It'S Not Fine

It'S Not Fine
I lost my mine



"Kamu cari ini, benar?" Frissie mendongak seseorang yang berdiri dihadapannya seraya memperlihatkan dompet hitam. Dia yakin dompet itu adalah miliknya.


"Iya, terima--" ucapannya terputus kala pria itu menyembunyikannya dibalik punggungnya.


"Eh, Mr. Hardin." benar lelaki itu adalah Nero Hardin, yang sedang menunjukan smirknya. Ternyata wanita dihadapannya ini sangat mungil hanya sebatas dadanya saja.


"Benar pak, itu milik saya." ujar Frissie lagi


"*Yes,  I know it."Jawab Nero santai, beberapa mahasiswa melirik mereka dengan tatapan aneh, pasalnya tak sedikit dari mereka tahu bahwa Nero adalah seorang dosen yang baru saja menyelesaikan gelar guru besar di Aussie sedang berbincang seperti layaknya pacar pada seorang mahasiswa.


Frissie menundukkan kepala merasa semua tatapan, hujatan dan makian sedang tertuju kepadanya.


"Angkat kepala kamu, dan lihat aku." Perintah Nero


Perlahan Frissie mengangkat kepalanya dan melihat Nero. Disana terpampang wajah tampan yang dihiasi dengan senyuman maut yang bisa membuat para gadis yang melihatnya jatuh cinta seketika.


"Sr, boleh aku mendapatkan kembali dompetku?" pinta Frissie dengan nada rendah


"Tentu, tapi tidak sekarang. Temui aku diruanganku setelah jam kelasku berakhir," Frissie memicingkan matanya bingung. Kenapa lelaki ini ribet sekali, apa salahnya tinggal memberikannya.


"Tapi--"


Nero menggeleng kepala, " Tidak ada kata tapi, aku gak pernah loh menerima penolakan. Oh, iya bentar lagi aku udah mau kelas nih, mahasiswaku udah pada lihatin. Atau kamu mau disamping aku? Aku sih senang banget," godanya


Dengan perasaan kesal dan marah serta malu bercampur aduk, Frissie segera pamit dan keluar dari ruangan itu. Nero tersenyum tipis melihat kepergian gadis itu.


"Good afternoon, everyone..." Nero memulai kelasnya ketika dia tidak lagi melihat sosok Frissie.


****


Selesai dari kelasnya Frissie kebingungan mencari dimana ruangan Nero. Dia tidak tahu juga apakah lelaki itu sudah selesai kelas atau ada kelas lain. Dan sialnya dia tidak tau apa-apapun tentang lelaki itu termaksud nomor ponselnya saja Frissie tidak tahu.


"Sialan tuh dosen, bikin kesal aja. Gimana mau datang keruangannya? Ruangannya aja aku gak tau dimana." cerocos Frissie pada dirinya sendiri.


Dia tetap mencari, dia tidak tahu kemana saja kakinya mengajak dia melangkah, biarkan saja. Sampai dia merasa pusing dan lelah satu jam berputar-putar tanpa arah yang jelas.


"Oh my God. Kenapa aku gak telpon Nessie aja, tapi gak deh ntar aku ditanyain hal lain yang aku sendiri juga bakal pusing cari jawabannya." Dia selonjoran dilantai hingga beberapa orang yang lewat memperhatikannya.


Aduh jangan-jangan mereka nganggep aku udah gak waras. 


Akhirnya dia memutuskan berdiri dan berpikir keras apa yang harus dia lakukan. Dia sudah lelah pingin memanjakan tubuhnya diatas kasur. Tapi apa daya Card Identity  untuk akses masuk asrama ada didompet itu.


"Gimana bisa jatuh coba, aneh banget sih aku." gerutunya kesal sendiri


"Niat hati menghindar malah makin sering dipertemukan. Apes-apes.."


Ponselnya bergetar dan ia mendapati sebuah pesan disana dari nomor yang tidak dia kenal.


+1 (209) 287 1171


Kamu dimana? Aku udah bosen nunggu kamu diruanganku.


Tapi gak papa aku masih setia nunggu kok :)


Frissie mengernyit heran, apa ini dosennya yang killer itu? Yang benar saja? Apa katanya dia menunggu? Astagah, pengen rasanya Frissie sumpel kaus kaki busuk ke mulut dosen itu. Dia gak tau apa kalo dirinya pusing 100 keliling mencari keberadaan ruangannya.


Frissie Tessa


Hai, sr. Maaf sebelumnya saya terlambat mengabari. Saya sedari tadi mencari ruangan, Mr. Tapi tidak ketemu. Boleh saya tau ruangan Mr dimana?


Frissie menghela napasnya berat.


"Eh, dia dapet dan tau nomorku dari mana? Perasaan didompet gk ada deh." tanyanya pada diri sendiri dan tak lama sebuah balasan datang


+1 (209) 287 1171


Haha... Maafkan saya. Saya lupa memberitahumu.


Tak butuh lama Frissie segera memasuki lift untuk menuju lantai 5. Sebuah kebetulan yang menarik bukan? Kalian tahu apa yang kebetulan itu? Coba tebak hahah...


