Ketos Galak

Ketos Galak
Hari Kedua



Hari ini Revan berangkat lumayan siang karna memang jadwal untuk MOS hari ini tidak padat seperti kemarin. Hari ini hanya ada pembahasan beberapa peraturan dan penjelasan dari guru konseling.


Para OSIS hanya akan mengawasi jalannya acara dan tetap membuat semua nya berjalan dengan lancar. Karna ini SHS Internasional jadi sudah tidak ada MOS yang seperti militer militer.


"Besok gimana? Udah siap semua?"


Revan selaku ketua osis ingin semua nya berjalan dengan lancar. Dan besok adalah waktunya untuk semua ekstrakulikuler yang ada di sekolah menunjukkan promosinya. Sekaligus besok perwakilan kelas akan menampilkan pertunjukkan.


"Udah siap kok, nanti siang juga panggungnya bakal dipasang."


Anita adalah ketua acara untuk besok jadi semuanya diserahkan kepadanya. Setiap hari nya akan ada ketua acara agar semuanya bisa berjalan dengan lancar tapi tetap saja yang paling bertanggung jawab adalah Revan.


"Santai aja Rev, semuanya udah laksanain tugasnya masing-masing."


Joseph itu temen deket Revan, udah kenal Revan sejak bayi karna Bunda mereka bersahabat apalagi Ayah mereka merupakan rekan kerja.


"Yaudah kalau gitu kita doa dulu sebelum mulai MOS hari ini. Berdoa mulai."


Semuanya menunduk memanjatkan doa agar acara hari ini berjalan dengan lancar. Selesai berdoa semuanya berpencar menuju kelas bimbingan masing-masing, pastinya Revan bersama dengan Joseph.


"Cewek yang dikelas MIPA 2 cantik-cantik bener, gue kemarin liat satu orang udah cantik mana pendiem lagi."


"Cewek mulu lo."


"Ya kan normal dong, daripada gue ngomongin cowok kan malah bahaya, Rev."


Revan mengabaikan Joseph dan terus berjalan kearah kelas MIPA 2. Sebenarnya Revan juga mengakui bahwa kelas MIPA 2 memiliki murid perempuan yang lumayan cantik.


Apalagi seorang perempuan yang kemarin menatapnya kemudian buru-buru mengalihkan pandangan saat Revan balik menatap mata itu.


"Selamat pagi semuanya."


"Pagi Kak."


Revan langsung duduk di salah satu kursi kosong dan Joseph mulai melakukan absen kepada seluruh siswa hingga ketukan di pintu mengalihkan semua pandangan anak kelas.


"Maaf kak saya terlambat."


Revan langsung menatap perempuan yang kini tengah menunduk sembari meremas ujung rok nya. Terlalu kentara bahwa perempuan itu ketakutan.


Revan berdiri menghampiri perempuan tersebut dan anak-anak kelas langsung ikut gugup. Melihat bagaimana galaknya Revan kemarin membuat mereka juga takut akan merasakan aura mematikan itu lagi.


"Nama?"


Revan bertanya dengan suara datar membuat Renata sedikit terkejut dan lebih gugup dari sebelumnya.


"Renata kak."


Dia berkata lumayan jelas tapi masih menundukkan kepalanya. Takut untuk sekedar melihat ke arah Revan.


"Kalau diajak bicara itu lihat lawan bicaranya, kamu gak pernah diajarin sopan santun?"


Renata kembali menegang dan memaksakan kepalanya untuk menatap kakak kelas nya ini. Dibelakang Revan juga terlihat bahwa Safira berharap cemas padanya.


"M-maaf kak."


Renata bicara dengan nada terbata, Revan juga mengerti bahwa perempuan didepannya ini sangat gugup saat ini. Dalam hati Revan tadi dia sempat mencari-cari dan ternyata yang dicari terlambat.


"Taruh tas kamu di bangku, lari lapangan 5 kali."


Setelah memberikan hukuman pada Renata, Revan kembali duduk di bangku yang tadi. Renata juga langsung meletakkan tasnya di bangku dekat Safira.


"Maaf ya gak kabarin lo dulu tadi."


"Iya gakpapa."


Sebenarnya Renata terlambat karna menunggu Safira yang sudah janji kemarin akan memberikan tumpangan padanya. Sudah lama ditunggu ternyata Safira tak kunjung datang. Akhirnya Renata diantar oleh sopir tapi karna terlalu siang jadi jalanan sudah ramai.


"Jangan kebanyakan ngobrol, cepetan lari atau hukumannya saya tambah."


"I-iya kak."


Renata buru-buru keluar kelas dan melakukan hukumannya. Sementara itu di bangku nya Safira sudah gelisah karna dia tau fisik sahabatnya itu tak akan mampu untuk lari sebanyak itu.


"Semoga aja Renata gak bakalan pingsan."


Safira hanya bisa berdoa saja, Joseph juga sudah kembali mengabsen siswa lainnya. Kemudian mereka digiring untuk menuju aula mengikuti acara MOS hari ini.


Sebelum memasuki aula, Safira dengan rasa takut yang sudah di kubur itu mendatangi Joseph dan Revan. Dia mau membicarakan tentang Renata.


"Ada apa dek?" -Joseph.


"Maaf kak sebelumnya, sebenernya Renata itu terlambat karna saya yang kesiangan terus gak jadi jemput dia. Saya juga lupa mau ngasih tau ke Renata." -Safira.


"Terus maksud kamu bilang gini apa? Mau bela dia?" -Revan.


"Maksud saya biar saya aja kak yang lanjutin hukumannya. Fisik Renata gak begitu kuat soalnya, saya takut dia malah pingsan."


