
Jalan Anggrek Putih No 31, Pukul 23.00
Sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan sedang. Bukan karena 70 km/jam menjadi berbahaya tetapi sang pengendara yang sedari tadi menahan kantuk menyebabkan jalanan sepi menjadi jalanan maut. Mobil semakin tidak terkendali ketika akhirnya sang pengendara menyerah untuk tetap terjaga.
"Aw!" pekiknya. Jidatnya menghantam setir dengan keras. Polisi tidur menjadi penyelamatnya. Ia kira, ia sudah lolos dari kematian. Namun, ia salah.
"Akh!!!"
***
Pesan apa ya? Hm ... Nasi goreng aja deh.
Selalu begini. Lembur, lembur, lembur. Ya jadinya laper, laper, laper.
Rissa meneruskan pekerjaannya di laptop. Ia mengomel-omel dalam hati dan mengumpat bosnya yang selalu menekan dirinya. 'OK TV! Berita satu, Berita cepat!' begitulah slogan mereka. Kadang ia menyesal telah bekerja menjadi wartawan disana, tapi nasi sudah menjadi bubur.
Keesokan paginya di kantor OK TV.
"Sa? Lo kenapa? Ngelamun aja," tanya Yuri.
"Gua heran deh, Ri."
"Kenapa? Cerita aja, Beb."
"Aneh gak menurut lo kalo OMO yang nganterin pesanan lo selama seminggu itu sama terus?"
"Hm ... Enggak juga sih. Bisa aja emang dia mangkal deket sama kita."
"Iya sih. Tapi masalahnya gua mesennya selalu antara jam 1 sampe 3 pagi, Ri."
"Asli?"
Rissa mengangguk. "Yuri, plis malam ini nginep di tempat gua ya."
***
"Sa, lo yakin dia bakal ke rumah lo lagi?"
"Iya, Ri. Gua takut. Jangan-jangan dia penguntit atau penjahat gitu, Ri."
"Ya gapapa waspada, Sa. Asal jangan sampe nuduh orang sembarangan aja."
"Eh, ada lagi gak yang mau lo pesen?"
"Engga deh."
"Ok."
"Eh, ada deh! Gua mau nasi padang malem-malem gini!"
"Ah elo! Udah terlanjur gua pesen. Lo pesen pake hape lo aja."
"Ngomong-ngomong, Sa. Kapan lo nikah?"
Rissa langsung tersedak mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan paling tidak ingin dia dengar. Hal itu juga yang menyebabkan Rissa jarang pulang ke rumah orangtuanya.
"Jangan tanya itu, Ri. Asli, gua udah muak dengernya."
"Ya kan gua cuma nanya, Sa. Soalnya bulan depan gua mau nikah."
Rissa kembali tersedak. "Asli? Sama yang polisi itu?" Yuri mengangguk. "Gila!"
Ting, tong~
Rissa dan Yuri saling bertatapan. Rissa berharap bukan OMO berkumis tipis dengan kacamata yang biasanya mengantar. Kalo benar ...
"Selamat malam. Ini pesanannya, Mbak. Tagihan segini."
Selagi Rissa menghitung lembaran uang, Yuri mengamati OMO tersebut. Ia menyadari bahwa OMO itu menatap Rissa tanpa berkedip. Dan tidak menengok sedikit pun kepadanya.
Pintu ditutup Rissa dengan sedikit dibanting. Ia lari duluan ke kamar meninggalkan Yuri. Menenggak air putih dan mencoba bernapas dengan tenang.
"Sa ... "
"Diem, Ri. Diem dulu."
Yuri mendekati Rissa yang mengibas-ibaskan tangannya.
"Gua tau, Sa. Gua liat sendiri OMO itu natep lo kayak gimana."
Seketika Rissa terdiam dan menatap Yuri. "Apa lo bilang?"
"Lo ketakutan gara-gara itu kan?" tanya Yuri memastikan.
Rissa menggeleng.
"Terus?" Rissa memberikan tagihan makanan. "Kenapa? Makanan lo kemahalan?"
"Lihat yang bener, Ri!"
**Tagihan Pesanan OMO
Milkshake cokelat (1) Rp. 15000
Milkshake stroberi (1) Rp. 15000
Nasi goreng spesial (1) Rp. 25000
Nasi padang (1) Rp. 25000
Total: Rp. 80000
Mohon membayar dengan uang pas. Terimakasih sudah memakai layanan jasa OMO**.
***
Yuri menemani Rissa ke kantor polisi. Ia membantu menjelaskan situasinya. Yuri berharap kekasihnya dapat membantunya. Namun sayangnya karena tidak ada bukti sang OMO melakukan tindak kejahatan, polisi tidak dapat bertindak.
"Sori ya, Sa. Gua kira Anton bisa bantuin."
"Gapapa, Ri. Setidaknya polisi mencari tahu daerah pangkalan OMO itu. Kalau memang bener dia mangkal di sekitar perumahan gua, ya berarti guanya aja yang terlalu paranoid."
