Justice

Justice
Kasus Bunuh Diri



"Sayang, apakah kita harus mengikuti saran dokter?" tanya Yuri.


"Maksudmu?" Anton bertanya balik sambil melepas pakaian kerjanya.


"Hm ... prosedur bayi tabung itu," jawabnya dengan menunduk.


Anton yang lelah karena baru pulang kerja naik pitam.


"Aku tidak mau! Memangnya kita apaan, Yuri?!" Anton berlalu. "Jangan membicarakan hal ini lagi kepadaku."


Yuri hanya dapat menangis. Ia sangat sedih karena sudah 3 tahun menikah, tetapi belum dikaruniai seorang anak. Ia ingin mencoba cara-cara yang tidak awam, namun suaminya selalu menolak.


Yuri naik kasur dan berbaring di sebelah Anton. "Maafkan aku. Aku tidak akan pernah membicarakannya lagi," bisiknya.


***


Anton pulang ke rumah setiap hari setelah kerja. Sangat jarang ia lembur. Ia memiliki prinsip bahwa keluarga nomor satu.


"Sayang, aku pulang. Kamu dimana? Tumben enggak bukain aku pintu," kata Anton sambil berkeliling mencari istrinya.


Sepasang kaki terlihat menggantung dari balik pintu kamar. Anton berlari dan mendapati istrinya sudah tidak bernyawa. Ia menangis histeris.


***


Pemakaman dilakukan keesokan hari. Orangtua Yuri menghampiri Anton yang masih memandangi batu nisan wanita tercintanya meskipun acara sudah selesai setengah jam yang lalu.


"Anton. Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan. Mari kita pindah ke tempat lain."


"Apa itu, Pak, Bu?"


Mereka sekarang berada di rumah Anton. Duduk berhadapan di meja makan. Empat pasang mata menatap Anton dengan serius.


"Sejujurnya, kami tidak percaya anak kami bunuh diri," tukas Sang Bapak.


"Maksud Bapak apa?"


"Mengapa kamu tidak mencoba menyelidiki lebih lanjut tentang kematian anak semata wayang kami?" tanyanya.


Anton diam dan menunduk. Ia tidak tau harus menjawab apa.


"Apakah benar dugaan kami?"


"Kamu ... membunuh anak kami," tuduh Sang Bapak.


"Tidak, Pak. Mana mungkin saya melakukan hal itu?" Anton membela diri.


"Kami tahu, Anton. Kalau rumah tangga kalian sedang bermasalah." Sang Bapak berdiri diikuti dengan Sang Ibu.


"Kami tidak akan tinggal diam, Anton."


"Kami akan memanggil polisi ke tempat ini," ancam Sang Ibu.


"Ya. Polisi akan memenjarakan polisi. Kami pergi."


Anton terpaku mendengar semua itu. Ia tidak mengerti mengapa dirinya yang didakwa. Apakah karena hal itu?


***


Beberapa orang polisi menggeledah rumah Anton. Mulai dari halaman hingga toilet. Pagi hingga sore.


Hasil investigasi membutuhkan waktu beberapa hari untuk menarik kesimpulan. Tergantung besar-kecilnya sebuah kasus.


"Bagaimana? Sudah ketemu buktinya?" tanya Sang Bapak di kantor polisi.


"Kami tidak menemukan apapun yang mencurigakan, Pak. Barang-barang di TKP pun sudah diperiksa oleh ahli kami. Tidak ada tanda-tanda telah dilakukan kekerasan fisik," terang salah satu polisi yang bertugas.


"Kami tidak percaya."


"Mohon maaf, Pak. Hasil pengusutan kami sudah final."


"Kami ingin mengajukan tindakan forensik."


"Pak! Itu sudah keterlaluan!" sergah Anton. Ia sedari tadi berusaha untuk masuk ke dalam ruang pertemuan, namun dicegat oleh teman-temannya.


"Saya punya hak untuk itu. Saya bapaknya."


"Ya. Dan saya suaminya."


Mata mereka beradu dengan penuh amarah. Polisi menarik Anton keluar. Anton putus asa.


***


"Sayang, nanti kalau sudah menikah, kamu mau punya berapa anak?" tanya Yuri sambil bergelayutan di ayunan.


"Hm ... banyak anak, banyak rezeki! Hahaha!" jawab Anton. Ia mendorong Yuri dengan lebih keras.


"Heh! Inget! Dua anak lebih baik! Waaa ... aku terbang! Hahaha."


***


Anton menyalakan senter dan merapatkan jaketnya. Angin berhembus meniup pepohonan. Bunyi dahan-dahan yang saling bergesekan membuat suasana semakin mencekam. Anton nekat untuk bermalam di tempat itu. Berjaga-jaga siapa tau ada yang lebih nekat darinya.


Paginya, ia berlari pulang dan mengacak-acak laci. Ia lupa disimpan dimana barang penting itu. Ia yakin barang itu dapat menyelamatkannya.


"KETEMU!"