Safira berkata dengan gemeteran karna aura Revan benar-benar menakutkan. Revan juga berkata dengan wajah datar sekaligus suara tegasnya.


Wajah Revan sedikit melunak karna alasan yang diberikan oleh Safira.


"Kamu duduk aja didalem, biar saya samperin temen kamu."


Baru saja Revan memasuki area lapangan, tubuh Renata sudah keliatan limbung dan Revan berlari mendekat ke arh Renata.


"Kamu gakpapa? Dek? Dek?"


"Gak papa kak, kurang 1 putaran lagi."


Badan Renata sangat panas padahal cuacanya tidak begitu terik dan Revan langsung menuntunnya untuk duduk di bangku pinggir laangan.


"Gak usah dilanjutin, nih minum dulu."


"Makasih kak."


Renata langsung mengambil air mineral itu dan meminumnya. Sebenarnya Renata sudah cukup pusing karna terlalu banyak berlari. Dia juga tak bisa jika terpapar matahari lama karna suhu tubuhnya akan naik dengan drastis.


"Lain kali jangan sampai telat. Kamu istirahat aja di UKS sampe suhu kamu normal lagi."


Revan akhirnya mengantarkan Renata ke ruang UKS karna tak mungkin meninggalkan Renata sendiri di pinggir lapangan, kalau jatuh pingsan malah bisa bahaya.


"Maaf kak ngerepotin, dan makasih."


Revan mengangguk kemudian keluar dari ruang UKS, Renata juga sudah berbaring di ranjang UKS lalu diperiksa oleh dokter yang bertugas disana.


Ini sekolah Internasional jadi UKS nya memiliki satu dokter yang bertugas memeriksa siswa nya yang sedang sakit. Dan mencegah beberapa siswa untuk bolos dan beralasan sakit.


Revan sudah berada kembali di aula dan duduk di sebelah Joseph. Langsung saja Joseph bertanya banyak kepada Revan yang baru saja duduk.


"Gimana? Pingsan ya? Kok gak bareng lo kesini?"


"Banyak tanya lo."


Joseph langsung mencebik dan menggerutu mendengar jawaban dari Revan. Ya udah tau gimana sifat Revan kenapa malah tanya banyak banget.


"Hampir pingsan, sekarang di UKS."


Joseph langsung melotot dan memandang Revan dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Revan langsung saja menyentil dahi Joseph dengan lumayan keras.


"Lo gak bohong? Beneran? Yaampun untung temennya gercep ngasih tau."


Revan memilih diam daripada nanti dia menjawab dan Joseph kembali heboh. Apalagi jika dia tau bahwa Revan membelikan minum dan memapah ke UKS.


Acara diistirahatkan sebentar karna pergantian guru dan guru pengganti nya masih belum sampai di aula. Safira mendekati Revan dan Joseph dibarisan OSIS membuat semua anggota OSIS melihatnya.


"Permisi kak. Renata gimana ya kak? Kok gak balik lagi?"


"Dia di UKS, suhu tubuhnya panas banget terus udah mau pingsan tadi. Nanti aja kalau udah selesai kamu ambil tasnya terus susulin ke UKS."


"Makasih kak kalau gitu."


Safira balik ke barisannya dan bisa bernafas lega mengetahui sahabatnya baik-baik saja. Bisa habis dimarahin sama Kak Nathan kalau sampek dia tau Renata telat gara-gara Safira.


"Kenapa Rev anak tadi?"


Anita mendekat ke arah Revan begitu tau ada anak baru yang mendekati Revan. Perlu di ketahui bahwa Anita sudah lama mengincar Revan tapi sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari Revan.


"Gakpapa."


See, Revan aja jawab cuma singkat dan tak memperdulikan Anita yang masih berdiri di depannya. Revan malah mengawasi acara yang kini sudah berjalan kembali.


Joseph sebenarnya merasa kasian sama Anita tapi ya gimana orang Revan nya dari lahir udah gini. Jadi ya susah, mau bilang ke Anita juga percuma kayaknya.


Merasa diabaikan oleh Revan, Anita kembali ke tempat nya semula. Sebenarnya Anita juga cukup cantik dan pintar, entah apa yang membuat Revan tak tertarik pada Anita.


-----


Safira buru-buru keluar dari aula dan mengambil tas nya dan tas Renata sekalian. Dia ingin cepat-cepat mengetahui bagaimana keadaan sahabatnya itu.


Dengan tergopoh-gopoh dia memakai tasnya dan berjalan ke arah UKS. Langsung saja dia masuk kedalam UKS tanpa basa-basi.


"Eh..."


Safira terkejut karna baru saja masuk disuguhi dengan pemandangan dimana Renata bersandar di kepala ranjang dan Revan berdiri di samping ranjang Renata tampak berbincang.


"Temen lo udah dateng. Gue pergi dulu."


"Makasih sekali lagi kak."


Revan keluar dari ruangan UKS dan Safira segera mendekat ke arah ranjang Renata. Membantu Renata untuk segera memakai sepatunya.


"Kok bisa ada Kak Revan? Lo deket ya?"


"Enggak gitu, tadi nganterin roti sama minuman. Terus bilang kalau tas nya nanti dibawain sama lo."


"Kirain deket sama ketos ganteng."


"Ganteng sih sayang galak."


Safira hanya menggelengkan kepalanya begitu mendengar jawaban yang keluar dari mulut Renata. Ya tapi bener sih emang Kak Revannya galak, eh mungkin aja bisa gak galak kan kalau udah sayang. Siapa tau ya kan.


-----