
"Apakah semua sudah lengkap, tidak ada yang ketinggalan?" tanya Anneth pada putrinya
"Gak deh kayaknya, mam. Complete udah nih." Anneth tersenyum padanya
"Segala perlengkapanmu? Kartu? Id Card?" Tanya Anneth memastikan sekali lagi pada Frissie.
"Udah nih." Jawab Frissie setelah memeriksa kembali handbagnya.
Didepan sudah ada menunggu mereka, siapa lagi kalo bukan Leon. Pria yang selama ini menaruh hati pada Frissie namun wanita ini hanya mengingat bahwa mereka hanya sahabat.
"Leon kamu sudah disini ya? Tolong bantu Tessa bawa kopernya. Terimakasih ya," Leon mengangguk tersenyum
"Mari kita pergi,"
"Hi, Tess. Hows doing today?" Tanya Leon
"Great! Hehe." Jawab Frissie dengan senyum
"Oh, my God I can't believe that you leave me. Are you sure?" Tanya Leon sedikit kecewa
"Sure? What do you mean?" tanya Frissie tertawa kecil
"Nothing. I hope you always remember me!" Leon tersenyum seraya membukakan pintu mobil untukFrissie.
"Of course. You're my bestie," Ya, sedikit menyakitkan mendengar Frissie mengatakan dirinya hanya seorang sahabat untuknya. Tapi bukan Leon namanya kalau dia harus memaksakan hati untuk memiliki Frissie.
Leon mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, dia ingin lebih lama bersama Frissie sebelum gadis itu melangkahkan kaki memasuki asrama dimana dia akan melanjutkan study nya.
Sesampai didepan universitas, Leon membantu mereka membawa barang-barang Frissie.
"Hi.. Mrs. Jenefi Lukas?" Sapa Anneth
"Oh, hi ... Mrs. Anneth Davindra, benar?" Jenefi memberi salam pada Anneth dan Frisie. Mrs. Jenefi adalah seorang dosen sekaligus pembimbing asrama di kampus Frisie akan melanjutkan study
"You're Frissie, right? "
"Right, Mrs. " Mrs. Jenefi sedikit memicingkan mata melihat Leon.
"Saya Leon sahabat Frissie."
"Oh, hii... baiklah mari saya antar kalian menuju kamar."
Mrs. Jenefi berjalan terlebih dahulu dan diekori oleh Anneth, Frissie dan Leon. Frissie Lebih tepatnya Frissia Tessa akan menjadi salah satu mahasiswa kampus ternama di kota itu, berkat kegigihannya dalam belajar. Dan kampus ini adalah impiannya. Kini mereka tiba didepan kamar No. 505. Yaps, Frissie berada dilantai 5 dan kamar No.5.
Mrs. Jenefi membuka pintu dan memperlihatkan Nessie yang sedang berkutat dengan laptopnya.
"Hi, Nessie... Ini Frissie yang akan menjadi teman satu kamar kamu, saya harap kalian dapat saling akur."
"Tentu saja, Ms. Hello, aku Nessie!" ucap Nessie menyapa mereka
"Hi, Aku Frissie. Nice to meet you, Nessie." ujar Frissie memperkenalkan diri dan disambut dengan jabatan tangan dari Nessie.
"Me either," jawab Nessie tersenyum.
Setelah beberapa saat meletakkan semua barang yang akan diperlukan oleh Frissie, Mrs Jenefi berpamitan pada Nessie serta mengajak Anneth beserta Leon untuk keluar.
"Baiklah, enjoy your day guys! " ujar Mrs. Jenefi dan keluar terlebih dahulu.
"Saya titipkan Frissie padamu, Nessie. But before, thankyou very much!" Anneth memeluk Frissie dan Nessie secara bergantian dan pergi keluar.
"Bye, Tessa... Aku harap kamu tetap menghubungiku jika kamu merasa boring. I will stay for you," ucap Leon seraya memeluk Frissie dengan erat.
"Thankyou, Leon... See you!"
n
"Welcome, Frissie. Oh, wait... what is your nick name? I don't know,... Dia memanggilmu Tessa dan bagaimana aku harus memanggilmu?"
"Panggil saja aku Tessa atau Frissie. Yang membuat merasa mudah untuk mengingatku,"
"Right, I just call you Tessa, Like him,"
"Baiklah, itu adalah bagian dari diriku juga." mereka tertawa bersama sebelum akhirnya Nessie memutuskan untuk melanjutkan kesibukannya dengan laptop. Dan Frissie kembali untuk sibuk merapikan barang-barangnya.
*****
Selesai mandi, Frissie hendak menuju tempat tidurnya ingin mengistirahatkan badannya. Rasanya seluruh tubuhnya sangat pegal dan sangat ingin dimanja dengan tidur.
"Wait Tessa,"
"Where are you go?" tanya Frissie lagi
"Tonight, we have party."