Anton ke kantor seperti sebelumnya. Masa break akibat tuduhan serta tindak penggeledahan rumahnya membuat ia tidak dapat bekerja. Ia berjalan di lorong menuju ruangannya.


Sayup-sayup ia mendengar suara Yuri dari balik tembok. Apa ia sudah gila? Ia mencoba menenangkan diri. Mungkin karena ia terlalu memikirkan istrinya tersebut.


"Iya, Bu. Anton tidak mau melakukan itu, Bu. Maafkan aku."


Anton terbelalak. Ia tidak salah dengar. Itu memang suara Yuri. Anton mencari sumber suara. Dari balik ruang pertemuan. Ia menguping.


"Aku sudah putus asa, Bu. Jangan minta aku lagi ya. Mungkin kalau Ibu yang membujuknya, ia akan mau?"


"Bu, hari ini aku bertengkar lagi dengan Anton. Bapak mau kesini? Tidak usah, Bu. Aku bisa mengatasinya sendiri."


Anton masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk. Ia sudah tidak tahan lagi.


"Cukup!" pekik Anton.


Semua mata tertuju kepada Anton. Seolah melihat sampah yang harus dibuang. Suami bodoh, pikir mereka.


"Kamu tidak punya sopan santun ya, Anton?" cerca Sang Bapak. "Kamu merasa tertangkap basah ya?"


"Kenapa Bapak sama Ibu tidak mau percaya sama saya? Apa salah saya, Pak, Bu?" Anton menahan tangis.


"Salah kamu karena telah membunuh anak saya dan tidak mau bertanggungjawab!" teriak Sang Bapak yang telah berdiri dan menghampiri Anton hendak memukulinya.


Polisi menahan Sang Bapak dan mengusir Anton. Anton terpaksa tetap bekerja hari itu walaupun enggan. Pikirannya kacau.


***


Esok hari adalah saat-saat penentuan. Sang Bapak menuju halaman rumah untuk menghirup udara segar. Jogging adalah aktivitas wajibnya setiap pagi. Demi kesehatannya yang sudah berumur 65 tahun.


Ia mencium wangi mawar, bunga favorit anaknya. Ia menangis. Ia rindu anaknya.


"Bu! Akhirnya kita punya anak! Setelah penantian panjang!" Sang Bapak memeluk Sang Ibu dan bayi kecilnya.


"Sepertinya ini anak pertama dan terakhir kita, Pak. Dari dialah penerus kita akan terus ada."


"Semoga saja ia menjadi anak yang sehat, cantik, dan baik."


Panggilan Sang Ibu memecah lamunan Sang Bapak. Ia menyusul sambil membawa sebuah amplop.


"Kenapa, Bu?"


"Ini ada amplop di kotak pos. Mungkin buat Bapak."


Sang Ibu masuk ke rumah. Sang Bapak membuka dan membaca isi kertas yang ada. Hanya selembar kertas lusuh.


Maafkan aku, Anton. Tidak seharusnya aku seperti ini. Tapi aku sudah tidak kuat!


Bapak sama Ibu terus-terusan menekanku untuk punya anak! Mereka mengusulkan ini dan itu. Kau tau kan?


Aku diancam, Ton! Aku diminta menceraikanmu! Aku tidak mau! Aku lebih baik mati!


Maafkan aku, Anton, karena tidak dapat memberimu keturunan. Tolong jaga orangtuaku. Sayangi walaupun mereka seperti itu.


Aku mencintaimu, Ton.


***


Medo membuntuti Anton dan bermalam di halamannya. Ia tersentak. Suara pagar yang dibanting mengagetkannya. Ia mengerjap-erjapkan mata untuk mengumpulkan nyawa.


"Anton! Anton!" Seorang pria dan wanita tua menggedor-gedor pintu rumah.


Anton membuka pintu dan raut wajahnya berubah--tidak bisa dibaca. Ia membisu.


"Maafkan kami! Maafkan saya, Anton!" jerit pria tua. Sang wanita hanya dapat menangis.


Tangis Anton pecah. Sepertinya, ia telah menahan tangis sedari awal. Ia gemetar.


"Saya telah membaca surat yang kau kirimkan! Saya tahu itu adalah tulisan Yuri! Saya, saya ... telah membunuh anak saya sendiri, Anton!" Pria tua semakin menjadi. Ia sampai memegangi dinding agar tidak terjatuh.


Anton memeluk pria dan wanita tua yang renta itu. Telapak tangannya membelai punggung mereka. Tiga pasang tangan kini saling bertaut.


"Saya memaafkan Bapak dan Ibu. Yuri pun pasti memaafkan. Mari kita ikhlaskan semua yang telah terjadi," isak Anton.


Cahaya putih menyilaukan pandangan Medo. Kini semua menjadi kabur. Anton dan mertuanya memudar dan hilang.


Medo kembali ke asalnya. Pertanda tugas hari itu telah selesai. Ia berjalan gontai. Hatinya penuh tanya. Kepada siapakah ia menemukan jawaban?