
" hey......jangan mematikan telponnya sembarangan " heysahut Rian kesal.
Bahkan dia yang mematikannya langsung, ini sunggu aneh sebenarnya ada apa dengan nya.
" dia.....minta maaf atas kata - katanya barusan dan dia menyurh mu untuk jangan menangis nanti saat pulang akan bicara lagi dengan mu " ucap Rian mewakili Rey.
" sebenarnya ada apa dengan nya " ucap ku sambil meneteskan air mata.
Karna simpati Rian pun memeluk ku dan menenangkan ku.
" sudahlah.....pikirkan yang baik - baik saja, mungkin dia lagi enga enak hati atau mutnya lagi enga enak. Kan ibunya barusaja pergi sudah jangan menangis " ucap Rian menenangkan ku dan.
Hari sudah larut Rian masih saja menemaniku dia terus menghubungi Rey tapi tak ada balasan.
" kau pulang saja ini sudah larut " sahut ku menyuruh nya pulang.
" apa kau tak apa ku tinggal sendiri " ucapnya merasa khawatir.
" tak apa cepat pulang lah dan istirahat " ucap ku sambil mengusir Rian keluar dari kamar ku.
Dan pada malam akutak bisa berhenti menangis hingga keesokan harinya aku tak bisa pergi kesekolah karna merasa tak enak bada, mungkin ini efek semalam aku terlalu memikirkan Rey.
" Rian, maaf yah aku engga bisa sekolah hari ini " ucapku memberi pesan pada Rian.
" kenapa kau sakit, ada apa sih dengan mu. Kenapa kau memikirkan nya semalaman sampai sakit begini " ucap Rian tampak kesal.
" maaf, semalam aku takbisa berhenti menangis " ucapku.
" ah....baiklah, akan ku izinkan " ucap Rian tampak pasrah.
Beberapa menit kemudian Rian datang kerumah ku dengan membawakan minuman penambah energi dan obat.
" kau, kenapa kesini " tanya ku, kaget akan kehadirannya.
" sudah jangan banyak bicara minum ini dan jangan terlalu memikirkan tentang Rey, kau istirahat yang cukup sepulang sekolah aku kesini lagi. Ok aku pergi dulu jaga diri mu jangan menyusah kan ibu " sahutnya yang sedari tadi berdiri di depan pintu dan pergi.
Haru itu aku mencoba menenag kan diri untuk tidak memikirkan Rey. Akan tetapi sekeras apapun usaha ku tetap sulit bagiku untuk melupakan sikapnya yang bahkan takperna ku ketahui, aku masih bertanya \- tanya mengapa dan apa alasannya sehingga dia berubah dalam hitungan hari. Satu hal yang terbayang di otak ku yaitu kata \- kata yang dia lontarkan pada ku semalam, itu bahkan lebimenyakitkan dibanding ditolak.
\\*
Tiga hari sebelum aku (Rey) pergi,
Saat dijalan habis dari rumah Karin handpone ku berdering saat aku periksa ternyata ada telpon dari kakak ku.
" ya....." sahut ku.
" Rey, kamu cepat pulang yah " ucap kakak ku dengan nada yang sangat lembut.
" loh... Kok tiba - tiba, memang ada apa kak???? " tanya ku binggung.
" kamu enga usah banyak tanya sekarang juga kamu kesini yah " jawab kakak ku mengek untuk menjawab pertanyaan ku.
" memang harus sekarang kak ini kan udah malam banget " sahut ku.
" kakak udah nyuru pacar kakak buat jemput kamu, kamu siap - siap yah " ucap kakak ku dengan sangat lembut.
" tapi kak.... " sahut ku, akan tetapi sebelum selesai bicara kakak sudah mematikan telponnya.
" memang ada apa sih, kok kakak tumben bicaranya lembut " gumamku dalam hari sambil berjalan pulang kerumah.
Saat sampai dirumah aku langsung merapikan barang ku, dan sebelum itu aku menelpon selena untuk menanyakan sesuatu.
" hallo.....selena tiga hari kedepan kumpul ketua kelas lagi kan???? " tanya ku.
" iya....memangnya kenapa " jawab nya sambil menanyakan apa maksud ku menelpon.
" emmmm....besok kamu bisa izinin aku enga " sahut ku meminta tolong.
" memang kamu mau kemana " tanya selena binggung.