Frissie menarik napas dalam-dalam dan melafalkan doa dalam hati berharap dosen nya itu tidak mempersulit dia hanya untuk mengambil dompetnya saja. Akhirnya setelah beberapa menit dia memutuskan untuk mengetuk pintu itu dan tak lama disahuti orang yang berada didalam ruangan.


"Masuk!"


Frissie membuka perlahan pintu dan melihat pria itu sibuk dengan komputer yang ada didepannya.


Cakep sih tapi ngeselin banget!


"Selamat sore, sr." sapa Frissie sopan


"Oh, kamu sudah sampai. Duduklah," Frissie segera duduk dan menunggu lelaki yang duduk dihadapannya ini membuka suara. Sudah lima menit berlalu tapi tidak ada tanda-tanda kalau pria itu akan membuka suara, dia hanya fokus pada komputer dan menganggurkan wanita cantik dihadapannya. Begitulah pikir Frissie.


"Sr, maaf mengganggu. Boleh saya menerima dompet saya?" Akhirnya dengan sejuta keberanian Frissie membuka suara.


Nero menghentikan fokusnya pada komputer. Benar, dia sengaja memperlama hanya untuk sekedar Frissie lebih lama disisinya. Dia juga bingung, kenapa dia harus melakukannya pada seorang wanita, dia tidak akan pernah. Nero melipat kedua tangannya dan menopang dagunya seraya memperhatikan Frissie dengan selidik. Frissie yang merasa diperhatikan begitu intens menjadi tidak nyaman.


Terdengar hembusan napas pria itu, lalu dia menarik sebuah laci dan mengambil dompet dari sana. Dia meletakkannya diatas meja, ketika Frissie akan mengambilnya Nero menekan tangan Frissie membuat keduanya berpegangan pada satu benda.


Frissie melihat Nero tidak percaya. Apa yang dilakukan dosen gila ini lagi, begitulah pikir Frissie. Sementara yang dilihat hanya tersenyum manis dan sialnya terlihat tampan.


"Sr..." panggil Frissie sedikit gugup


"Ya?" jawabnya dengan suara serak dan berat membuat sekujur tubuh Frissie merinding. Frissie mencoba menarik tangannya namun ditahan oleh pria itu. Kini pria itu menggengam tangan Frissie dengan erat.


"Apa yang ada lakukan?" Shock Frissie ketika Nero membawa tangannya untuk dia cium.  Bibir tipis dan dingin itu mengenai kulit Frissie, Frissie meremang dan cepat menarik tangannya.


Nero mengeluarkan smirknya membuat Frissie semakin takut. Dia mengambil dompetnya dan hendak berlari meninggalkan ruangan Nero. Namun langkah kakinya kalah cepat dengan Nero yang sudah menutup pintu satu-satunya akses keluar dari ruangan itu.


Frissie semakin takut, dia gemetar. Dia menundukkan kepalanya tidak berani melihat pria dengan senyum devil diwajahnya. Benar dia sangat takut, bahkan kakinya sudah bergetar.


"Kamu takut?" Tanya Nero hendak mengapai wajah Frissie namun Frissie menghindar dengan cara mundur sampai dia kepentok pada sisi meja dan tak dapat bergerak lagi. Nero segera mengunci pergerakan Frissie dengan membentangkan kedua tangannya disisi meja.


"S...sr... Sa--saya mau keluar," Nero tertawa mendengarnya.


"Sayang, bagaimana bisa kamu sudah mau keluar bahkan aku belum melakukan apapun padamu." Frissie membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan Nero.


Nero berdiri tegak kembali dan mengikis jarak diantara mereka. Frissie berusaha menahan napasnya, aroma maskulin dari tubuh Nero menyeruak memenuhi indra penciuman Frissie.


Nero memegang wajah Frissie dengan lembut, "Can I?"


"Sr, Sa---sadar aku mahasiswamu." ucap Frissie mengingatkan.


"What? Apakah karna kamu mahasiswaku kamu membatasi diri?" terdengar nada kesal disuara Nero.


Frissie diam tak menjawab apapun, Nero dengan cepat mengangkat Frissie duduk diatas meja kerjanya. Frissie yang kaget pun menjerit.


"Sr, tolong sopan!" emosi Frissie dengan wajah memerah.


"Tidak akan sampai kamu menerimaku," tak lama Nero segera menempelkan bibirnya dibibir Frissie. Frissie mencoba mendorong tubuh Nero, salahkan dirinya yang terlalu kecil dan seperempat dari kekuatan Nero pun tidak ada. Tubuh itu bukannya bergesar malah semakin dekat dengannya. Frissie memberontak namun Nero tidak diam begitu saja.


Tangannya menahan tengkuk Frissie untuk memperdalam ciuman mereka. Nero yang sudah kalab mengigit bibir itu untuk mendapat akses dari yang punya. Disela ciuman Nero merasakan asin, dia melihat air mata Frissie yang tumpah. Melihat itu dia melepas pangut*nnya.


"Maafkan aku, sayang. Aku salah, kamu boleh menamparku. Maaf aku terlalu terburu-buru, I thinkI lost my mine." *Nero membawa Frissie kedalam pelukannya, dia merasakan tubuh Frissie bergetar karna menahan tangis.


"Maaf, tolong jangan menangis lagi!" Frissie mendorong tubuh Nero sekuat tenaga dan berlari membuka pintu dan keluar.


Arghh.....


~


Lis'R Story