Justice

Justice
Si Kutu Buku Pecinta Horor



"Gila! Serem banget!" sahut seseorang.


"Eh apa sih?" tanya seorang yang lain.


"Jalan Anggrek Putih No 31 itu angker! Udah ada dua kecelakaan katanya disana selama 2 minggu!"


Si kutu buku hanya senyam-senyum mendengar teman-teman sekelasnya saling bercerita, apalagi cerita horror. Ia memang suka hal-hal berbau mistis. Tetapi ...


"Woy! Kutu buku! Sini lo!" teriak seorang murid berbadan dua kali lebih besar dari si kutu buku.


"Maaf, saya punya nama. Nama saya ..."


"Gua gak peduli! Gua laper nih! Bagi duit dong ..."


"Eh?" Si kutu buku baru menyadari bahwa ia dalam situasi yang gawat. Di halaman belakang sekolah, sendirian bersama tukang palak dan dua temannya.


"Gua cuma minta 10000 kok! Pasti lo punya kan!"


"Ma-maaf. Sa-saya tidak punya." Ia berusaha kabur namun ditahan oleh dua orang teman si pemalak.


"Jangan bohonglah ... Lah, ini apa?" Si pemalak menunjukkan uang 10000 setelah merogoh kantong celana si kutu buku.


"Eh ... Tolong jangan diambil."


"Udahlah. Makasih ya. Bye."


Si kutu buku ditinggalkan sendirian. Tangannya terkepal dan meninju tembok. Ia benci dirinya yang tidak bisa melawan.


***


"Eh, tau gak? Kemarin ada yang lihat, katanya Rafi dipalak sama Herman loh," bisik seseorang kepada temannya.


"Serius? Terus gimana?"


"Ya dipalaklah. Diapain lagi?"


"Gak dilaporin gitu?"


"Entahlah. Gua kalo jadi yang ngeliat juga gak berani ngelapor. Soalnya Herman serem banget."


Rafi yang tidak pernah jadi sorotan siapapun bahkan tidak memiliki teman, kini menjadi 'terkenal.' Dari luar tampaknya teman-teman sekelasnya tidak mempedulikannya namun Rafi tau kalau mereka menggosipkan dirinya. Hanya karena satu kejadian kecil kemarin.


Rafi memilih diam. Ia berusaha untuk tidak terlibat dengan Herman dkk lagi, tetapi lagi-lagi Herman dkk menemukan Rafi sedang menyendiri di tempat sepi. Kali ini di depan perpustakaan gedung lama.


"Rafi~ Bagi uang lagi dong. Yang kemarin sudah habis," pinta Herman dengan nada sengaja dimanjakan.


"Maaf. Saya tidak punya uang lagi," jawab Rafi dingin.


"Ah! Jangan bohong lo!" timpal Herman. "Periksa dia!" perintahnya.


Dua teman Herman merogoh baju dan celana Herman, namun tidak menemukan apapun.


"Udah saya bilang tidak ada."


Kerah Rafi ditarik hingga ia berjinjit. "Jangan sok sama gua. Tau akibatnya?" ancam Herman. "Kasih pelajaran gaes."


***


"Eh, tau gak? Kemarin ada yang lihat, katanya Rafi dipalak lagi sama Herman loh," bisik seseorang kepada temannya.


"Serius? Terus gimana?"


"Tapi dia gak ada uang. Terus dipukulin."


"Itu udah keterlaluan."


"Coba laporin yuk?"


Rafi itu dikenal misterius dan pendiam. Ia suka ke perpustakaan untuk mencari urban-urban sekolah. Setelah tahu, ia akan mendatangi tempat-tempat tertentu di sekolah dan melakukan 'ritual.' Rumornya seperti itu, tetapi tidak ada yang tahu kebenarannya.


***


"Apaan nih?"


"Kenapa, Her?"


"Tumben si kutu buku chat gua. Katanya pengen ngasi gua duit, tapi habis itu jangan malak dia lagi katanya."


Gelak tawa menggelegar saling bersahutan.


"Ya udah. Datengin aja, Her."


"Dia bilang gua harus sendiri. Gua gak maulah! Kalian jaga-jaga aja ya dari jauh."


"Siyap."


***


Tempat bertemunya Rafi dan Herman di halaman belakang sekolah. Tanpa ba-bi-bu, Herman bertanya mengenai uangnya. Rafi hanya menunjuk ke suatu arah tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


Herman melompat ke dalam sebuah lubang sedalam 3 meter dan memunguti duit yang berceceran.


