Ketos Galak

Ketos Galak
MOS Terakhir



Pagi ini Renata tak mau lagi menunggu Safira, jadi dia memilih untuk langsung berangkat dengan sopir dan mungkin nanti pulangnya baru bersama Safira.


"Kemarin dihukum non?"


Pak Danang yang tau bahwa Renata terlambat bertanya kepada Renata karna mereka baru bertemu hari ini setelah kemarin mengantarkan Renata sekolah.


Kemarin Renata pulang bersama Safira menggunakan mobil nya. Safira mah udah boleh naik mobil sendiri, beda sama Renata.


"Iya pak, kemarin di hukum suruh lari."


"Tapi gakpapa kan non?"


"Gakpapa pak, cuma 2 putaran aja kok."


Renata terpaksa berbohong karna jika dia bilang ke Pak Danang maka berita ini akan terdengar sampai ke telinga Mamanya. Bisa bahaya karna protektif nya mereka akan lebih-lebih lagi.


"Makasih ya pak, ati-ati dijalan."


"Iya non."


Renata berjalan menyusuri lorong sekolah untuk sampai di kelasnya. Belum sampai di kelas dia bertemu dengan Revan yang tampaknya baru datang karna masih menenteng tas nya.


"Kak Revan!"


Renata memanggil Revan yang akan masuk kedalam ruangan OSIS. Spontan Revan berhenti dan menoleh ke arah Renata. Sedangkan Renata berlari kecil ke arah Revan.


Revan hanya menaikkan alisnya tanda bahwa dia bertanya apa maksud adik kelasnya ini memanggilnya.


"Ini ada bekal, buat gantiin roti yang kemarin."


Renata memberikan sebuah kotak makan yang dia bawa dari rumah. Sengaja Renata tadi membuat sandwich dan ditaruh di kotak itu untuk diberikan kepada Revan sebagai tanda terima kasih.


"Gue ikhlas."


Mungkin karna belum mulai acara jadi bahasa Revan tak kaku seperti sebelumnya. Lebih santai dengan lo-gue yang terdengar di telinga Renata.


"Saya juga ikhlas kok kak."


Revan masih saja belum menerima kotak bekal itu, Renata yang sadar diri segera menarik tangannya.


"Maaf kalau emang kakak gak suka, gak usah diterima kak. Saya permisi."


Belum juga Renata berbalik tapi kotak bekal itu diraih oleh Revan. Renata yang kaget langsung melihat ke arah Revan yang kini memegang kotak bekalnya.


"Makasih."


Setelah mengucapkan satu kata itu Revan langsung masuk ke ruang OSIS dan Renata kembali ke kelas dengan senang karna kotak bekalnya diterima. Jadi dia gak merasa berhutang budi pada Revan.


Sesampai nya dikelas kondisinya masih lumayan sepi karna mungkin memang masih terlalu pagi Renata datangnya. Dia kemudian mengeluarkan ponselnya dan memulai memainkan game sambil menunggu Safira datang.


"Temenku yang paling cantik."


Atensi Renata dari game harus beralih ke arah suara yang masuk kedalam telinganya. Safira datang dengan wajah cerianya, sudah seperti orang yang baru dapat undian 1 milyar.


"Rusuh banget sih, baru dateng juga."


"Namanya itu semangat pagi Renata sayang, bukan rusuh."


Renata hanya menggelengkan kepalanya dan kembali memainkan gamenya sementara Safira sudah duduk dan membuka ponselnya juga. Tak lama juga Joseph dan Revan masuk kedalam kelas memulai MOS terkahir ini.


"Hari ini udah siap kan yang mau tampil?"


Seperti tahun-tahun sebelumnya, hari terakhir MOS selalu menjadi ajang pertunjukkan perwakilan kelas. Untuk kelas MIPA 2 akan menampilkan tarian, sudah ada 2 siswa yang akan menampilkan tarian itu.


"Udah siap kak."


"Bagus kalau gitu, yang mau tampil segera ke belakang panggung ya. Yang lainnya absen dulu."


Joseph mulai mengabsen seluruh siswa dan Revan hanya diam saja memperhatikan sekitar. Setelah absen nanti semua siswa dibebaskan untuk berkeliling dan melihat stan-stan yang promosi ekstrakulikuler bisa juga daftar.


"Oke semuanya udah boleh keluar."


Setelah ucapan itu terlontar dari mulut Joseph seluruh siswa langsung saja keluar tapi masih ada beberapa siswa yang bertahan di dalam kelas. Termasuk Renata dan Safira.


"Ayo ke panggung."


Joseph mengajak Revan untuk kembali ke panggung acara karna ada beberapa urusan yang belum selesai. Yang diajak malah nyelonong ke arah meja Renata sama Safira buat Joseph kaget.


"Makasih."


Revan meletakkan kotak bekal yang tadi pagi diberikan kepadanya di meja Renata setelah itu langsung keluar dari kelas meninggalkan Joseph yang masih bengong di depan kelas sementara Safira sudah melotot di tempat duduk. Beberapa siswa yang masih di kelas juga tampak melihat kearah Renata.


"Heh ini kotak bekal siapa yang dikasih Kak Revan."


"Kotak bekal gue lah, jangan banyak tanya ayo keluar."


Setengah menyeret Safira untuk segera keluar, Renata juga masih harus mendengarkan pertayaan Safira yang masih kepo dengan kotak bekal tadi.


"Bentaran dulu, jelasin dulu itu kotak siapa."


"Kan udah gue bilang itu kotak bekal gue Safira, kemarin kan Kak Revan udah baik banget sama gue makanya tadi pagi gue kasih sandwich."


