
Bunyi terompet diiringi rebana dan kecapi memegahkan suasana festival. Seluruh makhluk berkumpul untuk merayakan hari menyalanya mereka. Satu hari istimewa bagi setiap makhluk, kecuali Medo.
"Mengapa saya menyala, Eli?"
"Jaga ucapanmu. Tidak semua mendapatkan kesempatan itu," tegurnya.
"Maaf. Hanya saja ... Kau tau kan? Aku tidak seperti lilin lainnya. Aku tidak memiliki kekuatan apapun," keluh Medo.
"Aku tidak percaya. Setiap kita pasti memiliki sesuatu untuk dikerjakan."
"Hei! Aku lilin! Tugasku mengawasi manusia! Maksudku kekuatan khusus pada diriku untuk membantu dalam pekerjaan."
Eli diam. Ia menatap lekat Medo yang menunduk sedih. Sentuhan lembut di kepala Medo membuatnya lebih tenang. Eli sudah menganggap bocah dihadapannya sebagai saudara.
"Ingat, Medo. Apa yang terpenting bukan tampak luar tetapi dalam. Terutama disini." Eli menunjuk tepat di jantung Medo.
Suasana ramai hilang seketika. Tidak ada lagi lagu yang dikumandangkan maupun alat musik yang dimainkan. Makhluk kecil maupun besar berlarian mengambil barisan. Seorang raja telah datang.
Berpuluhan ribu pasang mata menatap satu titik, yaitu kursi raja. Tidak ada siapapun. Hanya suara keras yang menggema ke seluruh pelosok.
Mulai saat ini, saya akan pergi. Namun, saya tidak benar-benar pergi. Kerjakan tanggungjawab kalian sebagai lilin. Lihatlah kenyataan yang ada di dunia ini! Tegakkanlah kebenaran dan keadilan!
Tubuh Medo merinding mendengar perintah tersebut. Ia menggigil dan jatuh pingsan. Hal ini seringkali terjadi bila lilin tidak memercayai dirinya seorang lilin.
***
Tiap nyawa setiap malam berdoa. Mereka berharap suatu hari akan dipanggil. Sebuah misi yang sangat mulia. Katanya, hanya jiwa-jiwa abadi dalam hati manusia yang dapat dinyalakan--dihidupkan kembali.
Seseorang mendekati sebuah rumah di pinggir bukit. Ia mengetuk pintu dengan perlahan agar tidak ada yang mendengarnya kecuali si pemilik rumah. Bocah yang ada di dalam menajamkan pendengaran, denting lonceng yang merdu terdengar.
Bak sinyal khusus, ia mencari sumber suara. Pancaran sinar menembus jendelanya. Bocah itu membuka pintu dan mendapati dirinya terhisap ke dalam sinar yang dilihatnya. Sangat kuat hingga ia tidak dapat menahan tubuhnya tetap berdiri.
Ia terbangun di tengah padang gurun. Ia tidak tahu dimana ia berada. Hal sebelumnya seperti hanya sebuah mimpi aneh. Ia berjalan tanpa tujuan. Dia sendiri tidak tau apakah dirinya berjalan lurus atau tidak.
Sebuah oasis mulai terlihat di ujung gurun. Ia sontak berlari karena kehausan. Sudah berjam-jam ia berjalan dengan kaki telanjang.
Tiba-tiba ia berhenti. Mengapa aku berlari begitu cepat? tanyanya pada diri sendiri. Ia memerhatikan tubuh bagian bawahnya. Ia berlari dengan empat kaki. Bukan kaki biasa tetapi kaki seekor kijang.
Apa yang terjadi denganku?
Ia berhasil sampai di oasis. Ia langsung meneguk air yang sangat segar itu. Ia tidak berhenti minum sampai ia melihat bayangan dirinya. Puluhan ular hijau menempel di kepalanya seperti rambut.
"Akh!" pekiknya. "A-apa ini?! Ular?!"
Ia ingin menyentuh kepalanya namun tidak berani. Matanya bertemu dengan kepala ular itu. Ia menjerit lebih keras.
"Tolong! Seseorang tolong aku!" Ia berteriak seperti orang gila sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan kuat.
Jangan takut. Kami tidak akan menyakitimu.
Sebuah suara terdengar di kepalanya. Bak sebuah mantera ajaib, bocah itu mulai tenang. Ia duduk di bawah pohon kurma.
"Siapa kalian?" tanyanya pada ular. Ia kini mulai memberanikan diri untuk mengadu pandang dengan makhluk aneh itu.
Selamat. Kamu terpilih menjadi seorang lilin.
"Lilin? Eh, maksudmu ..." Sang bocah baru menyadari sesuatu. Ia mulai mengingat kembali kejadian semalam.
Ya, benar. Tadi malam, raja datang ke rumahmu. Ia menyalakanmu.
Sang bocah menghela napas. Lega. Ia kira hal yang lebih buruk sudah terjadi kepadanya.
Siapa namamu?
"Aku ... Januari."
Bukan nama manusiamu. Tetapi nama lilinmu.
"Entahlah." Bahunya terangkat. Seingatnya raja tidak berkata apapun tadi malam mengenai hal itu. Bahkan ia tidak mendengar suara sang raja.
Kau pernah mendengar tentang mitologi kuno Yunani?
"Aku tau beberapa."
Bagaimana kalau namamu Medusa?
