Is It A Princess?

Is It A Princess?
Chapter 6



Berulang kali aku mencoba menenangkan pikiran buruk yang berkecamuk mengisi otakku ini bahkan aku juga harus berusaha menyiapkan alasan terbaik untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi nantinya, kondisi keadaan ruangan begitu sunyi setelah para kesatria meninggalkan tempat kami saat ini.


Aku mendengar suara helaan nafas dari raja sekaligus ayahku itu lalu dia terdiam sejenak dan memulai bicara "Dengarkan, saat ini ayah akan berbicara pada kalian sebagai seorang ayah dan anak bukan sebagai seorang raja" ayahku menghela nafas kembali dan melanjutkan ucapannya "Ayah sangat meminta maaf kepada kalian sebab tidak bisa menjaga ibu kalian dengan baik dan ayah juga meminta maaf kepada kalian karena tidak bisa menjaga saudara perempuan kalian dari hukuman konyol yang seharusnya tidak menimpanya ayah juga sangat meminta maaf pada kalian karena ayah tidak bisa mendampingi kalain setiap waktu. Ayah terlalu egois karena ayah selalu memikir kan diri ayah sendiri tampa menyadari bagaimana perasaan kalian yang sesungguhnya " ucap ayahku dengan tertunduk.


Aku melihat kearah kedua kakakku yang hanya terdiam menanggapi ucapan dari ayah aku beranjak berdiri mendekati ayahku yang sedang tertunduk berlahan aku tepuk pelan tangannya untuk sedikit menenangkan dirinya aku melihat ayahku mengangkat kepalanya "Terima kasih putriku" aku balas ucapanya dengan anggukan kepala pelan, aku memberanikan diri untuk memeluk tubuh ayah dengan tubuh kecilku ini aku merasakan ayah juga membalas pelukanku dengan lembut diikuti oleh kedua kakakku.


Ternyata sifat ayah tidak seperti apa yang aku pikirkan hanya saja dia selalu menyembunyikan kesedihannya dengan sifat dinginnya sehingga terlihat seperti orang yang tidak mau tau dengan keadaan disekitar dirinya ini mengingat kan ku dengan kata kata bahwa jangan penah melihat orang hanya dari luarnya tampa sadar senyuman terukir dari wajahku.


"Lovandra terima kasih untuk minyak kemiri yang kamu buat untuk ayah tapi dari mana kamu mengetahui bahwa kemiri bisa bermanfaat untuk rambut" aku tersenyum lalu menjawab "aku membacanya ayah" dengan tidak menghilangkan senyum diwajahku "apa kamu sedang membual" ini pertama kalinya aku mendengar kakak kedua ku Delbert berbicara "tidak kakak di kamarku memang terdapat banyak sekali buku karena aku bosan makan aku" tiba tiba Aland memotong ucapanku "sungguh ku sangat tidak lucu saat ini".


Aku binggung kenapa reaksi mereka berlebihan seperti ini setelah aku pikir kembali badanku mematung aku lupa bahwa aku hanyalah anak perempuan 4 tahun akan sangat mustahil bila bisa membaca tampa ada seorang pun yang mengajari dirinya, peluh memenuhi badanku jantung ku berdetak dengan cepat Ya Tuhan apakah ini yang membuat kita tidak boleh berbohong sebab itu akan menjerumuskanmu sendiri,"Apakah benar apa yang kamu katakan? " kuharapkan badanku kearah ayah yang berbicara padaku dengan ragu aku menjawab ucapannya dengan anggukan.


Aku menoleh kebelakang terlihat kedua kakak ayah dan pelayan pribadi kami sedang mengikutiku rasa takut yang aku rasakan membuat diriku semakin mempercepat langkah kaki ini hingga tibalah kami didepan sebuah pintu yang tidak lain adalah kamarku sendiri, aku melihat Justin berlari untuk membuka pintu kamarku itu kami bersama sama masuk kedalam kamarku lalu aku melanjutkan langkah kakiku ketempat buku-buku yang kubaca tersimpan.


Aku tarik kursi yang menutupi tepat buku-buku itu tersimpan aku angkat pintu kayu yang berada diatasnya semua yang ada diruangan itu terkejut ketika melihatku membuka ruangan ini, kalau bukan karena keteledoran ku saat berbicara mungkin ruangan ini akan menjadi rahasia seumur hidupku langkah kakiku memasuki ruangan yang telah lama aku sembunyikan bahkan Justin pun tidak tau bahwa ada ruangan tersembuyi didalam kamarku.


Langkahku berhenti tepat disebelah tumpukan tinggi buku buku yang telah aku baca "Apakah kamu benar benar telah membacanya" terdengar suara Delbert dari arah belakangku "Ada apa Delbert"tanya ayahku "Apakah kamu benar benar telah membacanya Lova bahkan aku dan Aland butuh waktu bertahun tahun untuk mempelajari tulisan seperti ini" ucap Delbert sambil menunjukan buku kehadapan ayah"Delbart Aland apakah kalian mengetahui bacaan dari salah satu buku ini kita tidak akan tau kebenarannya sebelum Lova membuktikannya sendiri" Aland memegang sebuah buku ditangannya "Ayah aku sedikit memahami kata kata dibuku ini" "Lova sekarang coba kamu baca tulisan didalam buku ini" ucap ayahku sambil memletakkan buku tersebut dan ayahku juga menunjukkan bagian mana yang harus aku baca.


Aku berjalan mendekat kearah buku yang diletakkan ayahku tadi dan aku pun mulai membacanya "Sihir agung hanya akan tercipta bila ada ketulusan hati dari pengendali sihir itu sendiri" semua orang di dalam ruangan membisu kecuali ayahku"Apakah itu benar Aland" "Be benar ayah Lova bagai mana kamu mempelajarinya" aku hanya terdiam tampa membalas perkataan Aland apakah dizaman ini buku yang berbahasa Latin belum dipelajari "Angkat semua buku didalam ruangan ini pindahkan semuanya ketempat barang rahasia kerajaaan" "Baik yang mulia" para kesatria bergegas mengangkat semua buku yang ada di ruangan ini.


"Anak anak ku ayah rasa kalian semua harus berpindah kekerajaan utama karena ayah sangat kawatir bila kalian jauh dari ayah apalagi dengan kecerdasan yang kalian miliki maukah kalian tinggal bersama ayah" .