I’M Your Crush

I’M Your Crush
Prolog



...PROLOG...


...•••...


Seperti biasa pagiku penuh dengan tergesa-gesaan dan keteteran, orang rumah mengenalku lelet dalam bersiap. Ya, pada dasarnya aku selalu bangun pagi tapi karena leletnya diriku dalam prepare membuatku selalu datang sekolah tepat waktu, ehm maksudku tepat dengan jam maksimal masuk gerbang sekolah.


Setelah memakan waktu kurang lebih delapan menit aku berkendara, akhirnya gerbang sekolah berada di depan mataku. Hufft, seperti pada hari-hari sebelumnya gerbang utama sudah tertutup, namun masih ada gerbang kecil di sebelahnya yang masih di buka. Hal itu menunjukkan bahwa bel sekolah akan berbunyi dalam hitungan detik.


“TEEEETTT”


(Anggaplah itu bunyi suara bel)


Nahkan, apa aku bilang. Aku Sampai tepat waktu. Aku langsung bersalaman dengan guru yang berpiket di depan yang tinggal beberapa orang itu, dan langsung menuju ke kelasku. Teman-temanku tak heran lagi dengan kehadiranku yang selalu berbarengan dengan guru yang yang masuk di jam pertama.


“KRING..KRING”


“Hazzel, mau ke kantin bareng?”


“Nggak deh, makasih. Kalian aja yang ke kantin,” balasku seperti biasanya.


“Oke deh, duluan ya.”


Aku hanya tersenyum membalas ucapan temanku itu.


Di kelas, aku termasuk anak yang sulit bergabung dengan mereka. Alasanya karena aku memang sulit untuk bergaul dengan mereka. Aku sedikit pemalu, dan pendiam. Dan aku hanya dekat dengan beberapa orang saja dari sedikitnya siswa di kelas ini.


Oh ya, aku ini masuk di kelas akselerasi. Siswa disini sedikit hanya ada 13 orang. Kelas kami ini terpencil, maksudku jauh dari jangkauan siswa lain dari sekolahku. Sehingga memang kami jarang bahkan bagi diriku tidak pernah berinteraksi dengan siswa dari kelas lain.


“Hazzel, bisa-bisanya kamu berangkat hampir terlambat lagi, padahal rumahku sama rumahmu lebih deket rumahmu ke sekolah.” Yang menghampiriku adalah Zoya, dia salah satu teman sekelasku, yang paling dekat dengan diriku.


“Ya bisalah,” jawabku sekenanya dengan sedikit cengiran.


“Tau ngga, tadi pagi pas berangkat sekolah waktu di parkiran, aku ketemu sama crush ku. Gilaa.. dia keren banget,” heboh Zoya.


“Ya nggak gimana-gimana, aku cuma seneng aja bisa ketemu sama dia, eh kamu gimana ni? Aku nunggu cerita tentang crush mu.”


Biasalah Zoya ini memang seorang teman yang selalu menghasutku dengan hal yang seperti itu, padahal aku sama sekali tidak pernah berminat dengan yang seperti itu.


“Gak ada.”


“Aah nggak asik kamu mah, datar banget hidupmu. Sekali-kali jalan keluar gitu keliling sekolah, barangkali nemu tuh,” ujar Zoya yang masih berusaha menghasutku.


“Ish kamu mah, kurang kerjaan banget aku kalo kaya gitu.”


“Barangkali kamu ketemu cowok terus langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.”


“Aku? Jatuh cinta?? Ngga mungkin banget.” Tegasku.


“Awas aja nanti, sampe kamu jatuh cinta sama cowok, aku bakalan ngetawain kamu sampe tujuh turunan.”


Memang Zoya ini salah satu temanku yang sesat, kurang ajar, dan sedikit gila. Tapi dia yang paling membuatku merasakan bagaimana rasanya berteman yang sebenarnya itu.


“Kalo itu terjadi mungkin aku akan lebih dulu menertawakan diriku sendiri.”


“Kau yakin sekali Ze,” tawa Zoya akhirnya pecah.


“Aku serius Zoya!”


“Benarkah, baiklah baiklah. Mari kita bertaruh, jika kau tidak jatuh cinta sampai sekolah kita lulus, aku akan menuruti apa yang kau mau.”


“Namun jika kau sampai jatuh cinta dengan seseorang sebelum kita lulus maka—,”


“Perjanjian semacam apa itu Zoy!!” Kesalku pada Zoya.