" ahhh....itu kakak ku barusan nelpon dia nyuruh aku untuk pulang " jawab ku.
" ha....memangnya kamu tinggal sendiri " sahut selena.
" iya aku lebih suka sekolah jauh dari keluarga ku, agar aku bisa mandiri " ucap ku.
" tapi kok tiba - tiba " tanya selena.
" aku juga enga tau tapi kayanya penting sih 10 menit lagi aku pergi, izinin yah " ucap ku.
" iya... Iya tapi kamu naik apa " sahut selena.
" pacar kakak ku yang jemput " ucap ku.
saat sedang asyik menelpon terdengar suara mobil berhenti di depan.
" wahhh..... Kayanya dia udah ada di depan deh aku berangkat dulu yah " sahut ku.
" baiklah....hati - hati di jalan " ucap selena.
" baik....kau juga jangan tidur terlalu larut " sahut Rey dengan sangat perhatian.
Akupun mematikan ponsel ku dan bergegas memasukkan barangku kedalam mobil, Saat di perjalanan tak sepatah katapun yang dilontarkan oleh pacar kakak ku hingga kami samapi di rumah. Saat kami sampai kakak sudah berdiri didepan pintu rumah akupun turun dan menyapanya.
" hai kak " sapa ku.
" maksud kakak, sebenarnya kakak kenapasih " tanya ku binggung.
" dek......" sahut kakak ku.
Sebelum kakak selesai bicara aku langsung menerobos masuk, saat masuk aku hanya melihat semua keluarga ku duduk diruang tengah, saat aku masuk lebih dalam lagi aku melihat ibuku sedang terbaring di kasur.
" kak....ibu kenapa??? " tanya ku binggung.
" dek.....maafin kakak yahhh udah enga bilang dari awal " jawab kakak ku.
Akan tetapi kenyataan yang menimpaku tak bisa kuterima begitu saja.
" kak.....kenapa ibu tidur saja, kenapa enga bangun akukan datang dia enga mau melihat putranya datang kak bangunin ibu kak. Semuanya juga kok pada diam sihhh ayo kina bersenang - senang kak bangunin ibu " sahut ku.
Saat tak satupun merespon kata \- kata ku aku langsung teridam tunduk sambil menetes kan air mataku dan aku baru sadar bahwa ibuku sudah tak bersama ku lagi. Kakak ku yang sedih melihat ku segera memeluk ku erak dan banyak meminta maaf.
Akan tetapi aku tak bisa menerima kenyataan yang pahit ini,
" kakak kenapa tak bilang dari awal pada ku, kenapa disaat seperti ini kakak tidak memberitahuku sejak awal " tanya ku.
" kakak minta maaf dek, kakak cuma enga mau kamu kepikiran dijalan. Maafin kakak yah " jawab kakak ku yang masih memeluk ku erat.
Dan pada saat itu lah semua kebingungan ku terjawab kan, setelah hari itu aku masih tidak bisa menerimanya, jadi kuputuskan untuk tinggal beberapa hari tinggal dirumah.
Hingga tiga hari setelahnya Rian dan Karin menelpon, memang dua hari lalu mereka sering menelppon ku tapi aku takpernah menjawab nya. Tapi kali ini aku akan mengangkat nya.
"……"
" he.... Berengsek berani - beraninya yah kau tidak mengangkat telpon ku seenak nya " sahut Rian yang tampat sangat kesal.
" maaf kan aku, aku hanya tak ingin memberi tahu kalian, aku enga ingin kalian khawatir " gumamkudalam hati.
Aku hanya terdiam mendengar ocehannya, sampai aku mendengar suara karin.
" Rian jangan ngomong kaya gitu, diakan lagi berduka " sahut Karin.
Saat mendengar karin berkata seperti itu, aku langsung tersentak.
" bagai mana dia bisa tau " gumamku dalam hati.
" Rey......kau pergi kenapa tak memberi tahu kami " tanya Karin, dengan nada yang yang sangat rendah.
" bagai mana kau tau aku sedang berduka " tanya ku penasaran.
" Ah.....itu tak perlu kau ketahui yang penting kau baik - baik saja kan " sahut karin mencoba menghindar.
" aku tau sifat mu......kau tak ingin memberi tahuku siapa yang mengatakan nya pada ku " gumamku dalam hati.
" kenapa kalian menelpon " tanya ku.
