It'S Not Fine

It'S Not Fine
Kiss me



Frissie benar-benar merasa jenuh. Dia merasa sepi ditengah keramaian. Dia melihat Nessie yang sibuk bersama seorang pria bahkan seperti tak mengingat keberadaaannya disini. Dia sangat ingin kembali ke kamarnya dan tertidur untuk memanjakan tubuhnya.


Dia ingin mengatakan pada Nessie tapi dia sungguh tidak enak jika harus menganggu temannya itu ditengah kemesraan yang tengah terjadi. Lagi dan lagi Frisie menghela napas kasar, Tempat ini benar-benar tak sesuai dengannya. Musik yang benar-benar memekakan telinga, bau alkohol yang membuat dia ingin muntah. Tapi harus bagaimana. Kapan acara ini dimulai, huh!


Tanpa Frissie sadari, sedari tadi dia tengah diperhatikan sekawanan pria yang berada tak jauh darinya. Ada juga yang sedang mengamatinya secara terang-terangan tat kala ketika mata mereka bertemu, Frissie tersenyum canggung.


"Man,  do you want to fight for her?" seru seseorang diantara mereka.


"Are you crazy, Max? Dia dewa dari segala playboy," Benar lelaki yang mengajurkan tantangan itu adalah Max Lavinto. Orang terkaya ke dua diantara mereka.


Lelaki yang ditantang tersenyum tipis seraya mengelus rambut seorang wanita yang tengah duduk dipangkuannya.


"Will you take it?" Tanya salah seorang dari mereka seraya tertawa


"Why not? " sahut pria itu membuat yang lain berteriak kegirangan menanti tantangan itu.


"Kalo gua menang, lu mau taruhan apa sama gua?" Tanya Pria yang ditantang


"Gua bakal serahin kontrak tanah di Maldives." Ujar Max serius


"Lu benar-benar gila, Max!" ujar Andrean yang tertawa


"Gua terima. Lu mau gua ngapain sama tu cewek. But, noted gua gak mau yang namanya one night ya. Lo kenal gua, "


"Only kiss her. Tapi inget, ciumannya harus mau sama mau bukan karna paksaan Lo. Eits... sebentar tapi kalo lo kalah lo mau kasih gua apa?" tanya Max


Pria itu memicingkan matanya sebelah merasa diremehkan oleh Max.


"Gua akan menang!" jawabnya dengan percaya diri.


Teriakan dari yang lain semakin membuat panas suasana diruangan itu.


"No. I'm sure you will lose," Max semakin yakin membuat teriakan semakin membara. Pria yang ditantang menatap Max tidak suka.


"If I am lose. Gua penuhi mau lo." Ujarnya emosi


"Gua mau Bugatti lo. Gimana?"


"Wihh.. wihh... wihh bukan maen..." sahut Andrean tertawa


"Oke.. Deal!"


Pria itu mulai melangkah mendekati Frissie dengan langkah mantap. Semua menatap heran dan yang lainnya sedang menunggu pertunjukkan.


"Hai," sapanya pada Frissie


"Ya, hai." Jawab Frissie canggung


"I am Nero Hardin. Nice to meet you,"


"Oh iya... I am Frissie. Nice to meet you too." Benar-benar tak membuat nyaman. Lelaki yang sedari tadi dia curi-curi pandang kini duduk disampingnya dan mengajaknya berkenalan.


"You are Nessie's friends, aren't you?"


"Yeah, itu benar aku." Jawab Frissie tersenyum canggung. Benar, jantungnya sangat berdegub kencang. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Nero menggangguk mendengar jawaban canggung Frissie.


"Can you help me to do something?" bisik Nero dengan suara pelan


"What is it?"


"Kiss me!" Frissie melotot marah pada Nero.


"No, thanks! "


"Please, I want you!" ucap Nero dengan suara seraknya. Dan mulai mendekat dan menarik tengkuk Frissie dan menempelkan bibirnya pada Frissie, ada sensasi aneh, Nero mencoba untuk ******* bibir itu. Frissie sangat shock sampai otaknya terlambat untuk memahami apa yang terjadi. Ketika kesadaran Frissie kembali dia bangkit berdiri dan memberi tamparan pada pria yang menciumnya secara tiba-tiba.


Melihat pertunjukkan itu, para pria yang menyaksikannya bersorak ria. Frissie yang merasa dipermainkan berlari meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Max sudah tersenyum senang menyaksikan tamparan maut yang mengenai pipi dewa playboy itu.


Nero sendiri terpaku diam, sungguh dia tidak merasakan tamparan itu hanya saja hatinya mencelos ketika melihat air mata gadis itu ketika menatapnya. Apa yang terjadi dengan dirinya, ini bukanlah dirinya. Nero bangkit berdiri dan menghampiri teman-temannya.


Max segera menegadah tangannya, mengerti apa yang diminta pria itu, Nero menarik kunci yang berada dikantung celananya dan menyerahkannya pada Max. Pria lain langsung memberi pelukan ala lelaki pada Max karna tidak menyangka tebakannya sangat akurat. Pantas saja lelaki ini tidak takut membeli mobil mewah pada tantangan kali ini.


"Sial!" maki Nero.


