Ketos Galak

Ketos Galak
Pulang Bersama?



Sudah mulai masuk seperti biasa dan Rani kali ini berangkat bersama Kak Nathan yang kebetulan tadi malam pulang kerumah. Kak Nathan tadi malam tampak tengah rapat dengan Papanya di ruang kerja Papanya.


"Ayo berangkat princess."


Panggilan kesayangan Kak Nathan untuk Renata memang princess, padahal sudah lama Renata bilang bahwa dia tak mau jika dipanggil begitu tapi tetap saja Kak Nathan memanggilnya dengan panggilan itu.


"Ayo kak, aku pamitan dulu sama Mama."


"Yaudah kakak kedepan dulu, jangan lama ya princess."


"Iya kakak, bawel deh."


Renata langsung saja kearah dapur dengan menenteng tasnya, Kak Nathan kedepan untuk menghidupkan mesin mobilnya jadi bisa langsung berangkat jika Renata sudah keluar dari rumah.


Setelah berpamitan dengan Mamanya, Renata langsung keluar dan masuk kedalam mobil kakaknya. Setelahnya mereka langsung berangkat menuju kesekolah Renata.


"Gimana sekolahnya? Baik-baik aja?"


"Baik lah kak, gak baik juga karna apa."


"Sapa tau kamu mulai nakal gitu, temen baru dapet belum?"


"Belum, masih sama Safira terus."


Nathan cukup paham dengan bagaimana adiknya ini. Cukup sulit bersosialisasi padahal jika sudah dekat maka adiknya tak akan bisa berhenti bicara, ada saja yang akan dibicarakan.


Tapi dengan itu juga Nathan bersyukur, setidaknya teman adiknya tak akan ada yang bisa menyakiti kesayangannya itu. Dia tak akan diam saja jika Renata sampai terluka.


"Aku sekolah dulu kak, kakak hati-hati dijalan semangat juga kerjanya."


Sebelum turun dari mobil Renata menyempatkan mengecup pipi kakaknya, sudah menjadi kewajiban jika dia akan berpamitan dengan kakaknya. Nathan akan marah jika Renata melupakan itu.


"Kamu juga semangat sekolahnya."


Renata melambaikan tangannya kepada Nathan yang kaca mobilnya sengaja dibuka, hingga mobil Nathan menjauh baru Renata masuk kedalam sekolah.


Sudah dapat dipastikan jika Safira belum datang, dia memang tak pernah telat bahkan waktu SMP juga begitu tapi akan datang mepet dengan waktu masuk sekolah, kebiasaan memang.


Sesampainya dikelas dia langsung di bangkunya dan mengeluarkan ponselnya untuk sekedar bermain game mengusir kebosanan. Renata kan tak punya teman lain selain Safira.


"Eh Rena."


Ada suara perempuan yang cukup asing di telinga Renata jadi mau tak mau dia melihat kearah pemilik suara itu, ternyata seorang murid yang duduk di bangku depannya.


"Gue Tania kita belum kenalan."


Mungkin menyadari keterdiaman Renata maka dari itu perempuan itu mengenalkan namanya, maklum lah Renata belum mengenal semua murid yang ada dikelasnya.


"Eh iya kita belum kenalan ya, ada apa?"


"Mau kekantin gak? Gue mau sekalian ke kantin."


"Boleh deh daripada gabut sendirian."


Karna kelas yang masih lumayan sepi jadi Renata menerima ajakan Tania untuk ke kantin bersama. Itung-itung untuk menambah teman kan, daripada dikelas sendirian.


"Oh iya Safira belum dateng ya."


"Dia biasanya emang dateng telat, udah dari SMP kaya gitu."


"Pantesan kalian keliatan akrab ternyata satu SMP."


"Enggak cuma satu SMP, gue sama Safira udah bareng dari bayi sampek bosen."


Tania hanya tertawa mendengar perkataan yang telah terlontar dari mulut Renata, sudah sangat lama hingga mereka memang terlihat sangat dekat.


"Oh iya temen satu bangku lo siapa namanya?"


"Namanya Bella, dia juga gitu sama kaya Safira. Gue sama dia sekelas terus di SMP eh malah sekelas lagi SMA."


Mereka terus berbincang sampai akhirnya sampai di kantin. Renata menuju stan minuman dan Safira memilih membeli sandwich untuk sarapan.


"Dimakan dimana nih?"


"Di sini aja deh, istirahat bentar."


Jarak dari kantin ke kelas lumayan jauh, nanti daripada sampai kelas malah es nya cair semua jadi makan sekalian di kantin.


"Lo ikut ekstra apaan Re?"


"Ikut musik, besok udah mulai kumpul. Lah lo sendiri?"


"Gue ikut basket, dari SMP gue atlet basket."


Renata membentuk mulutnya menjadi 'o' terkejut dengan fakta itu karna tubuhnya Tania tak seperti atlet kebanyakan, malah tubuhnya seperti model sangat bagus.


"Kaget gitu lo keliatannya."


"Ya gue kira lo malah model, bagus banget badan lo."


Tania malah tertawa mendengar perkataan Renata, mereka melanjutkan perbincangan sambil menunggu bel masuk dan menghabiskan minuman makanan mereka.


-----


Sekolah telah usai, semuanya telah meninggalkan sekolahan kecuali Revan yang harus menuju keruang OSIS mengambil sebuah laporan hasil MOS yang telah dilaksanakan kemarin. Laporannya harus segera sampai ke kepala sekolah.


