Ketos Galak

Ketos Galak
Anita



Hari ini akan diadakan pertemuan pertama untuk ektrakulikuler musik. Renata sudah berada di depan ruang musik karena memang pertemuannya belum dimulai. Apalagi Renata tak punya teman untuk diajak berbincang.


"Renata ya?"


Ada suara lelaki yang masuk kedalam telinga Renata, dia mendongak dan mendapati Joseph yang tengah berdiri didepannya.


"Kak Joseph, ikut musik juga kak?"


Karna sudah menjadi pembimbing Renata seperti Revan jadi Renata bisa berbicara lebih santai kepada Joseph. Apalagi sifat Joseph yang memang friendly.


"Yupp, gue pegang drum. Jadi jangan heran kalau gue keren."


Renata langsung tertawa mendengar nada percaya diri Joseph. Memang dia sangat asik orangnya berbanding terbalik dengan temannya yang dingin itu.


"Kak Revan mana kak? Bukannya dia juga ikut musik?"


"Gue udah ada disini kenapa masih cari Revan, nyebelin banget."


Lagi-lagi Renata dapat tertawa karna perkataan Joseph dan disaat Renata tengah tertawa Revan datang dengan Anita bersamaan.


"Hey Joseph, lo udah dateng?"


"Seperti yang lo liat."


Revan hanya diam dan memandangi Renata yang tengah memperhatikan percakapan antara Joseph dan Anita.


"Ini siapa? Adik kelas ya?"


Renata langsung berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya kepada Anita.


"Saya Renata kak 10 MIPA 2."


"Anita, pantes kenal sama Joseph."


Renata hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian ketua musik telah masuk kedalam ruangan jadi semua anggota yang sudah daftar dan anggota lama juga ikut masuk kedalam ruang musik.


Ruangannya cukup lebar bahkan bisa dibilang sangat lebar karna terdapat dua ruang lagi didalamnya lebih tepatnya ruang latihan yang berisi 2 set perlengkapan band mulai dari 2 gitar, 1 bass, 1 drum, 1 keyboard dan microphone dengan standnya.


"Selamat sore semuanya, berhubungan semuanya sudah berkumpul maka pertemuan pertama ini hanya akan menjadi perkenalan saja. Kalian akan memperkenalkan diri masing-masing agar bisa akrab satu sama lain. Latihan akan dimulai minggu depan."


Ketua musik langsung memulai perkenalan diri disusul dengan yang lainnya secara bergantian. Membtuhkan waktu lumayan lama karna banyaknya anggota yang ikut musik ini.


"Pertemuan kali ini sudah selesai tapi bagi kalian yang mau melihat para anggota lama latihan silahkan tinggal lebih lama. Selamat sore semuanya."


"Sore kak."


Anggota banda Revan sudah bersiap memasuki ruang latihan dan Renata bingung antara mau melihat atau pulang karna dia benar-benar tak kenal dengan siapapun disini.


"Mau pulang?"


Revan berdiri didekat Renata dan melontarkan pertanyaan kepada Renata yang terlihat tengah bimbang.


"Gak tau kak, masih bingung."


"Kalau gitu gue boleh minta tolong?"


Renata kali ini menampilkan wajah bingung yang sangat lucu bagi Revan, kalau tak ingat disini masih di ruang musik mungkin pipi tembam renata sudah habis oleh Revan.


"Beliin gue minum di kantin, sama buat Joseph."


"Oh iya kak, kalau gitu saya pergi dulu."


Renata sudah buru-buru pergi padahal Revan belum sempat memberikan uang kepada Renata, itu membuat Revan hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik kelasnya itu.


Di kantin Renata bertemu dengan Anita yang ternyata juga sedang membeli minuman. Dia tidak melihat kearah Renata dan langsung pergi ke ruang musik kembali.


Renata acuh dan lanjut lagi berjalan kearah kantin membelikan Revan minuman, sebenarnya dia sengaja tak menunggu Revan memberi uang, itung-itung membalas tumpangan Revan kemarin.


Sedangkan di ruang musik sekarang Anita tengah berusaha memberikan Revan minuman yang tadi sudah dia beli.


"Nih Rev minum buat lo."


"Gak usah, gue udah beli sendiri."


Anita bingung karna sedari tadi Revan tampak tak keluar dari ruang musik jadi mana mungkin dia sudah membeli minuman sendiri.


"Kak ini minumannya, bentar mau kasih ke Kak Joseph juga."


Revan hanya mengangguk dan membuka botol minuman dari Renata sedangkan Renata sudah hilang mencari Joseph yang tengah sibuk dibelakang drum.


"Loh tadi gue beliin gak mau malah nerima dari Renata."