****


Disisi lain, Nero memilih pulang dengan taxi karna mobilnya kini bukan miliknya lagi. Begitu banyak alkohol yang dia minum membuat dia sedikit pusing. Sesampai diapartemennya tanpa menganti pakaiannya dia segera membentangkan tubuhnya dikasur king size miliknya.


Bayangan air mata Frissie seakan benar-benar menghantui dia. Bagaimana bisa ini terjadi pada seorang Nero. Dia tidak pernah memikirkan perasaan wanita yang berada disekitarnya.


"****!"


****


Frissie seakan melupakan yang terjadi, dia mulai mempersiapkan bukunya. Hari ini menjadi hari pertama dia akan memulai studynya. Dia melihat Nessie yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Are you okay? I am sorry, Tessa. Aku tidak menyangka Nero akan melakukan hal nekat padamu."


"Lupakan saja. Baiklah aku akan pergi terlebih dahulu,"


"Tessa, apakah kamu marah padaku? Maafkan aku!" pinta Nessie


"Tidak, Nessie. Aku tidak marah. Aku hanya buru-buru, aku ada kelas pagi ini,"


"Jika kamu tidak marah bisakah kamu memelukku,"


"Of course!" Frissie memeluk Nessie dan dia dapat mencium aroma alkohol di tubuh Nessie.


"Bersihkan tubuhmu, kamu dipenuhi alkohol." Kekeh Frissie


"Baiklah sayangku," balas Nessie


"Aku pergi,"


"Semangat!" teriak Nessie


Frissie mengeleng-gelengkan kepalanya tak menyangka bahwa Nessie memiliki sifat seperti itu. Tapi dia masih cukup heran, bukankah Nessie mahasiswa baru seperti dirinya kenapa bisa dia mengenal para senior mereka?


Nessie memasuki ruangan dimana kali ini dia akan mengikuti mata kuliah Algoritma. Dia mulai mempersiapkan dirinya untuk mendengar materi hari ini. Dia sangat bersemangat.


Tak lama seseorang dengan pakaian formal dengan kemeja putih membaut tubuh atletis dan dlengkapi dengan jas hitam membuat pria itu tampak gagah. Bahkan, beberapa gadis dikelas itu sedikit berteriak histeris melihatnya. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakan bahwa pria itu seleranya.


Frissie geleng-geleng kepala mendengar teman-temannya yang histeris. Dia meluruskan pandangannya kedepan melihat lelaki seperti apa yang membuat para gadis itu histeris.


Deg!!!


Hatinya mencelos melihat bahwa lelaki yang dia tampar kemarin adalah seorang dosen yang berdiri tegap didepan sana. Ternyata dia bukan kakak senior? Pikiran dan perasaannya tidak tenang bagiamana bisa dia menampar seorang dosen.


"Good morning, every one. I am Mr. Hardin. Baiklah selama pelajaran Algoritma saya akan menjadi dosen anda. Harap kerjasamanya. Untuk peraturan perkuliahan, selama kelas saya tidak dibenarkan saling berbicara satu sama lain. Selama kelas saya juga tidak diijinkan tidur, dan jika kamu terlambat menghadiri kelas saya sebaiknya anda absen saja. Karna saya tidak suka ketika saya mengajar ada yang menganggu. Dan ini terakhir kalinya untuk kalian histeris tidak jelas seperti sebelumnya, aku anggap sudah selesai. Jika ada pertanyaan silahkan," jelasnya dengan tegas.


Seketika itu juga semua hening, tak ada yang berani berbicara dan tak sedikit para gadis yang histeris tadi langsung patah hati ketika mendengar peraturan itu.


"Jika tidak ada yang bertanya, maka kelas akan saya mulai dari absensi terlebih dahulu. Oh iya, 3 kali tidak mengikuti kelas saya, siap-siap kalian mengulang tahun berikutnya." Tiba saatnya Nero Hardin melakukan absensi kelas.


"Dainson Calester,"


"Present sr."


"Frissie Tessa"


"Here, sir" Nero melirik dan betapa terkejutnya dia mendapati gadis yang membuat dia pusing sepanjang malam adalah mahasiswanya sendiri. Dia tetap stay cool untuk menutupi keterkejutannya. Dia memulai pembelajaran dan dengan profesional mengajar mereka.


Tak jarang tatapan mereka bertemu dan membuat jantung keduanya berdetak lebih kencang. Frissie menundukkan kepalanya menghindari tatapan dari Nero. Dia berusaha fokus mencatat hal-hal yang Nero sampaikan.


"Any question?" Tak ada yang berani menganjungkan jarinya walaupun mereka bingung. Mereka takut dengan aura Nero. Jika dapat dikatakan dia pantes menjadi dosen killer.


"Jika tidak ada saya anggap anda semua mengerti. Baiklah, demikian untuk hari ini." tutupnya


Satu per satu keluar terlebih dahulu, Frissie sengaja mempelambat catatannya dia menunggu Nero terlebih dahulu keluar. Dia tak ingin beradu tatapan dengan pria itu. Dia menulis rumus Algoritma dan mencoba beberapa soal latihan disana menunggu semua orang keluar terutama  dosennya itu.


Nero melirik gadis itu tidak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya. Dia berjalan mendekat dan melihat apa yang sedang gadis itu tulis.


"Ini masih salah,"


~


Lis'R Story