I Promise YOU

I Promise YOU
6



" jadi itu alasan nya mengapa kau bertingkah aneh seharian ini " sahut Rey.


" maaf karna membuat kalian kebingungan atas tingkah ku hari ini " ucap mu sambil menunduk kan pandangan.


 


Untuk sejenak Rey terdiam hingga akhirnya dia mengangkat wajah ku dan mengarah kan pandangan ku padanya.


 


" sudah jangan kau pikirkan mungkin dia seperti itu karna kau adalah juniornya jangan terlalu dipikirkan sebaik nya kau masuk sekarang sudah terlalu malam besok kita bicara kan lagi ok " ucap Rey menasehati ku sambil menyuruh ku untuk segara masuk.


 


Akupun menuruti kata \- katanya, sebelum menutup pintu, Aku kembali berlari padanya dan segera memeluk nya.


 


" trimakasih kau sudah mau mendengarkan ku kuharap kau tak memberitahukan. Siapa - siapa, kau tau kenapa hanya kau yang kuberitahu itu karna hanya kau yang dapat kupercaya. " ucap ku sangat berterimakasih dan memeluknya erat.


" iya....aku tau perasaan mu lain kali jangan kau pendap sendiri bertau kan aku ok " sahut Rey sambil melepar pelukan ku dan mengelus kepala ku.


 


Akupun kembali kedalam rumah dan mengucapkan selamat tinggal pada Rey.


 


" dia.....yang kukenal ternyata sudah dewasa " gumam Rey dalam hati sambil berjalan dengan senyuman yang melegakan.


 


\*


Setibanya di sekolah aku hanya melihat Rian yang duduk di bangkunya sambil memainkan ponselnya, tapi kemana Rey.


 


" Rian, Rey mana??? " tanya ku penasaran.


" enga tau, telat bangun kali dia " jawab Rian yang masih saja memainkan ponselnya.


" Ah....tidak mungkin Rey tidak pernah seperti ini, coba kutepon saja " gumamku dalam hati sambil duduk di tempat ku.


 


Akan tetapi setelah kucoba tiga kali panggilan dia tidak mengangkat. Kucoba kirimi dia pesan, akan tetapi tidak dibaca juga.


 


" ada.....apa yah tidak biasanya Rey mematikan ponselnya dijam segini, apa terjadi sesuatu enga mungkin semalam baik - baik ajah kok " ucap ku pelan.


" darimana kau tau kalau semalam dia baik - baik saja kalian ketemuan " tanya Rian yang mendengar pembicaraan ku.


" ah.....enga siapa yang ketemu... Itu aku....telponan sama dia semalam jangan salah sangka deh " jawab ku kesal.


" siapa yang salah sangka aku hanya kaget kalian ketemuan tapi tidak mengajak ku " keluhnya.


" memang kau penting." sahut ku sambil meledeknya.



 


\*


 


Tiga hari berlalu, kelas ku tanpa adanya Rey jadi tidak seru aku merasa khawatir karna saat \- saat terakhir dia tidak datang itu bersama ku, aku jadi takut terjadi sesuatu padanya saat jalan pulang dari rumah ku.


 


 


" Rian kau dapat berita dari Rey " tanya ku penasaran.


" tidak.....tapi kenapa tiba - tiba dia tidak datang sih ini sudah hari ketiga dia tidak ada, padahal dia murid yang teladan " keluh Rian yang merasakan hal yang sama dengan ku.


 


Tapi memang itu benar Rey tak pernah seperti ini. Karna teringat sesuatu aku langsung bangkit dari kursiku dan berlari ke kelas 1-3, yah aku ingin bertemu wanita yang katanya ketua kelas itu. Saat sampai disana aku mengintip di kelasnya dan tepat sekali ketua kelas mereka ada di kelas.



" emmm... permisi ketua kelas 1-3 " sahut ku memanggilnya.


" iya ada apa " jawab wanita itu.


" ada yang ingin kutanya kan bisa ngomong berdua dulu " sahut ku sambil menuntunnya ketempat yang sepi.


 


Saat aku menemukan tempat yang sepi akupun menanyakan niat ku padanya.


 


" emmmmm.....kau tau Rey kan, ketua kelas 1-1 " tanya ku.


" ahhh.... Iya, dia tidak datang yah " jawab nya.


 


 


" bagai mana kau tau " tanya ku tambah penasaran.