Dia hanya akan mengambil berkasnya dan menelitinya dirumah, jika harus disekolahan cukup menyeramkan berada di gedung seluas ini sendirian.


Waktu dia masuk ke mobilnya, dia melihat kearah kursi panjang depan sekolahan ada seorang perempuan yang dia kenal. Renata tengah duduk disana sendirian tampak gusar dengan terus menggerakkan kedua kakinya.


Revan dengan inisiatif mendekati Renata, ini sudah lumayan telat dari pulang sekolahnya apalagi sekolah sudah sepi mungkin hanya tinggal beberapa guru yang masih bekerja dan satpam sekolahan.


"Hey."


Renata langsung menoleh kearah Revan sempat terkejut sebentar tapi langsung kembali seperti semula. Masih saja kedua kakinya bergerak.


"Kenapa belum pulang?"


"Sopir yang biasa nganter jemput masih pergi sama Mama, jadi harus nunggu gak tau lama enggaknya."


Dari suaranya Revan mengerti bahwa ada rasa khawatir di nadanya karena ya mungkin dia takut bahwa akan menunggu lama apalagi mungkin Mamanya tak tau sampai kapan.


"Mau pulang bareng gue? Rumah lo dimana?"


Renata tampak ragu untuk bilang, mungkin dia takut akan merepotkan Revan nantinya.


"Emang gak ngerepotin kak?"


"Enggak, rumah lo dimana?"


"Perumahan Asri kak."


"Searah sama rumah gue, yaudah gue ambil mobil dulu lo tunggu sini."


Renata hanya bisa mengangguk dan mulai berdiri menunggu mobil Revan, dia sedikit canggung sebenarnya walaupun sudah kenal dengan Revan tapi kan dia tidak sedekat itu sampai diantarkan pulang oleh kakak kelasnya itu.


"Ayo masuk, keburu sore."


Renata langsung masuk dan memasang seatbelt nya. Revan juga dengan segera menjalankan mobilnya meninggalkan sekolahan. Sepanjang perjalanan terjadi kecanggungan diantara mereka.


Renata bingung mau bicara apa karna memang mereka tak dekat, Apalagi Revan tengah fokus pada jalan seperti tak bisa di ganggu itu menambah ketakutan Renata untuk mengajukan pertanyaan.


"Jadi masuk musik?"


Akhirnya Revan yang bertanya karna keadaan di dalam mobil benar-benar hening sampai helaan nafas mereka berdua saja bisa terdengar.


"Jadi kak, daridulu pengen belajar gitar tapi gak tau mau belajar ke siapa."


Setelah jawaban yang dilontarkan oleh Renata tadi kembali membuat keadaan ening, wah ini benar-benar keadaan yang sangat canggung. Walaupun Revan sebenarnya cuek tapi dia tak pernah berada di situasi secanggung ini.


"Kalau udah ikut OSIS gak wajib ikut ekstra ya kak?"


"Enggak juga, tetep wajib ikut ekstra. Kenapa?"


"Gakpapa, bayangin aja udah sibuk banget pasti."


"Iya tapi jadinya banyak kenalan. Gue juga ikut musik."


Renata melotot tak percaya kepada Revan, dan dengan tanpa sengaja ekspresi yang ditunjukkan Renata pada Revan membuat lelaki yang tengah menyetir mobil itu tersenyum.


"Gue beneran ikut kalau lo masih gak percaya."


"Enggak gitu kak, bukannya gak percaya cuma ya gimana ya."


Revan kembali tersenyum menghadapi Renata yang malah terlihat gugup, apalagi Renata yang baru saja melihat senyuman dari kakak kelas ini.


Manis.


Satu kata itu tiba-tiba saja terlontar dari mulut Renata entah kenapa. Ya walaupun Renata juga mengakui bahwa kakak kelasnya ini sangat manis dengan senyuman yang ada di wajahnya bukan dengan suara tegas dan ekspresi datarnya.


"Rumah lo yang mana?"


"Itu kak yang paling ujung yang hadap ke barat."


Revan mengangguk dan kini mereka tengah berhenti didepan rumah besar berbentuk minimalis yang sangat enak untuk dipandang apalagi tak ada pagar tinggi yang menghalangi di depannya, hanya ada pagar yang biasa.


"Makasih kak tumpangannya."


"Iya sama-sama, gue langsung pulang."


Renata mengangguk dan keluar dari mobil tapi masih menunggu diluar agar mobil Revan menghilang dari pandangan baru dia akan masuk kedalam rumah.


Ternyata ada Mama yang baru saja sampai dan masih berdiri didepan rumah, menatap jahil kearah anaknya yang entah diantar siapa, yang pasti itu bukan Safira karna Mamanya menghafal mobil milik Safira.


"Aduh dianter siapa itu tadi adek."


Renata buru-buru berbalik setelah mendengar suara Mamanya, dia juga menghela nafas berat. Pasti setelah ini dia akan menjadi bahan olokan Mamanya itu, sudah dapat dipastikan.


"Dianter kakak kelas ma."


"Kakak kelas apa kakak kesayangan nih."


Kan kan sudah Renata prediksi bahwa akhirnya akan menjadi seperti ini.


"Apasih ma, udah aku mau masuk dulu."


"Aduh anak cewek Mama udah gede aja."


Renata berpura-pura tak mendengarkan kalimat yang terlontar dari mulut Mamanya dan terus berjalan ke arah kamarnya. Dia ingin mandi karna sangat gerah rasanya.


------