Justice

Justice
Medo dan Tugasnya



Medo membuka matanya perlahan. Kenangan masa lalunya menguatkan tekadnya saat itu. Kini dihadapan Medo, seorang pria bertopi dengan kacamata hitam mengendap-endap mendekati seorang gadis.


Sebuah kerikil melayang dan mengantuk kepala si gadis. Ia mengaduh dan mencari asal lemparan sial itu. Tidak ada siapapun kecuali pria besar dengan karung terlilit di lengannya.


Si gadis hendak teriak namun suaranya tidak mau keluar. Ia berlari menjauh. Matanya menjelajahi setiap sudut, namun tidak ada siapapun disana. Ia mengutuki dirinya yang memilih jalan pintas agar cepat pulang.


Gang demi gang, ia lewati, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan seseorang. Harus kemana aku mencari pertolongan? pikirnya. Ia meningkatkan kecepatan karena si pria hampir mendekatinya.


Medo menarik tangan gadis itu dan membawanya masuk ke dalam got. Ia mengantar sampai tepat di depan rumahnya. Si gadis terheran-heran dengan kejadian barusan. Ia tidak sempat mencernanya.


Medo segera kembali ke air. Ia menghela napas lega. Sedetik saja dirinya telat menolong sang gadis, rasanya ia ingin pingsan saja.


Ia menatapi telapak tangannya. Hingga saat itu, ia belum juga memiliki kemampuan. Padahal sudah 2 bulan, ia menjadi lilin. Hanya berlari, berenang, dan berpindah tempat yang ia bisa. Ia termenung.


Apa yang salah dengan diriku?


Cahaya mulai tampak, pertanda ia segera tiba di tujuannya. Kota kecil dengan langit biru di atas bukit. Seseorang sudah menunggunya sambil berbaring.


"Mama!" pekik Medo. Ia berlari kecil. Ia melompat dan memeluk wanita yang telah menantinya.


"Bagaimana tugasmu hari ini?" tanya Sang Mama sambil mengelus rambut 'bergelombang' Medo.


Raut wajah Medo berubah. "Aku masih belum tau kemampuanku," adunya.


Mamanya menatap iba. Ia seringkali melihat teman-teman Medo bermain bersama. Saling menunjukkan kemampuannya. Namun, anaknya sendiri tidak bisa.


"Tidak apa, Sayang," hiburnya. "Kamu terpilih menjadi lilin pun adalah suatu keajaiban."


Medo mengangkat kepalanya. Ia mengangguk lalu memeluk Mamanya kembali. Ia pun menarik jemari orang yang disayanginya itu. Ia merengek minta dibuatkan makanan favoritnya, nasi padang.


***


Medo pamit pada Mamanya dengan terburu-buru. Ia kesiangan padahal hari itu ada tugas khusus! Ia berlari menuju Bank Tugas. Pusat tugas dari seluruh dunia terkumpul.


Ia membuka lokernya dengan terburu-buru. Sebuah amplop emas ditemukannya. Hatinya dag-dig-dug. Tugas macam apa ini? Baru pertama kali ia mendapat amplop seindah itu. Biasanya hanya amplop lusuh yang ia terima.


"Bom bunuh diri?"


***


Medo tiba di pintu sebuah mall. Ia masuk tanpa disadari oleh siapapun. Matanya mengawasi setiap manusia yang tampak mencurigakan. Pria maupun wanita. Anak-anak maupun orang dewasa.


Seorang pria tinggi dengan tas gunung menarik perhatiannya. Medo membuntuti sang pria. Toilet.


Buat apa dia ke toilet wanita?


Pria itu masuk tanpa rasa bersalah. Tidak butuh waktu lama, suara para wanita menjerit-jerit terdengar. Tubuh Medo refleks masuk hendak menolong. Padahal ia belum memikirkan rencana apapun.


Belum sempat menolong, teriakan yang memekikkan telinga muncul dari luar. Dentuman keras menggema diikuti dengan bangunan yang bergoyang. Medo teringat kembali dengan tugas khususnya.


Oh tidak! Apa yang aku lakukan disini!


Medo berlari keluar mencari sumber suara. Orang-orang berhamburan keluar mall termasuk pria yang tadi masuk toilet. Ia sudah tidak menggendong tas.


Ia hanya pengecoh!


