
Benar-benar gila, bagaimana seorang dosen melakukan hal itu pada mahasiswanya, apa dia benar kehilangan akalnya. Frissie berlari secepat mungkin sampai dia berada disebuah taman, dia tidak tahu jelas ini taman apa. Dia baru saja menapakkan kaki kemarin di kota ini.
"It's crazy... **!*!! " Makinya keudara
Ingin rasanya dia menangis tapi dia tak tahu mengapa air matanya sudah tidak turun lagi. Dia tidak merasa sedih hanya saja dia merasa kesal dan merasa tidak dihargai.
Frissie masih ngos-ngosan dengan kecepatan kuda dia berlari sekuat tenaga. Dia bahkan merasa kakinya akan patah. Dia melihat sekelilingnya takutnya lelaki gila itu mengejarnya. Melihat keadaan sepertinya aman, dia berjalan pelan sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Aduh, capek banget. Pengen banget tidur," Frissie memegangi bibirnya, dia merasa bingung kenapa air matanya tiba-tiba mengering, apa benar dia menikmati ciuman itu?
Frissie menggeleng kuat, dia tidak mungkin menikmatinya bukan? Dia mungkin hanya lelah dan air matanya habis terkuras tadi malam. Dia meyakinkan dirinya sendiri dengan *statement nya sendiri.
Sejauh kakinya melangkah dia sudah berada didepan gedung asramanya, benar-benar pikirannya habis pada dosen gila itu sampai dia tidak menyadari dia sudah tiba disini.
****
Seusai mandi, Frissie merenung dibalkon. Nessie berjalan mendekatinya seraya membawa wine di tangannya.
"What's wrong?" tanyanya
"Nothing!"
"Serious? Cerita ke gua, atau ini masih masalah Nero ya? Lo tenang aja gua bakal ngomong ke dia." ujar Nessie menenangkan gadis itu.
Frissie mengarahkan pandangannya pada Nessie, dia menatapnya sedikit lama, dia bingung apakah dia harus menceritakannya pada Nessie atau bagaimana? Tapi dia malu.
"Kenapa liatin gua sampe segitunya? Do you wanna say something?"
Frissie sendiri hanya mengeleng dan mengarahkan lagi pandangannya ke depan. Dia malu harus mengatakannya pada Nessie untuk saat ini. Baiklah, biarkan wanita ini terlebih dahulu mengobrol dengan lelaki gila itu.
"Aku capek, aku kedalam."
"Hah? Ini gua udah bawain wine kemari dan lo masuk gitu aja? Temanin gua minum dulu dong," Ingin rasanya Frissie menolak tapi tidak enak hati juga pada Nessie, akhirnya dia duduk dan menemani Nessie minum
"Lo gak minum?"
"Enggak, aku gak bisa."
"Ya iya kagak bisa orang lu belom coba. Coba deh pasti lo nangih," bujuk Nessie
"Enggak, aku nemeni kamu aja."
"Lu mah gak seru. Apa bedanya lu di kamar aja kalo sama aja lu kagak minum," Frissie menghela napas dan akhirnya menerima satu gelas wine.
Nessie sudah tersenyum ringan disana, Nessie melirik Frissie yang mencoba mencicipi wine yang diberikannya.
"Gimana? Enak?"
"Enak dari mana? Pahit gini. Uek.." Frissie memuntahkannya dan itu membuat Nessie tertawa terbahak.
"Polos bener lo. Pantas Nero senang dekat lo."
"Apa maksudnya?" Selidik Frissie
"Gapapa, lupain aja. Lo masuk gih, gua bentar lagi nyusul." Frissie menatap kesal dan berlalu masuk sementara Nessie masih melanjut minumnya dan bahkan gadis itu mematik rokok untuk dia hisap.
****
Nero sendiri pusing dengan apa yang dia lakukan tadi. Dia terus terbayang dengan bibir gadis itu, bagaimana bisa bibir itu terasa begitu manis, sayang sekali dia hanya menikmatinya sebentar saja.Padahal dia sudah terbiasa dengan bibir, tapi kenapa ini lebih membuatnya candu dan menginginkannya lagi dan lagi.
"Lo mikirin apa?" tanya seorang gadis yang datang menghampirinya.
Nero menggeleng, dan gadis itu duduk di paha kanan Nero dan bergelayut manja pada pria itu.
"Gimana malam ini, udah siap belom?"
"Siap untuk?"
"Nero, are you normal? " Mendengar itu Nero mengerti kemana arah pembicaraan gadis yang tengah menduduki pahanya itu.
"Gua gak pengen,"
"You only said I don't wanna, I don't wanna. Berapa lama lagi sih Ner, gua nunggu lo? Apa tunggu gua--" mulut gadis itu dibekap Nero dengan mulutnya. Mereka berlarut dalam ciuman dan saling memangut, namun ketika mencium gadis itu bayangan Frissie datang menghampiri Nero dan segera dia melepasnya.
"What's wrong?" heran Nadine
"Gua pusing, lo turun dulu." pinta Nero meminta Nadine turun dari pangkuannya, mau tidak mau Nadine akhirnya turun dengan perasaan kesal.
"Lo kenapa Din?"
