
...“Kau tahu rasanya saat ini di posisiku, mencintai sendiri dalam diam, mengaguminya hanya dari kejauhan.”...
...•••...
‘Klik’ yash akhirnya aku mengepost story yang memang tadi sudah aku rencanakan.
Sepertinya saat ini aku sudah seperti penjaga story, fokusku saat ini hanya pada kolom yang menampilkan siapa saja yang sudah menonton cerita medsosku ini. Grr, sangat menggelikan.
“Ze! Kamu udah makan malam apa belum?” Tanya mamihku yang tiba-tiba dan melongokkan kepalanya ke dalam kamarku.
“Emm, belum mih.” Balasku
“Ayuk makan dulu, biar bareng-bareng juga sama adekmu.”
“Sebentar lagi mih, nanti Ze nyusul.”
“Iss ayuk ah buruan! Itu tadi ada tetangga kasih salad buah, kita makan bareng. Kalo kamu nanti-nanti mah alamat enggak kebagian, dihabisin sama adek-adekmu.” Ujar mamahku lagi.
“iih mau salad buahnya.” Balasku yang tak mau tidak kebagian salad buah, karena bisa dibilang salad buah ini adalah dessert favoritku. Dan bikinan tetanggaku sangatlah enak, karena buahnya segar-segar, hihi.
“Makanya buruan.” Jawab mamihku sambil meninggalkanku
Aku langsung saja tergopoh-gopoh menyusul mamihku yang telah menuju ke ruang keluarga duluan. Tak lupa aku juga menenteng handphone ku.
Di ruang keluarga sudah ada ketiga adikku, yang sedang menatapku dengan ekspresi yang berbeda-beda.
“Lama banget kak! Kita dah laper nih!” Seru adikku yang bernama Sania, dia adalah anak ketiga.
“Laper apa ngiler?” Ejek Adikku yang bernama Wisang, dia anak kedua.
“Kakak ayok buluan duduk, nanti cacing-cacing di pelutnya kak Tani buni lagi.” Kali ini adikku yang terakhir yang bernama Arkan juga ikut mengejek Sania.
“Iya-iya ini kakak duduk,” balasku akhirnya.
Selagi mamihku menyiapkan makanan kepada adik-adikku aku menyempatkan diri untuk membuka handphone ku, dan membuka sosial mediaku. Kira-kira sudah sepuluh menit aku memposting namun belum ada nama ‘dzayan’ di kolom penonton storyku.
“Huftt,” aku menghela napas berat.
“Kak, simpen dulu hp nya. Ini nanti adek-adeknya ikut-ikutan.” Mamihku mengintrupsi.
“Iya mih,” aku langsung saja mengantongi handphone ku.
Setelah kurang lebih 15 menit aktivitas makan malam ini sudah selesai, cepat memang karena jika malam kita hanya makan sedikit saja. Biasanya justru untuk aku pribadi jarang sekali untuk makan malam, karena takut menjadi tambah gembul.
Setelah membereskan semuanya dan mencuci piring, aku langsung ijin pada mamihku untuk kembali ke kamar.
Saat aku membuka handphoneku kembali —daebak, yaa orang yang kutunggu sedari tadi, akhirnya ia menonton ceritaku. AAA.. Padahal aku baru saja mengepostnya 30 menit yang lalu. Ini menurutku sangatlah cepat bagi orang yang tidak dikenal menonton.
“Cukup Hazzel, cukup. Kamu terlalu berlebihan! Dia hanya melihat story mu!” Monologku kembali mengingatkan diriku sendiri agar tidak berlebihan dalam menyukai seseorang, karena bisa bahaya.
Setidaknya dengan dia menonton story pertanda bahwa ia masih aktif di media sosial juga, hufft.
Aku jadi ingin terus membuat story jika seperti ini, membayangkan saja saat wajahnya itu menonton story ku membuatku tersenyum-senyum sendiri.
JATUH CINTA BENAR-BENAR MEMBUATKU GILAA!!!
*****
“Oh tidakk!! Jam sudah menunjukkan pukul 06.40, damn it,” gerutuku yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Aku benar-benar keteteran hari ini. Biasanya jam segini aku sudah siap dengan seragamku, dan pagi ini aku bangun kesiangan.
“Ck.. kebiasaan anak ini lelet, kalo udah mepet baru kaya cacing kepanasan.” Begitulah yang kudengar saat aku bersalaman dengan mamihku.
Iyaa aku membenarkan ucapan mamihku, aku juga kesal dengan diriku saat dalam kondisi seperti ini.
Langsung saja aku menuju motorku dan mengendarainya dengan sangat kencang (jangan ditiru guys!!)
Untungnya lampu merah yang ku lewati selalu menunjukkan lampu hijau, itu membuatku sedikit bernafas lega. Akhirnya, kurang lebih lima menit aku sampai di sekolah, ini rekor muriku!!! Padahal jika aku berkendara dengan kecepatan normal memakan waktu 10 menit dan ini? membuat diriku sendiri merinding, syukurlah aku selamat sampai tujuan.
Saat aku masuk ke gerbang sudah tidak ada guru piket yang biasanya menyambut para murid, hanya ada satpam yang bersiap untuk menutup pintu gerbang kecil itu.
