
..."Sampai detik ini setidaknya aku tahu bagaimana rasanya mencintai dalam diam, memendam perasaan rindu sendirian.”...
...•••...
Sudah seminggu lebih rasanya aku telah berharap dapat bertemu dengan ‘dia’ kembali, tapi nyatanya harapanku sepertinya tak terkabul. Terakhir kali aku bertemu dengannya hanya waktu itu saat aku sedang pergi memfotokopi tugasku, setelahnya TIDAK PERNAH.
Aku sangat kesal, semesta seolah mempermainkanku. Padahal ini adalah pertama kalinya untukku benar-benar menyukai seseorang, emm kurasa.
Media sosialnya pun tak pernah menjukkan bahwa dia masih hidup, benar-benar kosong dan sepi! Dia tidak pernah membuat story apalagi postingan di feed akun medsosnya itu. Padahal aku berjuang untuk selalu berangkat lebih awal dan pulang lebih lambat saat sekolah, aku juga setiap hari selalu pergi ke kantin, bahkan aku pun pernah beberapa kali melewati kelasnya!! gila, memang. Aku telah terlalu dalam menyukai dan mengharapkannya. Tapi tetap saja batang hidungnya tidak pernah terlihat.
Aku jadi berfirasat bahwa dia telah pindah sekolah. Saat upacara dan apel pagi pun dia tak terlihat, padahal kedua mataku ini telah berkeliaran ke mana-mana. Aku jadi malu dengan diriku ini yang telah munafik.
“Apalagi yang harus kucoba untuk memastikan bahwa dia masih hidup?” Gumamku yang mungkin terdengar putus asa.
Aku mendelosorkan tubuhku ke meja dan memejamkan mata sejenak. Saat ini kondisi kelas sangat senyap, karena saat ini jamkos, dan hampir semua teman-temanku yang berada di dalam kelas menelungkupkan kepalanya ke atas meja alias molor atau tidur.
“Masih galauin mas crush mu Ze?” Bisik Zoya yang berada di sampingku.
“Ututu.. kasian banget bestiku ini.”Goda Zoya sambil mengusap bahuku.
“Aku juga bingung, mau bantu nyari tapi aku cuma baru lihat dia lewat foto yang kamu tunjukin. Aku enggak bisa notif yang mana orangnya kalo belum pernah liat langsung, hufft.” Lanjut Zoya
Jujur saja sekarang Zoya tidak lagi banyak menggoda dan mengolok-olokku. Sekarang sepertinya dia sudah memahamiku dan lebih mendukungku untuk tidak putus asa, karena kata dia belum saatnya untuk menyerah.
“Sabar ya Ze! Kamu harus perjuangin cinta pertama kamu ini.” Semangat Zoya.
“Aku udah sabar banget malahan Zoy, tapi tetep aja dia nggak pernah muncul di dunia nyata maupun di dunia maya. Di sekolah enggak pernah keliatan, padahalkan kita satu sekolah. Di medsos apalagi, dia juga nggak aktif!” Jelasku panjang lebar.
“Yee.. kamu enggak usah ngomong kek gitu ke dia, intropeksi diri. Kamu aja enggak pernah tuh nampakin diri kamu di medsos, di sekolahan aja baru akhir-akhir ini kamu sering keluar.” Balas Zoya
“Sebelum ini? Mana mau seorang Hazzel melangkah ke pintu keluar kalo belum bel pulang, ke kantin aja kagak mau!” Sembur Zoya mengingatkanku.
“Mungkin crush mu itu satu kepribadian sama kamu, kudet.” Lanjut Zoya lagi.
“BRAK” Gebrak Zoya keras pada meja di depannya yang membuat semua pasang mata tertuju padanya.
“Jangan-jangan kalian emang JODOH.” Heboh Zoya
“Ishh apaan si Zoy! Gue lagi tidur kaget nih!” Kesal Feza dengan wajah telernya.
“Gua jugaa Anj*r!” Saut Megan.
“Bikin jantungan aja, ku kira ada guru yang masuk.” Kali ini Fira yang menimpali.
“Ahh ga mood jadinya kan Gua,” ujar Dion dengan berjalan keluar, tak berapa lama pintu kelas tertutup dengan keras. “BRAK!”