" maaf tapi aku harus melakukan ini " gumamku dalam hati.
" apa maksud mu tentusaja untuk mengetahui keadaan mu, kenapa kau bicara seperti itu " sahut Karin merasa kecewa.
" kenapa kau ingin tahu " tanya ku.
" maaf...maaf kan aku Karin " gumamku dalam hati.
Saat aku mengatakan nya dia tak menjawab pertanyaan ku, akan tetapi aku langsung tersentak saat mendengar suara tangisan dari arah handpone ku suara itu seperti tangisan yang ditahan.
" apa.....aku membuat nya menangis, maaf tapi aku harus melakukan ini. Aku hanya tak ingin membuat mu cemas aku berkata seperti ini agar kau mengira aku baik - baik saja, tapi kurasa aku salah aku malah membuat mu menagis. Maaf " gunamku dalam hati.
" apa yang sudah kau lakukan " sahut Rian tampak kesal.
" katakan padanya aku minta maaf karna berkata seperti itu, suruh dia untuk jangan menangis. Akan kubicarakan dengan nya saat aku pulang nanti " sahut ku, lalu mematikan ponsel ku.
Yang terucap dalam benak ku hanya kata \- kata maaf kesedihan yang ku alami tak akan ku bagi pada kalian. Tapi aku bukan ingin menyembunyikan nya tapi rasa sakit ini tak mungkin ku bagi pada kalian lebih baik jika aku memendam nya sendiri aku hanya tak ingin membuat kalian merasakan apa yang kurasa.
Tapi aku janji akan memberi tahu kalain saat aku kembali maaf, aku hanya terpaksa melakukan nya Itu demi kalian kuharap kau memaaf kanku, maaf karna sudah meluangkan amarah ku pada kalian aku hanya masih tak terima akan kepergian ibu ku, dan itu adalah salah satu alasan ku tidak menjawab telpon kalian maaf.
Sejak saat itu aku hanya terdiam di kamar ku sambil mencoba menerima kenyataan nya, malamnya karna terlalu memikir kannya aku merasa tidak enak badan, bahkan aku belum makan sejak sampai disini aku hanya mengunci diri ku di kamar ini dan tak membiarkan siapa pun masuk, akan tetapi rasa demam yang semalam malah bertambah buruk nafas ku terasa panas aku takbisa melangkah untuk keluar mengambil obat, tapi aku masih menahan nya hingga seharian tak ada yang tau, semakin lama pandangan ku terasa rabun.
saat ku coba berdiri kepala ku terasa berputar rasanya sangat berat, pandangan ku semakin rabun. Karna tak kuat aku terjatu den menyenggol vas bunga hinga jatuh. Kakak ku yang mendengarnya terkaget dan langsung berlari menuju kamar ku akan tetapi dia tak bisa masuk karna aku menguncinya, karna merasa panik dia segera menelpon pacarnya
setelah beberapa menit pacar kakak pun datang.
" ada apa??? " tanya nya.
" jangan tanya sekarang. kamu bisa dobrak pintu itu kan. " sahut kakak ku panik.
" memang nya kenapa " tanya nya tambah binggung.
" udah jangan banyak tanya dobrak pintunya sekarang " sahut kakak ku semakin panik.
" iya... iya akan aku dobrak " sahut nya segera mendobrak pintu kamar ku.
Saat pintunya terbuka kakak terkaget melihat ku yang sudah terkapar di lantai dengan pecahan vas di dekat ku. Kakak dan pacarnya segera berlari menghampiri ku saat dia memegang ku.
" ha.....kau demam. Demammu sangat tinggi kenapa menyembunyikan nya " tanya kakak ku merasa bersalah.
Dia pun langsung menelpon dokter keluarga, saat di rumah sakit dokter bilang
" dia hanya terlalu banyak pikiran dan rasa capek membuat stamina badan nya turun dan cuaca membuat suhu badan nya menurun hingga terkena demam sebenarnya dia sudah merasa tak enak badan sejak dua hari lalu tapi dia tetap menahannya dan menjadi tambah parah. Untung kau membanya nya dengan cepat jika terlambat entah apa yang akan dia alami " ucap dokter itu.
" kena....kenapa kau menyembunyikan nya dari kakak " gumam kakak ku dalam hati.
Kakak ku yang hanya menatap ku dari kaca pintu kamar.