"Party? "
"Yesh, apa kamu lupa? Malam ini penyambutan mahasiswa baru. Dan kamu harus ikut,"
"Wait, apakah aku boleh tidak ikut? Aku sungguh lelah." Nessie menggelengkan kepala seraya mengangkat jari telunjuknya didepan wajah Frissie. Menandakan bahwa gadis itu tidak boleh tidak ikut.
"I'm so tired." Keluh Frissie
"Big, No Tessa. Are you kidding? This party for us. Ini yang salah kamu juga sih, datang ke asrama hari ini. Bukankah kamu bisa datang hari kemarin? Jadi hari ini adalah wajib." Nessie menarik tubuh Frissie dan mendudukannya didepan meja rias miliknya.
Nessie hendak berbalik menuju lemarinya untuk mencari gaun yang akan digunakannya malam ini. Namun tertahan ketika Frissie memanggil namanya.
"Can you help me, Nes? "
"What's wrong? "
"Aku tidak terbiasa dengan alat-alat ini. Bisakah kamu membantuku?" tanya Frissie malu-malu
Nessie terkekeh mendengar Frissie, "Are you sure, you can''t? " tanya Nessie tidak percaya dan diangguki oleh Frissie. Wajahnya sudah memerah, rasanya sangat malu.
"Baiklah, aku akan membantumu. Dan membuat mu menjadi wanita tercantik malam ini."
Tak butuh waktu lama bagi Nessie untuk merias Frissie. Bahkan dia sendiri takjub dengan karyanya pada orang lain.
"You look so beautiful. wow!"ucapan Nessie benar-benar membuat Frissie sangat malu
"Thankyou! "
"My pleasure. All right, saatnya pilih dress apa yang akan kamu pakai malam ini."
Frissie mengangguk dan melangkahkan kaki menuju lemarinya. Dia meneliti diantara dress yang dia lihat dia tak menemukan dress yang layak untuk dipakai untuk party. Frissie melirik Nessie yang sedang memakai dress yang cukup terbuka menurut Frissie.
"What do you think, Tessa?"
"Yeah, itu cocok untukmu. Kamu cantik!" Nessie tersenyum senang mendengar pendapat Frissie
"So, gaun yang mana yang akan kamu pakai?" Frissie kembali berbalik dan melihat gaun-gaun miliknya. Tiba-tiba matanya tertuju pada dress hitam yang panjangnya sedikit diatas lutut.
"Ini, bagaimana?" tanya Frissie memperlihatkan gaunnya pada Nessie
"Yang lain?" Nessie bergerak menuju lemari Frissie dan melihat semua pakaian milik Frissie. Dia menggeleng tidak percaya.
"Hanya ini saja?" Frissie menggangguk
"Baiklah. Aku pikir ini better than the other. Cepatlah," ucap Nessie seraya memakai jam tangannya. Dia tergelak tawa ketika melihat Frissie berlari menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
"Haha... why she is so cute? " Nessie tertawa kecil melihat Frissie yang terlihat begitu polos.
*****
Mereka tiba ditempat party berlangsung. Frissie sedikit heran dengan pesta penyambutan untuk mahasiswa baru. Dentuman musik dimana-mana, bergema dengan kuat.
"Nessie, Mrs. Jenefi apakah akan hadir?"
"C'mon Frissie... Ini acara anak muda. Bagaimana bisa Mrs. Jenefi ikut bergabung dengan kita. Let's go! "
Nessie berjalan terlebih dahulu memasuki pesta.
Frissie menarik napas dalam-dalam sebelum dia ikut bergabung dengan Nessie. Aroma alkohol menyeruak di ruangan itu, bahkan banyak yang berdansa seperti orang gila disana. Frissie merasa dirinya baru saja keluar dari goa, dia baru tahu hal seperti ini ada.
Tak sengaja mata Frissie menangkap anak muda yang sedang berciuman disudut ruangan. Tak kuat melihatnya, Frissie berlari menghindar tak ingin melihatnya lebih lama.
"Tessa, I am here!" Frissie berjalan menuju Nessie yang duduk bersama beberapa orang disana. Dengan semagat Nessie memperkenalkan Frissie kepada teman-temannya.
"Everyone, pay attention please. So, dia adalah teman satu kamarku dan dia mahasiswa baru. Namanya Frissie Tessa." ujar Nessie memperkenalkan
Beberapa orang diantaranya ikut menyapa, sekedar say Hi to Frissie. Frissie tersenyum canggung. Dia ikut duduk disamping Nessie ketika wanita itu memintanya.
Beberapa dari mereka menawarkan minuman pada Frissie, yang ditolak Frissie dengan senyumannya. Frissie mulai memperhatikan suasana disana, dia sedikit risih tapi dia akan mencoba membiasakan diri. Tak sengaja Frissie melirik seorang pria yang terlihat tampan dimatanya tapi sayang lelaki itu duduk bersama dengan seorang wanita yang pakaiannya bahkan lebih minim dari Nessie.
Huft... apakah ini yang namanya pesta penyambutan?
Lisr story