Semua dibuat melongo dengan sikap Dion yang tiba-tiba itu, sampai akhirnya suara Zoya mengintrupsi kembali di tengah situasi yang tiba-tiba saja menegangkan itu.
“Ehehe, sorry ya temen-temen. Silahkan dilanjut tidurnya, nanti kalo ada guru yang mau masuk aku tahan dan bangunin kalian dulu.” Cicit Zoya dengan wajah penuh dosanya.
Semua orang pun kembali ke aktivitas tidur mereka. Bagi mereka ini adalah waktu yang sangat istimewa, karena sangat jarang sekali kelas kita ini jamkos. Maka dari itu mereka tidak akan melewatkan kesempatan ini, xixixi.
Tapi yang membuatku tadi sangat terkejut adalah sikap Deon yang menurutku sedikit berlebihan, hufft sudahlah jangan netink mungkin dia saat ini sedang kelaparan.
“Iss kenapa si tu Deon, padahal aku cuma nggebrak meja doang. Segitunya kah dia?!”
“Sensi amat jadi cowok.” Kesal Zoya
“Entah, lagi banyak pikiran kali.” Jawabku, sambil mengedikkan bahu.
“OH YAA!!”
“Sttt nanti para singa pada bangun lagi!” Sergah Zoya cepat saat aku akan bersuara keras.
“Oh ya kenapa?” Tanya Zoya
“Aku tahu Zoy gimana caranya mastiin mas Dzayyan!” Ujarku antusias, dengan berbisik tentunya.
“Gimana??” Jawab Zoya tak kalah antusias.
“Nanti habis pulang sekolah kamu harus nemenin aku pergi ke toko buku biasanya!” Seruku tanpa penolakan.
*****
“Ini kita mau cari buku apa si Ze?”
“Dari tadi kamu asal-asalan ngambil buku sambil cekrak-cekrek terus!”
“Kamu kalo mau nyari buku tentang cara mengkode cowo bilang ke penjaganya aja, kalo nggak kasih tau aku, buku apa yang mau kamu cari nanti aku car—ZEE! Kamu diajak ngomong!!” Kesal Zoya.
“Udah. Udah selesai,” balasku pada akhirnya.
“HAHH?!” Beo Zoya
“Stt jangan berisik,” ujarku.
“Maksud kamu apaan sih? Sumpah ya Ze semenjak kamu ngecrushin orang sikapmu tambah di luar nalar.”
“Iss, ayo keluar dulu nanti aku jelasin.”
Aku pun langsung menarik Zoya keluar.
“Aku tuh sebenernya cuma mau bikin story di sosmedku, katamu aku jarang aktif kan? Nah ini juga caraku biar tau nanti si mas Dzayyan itu nonton storyku atau enggak.”
“Sekarang udah paham, Zoya?”
Zoya hanya membeo mendengar penjelasanku.
“Kamu terlalu pinter ya Ze,” ucap Zoya pada akhirnya yang nadanya terdengar mencemooh.
“Kenapa harus banget postingnya di toko buku ini?” Tanya Zoya kesal
“Ya kenapa? Nggak ada yang ngelarang juga kan. Sekalian juga aku pengen mencium bau buku-buku baru, udah lama nggak ngecium.”
“Kayaknya aku salah sih dukung kamu biar punya gebetan, sekarang kamu tambah f r e a k.” Ujar Zoya
“Duh padahal tadi aku mau traktir kamu es dawet di seberang sana, tapi karena kamu ngatain itu jadi ya nggak jadi.” Ucapku, setelahnya aku berjalan meninggalkan Zoya.
“HAZZEL kamu kok hobi banget ninggalin aku!” Ujar Zoya menyamakan langkahku.
“Aku minta maaf deh, ayo traktir aku. Udah dehidrasi juga.” Rayu Zoya kembali dengan mengedipkan matanya yang menurutku menggelikan. Aku pun memutar bola mata jengah.
“Baiklah, yok.” Aku mengiyakan, karena tadi hanya gurauan semata. Aku sudah berniat untuk mentraktirnya karena dia sudah mau menemaniku ke sini.
“Katanya kamu mau posting? Kok nggak posting-posting?” Tanya Zoya setelah kita duduk dan memesan dua porsi es dawet.
“Nanti di rumah.”