
"Kamu sama siapa Re?"
Karna pertanyaan yang terlontar dari mulut Nathan membuat Revan berdiri dan menundukkan kepalanya kepada Nathan.
"Saya Revan, kakak kelas Renata kebetulan tadi ketemu dia di toko buku daripada dia nungguin kakak sendiri jadi saya ajak kesini."
Revan menjelaskan dengan tenang dan semoga saja Nathan bisa menerima penjelasan dari Revan karna selama ini jika Renata ketauan pergi dengan teman lelakinya maka dia yang akan menjelaskan dan Nathan tak suka itu.
"Saya kakak Renata. Makasih udah nemenin adek saya ini."
Nathan mengulurkan tangannya dan disambut oleh Revan. Pemandangan di depan Renata ini membuatnya heran karena memang Nathan tak pernah bertindak seperti ini apalagi sekarang Nathan ikut memesan minuman dan duduk di dekat Renata.
Nathan memesan sebuah hot latte dan sekarang bahkan Revan dan Nathan berbincang seperti sudah lama kenal. Awalnya memang Revan yang ditanya banyak hal oleh Nathan sampai sekarang Revan gantian bertanya kepada Nathan.
Renata malah yang seperti menemani Nathan yang sedang bertemu dengan temannya karna daritadi Renata tak diajak berbicara sama sekali dan sekarang minumannya telah habis.
"Kak ayo pulang."
Waktu Renata berbicara begitu dan pandangan kedua lelaki itu langsung menghadap pada Renata yang menampilkan wajah bosannya.
"Haduh kakak hampir lupa kalau lagi sama kamu."
Renata mencebik dan memutar bola matanya, ya emang gini kalau Nathan udah ketemu sama orang yang klop diajak bicara, dia bisa melupakan sekitar.
"Kamu gak mau pesen lagi?"
"Enggak, aku mau pulang pengen buka novel tadi."
Nathan hanya mengangguk dan Revan yang baru saja memperhatikan tingkah lain dari adik kelasnya itu. Renata tampak lebih manja kepada Nathan dan sifat itu diterima dengan senang hati oleh Nathan.
"Maaf ya Revan lain kali kita ngobrol lagi, princess kakak udah ngajak pulang."
"Kakak!"
Renata merasa malu karna kakaknya itu mulai memanggil Renata dengan panggilan itu sementara Revan terkekeh melihat interaksi didepannya.
"Iya kak."
"Duluan ya Revan."
"Duluan Kak Rev."
Revan mengangguk dan menggumamkan kata hati-hati, sementara kakak beradik itu pulang, Revan masih berada di cafe itu lebih lama agak enggan untuk pulang kerumah karna pasti rumahnya sangat sepi walau ini weekend sekalipun.
Sebenarnya Revan cukup senang bisa mengenal Nathan karna ya dia jadi mempunyai teman mengobrol yang enak, memang sahabatnya juga bisa diajak bicara tapi kan kadang otaknya Joseph gak bener.
Dia anak tunggal dan orang tuanya tak pernah berada dirumah, mungkin hanya akan ada dirumah saat mereka membutuhkan tempat untuk tidur saja.
Bundanya yang merupakan wanita karir lebih banyak berada diluar rumah dan sama hal nya dengan Ayahnya yang mempunyai sebuah perusahaan ternama. Sejak kecil Revan hanya mengenal sosok Bu Nina sebagai pengasuhnya hingga saat ini.
Hanya ada kasih sayang dari Bu Nina, seseorang yang menemani perkembangannya, mengajari dia berdiri dan berjalan, menemani dia mengerjakan tugas dan tak lupa selalu menyiapkan makanan untuknya.
"Mungkin akan menyenangkan jika memiliki keluarga yang bisa diajak berbagi."
Revan kembali meminum ice americano nya hingga habis dan memutuskan kembali kerumah. Mungkin malam ini dia akan memanggil Joseph agar bisa kerumah dan menemani nya bermain playstation dirumahnya.
-----
Di rumah saat ini orang tua Renata sudah kembali dari kencan dan sekarang mereka tengah makan malam bersama secara lengkap.
"Tadi kemana Ma?"
"Biasalah muter-muter gak jelas sama Papa. Kamu dari tadi juga dirumah?"
"Enggak tadi aku sama Kak Nathan ke mall."
Kebiasaan keluarga Renata jika makan malam akan menjadi acara saling bertukar cerita bagiamana kegiatannya hari ini karna lebih enak menikmati makan dengan bertukar cerita seperti ini.
"Dan Mama tau gak tadi Nathan ketemu sama gebetan Renata."
Mulai deh Nathan kembali menggoda Renata, tadi saja perjalanan dari mall sampai pulang Nathan tak henti-hentinya bertanya siapa Revan sebenarnya kepada Renata.
