
..."Untuk orang sepertiku yang hanya bisa memendam perasaan, cinta hanya bisa memberikan sebuah penderitaan."...
...•••...
Sepulang sekolah aku merasa sangat kecewa, karena hari ini aku tidak dapat menemukannya dan melihatnya. Oh ya, aku teringat satu hal. Aku sudah menemukan akun media sosialnya namun sampai detik ini aku belum berani untuk memfollow nya.
Niatnya tadi saat di sekolah aku akan mengikuti akun medsosnya saat aku telah kembali ke rumah. Namun setelah sampai di rumah aku sedikit ragu. Karena aku masih mempertahankan ego dan prinsipku, yaitu aku tidak akan mengikuti akun instagram lelaki terlebih dahulu, kecuali jika ia seorang selebritis.
Eits kalian tidak boleh langsung menjudge ku, karena setiap orang memiliki prinsip hidup yang berbeda-beda dan kita haruslah menghargai dan menghormati setiap perbedaan itu. Yeah walaupun aku tahu prinsipku itu terlalu lebay, tapi bagiku untuk seorang perempuan haruslah memiliki high value women.
Tapi sepertinya prinsipku itu akan runtuh, dan lagi-lagi aku merasa telah menjilat ludahku sendiri. Gila memang, jatuh cinta telah membuatku merendahkan diriku sendiri. Tapi sisi lain dalam diriku juga berkata jika jatuh cinta adalah hal yang wajar.
Tak terasa tangan ini sudah bekerja sampai di halaman beranda milik seseorang. Dan ya, dengan penuh keberanian dan juga helaan napas akhirnya aku mengeklik tanda ‘follow’ pada akun medsos orang tersebut. Tidak perlu bertanya siapa orang itu, sudah pasti dia crushku emm.. maksudku siswa dengan wajah menenangkan itu.
Aku segera melempar handphone ku ke atas kasur, dan aku pun ikut melemparkan diri ke atas kasur dan menutupkan bantal ke wajah, serta berkata pada diriku sendiri “gila!! Hazzel sekarang benar-benar GILA.” ya, ini merupakan langkah terjauhku dalam menyukai orang.
Aku mencoba menetralkan diriku sendiri, dan beranjak untuk mengganti pakaianku. Namun tidak lama aku beranjak, nontifikasi dari handphoneku berbunyi. Buru-buru aku mendekatinya dan yap, bukan. Itu hanya pesan dari Zoya yang mengatakan jika dia akan bertamu ke rumahku malam nanti. Huft, kurasa aku terlalu berharap jika siswa itu akan mengikutiku kembali.
Dering nontifikasi kembali berbunyi, namun kali ini aku mengacuhkannya, karena aku rasa itu Zoya kembali yang mengirimiku pesan. Setelah aku selesai berganti pakaian rumahan, aku mengambil ponselku untuk menjawab pesan Zoya tadi. Namun, jantungku tiba-tiba bedetak hebat saat melihat layar berandaku yang menampilkan nontifikasi ‘dzayyan.agasta mulai mengikuti anda’ .
Aku tercengang melihatnya, GILA ini belum ada 10 menit aku mengikutinya dan dia sudah mengikutiku kembali. Ya, hatiku benar-benar bersorak senang, dan kembali memastikannya kembali bahwa dia benar-benar mengikutiku. Dan tidak salah lagi memang benar adanya.
Walaupun beranda dari si pemilik nama Dzayyan ini sangatlah kosong, bahkan profilnya pun tidak ada, tapi aku sangat senang karena dia mau menerima pertemananku bahkan mengikutiku kembali. Lihatlah kegilaan orang yang sedang jatuh cinta ini, padahal mungkin menurut orang lain ini hanyalah hal yang sangat sepele tapi bagi orang yang sedang kasmaran seperti diriku ini membuatku berbunga-bunga.
*****
Malam hari telah tiba, dan saat ini Zoya sudah berada di rumahku, bahkan saat ini dia sedang menatapku tajam memintaku untuk menjawab runtutan pertanyaan yang sudah dia pertanyakan tadi.
