
"Ini tuh masih salah." Suara itu membuat Frissie menegadah kepalanya melihat siapa yang sedang berbicara padanya.
Frissie terkejut bukan main melihat lelaki itu berdiri tepat disamping mejanya. Frissie melihat sekitarnya dan nihil tidak ada orang disana hanya ada mereka berdua disana.
"Kenapa? Saya hanya penasaran dengan yang kamu tulis. Sepertinya kamu mahasiswa yang cukup pintar namun langkah kamu disini masih salah." kata pria itu namun tak mendapat respon apapun dari Frissie. Gadis itu tampak masih begitu shock.
Nero menggeleng-gelengkan kepalanya, dia mengambil pen yang berada ditangan Frissie. Dia mulai memberi penjelasan kembali pada Frissie dan menjelaskan dimana letak kesalahan gadis itu.
"Paham ngak?" Frissie mengangguk kaku dan menerima pen yang diberikan oleh Nero padanya.
"Thankyou, sr." ucapnya sopan
Nero tersenyum tipis, semakin tidak sehat bagi jantung Frissie gadis itu buru-buru menutup bukunya dan menarik tasnya asal dan segera berlalu. "Permisi, sir." ucapnya melewati Nero begitu saja
Nero tidak percaya dengan apa yang baru saja dia saksikan. Bisa-bisanya gadis itu berlalu begitu saja. Biasanya para mahasiswanya bakal banyak pertanyaan sampai membuat dia jenuh.
"Menarik!"gumamnya melihat kepergian Frissie.
Ketika hendak berbalik, Nero melihat dompet hitam terjatuh tepat dibawah meja Frissie. Dia mengambil dan membukanya, dia melihat foto seorang gadis tersenyum senang dan happy bersama seorang pria. Dan foto itu memperlihatkan kedekatan.
Nero geram dan mengepal salah satu tangannya dan ingin melempar dompet itu, Benar dompet itu adalah milik Frissie. Dan tentu saja foto yang disana Nero melihat foto Frissie dengan seorang pria. Nero hendak melangkahkan kakinya dan meninggalkan dompet itu namun tertahan dan pada akhirnya dia mengambil dompet itu.
****
Frissie meletakkan kepalanya diatas meja, ya saat ini dia sedang duduk sendiri di kantin dan memesan cappucino untuk menemani suntuknya. Dia masih kepikiran dengan orang yang merebut ciuman pertamanya dan paling menyebalkannya itu dosennya sendiri.
"Ah, mommy, Tessa mau mati rasanya." keluhnya
Frissie masih berkutat dengan pikirannya, sampai dia tidak sadar dengan kehadiran Nessie yang baru saja tiba di kantin dan melihat Frissie.
"Tessa, what's wrong?" suara Nessie sedikit mengejutkan Frissie
"Oh, kamu. Aku gapapa kok Nes. Ada kelas?"
" Ya, sebentar lagi. Kamu kenapa kayaknya lagi stress banget."
Terdengar suara Frissie yang menghela napasnya kasar. "Aku takut banget sama nilai ku,"
"Hah? Ini baru pertemuan pertama kali, aelah. Apa sih yang ditakutin masih ada 15 pertemuan lagi untuk memperbaiki itu semua."
"Beda, Nes.. Aku dalam masalah besar sekarang," ucapnya cemberut seraya menidurkan kembali kepalanya diatas meja.
"Masalah apa?" tanya Nessie khawatir.
"Aku punya masalah besar dengan dosen aku. Aku pusing mikirinnya, bisa gak sih aku dilempar ke benua antartika aja,"
Nessie sedikit terkekeh mendengar ucapapan Frissie yang ngelantur. "Ngaco banget sih! Emang kenapa sih? Coba cerita ke aku."
Frissie duduk tegak dan mengamati Nessie dengan seksama. Nessie yang dilihat seperti itu merasa aneh.
"Apaan sih? Jangan liatin aku kayak gitu, It's creepy." ucapnya bergidik ngeri
"Aaa....aaa.... Gimana dong?" rengek Frissie tiba-tiba membuat Nessi menjadi sangat bingung
"Kenapa sih, coba cerita."
"Nes, aku harus gimana nih," ucapnya sedih
"Gak tau." ketus Nessie
"Ih, kok ketus gitu sih."
"Habisnya lu nanya aku gimana, ya mana aku tau orang kamu belum cerita apapun juga." kesal Nessie
Frissie kembali cemberut seperti menahan air mata yang mengenang di pelupuk matanya.