"Ini gak boleh ya gak ikut ekstra, males banget gue."


"Minimal satu ekstra."


Karna yang menjawab pertanyaan Renata adalah suara lelaki maka dari itu Renata langsung berhenti dan menoleh membuat orang yang berjalan di sebelahnya tadi juga ikutan berhenti.


"Loh Kak Revan?"


"Gak boleh gak ikut ekstra, minimal harus ikut satu biar bisa sosialisasi."


Jawaban Revan membuat Renata bisa kembali ke dunianya karna tadi sempet terkejut dengan kedatangan Revan yang tiba-tiba berada di sebelahnya. Padahal Renata kira tadi Safira makanya Renata berani tanya gitu.


Renata juga menghela nafasnya lumayan keras sampai Revan yang disebelahnya bisa mendengar helaan nafas yang terdengar frustasi itu. Renata frustasi karna memang semenjak SMP dia kan gak pernah ikut ekstra makanya temen dia Safira doang.


"Ikut aja musik, mading, atau jurnalistik yang gak butuh fisik banyak."


Revan yang paham kenapa adik kelas nya ini sangat berat untuk ikut ekstra menyarankan beberapa ekstra yang sekiranya tak membutuhkan banyak tenaga fisik dalam kegiatannya nanti.


"Musik aja kali ya, sekalian pengen bisa gitar."


"Stan musik ada disana, gue pergi dulu."


Setelah menunjukkan dimana stan musik berada, Revan langsung pergi meninggalkan Renata yang melamun kearah Revan pergi tadi. Udah dateng tiba-tiba bikin kaget, untung aja perginya masih pamitan jadi gak bisa disamain kaya jelangkung.


"Hayolo kok deketan sama Kak Revan."


Tepukan di bahu Renata dan suara yang pas disebelah telinga membuat Renata terkejut bukan main, sedangkan tersangka malah senyum-senyum gak jelas.


"Lo bikin jantungan Safira."


"Ya habisnya ada yang bengong waktu pangerannya pergi."


"Pangeran apa sih, ngaco ya lo."


Safira masih aja senyum-senyum gak jelas sedangkan Renata menenangkan detak jantung yang sempat menggila karna terkejut oleh Safira.


"Lo deket banget ya sama Kak Revan. Tadi bawain sarapan, sekarang ngobrol bareng haduh bisa-bisanya baru masuk 3 hari udah dapet gebetan."


Renata menggeplak kepala Safira dengan lumayan keras membuat sang korban mengaduh kesakitan.


"Omongan lo tambah ngaco ya."


"Tadi nih lo berdua sampe jadi pusat perhatian. Ketua osis yang galak dan cuek lagi ngobrol sama adik kelas yang kemarin dapat hukuman dari dia."


"Beneran?"


"Dih ngapain juga gue bohong, lagipula gue ada di belakang lo jadi tau deh sekitar lo gimana, emangnya lo apa. Kalau udah sama Kak Revan yang lainnya ngeblur."


Renata udah gak kuat dengerin omongan Safira akhirnya temennya satu itu ditinggal lagi. Dia jalan kearah stan musik berniat untuk daftar disana.


"Tungguin gue Re."


Safira setengah teriak dan berlari untuk mensejajarkan langkahnya dengan Renata yang sudah berada di depan. Dia juga mau daftar ke ekstra tari karna dari dulu dia emang penari.


-----


Semua acara hari ini udah selesai dan Joseph sekaligus Revan udah absen anak MIPA 2, Ya absen nya 2 kali biar tau kalau sekiranya ada yang bolos di tengah-tengah acara.


Sekarang Revan bersama anggota osis lainnya sedang membereskan semua nya termasuk stan yang ada di lapangan dan panggung utama tadi.


MOS udah selesai jadi semuanya udah harus beres besok, karna besok udah mulai masuk dan pelajaran. Sekolah Internasional makanya semua nya sesuai jadwal.


Revan lagi bantuin anak osis beresin panggung sambil angkut barang-barang musik balik lagi ke ruangannya. Yup dia juga salah satu anggota musik bahkan gitaris di band sekolah.


"Coba aja lo tadi tampil, pasti keren."


Sebenarnya tadi band sekolah tampil tapi gitarisnya bukan Revan karna dia kan sibuk osis gak mau lagi sibuk ngurus band, jadi dia serahin urusan band ke yang lainnya.


"Sibuk."


Habis ngomong satu kata dia ninggalin Joseph yang menggerutu menghadapi temen cueknya itu. Joseph juga membantu membawa beberapa alat musik ke ruangan.


Menghabiskan waktu sekitar 1 jam setengah untuk membuat lapangan kembali bersih seperti semula. Anak OSIS semuanya sudah mulai lega karna tugasnya sudah selesai.


"Nih Rev minum."


Anita menyerahkan sebotol air mineral kepada Revan yang diterima baik oleh Revan karna dia juga haus. Lagipula jauh kalau harus kekantin dulu.


"Makasih."


Revan juga membagikan minumannya kepada Joseph yang tampak lelah, itu juga ditangkap oleh mata Anita. Padahal Anita maunya minuman itu dihabiskan sendiri oleh Revan tanpa harus dibagikan ke Josph.


"Makasih Ta minumnya."


"Iya sama-sama."


Dengan berat hati Anita menjawab ucapan terimakasih dari Joseph dan Revan, kemudian Anita ditinggalkan oleh kedua cowok tersebut karna Revan dan Joseph menuju ke ruang OSIS menunggu semuanya berkumpul dan membubarkan mereka kemudian pulang dan istirahat.


-----