
Rasa sesak yang aku alami membuat mata ini tidak sanggup memandang kearah mereka, tampa sadar wajahku terbenam didada bindang Justin. "Tak apa putri mereka semua adalah keluarga anda, saya akan memperkenalkan mereka satu persatu untuk anda".
Berlahan aku angkat kembali wajahku menghadap kearah mereka aku mendengar Justin terkekeh kecil dan mulai melanjutkan ucapanya. "Pria dewasa yang duduk diatas singga sana itu bernama Grisshan Maulvi dia adalah raja dan sekaligus ayah anda, di sebelah kanannya bernama Aland Maulvi dia pangeran dan kakak pertama anda, dan yang disamping kiri ayahmu bernama Delbert Maulvi dia pangeran dan kakak kedua anda, sedangkan perempuan yang akan dieksekusi itu bernama Agatha Maulvi dia kakak ketiga anda, yang menyebabkan eksekusi ini karena kakak anda ditinggalkan oleh calon suaminya dengan alasan calon suaminya tidak mencintainya dan laki laki penuh luka disamping kakak anda adalah seorang kesatria yang sama seperti saya, dia disumpah darah untuk menjaga tuannya sampai kemanapun, dalam artinan bila tuannya mati dia juga harus mengikutinya".
Mataku melebar mendengar penjelasan dari Justin, aku menghela nafasku dan berfikir aturan macam apa yang memudahkankan laki laki bebas memilih sedangkan perempuan hanya dijadikan mainan dan bahan pemuas nafsu, ketika mereka tidak membutuhkannya maka dibuang sesuka hatinya,bahkan mereka tidak memikirkan dapak dari penolakan yang mereka lakukan kembali aku menghela nafas hingga berulang kali sampai suara gong yang menggema menghentikan aktifitasku, keadaaan seketika menjadi sangat senyap bahkan tiada sedikitpun suara yang terdengar.
Aku melihat raja meninggalkan singga sananya menuju ke depan dengan tatapan dingin tampa belas kasih walapun yang akan dieksekusi adalah anaknya sendiri. "Mulai eksekusinya! " ucapan raja membuat algojo yang memegang pedang sendari tadi mulai bergerak tampa aku ketahui pasti kapan algojo mulai mengeksekusi, tapi didepan ku sudah menggelinding 2 kepala dengan mata yang melotot kearahku serta darah yang mengucur deras dari area lehernya.
Jantung ku berdegup kencang, apa ini? aku tidak bisa lagi menahan air mataku untuk jatuh" Oeekkk, Oeekk, Oeekk" aku menangis sejadi jadinya melihat kejadian mengerikan yang menimpa pada kakakku. Justin berusaha menenangkanku dengan memeluk dan menepuk nepuk belakang kepalaku serta berkata tenangalah putri semua akan baik baik saja.
Kejadian ini membuat tekadku muncul apapun yang terjadi aku harus tumbuh menjadi wanita yang cerdas dan cantik supaya kami tidak bernasib sama seperti mereka, aku akan memeras otakku berusaha untuk mencari siapa yang menjadikan aturan konyol ini untuk menghancurkannya agar kami para wanita bisa hidup tenang tampa harus memikirkan tetang perjodohan gila ini.Aku bersumpah, tenanglah Justin kita pasti akan selamat percayalah pada ku.
Tidak terasa eksekusi kakakku telah selesai, karena terlalu lelah menagis aku terlelap di dada bindang Justin dan ketika terbangun ternyata sudah berada di kamarku, kejadian yang menimpa kakakku membuat diriku sebisa mungkin mencari cara bagaimana bisa mencuri perhatian orang orang supaya mereka menyayangiku sehingga setidaknya ketika dalam masa yang sulit ada orang orang yang berusaha melindungi diriku.
Saat aku sedang duduk menikmati susu yang dibuatkan oleh Justin terdengar suara derap langkah dari arah pintu luar kamarku, " Yang mulia malam ini kali pertamanya anda akan makan bersama keluarga anda, saya akan menyiapkan segala keperluan anda" . Aku melihat Justin sangat antusias menyiapkan segala keperluan ku, tampa sadar aku menghela nafas berharap tidak bertemu dengan mereka lagi saat ini. Tuhan tidaklah engkau membiarkanku sebentar lagi untuk damai dengan kesendirian yang menyenangkan ini. Aku pukul dadaku rasa sesak seakan membuatku sulit untuk bernafas.
Jantungku berdegup sangat kencang, keringat bercucuran didalam baju yang aku kenakan pintu berlahan terbuka aku melihat kearah meja makan dengan suasana yang sangat dingin membuat hatiku terasa tambah sesak, Justin menurunkan tubuhku tepat diatas kursi didepan ayahku. lalu berlahan dia berjalan menjauh meniggalkan aku di dalam ruangan yang sangat menyesakkan ini, Tuhan bila aku mempunyai kuasa aku berharap Justin tetap bersamaku disini.
Tuhan apa yang harus aku lakukan saat ini, aku terus berfikir tampa sadar aku memejamkan kedua mataku.
"Hai pendek"
Bagi pembaca yang terhormat, silahkan tinggalkan komentar pada novel saya kritik dan sarannya🙏