
Matahari pagi menyinari ruangan kamar yang sejak satu minggu ini aku tinggali sekarang aku tinggal bersama ayah dan kedua kakakku didalam kerajaan utama, pagi ini tidak seperti pagi biasanya hari ini ayahku mengajak kami untuk sarapan pagi bersama sambil membicarakan tentang kegiataan apa saja yang akan dilakukan dalam acara ulang tahun kerajaan.
Aku berjalan santai menuju ruang makan kerajaan didampingi oleh Justin yang selalu mengikutiku sebenarnya aku merasa sedikit tidak nyaman karna sendari tadi Justin selalu memperhatikanku, aku berhenti sejenak lalu Justin ikut berhenti dan bertanya "Ada apa putri kenapa berhenti" aku menghela nafas"Kenapa kamu selalu memperhatikan aku apakah ada yang salah dengan tubuhku saat ini" "Tidak ada putri saya hanya merasa bahagia karena anda tumbuh begitu besar tidak terasa waktu sangat cepat berlalu " aku melihat Justin sedikit mencondongkan wajah sambil mengusap matanya apakah dia menangis saat ini "Justin apakah kamu menagis" tanyaku "Putri apakah putri bisa berjalan dahulu ke ruang makan" "Apakah kamu benar benar baik baik saja Justin" aku memandanginya agak lama lalu aku memutuskan untuk pergi keruang makan terlebih dahulu setelah berpamitan dengan Justin.
Akhirnya aku sampai tepat di depan ruang makan dua kesatria membukakan pintu ruang makan dan mempersilahkan aku masuk aku melihat ayah dan kedua kakakku sudah berada disana "Dimana Justin kenapa dia tidak bersamamu" tanya ayah"Dia tadi sedang ada sedikit urusan saat mengantarkan aku kesini ayah" ayahku tidak menanggapi lagi dan mempersilahkan aku segera duduk bersama mereka.
Sesi sarapan kami lewati dengan hening tibalah saatnya untuk menikmati hidangan penutup yang disiapkan oleh kerajaan aku mendengar ayahku membuka bicara "kalian pasti sudah diberitahu oleh para pelayan kalian bahwa pagi ini kita akan membicarakan tentang ulang tahun kerajaan" kami menganggukkan kepala bersama "Apakah ada hal yang ingin kalian lakukan untuk memeriahkan acara ulang tahun kerajaan saat ini" tanya ayah pada kami "Bukankah ulang tahun kerajaan masih lama ayah? " tanya Aland "Walaupun begitu kita tetap harus menyiapkan dari jauh jauh hari agar nantinya acara bisa berjalan sesuai yang diharapkan" jawab ayah.
Aku mendengar Delbart membuka suara "Bagaimana bila tetap melakukan acara ulang tahun kerajaan seperti tahun lalu hanya saja ulang tahun kali ini selain rakyat datang ke kerajaan dan menerbangkan lampion tapi kita juga akan berkeliling area kerajaan untuk menyapa rakyat secara langsung" aku melihat ayah sedang memikirkan sesuatu "Itu ide yang sangat bagus bagaimana dengan mu Lova apakah kamu punya sesuatu yang akan kamu usulkan" tanya ayah sambil melihat kearah diriku "Aku hanya ingin semua rakyat kerajaan menghias rumah dan halaman rumahnya masing-masing siapa yang paling bagus dan rapi maka mereka akan diberi hadiah" "Baiklah ayah akan mengumumkan kepada semua rakyat, apakah kamu ingin menambahkan Aland" "Tidak ada ayah" aku melihat Aland sedang memakan cake yang ada didepannya dengan sangat lahap.
Saat ini kakiku mulai mati rasa akhirnya aku menyerah diputaran kelima aku berbaring ditanah dengan memejamkan mata ini,beberapa saat kemudian aku rasakan tusukan tusukan kecil diwajahku "Hai pendek apakah kamu masih hidup" aku masih saja diam dan membuka mataku sebentar " Kau payah sekali baru lima putaran saja sudah tumbang dulu saat umurku empat tahun aku sudah lari sebanyak lima puluh putaran" Aland terus menusuk nusuk kan jarinya dipipiku sampai aku mendengar suara penyelamatku "Kak Aland sampai kapan kamu akan disitu bisakah untuk saat ini kakak fokus dulu dalam latihan" aku mendengar suara Delbart sangat kesal "Ah baiklah Justin tolong bawa Lova si payah ini kekamar" sesaat kemudian aku mendengar suara Aland melangkahkan kakinya, bahkan saat aku seperti ini pun dia masih sangat menjengkelkan malam ini badanku terasa sangat sakit bahkan setelah Justin memijatnya, wajar saja aku sangat lemah saat berlari karena dikehidupan lamaku dulu aku sangat payah dalam olahraga.
Malam ini terasa sangat membosankan bahkan sampai saat ini aku tidak bisa memejamkan mataku akhirnya aku memutuskan untuk melihat bulan purnama dari jendela kamarku cahaya bulan yang sangat terang mengingatkan diriku saat menghabiskan malam bersama keluargaku di panti asuhan dulu, tampa sadar aku pejamkan kedua mata ini sambil menikmati hembusan angin malam yang menengkan "Apa yang sedang kamu lakukan? "aku sangat kaget dan jatuh ke lantai saat aku mendengar suara pemuda tepat disamping telingaku "Sedang apa kamu disini" tanyaku "Aku sedang mengecek keadaanmu karena kamu terlihat sangat menyedihkan" ucapnya dengan santai "Coba kamu ulang perkataanmu Lucas" ucapku dengan nada marah "Aku rasa tidak perlu karena sepertinya kamu sudah mendengar cukup jelas" aku masih memandang Lucas dengan tatapan yang sangat tajam "Siapakah dirimu kenapa kamu bisa berada di kamarku dan apa" ucapanku terhenti saat dia berbicara memotong ucapanku "Kamu cerewat sekali bisakah kamu diam sebentar saja, saat ini aku belum bisa menjelaskan siapa diriku yang sebenarnya tujuanku bertemu dengan mu sekarang karena ada hal yang sangat penting akan aku sampaikan padamu".
Aku terdiam sejenak dan aku melihatnya menghela nafas beberapa kali " Apa yang ingin kamu sampaikan?".