Aku memiliki firasat bahwa Zoya telah mempersiapkan deretan pertanyaan-pertanyaan tadi sebelum dia datang ke rumahku. Entahlah aku sangat bingung kepada Zoya kenapa dia sangat ingin tahu urusanku, dia terlalu K E P O.
“Jadi siapa yang kau maksud itu, Ze!” Entah sudah ke berapa kalinya dia menanyakan pertanyaan itu setelah aku menceritakan awal mula aku menyukai seseorang itu.
Hufft, aku menghela napas sedikit kasar. Sebenarnya aku takut untuk menyebutkan namanya, walaupun aku pun tahu jika Zoya ini bukanlah tipe orang yang bermulut ember, tapi tetap saja aku merasa takut untuk mengatakan tentang perasaanku kepada orang lain.
“Setahuku namanya Dzayyan, dia kakak kelas, anak IPS.”
“WHAT! AHHAHAHAHAHAHHAHAHAHHAHA HAHAHAHAHAAAAA.” Tawa Zoya sangat keras. Iss aku sangat kesal melihat responnya, ingin sekali aku mengambil kaos kakiku dan menyumpalkan di mulut Zoya yang tertawa sangat lebar dan puas itu
“…HAHAHAhaahaa huff huff huff-“
“Udah puas kamu ngetawain aku?!” Kesalku pada Zoya.
“Lagian ya seorang Hazzel yang katanya tidak akan pernah jatuh cinta dan tidak akan pernah memiliki seorang crush, sekarang menyatakan bahwa dirinya suka sama kakak kelas, kelas IPS lagi, ahahah hahaa.”
“Ha ha ha akhirnya penantian lama ku terjadi.”
“Sebenernya nggak ada salahnya kalo anak IPA suka sama anak IPS, tapi itu nggak berlaku buat seorang Hazzel yang ambisius ini.” Balas Zoya.
“Ku kira seleramu anak IPA yang pinter, kutu buku dan rapi, ternyata dugaanku meleset.” Sambung Zoya lagi.
“Yee Zoy kamu nggak boleh menjudge orang dari luarnya dan yak nggak boleh juga ngebedain orang,” balasku tak terima akan penilaian Zoya terhadap anak IPS.
“ Iya deh yang udah bucin sama anak IPS! eh sama Dzayyan yang katanya anak IPS.”
“Aku baru denger tuh ada siswa di sekolah kita yang namanya Dzayyan,” ucap Zoya lagi.
“Aku juga baru tahu dan baru lihat siswa itu,” jawabku.
“Jadi kepo, kamu punya fotonya? Pengin lihat dong,” ucap Zoya sambil mengedip-ngedipkan matanya.
Aku mendengus melihat tatapannya itu dan sifat Zoya yang sangat teramatlah kepo.
“Huh, iya punya.” Namun tak urung aku pun memperlihatkannya.
“Anj*r— eh maap-maap keceplosan hehe.” Aku hanya mendelikinya karena dia mengucapkan kata sakral yang menurutku terlarang itu.
“Ini ganteng banget gila Ze! Kamu dapet dari mana heh?! Aku aja baru ngeliat ada orang seganteng itu yang sekolah di sekolah kita! Eh, dia beneran anak IPS?? enggak cocok BGT.” Heboh Zoya setelah aku menunjukkan foto Dzayyan.
“Dah ah jangan kelamaan nanti kamu ikut-ikutan suka lagi.” Ucapku sambil merebut handphoneku di tangan Zoya, yang langsung membuat Zoya tersenyum jahil.
“Ciye ehmm kayaknya besti ku ini udah bucin banget nih, uhuy uhuyy.” Goda Zoya kepadaku.
“Tenang, besti mu ini sudah memiliki orang lain yang menjadi gebetannya, jadi jangan kuatir, aku enggak mungkin suka apalagi itu first falling in love bebebku ini.”
“Tapi mungkin kalo kepepet bisa jadi suka sih, ahahahaa,” sambung Zoya.
“Kalo itu terjadi, aku nggak mau temenan sama kamu lagi, titik.” Balasku yang hanya gurauan semata. Aku tidak akan merelakan hubungan petemananku dengan Zoya pupus hanya karena masalah cinta.
“Iss kejam banget kamu Ze!”
“Memang.”
“HAZZEL ngeselin pake banget!!” Getet Zoya.