
...Cinta tidak terlihat dengan mata, tetapi dengan hati.” ...
...William Shakespeare...
...•••...
“Tumben guru kimia belum masuk kelas.” Ucap salah seorang temanku.
“Iya biasanya aja on time.” Sambung yang lain.
“Kalian kudet amat sih, kalian pada ngga tau kalo kelas lain tu pada classmate ?” Ujar Deon yang baru saja masuk ke dalam kelas.
“Weh iya!!”
“Elo kok nggak bilang dari tadi si kuntet!” seru Feza tak terima.
“Lah ngga ada yang nanya ke gua,” jawab Deon tak mau disalahkan.
“YA ENGGAK HARUSNYA LO ITU NGOMONG KEK DARI KEMAREN, kalo gitu kan gua bawa duit banyak buat jajan.”
“Bodo amat.”
“Lo itu ya kek—,”
“Sstt.. Udah si kalian ini berhenti berantem sehari aja bisa ngga,” lerai Fira.
“Mending kita capsus ke sana aja,” sambungnya lagi.
“Yok Ze, kita ikut ke sana,” ajak Zoya kepadaku.
‘Ze’ adalah panggilan Zoya kepadaku, hanya Zoya yang memanggilku ‘Ze’ di kelasku, yang lain biasa memanggil Hazzel, Hazz, atau Zel.
“Ng—.”
“Stop! nggak ada penolakan buat kali ini,” tegas Zoya.
“Iss tapi kalo guru kimia nya masuk gimana? Mending kalian aja ke sana, aku tunggu di sini. Entar kalo ibu nya dateng aku chat kalian,” ucapku panjang lebar tapi tak diindahkan Zoya, dia tetap menarikku keluar.
“Kamu itu butuh refreshing Ze, sesekali.”
“Jangan diem aja jadi penunggu kelas, jadi penghuni abadi baru tau rasa.”
“Gimana orang-orang tau kamu hidup di dunia ini apa nggak, kalo kamu aja nggak pernah nunjukkin batang hidung kamu. Sampe sekolah selalu pas bel masuk, pulang ya langsung pulang, gimana mau dapetin gebetan,” cengir Zoya diakhir.
“Huhh,” aku hanya mendengus mendengar cerocosan Zoya.
Akhirnya kita sampai di halaman diadakannya classmate, disini setiap kelas ternyata memiliki produk yang mereka perjualkan. Dan ada panggung kecil di depan yang mempertotonkan berbagai bakat dari para siswa.
Kelas kami memang tidak mengikuti, karena kelas kami dituntut untuk fokus mengejar materi terlebih dahulu, jadi dalam berbagai event yang diselenggarakan sekolah banyak yang tidak melibatkan kami atau bahkan bisa jadi kami tidak mengetahui informasinya, seperti kali ini.
“Ze, aku mau beli itu, kamu mau ikut ke sana?”
Mataku langsung mencari stand yang Zoya tunjuk.
“Nggak lah, kamu sendiri aja sana, males disana rame. Aku tunggu disini aja.”
“Oke, tunggu di sini baik-baik ya. Kabarin kalo ada yang bikin kamu jatuh cinta di pandangan pertama,” ucap Zoya dengan bisikan di akhir kalimat.
Aku langsung menabok bahu Zoya.
“Dah sana nggak usah ngaco.”
“AWW, ya udah deh BYEE,” teriak Zoya agak keras, sambil berlari.
Jujur aku malu jika Zoya selalu bicara dengan keras, sepertinya dia memang sengaja memancing orang-orang untuk menjadikan kami sorotan mereka.
Bisakah Zoya sedikit saja paham dan mengerti kalo temannya ini benar-benar ANSOS.
“Hufft,” aku menghela napasku dan segera mencari tempat duduk yang kosong.
Aku menonton kerumunan orang, ada yang sedang mengantre, ada yang berdesakan, ada juga yang duduk-duduk saja sama sepertiku. Lalu lalang orang juga tak luput dari perhatianku.
Mataku tak sengaja terfokus dengan kerumunan siswa laki-laki yang akan menuju ke area bazar makanan itu. Dan ya, ada satu siswa yang menjadi pusat perhatianku.
“Wah, dia sangat rapi dan mencolok diantara teman-temannya,” monologku.
Tak kusadari mata ini terus mengikuti gerak-geriknya. Hingga tak sadar Zoya ternyata sudah ikut duduk di sampingku.
“Woyy.. hayo loh, lagi ngeliatin siapa kamu,” olok Zoya sambil mengikuti arah pandangku.
“Nahkan bener dugaanku kalo kamu kesini pasti tu langsung dapet gebetan.”
“Ngaku ayo ngaku, YANG MANA!” Seru Zoya sambil terus memperhatikan kerumunan orang di sana satu persatu.
Syukurlah dia tak tahu kemana arah pandangku, monologku dalam hati.
“Apaan si Zoy, aku cuma ngeliatin orang emang nggak boleh,” ujarku berusaha mengelak tuduhannya.
“Nggak Ze, kamu harus jujur ke aku. Tatapanmu tadi menunjukkan seperti orang yang sedang mengagumi sesuatu.”
Benarkah, sebegitu transparannya kah ekspresiku di penglihatan Zoya.
“Ayo cerita sama aku, aku dah nungguin lama cerita dari kamu tentang crush mu itu, sekarang bilang sama aku, mana yang membuatmu jatuh cinta,” bujuk Zoya dengan antusias.
“Apaan sih kamu Zoy, nggak ada crush-crush an, apa lagi buat aku jatuh cin—ta.”