
Melewati mata kuliah hari terasa sangat melelahkan. Semuanya mengandalkan otak yang dikuras dengan otot tangan dan badan semua terasa pegal. Frissie menyimpan semua peralatan beserta bukunya, dia menghela napas lega bahwa hari ini bisa berlalu dengan baik-baik saja.
Tiba-tiba suara para perempuan sedikit histeris, beberapa sayup terdengar bahwa cowok tampan sedang menanti diluar sana. Tapi bagi Frissie itu tidak penting, karna dia sendiri sangat susah hanya untuk sekedar menerima lelaki untuk mengenalnya lebih dekat.
"Frissie, ada cowok didepan pintu nungguin lo."
"Hah? Aku? Kamu gk salah orang?"
"Kagak, udah ya aku pulang. Btw, kalau dia bukan siapa-siapa lo, lain kenalin ke gua ya. Bye!!" temannya itu berlalu pergi meninggalkannya dengan sejuta kebingungan.
"Siapa? Aku tidak mengenal siapapun disini?" Dia menghela napas lagi dan berjalan keluar hendak melihat siapa lelaki tampan yang dikatakan para perempuan itu sejak tadi.
"Tessa!!! I miss you so bad," Lelaki itu memeluknya dengan erat.
"Leon? Kok bisa kamu disini? Kok bisa sih?" tanyanya shock
"Gk senang ya aku samperin kamu kesini?" Leon mengerucutkan bibirnya kesal
"Ih, bukan gitu. Anak sekolah bisa-bisanya tiba kesini?" tanya Frissie heran
"Bagaimana? Keren gk? Aku udah cocok belum jadi pacar kamu?" ucapnya seraya menaik turunkan alisnya
"Ih, kamu mah ngaco. Ngapain sih kamu? Emang gk sekolah?"
"Oh, aku lagi study tour dan kebetulan pilihannya ada nama kampus kamu, jadi aku pilih kesini. Aku udah kangen banget sama kamu." Frissie mencubit gemes pipi Leon
Hal itu membuat beberapa wanita yang disekitar mereka mendesah kecewa, Frissie jadi tidak enak hati dengan tatapan para wanita itu. Dia menarik tangan Leon agar keluar dari arena fakultas.
"Wah, jauh-jauh gua datang kesini dan buru-buru selesaiin kelas gua, malah ngeliat pemandangan ini. Sialan" Geram seseorang.
^_^
"Coba cerita gimana? Sampai kapan study tournya? Lagian kamu study tour kok jauh banget sampai kesini? Ini lagi, ngapain pake baju casual gini, kayak anak kuliahan aja deh." Leon memandang wajah Frissie yang memberinya berbagai pertanyaan. Ah, dia benar-benar rindu wanita ini, ingin rasanya memeluknya.
"Ya... Leon!!! Kamu dengerin aku gak sih?"
"Aku dengar kok, hanya lupa aja sama pertanyaannya. Abisnya kamu nanyanya gemesin, mana pake nanya banyak banget lagi."
"Stop, liatin aku kayak gitu. Aduh, nih bocil kapan dewasanya dah. Perasaan cepat banget gedenya."
"Jangan bilang aku bocil. Aku udah lebih tinggi dari kamu loh. Kamu hanya menang umur doang, beda dua tahun juga, gaya amat. "
Frissie memukul kepala Leon, " Mau dua tahun, satu tahun atau satu menit bahkan satu detik, aku tetap kakak kamu ya."
"Imut banget," Frissie menghela napas kesal.
"Jadi sampai kapan study tournya?" Tanya Frissie kembali.
" 2 Minggu. "
"Kamu tinggal dimana? Siswa lain dimana?"
"Aku tinggal di apartemen yang dibeliin daddy. Siswa lain aku gk tau." Jawabnya dengan jelas.
"Hah? Om sampai beliin apartemen segala hanya untuk ditinggali 2 minggu doang?"
"Iya, kalau kamu mau, kamu bisa tinggal disana juga. Kamarnya ada dua, temani aku dong. Aku takut sendiri disana," ucap Leon dengan wajah memelas.
"Gak bisa, Le. Aku kan tinggal di asrama. Gak bisa sembarang keluar masuk,"
"Aku ijinin kamu ke pengurus asrama gimana?"
"Gak usah ngaco deh. Lanjut aja, teman kamu dimana masa kamu gak tau sih?"
"Gak penting." Frissie harus menyimpan stok sabar jika menghadapi Leon. Jawabannya benar-benar mengundang pertanyaan lain.
"Kak, boleh peluk gak." Frissie senyum
"Apa? Aku gak dengar loh. Sekali lagi coba?" senyumnya
"Tes, peluk aku dong. Udah kangen gini, jumpa bukan dipeluk tadi kepala aku malah dipukul."
"Coba mintanya kayak tadi,"
"Kayak mana? Ih, kamu mah perhitungan banget sama aku."
"Ih, kiyowo... Uri Oppa oh bukan uri dongsaeng," Frissie mencubit kedua pipi Leon gemes.
Tanpa banyak tanya lagi, Leon segera membawa Frissie kedalam pelukannya. Dia memeluk gadis itu dengan erat. Dia mencium aroma rambut dan tubuh Frissie yang benar-benar membuatnya nyaman.
Frissie membalas pelukan itu dan mengelus punggung Leon.