Medo mencari orang-orang yang terluka. Ia memapah mereka satu per satu hingga dekat toilet. Tidak ada yang menyadari. Orang lain terlalu sibuk mengurusi keselamatannya sendiri.


Hanya ada satu cara. Medo merusak wastafel dan membiarkan tubuh para korban basah terciprat air.


Semoga bisa! Cukup keluar dari mall ini saja!


Medo memeluk ketiga tubuh dewasa itu dengan tangannya yang kecil. Ia memejamkan mata. Sebuah titik cahaya terlihat. Sinarnya semakin menerangi Medo.


Medo membuka mata. Gedung mall di seberang jalan mulai roboh. Ia berhasil menyelamatkan dua wanita dan seorang pria. Mereka masih pingsan. Medo pun berlalu.


***


Nasihat Eli terngiang. Isi hati seseoranglah yang paling penting. Bukan apa yang hanya dapat dilihat mata.


Aku terlalu naif. Aku gagal mencegah pengeboman itu. Padahal itu tugas khusus. Amplop emas.


Medo menegakkan tubuhnya. Ia baru menyadari sesuatu. Apa yang akan terjadi bila ia gagal dalam tugas ini? pikirnya.


Mungkin aku akan ditiup.


Medo putus asa. Ia pasrah dengan sanksi yang mungkin didapatnya. Sepertinya, tugas ini akan menjaga tugas terakhirnya.


Samar-samar Medo teringat akan masa kecilnya yang singkat. Ia menangis, dipeluk, dikecup. Lalu apa lagi ya? Ia mencoba menggali memorinya lebih dalam.


Ah. Aku lupa.


Medo menuruni dahan dengan sekali lompatan. Ia mendarat dengan mulus. Sebelum ia didepak dari perkumpulan para lilin, Medo ingin mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukannya. Hanya jika menjadi lilinlah, Medo memiliki kesempatan itu.


Ya. Aku akan mencari cara untuk pergi ke masa lalu.


***


Medo berjinjit sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Harap-harap cemas tidak ada yang melihatnya pergi ke bagian terlarang perpustakaan. Tempat berkumpulnya semua buku yang berkaitan dengan hal aneh atau ... Si Hitam.


Ia membaca satu per satu judul buku yang berjejer. Kata kunci yang ia cari adalah 'waktu', 'masa lalu', dan 'lilin.' Banyak sekali buku yang ditemukan, namun tidak satu pun menjelaskan hal yang ia cari.


Dimana kamu, Buku Masa Lalu?


Sebuah buku dengan sampul merah bata menarik perhatiannya. Buku tebal itu berada diantara setumpukan kertas yang belum dibereskan. Medo membaca judulnya.


Petualangan Rainbow Jack ke Masa Lampau.


Medo melengkungkan bibirnya. Sudah ia duga ada buku seperti ini. Ia menyembunyikan buku itu di kantong celananya. Walaupun tidak tipis, bukunya hanya seukuran sabun mandi batang.


***


Apa yang akan aku temukan?


Medo membaca halaman demi halaman. Ia tidak berhenti hingga lembaran terakhir. Akan tetapi, ia tidak menemukan petunjuk apa pun.


Apakah aku melewatkan sesuatu?


Medo membaca biografi sang penulis. Ia adalah seorang pahlawan di masa lampau. Terkenal dengan kebijaksanaan dan kekayaannya.


Hanya itu informasi yang aku dapat.


Tidak ada kisi-kisi untuk memanipulasi sistem dimensi waktu yang sudah diciptakan sang raja. Tidak ada daftar bahan untuk membuat ramuan aneh. Tidak ada panduan untuk membangun mesin waktu.


Aneh. Apakah cerita ini hanya bohongan belaka? Siapa Rainbow Jack itu?


Gedoran pintu membuyarkan lamunan Medo. Ia membukanya dan mendapati Eli tengah mengembangkan sayapnya. Siap untuk terbang. Eli meminta Medo untuk naik. Ada hal penting yang harus Medo lakukan.


"Kepala Bank Tugas memintaku untuk menjemputmu."


"Aku sudah tau hal ini akan terjadi."


"Memangnya ada apa?"


"Aku menggagalkan tugas khusus pertamaku. Banyak korban berjatuhkan akibat kecerobohanku."


"Oh iya? Kalau begitu, sepertinya hukumanmu adalah berkebun."