
Medo bersembunyi di balik pohon besar. Ia memicingkan mata pada sebuah timbangan kecil di tangannya. Cahaya putih membentuk huruf I dan cahaya hitam huruf U. Kedua cahaya berada di bagian timbangan yang berbeda.
Bagian mana yang akan tampak lebih berat? Kedua sisi timbangan masih bergerak-bergerak. Belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Ia mengintip. Sebuah mobil dari arah berlawanan melaju dengan cepat. Tak lama oleng.
Aku harus pergi dari sini.
Ia merangkak cepat menjauhi pohon. Timbangan masih melekat di telapaknya.
Tuh kan cahaya hitam.
Burung yang bersarang atau sekedar bertengger terbang meninggalkan pohon. Sebagian dahan patah dan saling bergesekan. Daun-daun rontok menghujani atap mobil yang telah berasap.
Kapan cahaya putih akan menang?
***
Medo pergi mencari genangan air. Ia harus segera meninggalkan tempat itu, kalau tidak ... Genangan yang ia butuhkan sekarang hanya becekan di jalan raya.
Tikungan itu!
Ia melompat ke dalam becekan. Sedari tadi, ia menggigil, kini ia dapat merasakan sengatan matahari. Pinggiran jalan berubah menjadi halaman belakang sekolah. Ia berhasil melompati waktu.
Dimana mereka? Oh, disana!
Tidak sulit mencari tempat berlindung. Rimbunan pohon menyelimuti hawa keberadaannya. Medo tidak suka aura tempat ini. Ia menggidik.
Tiga orang laki-laki sedang berdebat. Medo terus-menerus menatap mereka bergantian dengan timbangannya.
Kali ini cahaya apa?
Medo putus asa saat melihat adegan dihadapannya. Dua orang diantaranya terlempar ke dalam lubang dan tanah bergerak sendiri menutupinya. Lagi-lagi cahaya hitam.
Medo melompati pagar besi setinggi 2 meter di belakangnya. Tidak sulit karena ia memiliki kaki kijang. Ia berlari menjauhi tempat itu. Ia tau kenapa dari awal ia benci disana. Ada Si Hitam.
***
Lima menit Medo habiskan untuk mencari danau atau sungai, namun tidak kunjung ketemu. Tidak ada alternatif lain. Ia harus segera menyelaminya!
Ia mengendus bau air dan mengikutinya. Semoga saja aku bisa memakainya, pikirnya.
Kolam ikan! Ah, iya!
Cahaya putih! Itu dia gerbangnya!
***
Medo jatuh bebas dan terjerembap di sebuah balkon. Semua badannya sakit apalagi kepalanya yang dipenuhi ular. Mereka bisa saja mati, walaupun itu mustahil.
Ada apa di tempat ini? Siapa mereka? Tunggu! Si Hitam!
Medo tidak sanggup berharap pada timbangannya yang melambat. Ia meringis. Timbangannya tiba-tiba bergerak lebih kuat dan cepat. Apa ia masih terlalu dini untuk putus asa? pikirnya.
Ia menoleh kembali ke dalam. Si Hitam merasuki seorang gadis. Alis Medo bertaut dan matanya memanas.
Lagi?
Medo hendak meninggalkan balkon itu setelah gadis yang lain merapatkan pintu. Namun, gadis yang dirasuki tampak sehat dan mereka seperti mengejek orang tua dihadapannya.
Denting lonceng yang merdu terdengar lembut. Medo mendapati timbangannya bersinar dengan cahaya putih. Sangat terang. Air matanya tumpah.
***
Suara di kepala Medo menuntunnya ke pemakaman. Ia tolah-toleh mencari seseorang atau sekumpulan orang. Namun, tidak ada siapapun disana.
Ia duduk di bawah pohon kamboja. Guguran bunga menumpuk di kepalanya. Ular memakaninya dengan lahap. Itu kan memang favorit mereka, gumam Medo.
Apa yang aku tunggu?
Bunyi langkah kaki memecah lamunan Medo. Ia tidak sadar kalau sudah ada seorang pria yang menatapi dan menuju dirinya. Medo terpaku.
Laki-laki berseragam polisi dihadapannya bak mayat hidup. Kulitnya pucat dan matanya merah. Ia membuang muka seolah tidak melihat Medo. Ia mendekati sebuah kuburan yang masih bersih dari rumput liar dan dipenuhi bunga orang mati.
Ah! Timbanganku!
Ia terdiam. Mengapa timbangannya tidak bergerak? tanyanya pada diri sendiri. Tidak ada cahaya putih maupun hitam. Hanya cahaya kelabu yang menggumpal di kedua sisi.
Manusia itu ...
Pria tadi menangis sambil memeluk batu nisan. Ia menaburkan bunga dan menyiraminya dengan air. Ia berdoa.
Medo terpana. Tidak pernah ia melihat hal seperti ini. Manusia berdoa, timbangan tidak bergerak, dan cahaya kelabu. Kombinasi yang mengagumkan, pikirnya.
Aku harus mencari tau apa yang akan terjadi.