
... “Aku tidak merencanakan untuk jatuh cinta kepadamu, itu semua terjadi mengalir begitu saja.”...
...•••...
Suasana pagi ini sangat menyegarkan, hari ini aku sampai di sekolah lebih awal. Aku yakin, setelah ini teman kelasku akan terkejut dan heran padaku. Kurasa hari ini adalah hari tersemangatku bersekolah, suasana hatiku sangat baik dan bahagia.
Aku sangat bahagia karena.., karena kemarin malam aku berhasil menemukan nama akun crush ku di media sosial. Ah, sebenarnya agak menggelikan menyebutnya dengan panggilan ‘crush ku’ . Aku risih dengan panggilan itu, itu membuatku terlalu terbawa perasaan.
Oh ya, dia ternyata kakak kelasku. Namun dia berada di kelas IPS, pantas saja aku tidak pernah bertemu, karena jurusanku MIPA. Tapi aku juga tidak tahu dimana letak kelasnya, padahal aku sudah sekolah di sini kurang lebih satu tahun, fyuh.
“Cklek”
“Wow si Hazzel udah berangkat?!” Heboh Fira, saat aku membuka pintu kelas.
“Jam berapa ini? Perasaan gua baru dateng. Ini gua yang lambat masuk kelas atau ada yang tiba-tiba kesurupan kakek penjaga subuh?” tanya Fezo yang sepertinya memang sindiran, dengan wajah tengil khasnya.
“Kakek elo noh yang jagain subuh, sekalian yang pada gebrak-gebrak kandang ayam biar pada bangun tu ayam!” Seru Deon membalas Fezo.
“Kakek gua udah meninggal ngab, jangan dipanggil-panggil, bangun baru tau rasa lo,” balas Fizo tak terima karena candaannya ditimpali Deon.
“Innalilahi. Yang ada Elo dulu yang disamperin karena lo cucu durhakanya!”
“Kurang ajar lo, gini-gini gua anak yang alim dan baik perangainya terhadap orang yang lebih tua!”
“Stt, diam Elo pada. Hazzel berangkat pagi aja udah pada heboh!” Seru Zoya menghentikan pertikaian antara kedua temanku itu.
“Eh ya, tumben banget kamu berangkat pagi Ze? Pasti ada apa-apanya. Nggak mungkin nggak ada apa-apa,” sambung Zoya setelah itu.
“Yee sama aja Elo Zoy, Elo aja heran apalagi kita-kita ini,” Sahut Fira.
“Kenapa sih kalian ini, aku lagi pengen berangkat pagi aja. Pengen tahu suasana pagi hari di kelas tu kaya gimana,” balasku menengahi keadaan heboh ini.
“Aku yakin ini ada sangkut pautnya sama kejadiam kemarin,” bisik Zoya, setelah aku duduk di sebelahnya.
“Kejadian kemarin? Emangnya kemarin ada apa?” Tanyaku pura-pura tak paham dengan bahasan Zoya, tak lupa dengan wajah cengo. Ini si Zoya bikin takut, kenapa dia bisa baca pikiranku sih.
“Nggak usah sok pura-pura lupa gitu Ze. Ngaku aja sama aku, kamu lagi suka sama siapa?”
“Nggak ada Zoya, Zoya yang baik hati dan cantik. Aku cuma mau tahu keadaan kelas aja.. suer.” Jawabku meyakinkan Zoya, tak lupa tangan ini juga mengangkat dua jari.
“Lagian kenapa sih kamu kepo banget sama orang yang aku sukai.”
“Ya nggak papa, aku cuman mau mastiin kalo kamu ini masih normal dan masih suka sama cowok. Biar si Zoya sebagai teman dekatmu ini tenang berada selalu di sampingmu.” Jawaban Zoya membuatku terperanjat, bagaimana bisa dia memikirkan seperti itu terhadapku.
“ASTAGA ZOYA! Aku masih normal ya!!” Jawabku kesal.
“Hehe, cuman bercanda Ze. Jangan kesel gitu dong, nanti cantiknya hilang.”
Aku tidak serius mengatakannya, aku hanya mencoba membalas gurauan Zoya tadi.
“Iih kok gitu, nggak asik ah ngancemnya.” Jawab Zoya sambil mencebikkan bibirnya.
***
“KRING..KRING”
Bel berbunyi, menunjukkan jam istirahat telah datang.
“Zoy, yuk ke kantin,” ajakku kepada Zoya. Langsung saja Zoya memicingkan mata padaku, aku sudah sangat menduka akan hal ini.
“Tumben amat kamu!” Seru Zoya.
“Sumpah ya Ze hari ini kamu bener-bener beda. Aku yakin si ini nggak mungkin nggak ada apa-apanya.” Sambung Zoya lagi.
“Iss ayo ah. Nggak usah banyak komen,” jawabku sambil menarik Zoya keluar.
Selama perjalanan ke kantin Zoya sangatlah menuntutku banyak pertanyaan. Aku acuh dengan semua pertanyaan Zoya, yang mungkin sebentar lagi akan membuatnya kesal.
Dari pada menanggapi runtutan pertanyaan Zoya, aku lebih memilih untuk mengedarkan pandanganku ke seluruh arah jalan yang aku lalui. Ya benar sekali aku sedang mencari siswa itu dan kelasnya.
Hufft namun setelah perjalanan pulang dari kantin pun aku tidak menemukan tanda-tanda siswa tersebut. Padahal aku sangat berharap bisa bertemunya dengannya lagi. Dan ya, kelasnya pun di mana aku belum menemukannya. Sebenarnya sedengarku dari orang-orang, daerah kelas IPS itu ada di kawasan sana masuk ke dalam lorong yang sangat jarang aku lalui atau kemungkinan aku tidak pernah melalui jalan tersebut? Entahlah. Alasannya karena jika aku melewati jalan tersebut jarak ke kelasku akan semakin jauh.
Aku ingin lewat sana, tapi aku juga bimbang. Jika aku lewat sana banyak alasan yang membuatku mengurungkan niat tersebut. Yang pertama pastinya Zoya akan semakin curiga dengan diriku, kedua aku tidaklah PD untuk melewati lorong itu apalagi jika aku sendiri, yang ke tiga dari depan lorong tersebut banyak gerombolan laki-laki dan itu sangat membuatku takut untuk masuk.
“Hey Ze! Kamu kenapa sih. Dari tadi aku ajak ngobrol kamu acuhin terus, kesel aku lama-lama.” Tegur Zoya.
“Cerita kek sama aku, aku tahu kok dari tadi arah pandang kamu kaya lagi nyari seseorang.”
“Nggak usah ngelak lagi Ze!”
“Iya-iya sorry Zoy udah ngacuhin kamu,” balasku merasa tak enak hati kepada Zoya.
“Kamu harus cerita sama aku Ze, ada apa dari perubahan sikap kamu hari ini. Kamu nganggep aku sebagai besti mu kan?”
Masih saja dia ingin tahu ada apa dengan diriku, tapi jujur jika aku jadi Zoya aku juga akan securiga itu terhadap diriku. Karena perubahan sikapku ini sangatlah drastis.
“Iya-iya nanti aku cerita, tapi nggak janji. Wlee.” Jawabku dang langsung berjalan cepat meninggalkan Zoya.
Zoya yang tadi akan tersenyum puas, seketika pupus saat mendengar jawaban akhirku.
“Iss kamu ini Ze!! TUNGGU NGAPAA FAKE FRIENDS BANGET!” Teriak Zoya sambil mengejarku.