"Leon?"
"Hm?"
"Dada lo bidang juga ya," tawa Frissie
"Lo suka?" Frissie segera melepas pelukannya dan memperhatikan Leon.
"Le, kamu kenapa hari ini? Demam ya?" Frissie meletakkan telapak tangannya dikening Leon.
"Panas, pantas aneh."
"Aneh dimana?"
"Kamu tadi ngomongnya ngawur banget."
"Ngawur? Ngawur gimana? Coba jelasin!" Goda Leon
"Udah ah, kamu udah makan belum?" Frissie mengalihkan topik dan memang kebetulan dia sudah sangat lapar hari ini.
Dia berjalan terlebih dahulu, "Tungguin dong," Leon mengejarnya dan mengalungkan tangannya dibahu Frissie. Mereka berjalan sambil bercerita menuju kantin.
"Bagus sekali."
^_^
Sesampai dikantin kampus, ya tidak sedikit yang melihat kearah meja mereka secara terang-terangan. Sementara Leon tidak peduli dengan sekitarnya dia hanya memandang wajah gadis dihapadannya yang sedang memilih menu yang akan mereka makan hari ini.
"Kamu mau apa? Biar aku sekalian pesanin dan aku traktir juga." Ucap Frissie dengan tatapan yang tetap tertuju pada menu.
"Enggak, biar aku aja yang pesan dan bayar. Kamu udah selalu bayarin aku makan, tiap kali kita jalan. Padahalkan yang cowok kan aku."
"Itu karna kamu lebih muda. Udah buruan, sebelum aku berubah pikiran. Kamu pikirin aja untuk beli mobil mewah untukku sebagai hadiah pernikahanku nanti."
"Kamu sedang menggodaku?" Frissie menatap Leon.
"Berhenti bersikap konyol. Cepat, aku sudah lapar."
"Hem, baiklah." Leon menarik buku menu dan melihat daftar disana.
Setelah selesai, Frissie beranjak dan segera memesan makanan untuk mereka dan membayarnya. Leon memandang sekitar dan melihat beberapa cewek yang tersenyum manis padanya. Dia membalasnya dengan memberi kedipan mata membuat yang diseberang mejanya histeris.
Frissie segera kembali dan melihat Leon yang tebar pesona, dia tersenyum dan memukul kepala lelaki itu pelan.
"Berhenti melakukannya," Frissie menggeleng kepala.
"Apakah kamu cemburu?"
"Jangan konyol. Aku bukan cemburu tapi lihat mereka, seakan ingin membawamu kekasur." Leon terbahak mendengar ucapan Frissie yang menurutnya sediikit vulgar.
"Kenapa?"
"Tidak, hanya saja aku sedikit shock. Ini benar-benar kamu, Tes?" Leon menatap wajah Frissie.
"Berhenti. Mereka sudah melihatku dan seperti ingin memakanku."
"Tenang saja tak akan kubiarkan. Daripada mereka yang memakanmu, kenapa bukan aku saja?"
"Ngomong apa sih?" Frissie menggeleng dan menyibukkan diri dengan ponselnya. Sebenarnya dia tahu kalau Leon menaruh hati padanya, tapi apalah daya Frissie yang tidak bisa menerima kenyataan kalo Leon lebih muda darinya. Seandainya jika Leon lebih tua mungkin Frissie juga akan menaruh hati. Tapi saat ini dia sudah mengganggap Leon adiknya.
"Tessa," Teriakan itu membuat orang di kantin mengarah pada sumber suara.
Frissie yang melihat Nessie segera melambaikan tangan agar gadis itu datang menuju meja mereka. Leon terdiam dan tidak suka saat Nessie bergabung dengan mereka, menganggu waktu berduaanya dengan Frissie.
"Hai, kamu Leon kan? Masih ingat aku?" tanya Nessie heboh.
"Tidak, terimakasih." Ucapnya acuh.
"Leon, kok gitu sih? Dia teman satu kamar aku loh. Kemarin kalian kan sudah kenalan." ujar Frissie tidak enak hati melihat Nessie yang sedikit shock.
"Wah, makanannya lama banget sih. Lapar," kesal Leon tanpa membalas ucapan Frissie.
Frissie tersenyum canggung pada Nessie, dan menatap tajam pada Leon. Sementara yang ditatap malah mengangkat bahu seakan tidak merasa ada yang salah.
"Nessie, mau makan juga. Mumpung makanan kita juga belum datang."
"Boleh deh, gua juga udah lapar." Terdengar helaan napas yang berat dari Leon.
"Lo gk suka gua gabung ya?" tanya Nessie merasa sedikit tersinggung dengan helaan napas Leon.
"Gua bilang enggak juga, lu bakal tetap disini." Jawab Leon cuek
"Leon! kok gitu sih."
"Yeyey... Makanan sudah datang, sini mbak-sini..." Frissie meminta maaf pada Nessie lewat tatapannya.
"Tes, makan dong. Habis ini udah gk ada kelas, kita jalan ya. Sekalian ke apartemen buat menuhin kulkas hehe."
"Ya, baiklah."
Selama mereka makan, Nessie dan Leon berebutan perhatian pada Frissie membuat Frissie pusing dengan keduanya. Kenapa mereka bertemu kedua kalinya layak anjing dan kucing gak ada akur-akurnya.
\~\~\~
Lis'R Story