Napasku memburu, sungguh ini sangat melelahkan, tapi aku bernapas lega lagi saat ku lihat bukan hanya aku saja yang akan terlambat masuk masih banyak siswa lain yang baru saja sampai.
Aku langsung berlari kecil ke arah mesin finger print, mesin ini adalah mesin untuk mencatat pukul berapa para siswa datang ke sekolah. Mesin ini baru dipasang sekitar seminggu yang lalu, itu mengapa sejak kemarin aku berangakat lebih awal, inilah yang menjadi alasan lainku untuk datang lebih awal. Dan sekarang sepertinya presensiku terdata ‘merah’.
Di depanku saat ini banyak gerombolan siswa laki-laki yang saling berdesakan untuk presensi lebih awal, aku sebagai satu-satunya siswi hanya mengalah.
Akupun pindah ke mesin satunya, baru saja aku akan menempelkan jariku sudah ada siswa lain yang menyerobot antrianku. Ketika aku ingin menegurnya dan mengangkat wajahku, aku terpaku.
Bukan, aku tidaklah terpaku pada siswa yang menyerobot antrianku namun pada sosok yang ada di belakang siswa itu. Dia seseorang yang sejak kemarin aku cari! Demi apa? Saat ini jarak kita sangat dekat. Rasanya aku ingin pingsan di tempat.
Ketika dia lebih mendekat ke arah mesin finger print, dia menatapku, dari tatapannya seperti berkata ‘apakah aku boleh duluan?’ Aku benar-benar lemas saat ini, rasanya aku lupa bagaimana caranya bernapas. “ZOYAA TOLONG AKUU!!” Teriakku dalam hati karena saat ini kita melakukan contact eyes!
Setelah aku sadar dari keterpakuanku, yang kulakukan hanya mengangguk samar. Sungguh saat ini aku sangat gagu, sepertinya jika aku mengeluarkan suara, suaraku akan terdengar gemetar, dan itu sangat memalukan.
Setelah dia menempelkan jarinya di mesin itu, aku pun langsung ikut menempelkan jariku setelah dia. Aaa.. aku ingin teriak sekarang! Bagaimana tidak, ternyata dia lebih tampan dari yang kuduga, dan aku benar-benar di hadapannya dengan jarak yang sedekat itu. Jarak tadi benar-benar dekat, dan inilah jarak terdekatku dengan seorang pria!
Aku melangkah lemas menuju kelasku, sambil tersenyum dan memegang dadaku, jantungku benar-benar berdebar tak beraturan. Sepertinya saat ini wajahku sangat merah, namun untunglah koridor yang kulalui telah sepi, karena semua siswa sudah masuk ke kelasnya masing-masing untuk memulai pelajaran pagi ini.
Saat sampai di kelasku, langsung saja aku mendudukkan diriku dan tersenyum menatap Zoya yang saat ini tengah menatapku aneh.
“Zoyaa!!!” Histerisku dengan menggoyangkan lengan Zoya dengan antusias.
“Astaga kenapa sih Ze? Aneh banget kamu pagi ini, lagi sakit kamu? Mukamu merah banget.” Ucap Zoya dengan diikuti punggung tangannya yang ditempelkan ke kening dan pipiku.
“GILAA ZOYA! TADI AKU KETEMU SAMA MAS CRUSH!!!” Hebohku dengan tetap mengontrol volume suaraku agar hanya Zoya saja yang mendengarku.
“Serius?! Dimana?” Tanya Zoya tak kalah antusias membalasku.
“Di tempat finger print tadi, dan tau nggak kita tadi contact eyes!!! Habis itu kita bener-bener deket, rasanya tadi aku lemes banget di sana.”
“Lihat nih tanganku aja masih tremor,” sambungku lagi sambil menunjukkan tanganku yang memang masih gemetar.
“Gila..gilaaa!! Terusan gimana?” Heboh Zoya
“Dia cakep banget astagaa Zoyy, bener-bener seganteng dan se-prefect itu.”
“Tadi aku finger print juga bekas jarinya!” Tambahku lagi.
“Pantes aja ni muka merah banget kayak kepiting rebus.” Sembur Zoya
“Nggak bisa Zoy, kalau kaya gini aku bakalan bener-bener jatuh cinta sama dia.” Ucapku
“Padahal besok kita udah ujian semester empat, aku takut enggak fokus belajar kalo kaya gini.” Imbuhku lagi dengan lemas.
Ya, aku baru sadar jika besok kelasku sudah ujian semester empat. Hanya kelas kita yang melakukannya, ingatlah kita kelas percepatan, so berbeda dengan yang lain. Dan inilah ketakutanku, aku takut tidak dapat belajar dengan baik jika aku sampai jatuh cinta.
Ah ya aku teringat satu fakta bahwa setelah ujian nanti aku akan masuk ke semester lima, itu menunjukkan bahwa aku juga sudah menginjak kelas 12, dan itu artinya? Hahh?! Yaa aku baru teringat satu fakta lagi yang sangat penting! Aku akan menjadi seangkatan dengan Kak Dzayyan!!! Kenapa aku melupakan fakta ini? GILAA.