
"Hai pendek"
Heh apa katanya pendek?, aku melotot kearah anak yang tidak lain adalah Aland kakak pertamaku. Apakah dia tidak bisa menjaga ucapannya saat ini dengan semaunya menyebut orang lain dengan kata pendek."Kenapa matamu, apakah kamu sakit coba aku priksa" sepontan aku menjauhkan badanku dari tangannya "Heh apakah kamu menghindari ku" ucapnya sambil marah "Eh tidak kak, bukan maksudku seperti itu hanya saja aku belum terbiasa dengan orang lain selain Justin" keringat dingin membasahi kedua tangan ku saat dia menatapku dengan tajam.
Aland beranjak menjauh dari hadapanku dia berjalan dengan menghela nafas sambil bergumam yang cukup keras didengar oleh orang diruangan ini "Bahkan dia lebih memilih Justin dari pada aku" ucapnya. Aku hanya diam dan tidak menanggapi ucapanya aku menggeleng pelan mengingat apa yang kakak pertamaku katakan itu walaupun saat ini tubuhku seperti anak usia 4 tahun pada umumnya tetapi jiwa dan pemikiranku tetap seperti halnya perempuan usia 20 tahun, tampa sadar aku sedikit tersenyum melihat tingkah dari Aland kakak pertamaku itu.
Setelah Aland duduk di kursinya keadaan ruang makan kembali sunyi dan dingin tidak ada sedikitpun suara kecuali alat makan yang berbenturan dengan pelan, saat ini sesi makan utama sudah selesai sepanjang waktu makan aku sama sekali tidak bisa menikmatinya selain karena suasana yang tidak nyaman juga karena makanan yang menurutku sama sekali tidak ada rasanya.
Karena selama aku dikamar yang mengisi perutku hanya selalu buah dan susu saja sehingga aku belum peran mencoba makanan kerajaan,ini memang termasuk rencana yang aku buat agar tubuhku tetap indah agar membuat semua hal yang aku susun untuk menyelamatkan hidupku dan Justin berjalan dengan lancar, terkadang aku juga tergoda bagaimana rasa dari makanan di Kerajaan ini tapi setelah aku mencobanya aku merasa tidak akan pernah memakannya lagi.
Aku berusaha sebaik mungkin menyusun rencana demi kebebasanku dengan membaca buku secara diam diam mempelajari apa saja yang ada didunia tempat ku saat ini serta aku juga selalu rutin menyimpan barang berharga yang jika sewaktu waktu terjadi masalah di Kerajaan aku bisa bawa lari bersama Justin, terkadang aku berfikir bisa menikah serta hidup dengan damai dan tenang bersama Justin tapi itu sangatlah mustahil bagiku, karna peraturan konyol yang mengharuskan bangsawan harus menikah dengan sesama bangsawan entah itu cinta atau tidak.
Gejolak dipikiranku terhenti ketika aku mendengar suara pintu yang terbuka dan bersama dengan nya masuklah beberapa pria yang berpakaian senada membawa teko dan tiga gelas berisi susu cair. Para pria itu meletakkan gelas berisi susu cair dihadapanku dan kedua kakak ku sedangkan teko yang dibawa oleh pria tadi dia letakkan didepan meja ayahku ternyata ketika dituang hanya berisi air yang berwarna sedikit keruh dan tentang air apa itu aku pun tidak tau.
Lama aku tatap ayahku saat ini dia sedang mengangkat gelas yang ada ditangannya sambil sesekali meniupnya, pandangan ku teralihkan ketika suara Aland yang memenuhi ruangan "Apakah tidak ada minuman yang lebih segar dari pada susu ini, aku sangat bosan meminumnya sangat hambar" Aland berbicara dengan sesekali mencoba minuman susu yang menurutnya sangat membosankan. Sifat kakakku Aland terlihat sangat berbanding terbalik dengan kakak keduaku Delbert aku perhatikan sendari awal kakak keduaku hanya diam tampa berbicara sedikitpun.
Seperti biasa setiap kali aku pergi ke taman ini untuk melihat bintang aku selalu menyuruh para pelayan termasuk Justin untuk menungguku dari kejauhan, saat kurasa Justin telah menghilang dari pandangan aku bergegas lari menuju tempat persembunyian hartaku sebenarnya tempat penyimpanan itu hanya sebuah kotak kayu yang aku tutupi dengan tanah dan dedaunan walaupun begitu setidaknya sudah ada tempat penyimpanan yang aku punya, aku bergegas berusaha membuka kunci yang ada di peti rahasiaku tapi saat aku sedang berusaha membuka kunci kotak rahasia milik ku. Aku mendengar suara pelan dari balik pohon di depan ku saat aku dekati suara itu semakin jelas dan aku juga mendengar beberapa kali suara decakan lidah.
"Siapa disana? " ucapku pelan terdengar suara helaan nafas dari balik pohon yang aku datangi "Apakah tidak ada tempat yang bisa membuatku tenang" suara anak laki laki terdengar jelas dari balik pohon. Karena rasa penasaran aku semakin berjalan mendekati pohon itu sehingga aku melihat seorang anak laki laki tampan dengan mata Biru pekat memandang kearahku "Siapa kau! kenapa bisa berada di dalam kerajaan ku? ".