"Ngapain coba lo taro sini, Kutu buku!" Herman terdiam ketika mendongak ke atas dan tidak melihat cahaya lagi. "KOK?! WOY, KUTU BUKU!! KELUARIN GUA DARI SINI!!"


Herman mencoba menghubungi teman-temannya namun tidak ada sinyal. Ia mencoba berbagai cara untuk keluar namun hasilnya nihil. Ia terjebak di dalam lubang.


***


Yoga dan Toto yang curiga Herman tidak kunjung muncul mencoba menyusul. Hanya ada Rafi disana sedang bersiap-siap untuk pergi.


"Woy! Mana Herman!" teriak Yoga.


"Dia sudah pulang duluan," jawab Rafi dingin.


"Bohong lo!"


"Herman gak bisa dihubungi. Dia kemana sih?"


"Udah saya bilang. Dia pulang duluan. Saya balik dulu."


Yoga dan Toto memanggil-manggil nama Herman namun tidak kunjung bertemu dengannya. Mereka pun menghubungi keluarga Herman, namun Herman belum kunjung pulang. Mereka sangat khawatir Rafi sudah melakukan sesuatu.


***


Keesokan harinya, Herman dikabarkan menghilang. Ia tidak pulang ke rumah dan tidak bisa dihubungi. Berita ini langsung tersebar di sekolah dan menjadi topik hangat.


"Wah, kemana ya si Herman?"


"Kenapa coba dikhawatirin. Orang suka malak gitu."


"Engga sih. Cuma lucu aja tiba-tiba ngilang kek ditelan bumi."


"Eh, Rafi. Lo udah gapapa kan?" tanya seorang wanita, teman sekelasnya.


"Memangnya kenapa ya?"


"Waktu itu kan lo sempat dipukulin kan sama si Herman dkk."


"Oh. Iya, udah gapapa kok."


Rafi terus menunggu. Namun tidak kunjung ada. Apa mereka menyerah?


***


"Gimana nih, To? Gua yakin banget si Kutu buku udah macem-macem sama Herman."


"Gua tau, Yog. Tapi kita gak bisa ngelaporin ke guru gitu aja. Kita juga bisa kena imbasnya."


"Maksud lo?"


"Lo bodoh ya. Kalo kita cerita yang sebenarnya, bakal ketahuan kalo selama ini kita suka malakin si Kutu buku."


"Astaga. Gua gak kepikiran."


"Lebih baik kita diam aja. Cari aman."


"Tapi gimana nasib Herman?"


***


Rafi tersenyum membaca sebuah chat ajakan untuk bertemu. Akhirnya.


"Ada apa?"


"Jangan pura-pura gak tau deh. Cepet kasih tau dimana Herman sekarang!"


"Udah saya bilang, dia pulang duluan."


"Kita gak percaya. Soalnya lo yang terakhir bareng dia. Kalau lo gak mau kasih tau ..." ancam Yoga.


"Mau apa? Ngelaporin ke guru? Emang kalian punya bukti? Kenapa jadi diam?"


Halaman belakang sekolah sangat sepi karena jam pulang sekolah sudah sedari tadi. Satpam pun jauh dari jangkauan mereka. Tidak ada yang dapat mengusik mereka bertiga.


Yoga dan Toto nekat memukuli Rafi karena kesal dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Rafi hanya diam saja padahal bibirnya sudah berdarah.


Sekarang.


Tiba-tiba langit menjadi mendung dan angin berhembus kencang. Sebuah bayangan hitam muncul dari balik pohon. Tangan gelapnya yang besar menarik Yoga dan Toto. Melemparkan mereka ke dalam lubang yang sama dengan Herman.


"To--" suara mereka menghilang dengan sekejap digantikan dengan petir yang saling menyambar.


Rafi berdiri dan membersihkan pakaiannya. Ia berjalan mendekati tempat dimana Yoga dan Toto dilempar. Lubang itu sudah tertutup, tidak meninggalkan bekas.


"Udah saya bilang. Herman sudah pulang duluan. Pulang duluan ke alam baka."


Tidak ada yang tahu kecuali Rafi. Si Kutu Buku Pecinta Horror. Konon di sekolahnya ada 'penjaga' bagi orang-orang yang dibully. Mereka hanya dapat dipanggil dengan cara tertentu. Ketamakan dan ketakutan adalah makanan 'mereka.'