Papa hanya menggelengkan kepala melihat anak-anaknya yang sudah mulai berdebat, Papanya memang menjaga Renata tapi masih lebih ketat Nathan jadi tadi Renata sempat takut dengan Nathan.
"Oh apa yang anter kamu pulang waktu itu dek?"
Haduh ini kenapa juga Mama mengingat bahwa Renata pernah diantar pulang oleh Revan, bisa makin panjang urusannya kalau begini dan lihat saja wajah Nathan sudah sangat menyebalkan.
"Oh jadi udah pernah dianterin juga, masa cuma jadi kakak kelas aja gak lebih."
Renata memilih diam daripada menjawab dan semakin dipojokkan oleh Kakak dan Mamanya yang keliatannya sedang bekerja sama ini.
"Orang adek juga gak punya nomernya cuma kebetulan aja."
"Wah parah nih si adek masa sama gebetan sendiri gak punya kontaknya."
"Kan aku bilang bukan gebetan Kak Nathan."
Renata memakan dengan sedikit tergesa-gesa dan bibir yang cemberut membuat keluarganya malah tertawa karna ekspresi kesal seorang Renata. Pastinya Nathan sangat puas sekarang.
Selesai semua makan malam Renata membantu Mamanya membersihkan meja makan dan beberapa piring kotor sedangkan Nathan sudah berada diruang keluarga bersama dengan Papanya.
"Lain kali suruh mampir kerumah dong dek, Mama kan juga pengen ketemu."
"Aish, kan udah adek bilang kalau Kak Revan cuma kakak kelas adek kenapa malah suruh main main segala sih."
Renata membawa dua toples makanan ringan ke arah ruang keluarga meninggalkan Mamanya yang masih tertawa karna anaknya itu. Mama juga membawa empat gelas minuman dan dibawa ke ruang keluarga.
Malam minggu seperti ini karna kedua anaknya belum punya kekasih jadi dihabiskan untuk keluarga seperti menonton film bersama atau sekedar memainkan game lebih tepatnya Mama melihat anak beserta suaminya yang sedang asik bertanding dengan game.
Malam minggu kali ini mereka memutuskan untuk menonton film terbaru jadi Renata dan Mama membawa hidangan untuk menemani mereka menonton film.
Lampu sudah dimatikan dan semuanya sudah siap di posisi. Malam minggu kali ini sudah di mulai dengan berjalannya film pertama ini.
-----
Dirumah Revan sekarang sedang sepi seperti malam sebelumnya, Ayah dan Bundanya tak ada dirumah karna katanya sedang berada diluar negeri mengurus pekerjaan mereka.
Revan hanya bisa mengangguk saat kedua orang tuanya berpamitan padanya tadi sewaktu dia baru saja sampai rumah saat pulang dari cafe.
Ayahnya pergi ke Jepang karna ada klien dari sana yang tak bisa untuk ke sini dan mengharuskan Ayahnya yang menemuinya kesana, sedangkan Mamanya sedang melakukan perjalanan ke London karna ada pekerjaan juga disana.
"Lo dimana?"
"Gue lagi keluar nih mau keluar sama gebetan. Kenapa?"
"Yaudah lanjut, gue kirain lo dirumah."
"Ini malam minggu bro, yakali gue dirumah."
Joseph memang seorang yang sangat banyak diminati oleh perempuan sekolahnya, semacam most wanted gitu walaupun kelakuannya kadang gak jelas.
"Yaudah lanjutin."
Tanpa menunggu jawaban dari Joseph, Revan langsung mematikan panggilannya. Dia juga sekarang memilih berganti pakaian dan mengambil kunci montornya. Mungkin berkeliling kota bukanlah hal buruk.
"Mau kemana kak?"
Bu Nina memanggil Revan yang akan keluar dari rumah menuju garasi. Bu Nina memang memanggil Revan dengan sebutan 'Kak' dari kecil sampai rasanya jika tak dipanggil begitu akan ada yang kurang.
"Mau pergi sebentar bu cari angin."
"Jangan pulang malem-malem ya kak, belum makan malam."
Revan mengangguk kemudian memilih langsung pergi mengendarai montornya. Perhatian itu yang selalu menemani hidup Revan hingga sebesar ini bahkan Bundanya tak pernah melakukan itu pada Revan.
Malam ini Revan akhirnya menggunakan montornya berkeliling kota dengan arah yang tak jelas. Susah jadi Revan yang tak mempunyai banyak teman karna memang sifat nya yang dingin membuat orang lain agak segan untuk mendekat ke arahnya, untungnya masih ada Joseph.
Seperti malam minggu yang lain, Revan kembali menghabiskan malam minggu seorang diri tanpa ada yang menemani entah itu teman bahkan mungkin kekasih.
-----