Ketos Galak

Ketos Galak
Hari Pertama



Ini adalah hari pertama menjadi murid di salah satu SHS Internasional. Masuk ke SHS ini saja sangat sulit karna banyaknya yang ingin masuk kesini.


Renata adalah seorang perempuan yang kini telah menjadi salah satu murid di SHS, hari ini juga akan diadakan MOS untuk siswa baru.


Renata sudah siap dengan segala perlengkapan untuk MOS nya dan sedang sarapan di rumahnya.


"Gak ada yang ketinggalan kan dek?"


Mamanya yang tengah menyiapkan sarapan bertanya kepada Renata yang tampak sibuk menata barangnya.


"Semoga aja enggak ma, bakalan ribet kalau sampai ketinggalan."


Renata mulai mencomot roti yang sudah diolesi dengan selai oleh Mamanya. Didepannya juga sudah ada segelas susu, menu sarapan setiap harinya.


"Papa mana Ma? Tumben belum turun."


Papanya mempunyai sebuah usaha yang dirintisnya dari nol dan sekarang sudah beranjak besar, bahkan mengharuskan Papanya untuk bolak balik luar negeri untuk sekedar bertemu dengan kliennya.


"Papa ada meeting siang jadi mungkin berangkat siang juga."


"Seenaknya aja mentang-mentang jadi bos."


Mama hanya tertawa dan melanjutkan memasak di dapur. Urusan dapur memang dipegang sendiri oleh Mama, bibi yang bekerja hanya mengerjakan cucian baju dan membersihkan rumah.


Untuk urusan taman dan kolam renang sudah ada sendiri pengurusnya, ditambah 2 sopir untuk Papa satu dan untuk mengantarkan Mama sekaligus Renata satu.


Renata adalah anak bungsu yang sangat disayang bahkan kemana-mana harus diantarkan. Kakaknya laki-laki sudah tinggal di apartemen sendiri dan menjadi pemimpin di perusahaan cabang milik Papa.


"Adek berangkat sekarang ya ma."


"Iya, ati-ati ya dek. Semangat MOS nya."


"Byebye Ma."


Setelah Renata berpamitan dengan Mamanya dia langsung pergi keluar menemui Pak Danang yang sudah menunggu di luar.


"Berangkat sekarang non?"


"Iya pak, takutnya macet terus malah telat."


Pak Danang mengangguk dan segera masuk kedalam mobil. Renata duduk didepan karna sudah terbiasa begitu. Walau Pak Danang hanya sopir tapi rasanya tak sopan jika Renata duduk dibelakang sendiri.


Tak membutuhkan waktu lama karna memang jaraknya yang tidak jauh tapi kadang macet karna bersamaan dengan orang-orang yang pergi beraktifitas.


"Makasih ya pak, hati-hati dijalan."


"Baik non."


Renata masuk kedalam gedung sekolah yang besar ini kemudian mengirimkan pesan kepada sahabatnya yang kebetulan satu sekolah disini.


Safira.


|Lo dimana?


|Gue udah di sekolah nih


buruan berangkat.


|Gue tunggu di bawah


pohon ya. Cepetan!


|*I**ya sabar gue bentar lagi


sampek nih*


|gue udah dijalan


Setelah mendapat balasan dari Safira langsung saja ponselnya di masukkan kedalam tas lagi. Renata menunggu dengan memainkan kedua kakinya dan menata penampilannya.


"Kenapa lari-larian sih?"


"Takutnya lo nunggu lama, bisa ngomel seharian."


"15 menit lumayan lama sih."


Safira masih mengatur nafasnya dan tak lama ada pengumuman bahwa semua peserta MOS harus berkumpul di lapangan. Renata dan Safira segera beranjak dari tempat duduknya.


MOS dimulai dengan upacara pembukaan oleh Kepala Sekolah menyerahkan semua peserta MOS kepada para OSIS yang bertugas. Sekaligus pengenalan jajaran pengurus OSIS yang bekerja hari ini.


Membutuhkan waktu 30 menit untuk menyelesaikan upacara pembukaan yang cukup membosankan. Lagipula mereka semua lelah disuruh berdiri.


Akhirnya setelah upacara selesai semua murid dibolehkan untuk duduk dan dilakukan pengecekan atribut. Yang tidak lengkap pastinya akan mendapatkan hukuman. Dan sudah ada yang berjajar rapi didepan karna terlambat tadi.