"Tau ah, tanya sahabat kamu tuh. Bikin bad mood melulu," ujar Nadine seraya meneguk wine yang ada digelasnya.
"Wow.... ada apa ini? Apa masih masalah begituan?" Nadine mengangguk kecewa
"Sampai kapan lu pelihara disangkar, bro. Udah lepasin aja," tawa Billy
Nero tidak mendengar apapun yang dikatakan oleh sohib gilanya itu. Yesh, dia punya banyak teman tapi yang menjadi sohibnya hanya Max dan Billy. Mereka berdua tahu banyak mengenai dia.
"Gua curiga teman lo ini kagak normal," sindir Nadine disambut tawa Max dan Billy.
"Kalo bareng gua aja gimana, Dine?" tanya Billy sambil mengerlingkan mata.
"Coba aja kalo lo mau masuk peti," ucap Nero santai.
Ada perasaan senang dihati Nadine. Yes, Nero tidak akan membiarkan orang lain menyentuh dirinya.
"Gila kali lo. Nadine udah pengen kasian, kalo lo gk mau Billy siap itu," ujar Max memanasi.
Nero meletakkan gelasnya, "Kenapa sih lo pengen begituan? Kenapa harus buru-buru?"
"Nero, kita udah dewasa. Udah saatnya me--mph..." mulut itu kembali Nero bungkam dengan bibirnya.
Billy bersorak kuat dan bertepuk tangan.... Mereka berdua sedang menikmati pertunjukan sampai sejauh apa Nero bisa melakukannya. Dia masih tidak habis pikir kenapa pria ini menolak tubuh wanita. Jelas-jelas mangsa didepan mata.
Nero membawa Nadine kesebuah kamar dan menguncinya. Max dan Billy menatap kecewa, mereka tidak bisa menonton secara live.
"Akhirnya si burung bakal dilepaskan," tawa Billy hanya ditanggapi senyuman tipis oleh Max
"Gua mau cari mangsa dulu, gua pergi... bye!!" Max mengangguk ketika Billy pamit.
Max kecewa, benar-benar kecewa pada dirinya sendiri. Kenapa dia tidak pernah bisa memiliki hati Nadine, kenapa selalu Nero yang dilirik gadis itu. Jelas-jelas Nero sudah berulang kali menolaknya.
"Apakah pada akhirnya kesempatan ku tidak ada lagi? Apa mereka akan melakukannya dan hidup bahagia ketika aku menderita dengan perasaanku?"Max menarik napas dalam-dalam dan meneguk minuman itu sekali teguk.
Sementara, didalam kamar Nero duduk disisi ranjang melihat Nadine yang sudah tiduran disana.
"Maaf, Nadine... gua gak bisa melakukannya." Nadine terbangun dari tidurnya
"Nero, lihat gua... Gua udah didepan lo. Apa salahnya sih langsung lakuin aja. Sampai kapan sih?"
"Maaf banget Dine, gua benar-benar gk bisa." Nero bangkit dan berjalan menuju pintu
"Nero, kamu serius?" Nadine mulai membuka kancing bajunya hendak menggoda Nero.
Nero melepas jasnya dan melemparnya pada Nadine, "Tutup, jaga auratmu. Gua pergi."
"Nero," teriak Nadine lagi
"Kenapa sih? Apa yang kamu tunggu atau kamu punya wanita lain. Benarkan aku?" Nero menggeleng dan mencoba membuka pintu
"Nero," panggil Nadine lagi menghentikan aksi Nero membuka pintu.
"Kalo lo melangkah dari kamar ini, gua bakal melakukannya dengan Billy dan Max." Nero menatap marah dan kecewa Nadine.
"Kenapa? Lo gak mau liat gua ngelakukannya dengan yang lain tapi lo sendiri tidak mau melakukannya dengan gue. Lo kenapa sih? Lo ini nganggap Gua ngak sih?" Nero menghela napas dan menghampiri gadis yang sudah terisak itu.
Nero menutupi tubuh Nadine yang sedikit terbuka akibat ulah Nadine sendiri. Dia memakaikan Jas miliknya pada Nadine dan memeluk gadis itu.
"Lo jangan bertindak bodoh, Din. Gua sayang sama lo, tapi gua sayang bukan dengan melakukannya. Please, ngertiin gua." Nadine menggangguk kecil dan berusaha menahan isak tangisnya.
"Gua antar lo pulang," Nadine menganguk dan mereka keluar dan berlalu dari klub itu. Max yang melihatnya, tertawa miris.
"Apa dia tidak nyaman melakukannya disana sampai harus menganti tempat?" Mata Max fokus pada Nadine yang tengah memakai jas Nero. Dia menertawai dirinya sendiri.
"Cinta brengsek, lu buat gua menderita." Teriak Max tanpa perduli tatapan orang lain padanya.
"FInally, lagi dan lagi gua kalah dari Nero," Dia kembali menegakkan minumannya sekali minum. Hatinya terasa hancur dan perih, bagaimana dia harus melampiaskan semua rasa amarah yang sudah berkumpul didadanya ini.
"Lo gilak, heh sadar lo!!!" semua menjadi gelap
~
Lis'R Story