Ketos Galak

Ketos Galak
Weekend



Hari ini Sabtu dan pastinya libur, dari SMP memang Renata sudah masuk di sekolah internasional jadi sudah terbiasa bahwa setiap Sabtu maka akan libur. Dan di hari libur ini Renata entah mau kemana.


Dia juga tak memiliki janji dengan Safira, kebetulan juga hari ini sahabatnya itu berada di rumah Neneknya bersama seluruh keluarganya.


Setiap weekend memang Nathan ada dirumah tapi ya selalu tidur sepanjang waktu, bahkan ini sudah jam 11 siang dan Nathan belum juga bangun sedangkan Mama dan Papa sudah tidak ada dirumah sejak pagi.


Kebiasaan orang tua Renata adalah weekend digunakan untuk berkencan padahal sudah tak muda lagi tapi kegiatan itu tak pernah lupa dilakukan, bahkan Papanya tak pernah memiliki kerjaan di weekend karena rutinitas ini.


"Kak Nathan, bangun dong."


Renata masih mencoba membangunkan Nathan untuk diajak ke mall mungkin sekedar mencari angin dan jalan-jalan. Renata sudah sangat bosan dan jika keluar sendiri tak akan mungkin.


Karena Nathan yang selalu dirumah saat weekend dan Papa yang libur kerja maka sopir juga akan diliburkan kecuali Renata sudah membuat janji pada Pak Danang maka sopir itu akan tetap hadir.


"Kak Nathan ayolah bangun, ini udah siang banget kak."


Renata masih saja menarik Nathan mencoba membangunkan kakaknya ini yang memang sangat sulit untuk dibangunkan, tapi Renata juga tak mau mati kebosanan dirumah ini.


"Kakak bangun cepetan, adek bosen kakak."


Bahkan sekarang Renata sudah lompat-lompat di atas kasur Nathan tapi kakaknya itu tetap tak bergeming padahal Renata tau bahwa sebenarnya kakaknya ini bisa merasakan bahkan mendengar rengekan Renata.


"Yaudah kalau kakak gak bangun, Renata bawa sendiri mobilnya."


Menyebalkan sekali sudah ditantang begitu kakaknya ini belum juga bangun, akhirnya dia mengambil satu kunci di kamar Nathan dan menggoyangkannya di dekat telinga Nathan.


"Aku berangkat kak, selamat tinggal kepada mobil kesayangan kakak."


Renata berlari keluar kamar Nathan dan lelaki yang baru bangun itu langsung membelalakan matanya kemudian tersadar sepenuh nya dan mengejar adiknya itu.


"Tunggu kakak princess jangan berangkat, kakak mandi sebentar."


Nathan memilih untuk berteriak dan segera masuk ke kamar mandi karna kalau tidak akan sangat bahaya untuk mobil kesayangannya dan nyawanya. Iya, jika Papa tau Renata akan naik mobil sendiri maka nyawanya terancam.


"Cepetan kak, Renata gak mau nunggu lama."


Di ruang tamu depan Renata sudah tertawa dengan senangnya, memang jika berurusan dengan kendaraan maka kakaknya itu akan segera cepat, apalagi mendengar dia yang akan mengendarai sendiri.


Renata kadang bingung kenapa sampai dia sebesar ini masih saja belum diperbolehkan mengendarai mobil sendiri. Belum punya SIM, ya alasan itu bisa diterima tapi kakaknya dulu bahkan kelas 2 SMP sudah diberikan mobil.


Renata tak menunggu lama karna memang Nathan tak pernah mandi lama, apalagi tentang pakaian Nathan tak terlalu pemilih jadinya tak perlu menunggu lama jika mengajak pergi Nathan.


"Mana kuncinya?"


"Padahal nih kalau udah bangun terus mandi kakak jadi ganteng gini."


Renata menyerahkan kunci sambil menggoda kakaknya yang dibalasan dengan dengusan membuat Renata tertawa. Sebenarnya Renata juga heran apa yang membuat kakaknya ini masih melajang padahal umur sudah tak muda dan parasnya juga menawan.


"Tumbenan kamu gak pergi sama Safira, kemana itu anak?"


"Dia kerumah neneknya, jadi gak bisa keluar bareng aku."


Mereka sudah dimobil sekarang sedang menuju ke restoran terlebih dahulu karna sudah lumayan siang dan perut Nathan perlu diisi. Nathan berhenti di salah satu restoran langganan keluarganya.


Renata dan Nathan langsung masuk dan memilih tempat duduk kemudian memesan makanan. Mereka makan siang dengan diselingi berbagai obrolan, mulai dari kegiatan sekolah Renata seminggu ini dan kegiatan kantor Nathan.


Renata cukup tertarik dengan bisnis tapi cita-citanya ingin menjadi seorang perancang busana. Sudah mulai sejak SD dia suka menggambar berbagai busana, untungnya Papa dan Mamanya mendukung kemauannya.


"Langsung ke mall?"


"Yupp, aku pengen cari buku sketsa baru, yang dirumah udah penuh semua."


Nathan mengangguk dan melajukan kembali mobilnya menuju kearah mall. Selama perjalanan ke mall, Nathan fokus dengan jalanan dan Renata menyanyikan lagu yang terputar di radio mobil Nathan.