" sudah tiga hari dia tidak datang kan " jawab nya, tambah membuat ku kaget


 


Masalah nya bagai mana dia tau diakan kelas 1-3 sedangkan Rey kelas 1-1 dan mereka jarang bertemu tapi bagai mana dia tau sedangkan aku yang seperti adek nya sendiri bahkan tidak mengetahui keberadaan nya.


 


" dari mana kau tau semua itu " tanya ku.


" ahhh....dia menelpon ku dua hari lalu katanya tak bisa datang sekolah jadi dia minta diizinkan untuk pertemuan ketua kelas hari ini " jawab wanita itu.


" memang nya kenapa dia tak bisa datang " tanya ku binggung.


" kau ini, kau teman nya atau bukan katanya sudah dianggap sebagai adek tapi kok enga tau apa yang terjadi pada Rey, ibunya meninggal jadi katanya dia tidak masuk sekolah dalam satu pekan ini " jawab wanita itu.


Sontak kata - kata itu membuat ku terdiam, karna pertanyaan yang selama tiga hari ini ada di pikiran ku terjawab kan dengan pahit.


" sudah yah.... Aku masih ada kerjaan soalnya " sahut wanita itu dan pergi kembali ke kelas nya.


 


Sedangkan aku yang masih tak terima kenyataan nya dengan para kembali ke kelas, Saat diperjalanan.



 


" Karin kau ini dari mana saja " tanya Rey kesal.


" tak.....apa " jawab ku.


" kau kenapa.....apa sesuatu terjadi pada mu " tanya nya penasaran.


" Rian......kau tau kenapa Rey tidak datang sekolah tiga hari ini " tanya ku pada Rian.


" yah.... Kau sudah menayakan ini sepanjang waktu " jawab Rian.


" Rian ibu Rey.......Meninggal " sahut ku dan mulai menangis.


" apa... " ucap Rian kaget dan segera memeluk ku.


" itu sebab..... Nya dia.... Tidak da... Yang sekolah " ucap ku yang masi menangis.


" kenapa dia tak memberi tahu ku dia pikir hanya dia yang hidup di dunia ini, kenapa bukan aku yang dia tanya,kenapa hanya wanita itu kenapa dia tidak, mengangkat telpon ku " keluh ku.


 


Rian hanya bisa membuat ku tenang dia juga sama dengan ku tak suka menerima kenyataan apa lagi jika dia tau kalau sahabatnya sendiri memiliki musibah dan tak menceritakan hal itu padanya, apa lagi tidak mengangkat telpon darinya seperti orang itu hilang dari muka bumi ini.


Sepulang sekolah Rian ingin mampir ke rumah ku, dan menyelesaikan masalah ini.


 


\*


 


 


" aku pulang " sahut ku dan Rian.


" ibu mu dimana " tanya Rian penasaran.


" karna kita pulang cepat jadi ibu belum pulang kerja " jawab ku.


 


Aku dan Rian pun segera menghubungi Rey, akan tetapi masih saja tidak dijawab tapi saat beberapa kali mencoba itu tersambung, Aku dan Rian saling bertatapan tak lama dari nada tersambung telpon kami terjawa,. Karna reflek Rian langsung bicara kasar padanya.


 


" he....brengsek berani - beraninya yah kau tidak mengangkat telpon ku seenak nya " sahut Rian marah.


" Rian jangan ngomong kaya gitu, diakan lagi berduka " sahut ku menghentikan Rian dan mengambil ponsel nya.


" Rey......kau pergi kenapa tak memberitahu kami " tanya ku denga nada yang sedih.


" maaf kan aku, tapi dari mana kau tau kalau aku berduka " jawab Rey dengan dilanjut dengan pertanyaan.


" ah......itu tak perlu kau tau yang penting kau baik - baik saja kan " tanya ku mencoba untuk tak memberitahu Rey bahwa selena yang telah memberitahu ku.


" kenapa kalian menelpon " tanya Rey tak ingin menjawab pertanyaan Karin.


" apa maksudmu tentusaja untuk mengetahui keadaan mu kenapa kau bicara begitu " jawab Karin merasa sedih aka omongan Rey.


" kenapa kau ingin tau " tanya nya.


 


Tapi entah mengapa saat dia mengucapkan kata itu airmata ku mulai jatuh. Rian yang kaget melihatku menangis merenggut ponsel itu dari tangan kau dan mengobrol tapi dari tampaknya Rian sangat marah, akan tetapi bukan itu yang terfikir kan oleh ku, dan hanya satu hal yang terfikirkan oleh ku, ada apa dengan Rey.