Kakak OSIS yang tadi melakukan sambutan tampak membentak barisan yang telat tadi. Seperti memberikan ketegasan bahwa jika mereka masuk sini tak ada yang boleh melanggar peraturan. Apalagi salah satunya ada yang perlengkapannya kurang.


Mereka disuruh push up entah berapa kali dan berlari mengelilingi lapangan. Pasti sangat melelahkan. Setelah ini akan diadakan pembagian kelas.


"Ketos nya nyeremin ya."


"Iya keliatan galak banget, mana wajahnya datar banget."


Banyak anak-anak yang membicarakan kegarangan sang ketua osis. Ya memang sangat terlihat bahwa dia sangat galak.


"Takut ah gue sama ketos nya, walaupun ganteng sih."


Safira ikut-ikut membicarakan ketua osis itu. Renata jadi mengalihkan pandangannya kearah sang ketua osis.


"Tapi kan biar mereka disiplin jadi wajar aja."


Renata sih wajar-wajar aja karna ya memang harus tegas kan, kalau enggak nanti malah disepelekan sama murid baru.


"Kalau kalian mau coba-coba melanggar peraturan jangan harap bisa lolos hukuman sekalipun kalian anak presiden. Disini semuanya sama, gak ada yang membedakan."


Kak Revan sang ketua osis berteriak dari depan membuat semuanya menjawab 'Iya Kak.' dengan tegasnya. Aura yang terpancar dari Kak Revan memang menakutkan.


Selanjutnya pembagian kelas dan pembagian pembimbing untuk selama acara MOS berlangsung. Selama acara MOS nanti setiap kelas akan mendapatkan 2 pembimbing dari OSIS.


Safira dan Renata mendapatkan kelas yang sama dan itu membuat Safira kegirangan karna dia takut tak memiliki teman jika tidak satu kelas dengan Renata.


"Untuk pembimbing kelas MIPA 2 yaitu Revan dan Joseph."


Semua anak kelas Renata menegang karna mendapatkan pembimbing Kak Revan. Memang Kak Joseph cukup asik tapi jika Kak Revan cukup menakutkan.


"Santai aja semuanya, yang penting gak ada yang melanggar peraturan maka Kak Revan ini gak bakalan marah-marah."


Kak Joseph tampak memberi pengertian agar suasana kelas menjadi tidak tegang dan berakhir canggung. Akan sangat tidak nyaman jika itu terjadi.


"Nah sekarang kalian ikutin kita untuk masuk kekelas, habis itu kita bentuk pengurus kelasnya dulu."


Daritadi yang berbicara Kak Joseph karna Kak Revan hanya memandangi barisan. Sampai Renata yang menatap Kak Revan bertemu pandang dengan Kak Revan hingga menampilkan kerutan samar di dahi Kak Revan kemudian Renata memalingkan pandangan karna tak berani memandang lama.


Semua anak bubar dari lapangan dan menuju ke dalam kelas yang sudah ditentukan. Sampai di kelas, semuanya mencari tempat duduk dan menaruh tasnya. Kemudian Kak Joseph memulai pembicaraan pemilihan pengurus kelas.


"Jadi siapa nih yang mau jadi Ketua Kelasnya?"


Begitu pertanyaan terlontar langsung saja kelas menjadi ramai dan Renata langsung menatap Kak Revan yang tampak kurang nyaman karna kelas yang gaduh tapi mencoba menahan diri.


Sampai pemilihan pengurus selesai Kak Revan bahkan cuma ngomong gak lebih dari 10 kata. Itupun karna diminta pendapat sama Kak Joseph.


Acara selanjutnya adalah pengenalan lingkungan sekolah. Jadi semua siswa akan diajak berkeliling mengenal beberapa ruangan di sekolah sekaligus mengenalkan sekolah ini secara mendalam lagi.


Kak Revan masih terus diam dan menjelaskan sekiranya yang memang di tambahi saja, selebihnya kembali diam.


Hari pertama berjalan cukup lancar sampai pulang dan kegarangan Kak Revan memang hanya ada pada awal tadi. Memang Kak Revan tidak akan marah atau berubah jadi galak jika tidak ada masalahnya.


Semoga saja sampai hari terakhir bisa berjalan dengan lancar. Jadi semua murid tak harus melihat Kak Revan yang menakutkan.