Sesampai nya di mall, Nathan langsung mengambil karcis parkir dan memakirkan mobilnya. Sebelum turun dari mobil dia juga mengantongi ponselnya.


Nathan jika kemana-mana tak pernah membawa dompet atau apapun sejenisnya karna dibalik case ponselnya sudah terdapat black card yang bisa untuk membeli apa saja.


"Kita pisah aja ya, kakak mau cari sepatu nih."


Ya begini kalau pergi dengan Nathan maka dia akan pergi sendiri ketempat yang akan ditujunya karna katanya mengikuti perempuan dimall akan sangat melelahkan padahal kan Renata hanya akan membeli buku sketsa, ya tapi gak tau sih kalau nanti ada yang sedikit menarik mata.


Akhirnya Renata dan Nathan berpencar di dalam mall, Nathan sudah tiba disalah satu toko sepatu dengan merk ternama berniat membeli sepatu untuk kerja. Sudah lama sekali Nathan tak mengganti sepatunya.


Renata juga telah sampai di tempat berbagai buku dan sekarang Renata sudah membawa buku yang dia cari tapi masih berkeliling mencari beberapa novel yang mungkin dia inginkan untuk menemani waktu bersantainya.


Dia gemar membaca novel dan beberapa buku tentang mitologi Yunani, bahkan di rumahnya sudah ada seri lengkap Percy Jackson yaitu buku milik Rick Riordan yang terpampang rapi dikamarnya. Tapi Renata tak bisa membaca atau memahami beberapa buku yang penuh dengan kata puitis.


Renata membutuhkan waktu selama kurang lebih satu jam lamanya untuk memilih beberapa novel dan sekarang dikeranjang belanjaannya sudah ada 5 novel dan 2 buku sketsa. Dia segera menuju ke kasir untuk membayar semua barangnya.


Sambil menunggu antrian, Renata tampak memainkan ponselnya dan tak sadar bahwa antrian didepannya sudah menghilang sampai ditegur oleh orang belakangnya.


"Mbak bisa maju? Depannya udah kosong."


Renata langsung melihat depan dan segera maju kemudian menoleh ke belakang membuatnya cukup terkejut karna ternyata dibelakangnya itu adalah Revan. Kenapa dunia sempit sekali?


"Loh Kak Revan?"


"Kalau belanja yang fokus biar gak bikin yang lain nunggu."


Oke ternyata kata-kata Revan cukup pedas untuk seorang Renata dan dengan sadar diri Renata langsung menunudukkan kepala dan menggumamkan kata maaf, tau gitu kan gak usah disapa tadi.


Padahal waktu itu baik loh Revan sama Renata, udah gak galak juga mana kemarin juga minta tolong sama Renata. Apa mungkin sekarang lagi badmood makanya berubah jadi harimau gini.


Setelah menyelesaikan transaksinya, Renata langsung keluar jalur antrian dan Revan maju untuk membayar beberapa buku yang dia perlukan untuk sekolahnya.


"Duluan kak."


Tanpa menunggu jawaban dari Revan, Renata langsung pergi kan takutnya karna Revan badmood Renatanya pamitan malah disemprot lagi sama Revan.


Sekarang Renata bingung mau kemana karna Nathan sekarang juga tak tau sedang dimana apalagi Renata sudah mengirimi pesan kepada kakaknya itu tapi sama sekali belum mendapat balasan.


"Belum pulang?"


Suara Revan lagi-lagi mengejutkan Renata. Tapi kalau dipikir-pikir memang Revan ini sering sekali muncul secara tiba-tiba dan Renata jadi merinding memikirkannya.


"Eh iya kak, masih nunggu kakak tapi gak tau sekarang dimana?"


"Mau ikut gue ke cafe depan?"


Renata tampak menimbang apakah sebaiknya ikut Revan apa diam saja di sini seperti anak orang yang kehilangan ibunya, ya memang sih Renata juga anak orang tapi kan gak kehilangan ibunya.


Jadi Renata memutuskan mengangguk dan mengikuti Revan yang sekarang berjalan didepannya. Dia juga mengirimkan pesan kepada Nathan agar kakaknya itu bisa langsung tau dimana keberadaannya.


Cafe nya terletak di depan mall dan bernuansa sangat aesthetic, sangat pas jika untuk anak remaja yang biasanya kumpul dengan teman sekaligus update instastory dan wa story.


Renata memesan smootie strawberry dan Revan lebih memilih ice americano yang Renata tau rasanya sangat pahit. Mereka diam cukup lama karna memang kan tidak dekat apalagi tadi Revan agak galak.


"Kakak lo masih lama?"


"Enggak tau kak, aku chat juga belum dibales."


Revan mengangguk kemudian tampak menikmati ice kopinya dan memainkan ponselnya entah apa yang dilakukan Revan karna sekarang Renata juga tengah memainkan ponselnya.


Tak berapa lama setelah keheningan terjadilah sedikit keributan karna kedatangan Nathan dan Renata yang tadi tak bilang bahwa di ke cafe depan bersama dengan Revan yang berjenis kelamin lelaki ini. Perlu diingat kembali bahwa Nathan cukup protektif dengan adiknya.


"Kamu sama siapa Re?"


Kalau sudah memanggil dengan nama tanpa embel-embel princess berarti bisa dipastikan bahwa sekarang Nathan tengah menahan amarahnya dan Renata cukup ngeri dengan hal ini.


-----