Januari ragu. Ia mencoba mengingat sesuatu. "Me ... dou ... sa. Ya! Medo! Nama lilinku Medo!" pekiknya kegirangan.
Kumpulan ular tersenyum melihat tingkah Medo. Mereka menjalar memanjangkan tubuh menuju semak-semak. Tubuhnya memendek kembali dan setiap mulut mereka menggigit sebuah bunga. Mereka menyantapnya dengan lahap.
"Ular, sekarang apa yang harus aku lakukan untuk pergi dari tempat ini?"
***
Medo memilih tidak ikut dalam lingkaran itu. Ia sendirian di bebatuan sambil memandangi teman-teman lilinnya dari jauh. Ia bukannya takut menunjukkan dirinya. Ia hanya tidak tau apa kemampuan yang dimilikinya.
"Mengapa tidak ikut, Medo?" Eli, sahabatnya, menghampirinya setelah selesai mengikuti acara rutin tersebut.
"Eli. Kau sudah berapa lama menjadi lilin?"
"Sekitar 1 tahun. Ada apa?"
"Kapan kau tau kemampuanmu?"
"Dari awal aku menjadi lilin, Medo."
Jawaban Eli membuat Medo terdiam. Ia juga mendapatkan jawaban yang sama dari teman-teman lilin lainnya. Ia merasa hanya dirinya yang tidak tau atau hanya dirinya yang tidak memiliki kemampuan.
"Hei. Besok hari pertamamu mendapat tugas kan?" Medo mengangguk. "Mari aku jelaskan apa yang perlu kamu siapkan dan lakukan."
***
Medo tidak mengerti apa kegunaan timbangan yang ada di tangannya kini. Tadi Eli memberikannya begitu saja. Tanpa menjelaskan apapun, ia mengajak Medo ke dunia manusia.
"Perhatikan baik-baik," bisik Eli.
Mereka sekarang berada di sebuah hutan lindung. Pepohonan menyembunyikan mereka. Mereka mengintipi dua pria tengah berburu.
Apa yang akan terjadi?
Timbangan di telapaknya mulai bergerak-gerak. Muncul cahaya hitam dan putih yang membentuk dua huruf. Medo fokus pada bagian yang tampak lebih berat. Putih. Berubah lagi. Hitam. Begitu seterusnya.
Apa makna dari semua ini?
"Lihat. Pemburu-pemburu itu tertangkap."
Suara Eli mengagetkan Medo. Ia hampir menjatuhkan timbangan itu namun gagal. Besi hitam itu melekat seperti lem di telapak tangannya.
"Benar dugaanku. Cahaya putih menang," gumam Eli. "Kau mengerti kan sekarang, Medo?"
"Eh-eh, apa? A-aku sedikit mengerti. Ehm ... Kalau manusia yang jahat itu kalah maka cahaya putih yang akan menang kan?" tebak Medo ragu.
Eli menggeleng. "Tidak ada manusia yang jahat, Medo. Semua manusia memiliki inti yang sama. Niat paling kuat untuk menjunjung kebenaran dan keadilanlah yang akan menang."
"Baiklah. Tapi bagaimana kalau cahaya hitam yang menang?"
Eli membawanya ke sebuah dasar jurang. Mereka tidak bersuara dan menunggu sesuatu terjadi. Medo melihat timbangannya mulai bergerak.
Dentuman kuat tiba-tiba terdengar. Mereka menuju sebuah titik dimana bunyi itu berasal. Sebuah tubuh yang sudah terkoyak menyatu dengan tanah.
Medo memandang ngeri mayat dihadapannya. Sisi timbangan milik cahaya hitam lebih rendah dari sisi yang lain. Sisi itu menang.
"Kasus bunuh diri. Cahaya hitam. Menurut manusia ini, kebenaran dan keadilan yang seperti inilah yang terbaik," iba Eli.
"Aku masih tidak paham."
"Timbangan itu bukan alat untuk menunjukkan siapa yang benar dan salah. Hanya untuk mengukur niat seseorang. Putih dan hitam adalah bagian untuk melihat siapa yang seharusnya menang. Putih. Itu sudah jelas."
"Dan huruf-huruf ini?" tanya Medo. Ia sedari awal penasaran makna dibaliknya.
Eli tersenyum. "Huruf I adalah sisi milik kita dan huruf U ...," Eli merengut. "Milik Si Hitam," sambungnya.
***
Eli mengembangkan sayapnya dan mengubah tubuhnya menjadi kuda. Medo menungganginya lalu mereka terbang. Kembali ke asalnya.
"Ada yang ingin ku tanyakan."
"Katakan saja, Medo."
"Apakah ada warna yang berbeda akan muncul? Selain hitam dan putih?"
"Aku tidak tahu. Aku belum pernah mengalaminya. Namun, aku dengar kalau hal itu terjadi, kau harus melaporkannya pada raja."
"Apa yang akan dilakukan raja?"
"Membeberkan rahasianya," bisik Eli.
"Raja punya rahasia?!" pekik Medo.
"Sstt! Kecilkan suaramu. Kita sudah mau sampai." Eli mulai menurunkan kecepatannya dan terbang lebih rendah. "Itu rumor yang ku tau. Belum ada yang tau kebenarannya."
Medo mengandai-andai apa yang akan terjadi bila ia sampai mendapatkan warna cahaya yang berbeda. Mungkin saja raja akan memberikannya kemampuan spesial, pikirnya. Atau sebaliknya? Raja akan meniupnya?