"Gue suruh Renata beliin gue minum. Gue latihan dulu."


Sebanarnya Renata itu tidak mengikuti musik tapi setiap musik latihan dia akan selalu hadir untuk melihat Revan yang tengah memegang gitar. Terlihat berkali lipat lebih tampan.


"Baik banget lo dek, gue kan gak titip."


"Yang nyuruh Kak Revan tadi."


Joseph hanya mengangguk dan menggumamkan kata terimakasih, Renata juga memilih untuk tinggal lebih lama melihat latihan bandnya Revan.


Anita yang melihat Renata duduk melihat latihan band memilih mendekati adik kelasnya itu dan duduk disebelahnya sambil membawa minuman yang gagal dia berikan kepada Revan.


"Lo deket ya sama Revan."


Renata yang tau diajak bicara itu langsung menoleh dan mendapati kakak kelasnya itu duduk didekatnya.


"Deket gimana kak?"


"Ya deket gitu, lo suka sama Revan?"


Renata melotot dan bingung dengan pertanyaan yang keluar dari mulut kakak kelasnya ini. Kenapa juga Anita bertanya seperti itu padanya.


"Enggak kak, kenapa bilang gitu?"


"Revan aja gak mau terima minuman gue dan malah minta beliin lo minum."


"Eh itu tadi uangnya juga dari Kak Revan, aku cuma diminta tolong buat beliin."


"Revan gak pernah minta tolong orang kecuali Joseph kalau lo belum tau."


Secara tak langsung Anita menyindir Renata yang berkata tak dekat dan tak suka dengan Revan tapi diberlakukan berbeda oleh Revan.


"Kalau itu aku gak tau kak, coba kakak tanya ke Kak Revan langsung karna saya cuma mau bantu Kak Revan."


Renata juga tampak tak perduli dengan sindiran Anita karna memang dia tak menyukai kakak kelasnya itu dalam artian lain dan tadi dia diminta tolong oleh Revan langsung ya masa di tolak sama dia kan gak enak apalagi Revan udah baik sama dia.


Sedangkan Anita lumayan berapi-api karna merasa bahwa saingannya kali ini lumayan berat dengan Revan yang memberikan timbal balik kepada Renata.


Apalagi selama ini Anita tak pernah mendapatkan tanggapan oleh Revan sementara Renata yang baru kenal beberapa hari bisa langsung dekat dengan Revan.


Renata masih saja melihat band Revan latihan kemudian bertepuk tangan dengan semangat melihat mereka yang melesaikan latihannya.


"Semangat banget lo kaya bocah tk."


"Yee, kan tepuk tangan karna bagus. Masa diem aja."


Renata malah mendapatkan tangan Joseph yang berdiam di kepalanya dan mengacak pelan rambtnya tapi cukup membuat rambutnya berantakan.


Entah kenapa Renata dan Joseph begitu mudah dekat dengan Joseph padahal mereka baru saja kenal tapi sudah seperti lama kenalnya.


"Udah, rambutnya berantakan."


Dengan reflek Revan mengambil tangan Joseph yang masih di kepala Renata dan diturunkan. Renata juga langsung merapikan rambutnya.


"Posesif amat si bapak."


Semuanya tak luput dari pandangan Anita yang semakin bertanya-tanya apa hubungan antara Renata dan Revan sampai Joseph saja bisa berkata seperti itu.


"Pulang sama siapa?"


Renata yang tau bahwa pertanyaan Revan ditujukkan kepadanya langsung saja dia menoleh ke arah Revan.


"Dijemput sama kakak, udah dijalan. Kenapa kak?"


"Gakpapa."


Sedangkan Joseph yang melihat itu menggelengkang kepalanya. Dia tau bahwa temannya ini sudah jatuh cinta pada Renata karna sikap Renata yang apa adanya.


"Yaudah kak aku duluan, bye semuanya."


Renata berlari menuju gerbang sedangkan Joseph meneriakkan kata hati-hati. Revan malah mengutak-atik ponselnya karna dia mendapatkan pesan dari Ayahnya untuk mengunjungi kantor sebelum pulang.


"Gue bareng sama lo ya Rev, tadi gak bawa kendaraan."


"Gue mau kekantor Ayah dulu, lo balik sama Joseph aja."


Setelah itu Revan menepuk pelan bahu Joseph dan berlalu dari sana meninggalkan Anita bersama dengan Joseph.


"Jadi bareng sama gue?"


"Enggak, gue naik taxi aja."


Joseph hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan Anita disana kemudian tak lama Anita berjalan kearah gerbang dan menunggu taxinya.


"Kita lihat seberapa jauh lo bisa deketin Revan, dan gue gak akan biarin lo berhasil."


-----