dan dukungannya.


"Semangat ya! Kalian pasti bisa!"


"Kembalilah dengan selamat!"


"Hajar mereka! Jangan beri ampun!"


"Yosh, Kami pergi!" Teriak Arian.


Bersambung.


See u in next ch.