"Dih, lu nangis. Jangan ngep!" kesal Nessie
"Lo tau cowok yang nyium aku tadi malam?" Nessie mengangguk dan berusaha menahan tawa tapi dia ingin mendengar cerita Frissie lagi. Wajah cemberut Frissie benar-benar lucu, Ingin rasanya Nessie merekam tapi dia tidak mau kasihan Frissie baru juga jadi teman, ya kali.
"Dia taunya seorang dosen, hua...." tangis Frissie
Nessie melirik sekitar mereka yang sedang melihat kearah mereka. "Trus?"
"Aku dicium trus aku nampar dia. Bisa bayangin Ness? Betapa menderitanya aku? Udah dicium, aku nampar, eh sekarang malah jadi dosen. Aku takut dia bales dendam," Nessie terbahak, sudah tidak kuat menahan tawanya lagi
"Kok kamu ketawa sih? Benar-benar deh. Kamu kok gk ngasih tau aku kalo semalam di party ada dosen yang hadir." kesal Frissie
"Huh!!! emang ada apa?"
"Janji ya?"
"Aelah, iya dah. Buruan ada apa?"
"Sebenarnya kemarin malam itu bukan party penyambutan mahasiswa baru," ucap Nessie pelan, Frissie udah membelalak tajam.
"Jadi itu party penyambutan Nero, iya dosen lu itu. Dia baru kembali lagi dari Aussie. " Kata Nessie cengengesan.
Pantas saja semua serba alkohol seperti club malam aja.
"Sebelumnya juga aku gk tau kalo Nero bakal nyium elo. Aku juga bingung kenapa dia tiba-tiba gitu,"
'Plis, maafin aku lagi ya, Tes. Gua tau tapi gk mau lo sakit hati' Nessie membatin
"Kamu kenal dia?" selidik Frissie yang diangguki Nessie.
Pantas saja dia dekat dengan semua orang yang ada di party semalam.
"Trus ngapain kamu ajakin aku?"
"Hehe... Jadi, aku itu gak tegaan orangnya. Apalagi lihat teman aku, mana tega. Ntar lo boring sendiri di kamar jadi deh aku ajakin kamu sekalian. Kan gak etis banget, kamu baru datang trus aku keluar tanpa ngajak lu-nya. Ntar lu ngerasa kalo aku gk suka lagi sama kamu-nya. " Frissie menganggukan kepalanya.
"Tapi udah gini, Nes. Aku udah gak ada muka ketemu Mr. Hardin lagi."
"Tenang aja, Aku bantu kamu ngomong ke dia." Frissie menatap Nessie dengan tatapan berbinar.
"Beneran?"
"Iya, itung-itung tanda permohonan maaf aku ke kamu." Frissie berdiri menghampiri Nessie dan memeluk gadis itu erat.
"Thankyou, Nes." Nessie tersenyum senang.
"Iye, sama-sama... Eh, btw aku ada kelas nih. Aku tinggal ya, sampai nanti!" Nessie berlari ketika melihat jam dipergelangan tangannya dan Frissie hanya mengeleng kepalanya.
Frissie segera membereskan barang, 30 menit lagi dia juga akan ada jam kelas ke dua. Dia mencari dompetnya didalam tas karna dia ingin membayar minumannya, namun dia tak menemukannya disana.
"Kemana ya?" Tanyanya bingung sendiri. Dia mengeluarkan semua isi tasnya dan tak menemukannya disana.
"Apa jatuh tadi?" gumamnya sendiri
"Aish, gimana mau bayar minumannya dong!" suntuknya sendiri
Tak ada pilihan lain dia akan mencoba meminta keringanan kepada penjual. Kali aja dewi keberuntungan berpihak padanya. Jika harus meminjam tak ada yang dia kenal disekitarnya. Benar-benar sial!
Frissie bergerak mendekati penjual dan menanyakan harga minuman yang dia pesan.
"Minuman anda sudah dibayar, miss. "
"Siapa yang baya?"
Pramusaji itu melirik sekitar dan tidak menemukan orang yang telah membayar.
"Orangnya udah gk keliatan miss. "
"Baiklah, terimakasih."
"Sama-sama"
Frissie berjalan dengan segala pertanyaan dikepalanya, "Apa mungkin Nessie?"
"Siapapun kamu, terimakasih banyak." Frissie berlari menuju kelas dia sebelumnya dia akan mencari disana mungkin saja disana dompetnya terjatuh.
Sesampai disana mencarinya kemana-mana namun tidak menemukannya. Dia benar-benar sial namun disatu sisi dewi keberuntungan masih menemaninya.
"Aduh, dimana sih? Mana kartu ku semua disana." Keluhnya
Beberapa mahasiswa mulai memasuki ruangan itu, sepertinya ruangan ini akan dipakai. Frissie segera keluar mengingat dia juga ada kelas.
"Ini...."
~
Lis'R Story