Justice

Justice
Rahasia Kepala Sekolah



Ruang rapat SMAN Mawar dipenuhi oleh kepala sekolah dan para guru. Diskusi seru sedang berlangsung. Bukan hanya mengenai strategi meningkatkan performa dan citra sekolah, namun juga kemerosotan saingan terberat mereka.


"Kita sangat beruntung, peminat SMAN Melati semakin menurun selama 3 tahun terakhir ini,' kata guru IPA.


"Ya. Kebalikannya dengan kita yang semakin meningkat!" timpal guru MTK.


"Memang rumor di sekolah itu sangat berdampak ya. Jangan sampai kita terkena rumor aneh," sahut guru IPS.


"Ya. Rumor murid-murid mereka yang raib di sekolah kan?"


"Ih mengerikan."


Plok! Plok! Kepala sekolah berusaha menenangkan seisi ruangan. "Semuanya tenang! Mari kita membahas hal yang penting kembali."


***


"Eh, sekolah kita tuh jadi keren banget ya sekarang!" seru seorang murid kelas 3.


"Iya. Sejak Pak Edel menjabat jadi kepsek. Kebijakan sekolah berubah jadi lebih baik. Terus banyak lab juga yang dibagusin."


"Yoi. Gua harap Pak Edel terus sehat supaya lama ngejabatnya. Hahaha."


Kantin sekolah di waktu yang sama. Dua orang murid kelas 2, Dinda dan Ara, juga sedang berbicang. Akan tetapi mengenai keganjilan di sekolah ini.


"Lo sadar gak sih, Din? Kalau ada temen-temen kita yang mulai aneh gitu?"


"Aneh gimana maksud lo?" tanggapnya sambil melahap bubur kacang ijo favoritnya.


"Contohnya Indra sama Keshia," bisik Ara. "Mereka ... jadi suka senyum-senyum sendiri gitu."


Dinda mencoba mengingat-ingat ekspresi wajah kedua teman sekelasnya itu akhir-akhir ini. Memang sih, mereka tampak ceria dan tidak sependiam dulu. Tapi menurut Dinda tidak ada yang aneh.


"Bukan cuma mereka aja, Din. Anak kelas sebelah juga ada. Gua denger-denger, si anak sebelah itu sebelumnya pernah mau bunuh diri. Entah karna apalah. Tapi sekarang malah ceria dan tebar senyum mulu sama yang lain."


Ara menarik napas sejenak sebelum melanjutkan. "Bukannya aneh ya?"


"Gimana kalo kita selidiki mereka?" usul Dinda. Sejujurnya ia hanya penasaran, apakah benar seaneh itu.


"Caranya?"


***


Salah satu kebijakan yang dibuat oleh Pak Edel untuk meningkatkan performa belajar para murid. Para guru selalu menghimbau agar siapapun yang merasa down dan tidak semangat belajar, segera melapor agar dapat berkonsultasi. Kebijakan ini disambut hangat. Buktinya siswa berbondong-bondong datang.


"Pak Edel luar biasa," puji guru MTK.


"Ya. Murid yang tidur dan malas-malasan di kelas mulai berkurang. Hanya karena ..." timpal guru IPA.


"Bukan hanya! Beliau sangat bekerja keras untuk itu!" sergah guru IPS.


"Ya-ya!"


"Ada yang tau gimana cara Pak Edel ngubah murid-murid itu?" tanya guru Bahasa tiba-tiba dari balik meja kerjanya. Ia sedari tadi menguping kelompok rumpi itu.


Pertanyaan singkat yang dilempar barusan sukses membuat semuanya terdiam dan saling bertatap. Saling menebak dalam hati. Siapa tau ada yang tau.


Nihil.


***


Sebelum memasuki ruang kerjanya, ia celingak-celinguk untuk memastikan tidak ada yang lewat. Dua gelas kopi hitam diseduhnya. Meja sudah dipenuhi makanan dan minuman.


"Apa kau senang?"


Wanita cantik dihadapannya mengangguk sambil menyeruput kopi hitam yang airnya baru mendidih.


"Setimpal dengan apa yang saya dapatkan."


"Tidak ada ucapan terima kasih?"


"Memangnya kau butuh?"


Mata merahnya kini menatap Pak Edel lekat dan hampir mencekik manusia renta dihadapannya.


"Dasar rendahan," cibirnya.