"Tapi gua tetap curiga, Sa. Karena jelas-jelas itu OMO natep lo serem banget. Gak kedip. Gak ngeliat ke arah gua sedikitpun."
"Gua pusing, Ri. Gua pulang dulu ya."
***
*Apakah ini karma? Akibat kelalaian gua? Gua jadi mudah curiga dan takut begini. Jangan-jangan dia ...
Apa gua pulang dulu ke rumah mama ya? Pengen tenangin diri ...
Eh? Kok pintu rumah gua gak kekunci? Perasaan udah kok*.
Bulu kuduk Rissa berdiri, menyadari bahwa ada sosok yang menatapnya dari depan pintu.
"Lo?!"
Rissa berlari menuju mobilnya yang masih terparkir di depan rumah. Sosok itu berusaha mengejarnya. Rissa melaju dengan kencang disusul dengan sebuah motor yang tidak asing lagi.
Dia! Dia OMO itu! Astaga! Apa yang harus gua lakuin?! Telpon Yuri!!!
"Yuri!!! Tolong gua!!!"
"Sa, lo dimana!!! Untung lu nelpon!!! Ada yang ingin gua sampein!!!"
"Gua di Jalan Anggrek Putih No 31!!! Plis, cepat kesini! Lapor polisi! Gua dikejar OMO gila itu!"
"Oke!!! Sa, tapi lo jangan terlalu panik. Gua rasa dia cuma hantu. Dia gak bisa nyakitin elu, Sa."
"APA LO BILANG?! INI SEKARANG GUA LAGI DIKEJAR WOY!!!"
Tut .. tut .. tut ..
"SIAL!!!"
Rissa meningkatkan kecepatannya, tidak peduli lagi, asal ia dapat lolos dari sang OMO. Bangunan-bangunan sekitar perlahan mulai sedikit, didominasi dengan pohon dan semak belukar. Rissa ingat tempat ini.
***
Dua minggu yang lalu di lokasi yang sama.
Rissa pulang dari kantornya larut malam. Hari itu hari yang paling melelahkan baginya karena ia harus berlari kesana dan kemari untuk mendapatkan berita yang sedang tren. Jalanan yang sangat sepi dia manfaatkan agar pulang lebih cepat.
Ia sudah tidak kuat menahan kantuk dan tertidur dengan mobil yang melaju lurus. Sebuah motor milik OMO mendahuluinya.
"Aw! Astaga! Motor!!! Akh!!!" pekiknya.
Rissa mengerem secepat mungkin, namun terlambat. Motor tadi sudah terpental beberapa meter di semak-semak akibat mobil Rissa yang oleng.
Keringat Rissa bercucuran. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak mau masuk penjara. Ia tidak mau masuk berita karena hal ini!
Rissa sudah memutuskan. Ia melaju secepat mungkin meninggalkan lokasi. Harap-harap cemas tidak ada yang mengetahuinya. Ia menyimpan rahasia ini rapat-rapat.
***
"Anton, ayo lebih cepat lagi. Aku khawatir sama Rissa."
"Hal ini tidak masuk akal, Yuri. Bagaimana bisa orang yang sudah meninggal mengantar pesanan makanan?"
"Aku juga enggak tahu, Ton. Mungkin saja memang dia hantu. Tapi Rissa panik banget karena dikejar."
"Online hanya saat malam hari dan diam saja di samping rumah Rissa. Ini mengerikan."
"Apa mungkin pihak OMO berbohong?"
"Tidak mungkin kepada polisi."
***
Motor OMO hampir berhasil mengejar Rissa. Ia membuka helmnya.
"TIDAK ADA GUNANYA LO KABUR, RISSA!!! CEPAT BERHENTI!!!"
Rissa tidak menanggapinya dan malah melaju semakin kencang. Tiba-tiba ia terguncang.
"TOLONG!!! SIAPAPUN TOLONG GUA!!! GUA MINTA MAAF!!! MAAFIN GUA UDAH NABRAK ORANG DAN KABUR!!! TOLONG!!!"
Mobil Rissa tergelincir dan oleng. Sebuah pohon besar ditabraknya dengan hantaman yang keras. Ia sekarat.
"To ... long ..." lirih Rissa. Pandangannya mulai kabur namun ia sadar ada sosok hitam yang memperhatikannya.
"Akhirnya lo berhenti juga."
"To ... long ... Ma .. afin ... Gua ..."
"Lo sadar apa kesalahan lo?"
Rissa mengangguk lemah.
"Sebelum lo mati, gua mau kasih tau! Tega bener lo nabrak adek gua! Gua beruntung dia sempat foto plat mobil lo! Gua beruntung bisa pura-pura jadi adek gua pake akun dia! Ini akibat lo yang engga bertanggungjawab!"
Rissa menutup mata dan menghembuskan napas terakhir. Ia sangat menyesal. Ia harap bisa memutar waktu. Andai saja saat itu ia bertanggungjawab, mungkin saja tidak akan terjadi seperti ini. Mungkin ini setimpal dengan kelalaian yang diperbuatnya.