Pak Edel tidak takut. Ia malah menantang dengan membalas tatapan itu. Apa yang sudah dibeli, tidak bisa ditarik kembali.


***


"Lo udah ngerti, Din?"


Dinda mengangguk. "Mereka mengerikan, Ra."


"Udah gua bilang. Lihat. Mata mereka, senyum mereka ... semuanya sama."


"Mata kosong ... senyum palsu," tambah Dinda. "Apa yang telah terjadi dengan mereka?"


"Entahlah."


"Besok ikut gua ketemu seseorang, Ra. Mungkin dia dapat membantu."


***


Seorang pria kuliahan duduk sendirian. Menatap es teh yang hampir habis. Ia memiliki firasat buruk.


"Bang Rafi! Sori banget kita telat. Abang udah lama nunggu ya?"


Dinda mulai menarik kursi diikuti oleh Ara. Alis Ara sudah terangkat sejak ia melihat sosok pria dihadapannya dari jauh.


Tampannya.


"Gapapa kok."


Dinda mengenalkan Ara. Ia kemudian menceritakan permasalahan yang sedang mereka hadapi. Sedetail mungkin.


"Ini bukan ulah manusia," komen Rafi setelah melihat foto-foto yang diberikan.


Dinda dan Ara mengadu pandang dan menahan napas.


"Kalian yakin pengen selidiki hal ini lebih dalam?" tanya Rafi memastikan. Dua perempuan itu mengangguk keras. "Walau taruhannya nyawa?"


Hening. Tidak ada yang berani menjawab bahkan sekedar mengangguk lemah. Nyawa katanya?


"Terserah kalian mau gimana. Tapi gua peringatin kalo hal ini bukan main-main. Gua punya firasat buruk dengan kalian." Wajah Rafi tampak memelas. Ia sangat berharap dua murid polos dihadapannya menyerah saja.


"Bang, tapi mereka teman-teman kita." Dinda membuka suara.


Raut wajah Rafi langsung mendingin. Ia tertawa hambar dalam hati. "Baiklah."


***


Dinda dan Ara masih memiliki petunjuk kecil. Kesamaan yang dimiliki oleh para korban adalah sebelumnya mereka punya sifat pendiam, tertutup, bahkan berniat bunuh diri. Mereka menunggu hingga sebulan.


"Tiara Sekar dan Dinda Airin, dimohon untuk ke ruang kepala sekolah sore ini. Beliau ingin memberikan wejangan khusus," berita wali kelas.


Dinda dan Ara bertatapan kemudian mengangguk. Inilah saat yang mereka nantikan. Mereka sudah merencanakan sesuatu.


***


Dinda dan Ara pertama kalinya kesana. Ruangan itu sangat besar. Lengkap dengan meja makan dan dapur pribadi.


"Duduk," perintah Pak Edel. "Apa yang terjadi dengan kalian berdua? Teman-teman sekelas kalian sangat khawatir. Mereka melaporkan kalian berdua telah berbeda dari sebelumnya."


Dinda tidak mau membuka suara. Ia terpaku dengan sosok hitam di belakang Pak Edel. Sosok itu merayap mendekati Ara.


"Kami sedang mengalami masa sulit, Pak. Kami tidak semangat belajar. Mungkin karena puber?" Ara kebingungan merangkai kata. Ia tidak pandai berbohong.


Bola mata Pak Edel menatap Ara bak menusuk dirinya. Ara gemetar dan menggigil seketika. Dinda mencoba menenangkannya namun ditepis. Sosok hitam tadi menembus tubuh Ara dengan cepat lalu raib.


"Saya mengerti kalian masih pelajar. Namun saya harap kalian bisa lebih semangat lagi ke depannya. Cobalah berlibur di akhir pekan untuk mengurangi stres!" balas Pak Edel dengan tersenyum lebar. Imagenya langsung berubah.


"Baik, Pak," sahut Dinda dan Ara bersamaan.


Ara keluar lebih dulu. Dinda dengan gugup menoleh ke belakang. Pak Edel masih tersenyum. Sebelum Dinda menutup pintu, Pak Edel memberi kata terakhir.


"Kamu melihat dia ya? Pantas saja dia tidak bisa melahap aura negatifmu."


Dinda membeku di tempat. Apa dia bilang?


Ara menarik tangan Dinda. Ia menatap tajam kepala sekolah sambil mengacungkan handphonenya yang sedang merekam video. Dinda dan Ara tersenyum puas.