
... “Kau tahu kau sedang jatuh cinta saat kau tidak bisa tidur karena kenyataan akhirnya terasa lebih baik dari mimpimu.”...
...-Dr. Seuss...
...•••...
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi entah mengapa mata ini tidak dapat terpejam. Padahal biasanya jam setengah sepuluh aku sudah tertidur. Dan ini hampir satu jam aku
mencoba menutup mataku, namun hasilnya nihil.
Ck, ada apa dengan aku ini, dan kurang ajarnya pikiranku malah membayangkan dan mengingat kembali wajah siswa yang ku lihat di bazar makanan tadi pagi.
Dan apalagi ini kenapa, kenapa jantungku malah berdebar dengan cepat saat aku berusaha mengingat wajahnya. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tidak mungkin menyukainya kan?
“Arrghh..”
“Baiklah Hazzel, kau tidak boleh mengingat-ngingatnya lagi. Ini belum saatnya untuk kau menyukai seseorang,” monologku sendiri. Dan berusaha untuk memejamkan mata.
“TIDAK BISAA, ini bagaimana caranya untuk melupakan wajah siswa itu. Senyumnya saja masih tergambar jelas di ingatanku,” uringku.
“Argsbskkknbsv,” teriakku ku redam dengan bantal yang sedang kupeluk.
***
Akhir pekan terasa sangat menenangkan jiwa rebahan ini, ingin keluar rumah tapi jiwa-jiwa rumahan membuatku malas untuk beranjak dari zona nyamanku. Seperti saat ini, aku baru keluar dari kamarku pukul sembilan pagi, dugaan kalian salah besar. Ya, aku sudah bangun dari pukul lima tadi. Dan kalian tahu, kegiatan kamarku sejak tadi pagi adalah mencari tahu tentang siswa laki-laki berwajah menenangkan itu.
Aku persilahkan kalian untuk menertawakanku. Tapi aku harus menyimpan rapat-rapat hal ini dari teman menyebalkanku itu, siapa lagi kalo bukan Zoya. Jika sampai si Zoya itu tahu tentang boomerang ku ini, dia akan sangat puas menertwakanku.
Tadi malam aku terjaga sampai larut, hingga aku tidur kemungkinan hampir menjelang pagi. Huh, setelah semalaman aku tidak dapat tidur karena senyum menenangkannya itu yang selalu melambai menggangguku saat diri ini mencoba menutup mata. Akhirnya malam tadi aku berencana untuk mencari tahu siapa pemilik senyum menenangkan itu.
Tapi hingga detik ini aku juga belum tahu siapa namanya, bahkan dia di kelas berapa dan manapun aku tidak tahu. Benar-benar nol informasi. Baiklah sekarang waktunya untuk menghetikan pemikiran berat ini sementara waktu. Karena aku juga berencana untuk pergi keluar untuk mem-photocopy tugas sekolahku.
Inilah yang kubenci dari menyukai seseorang, aku akan menjadi tidak fokus dan tidak dapat mengontrol waktu yang kumiliki. Hufft, ku rasa nasi sudah menjadi bubur. Aku sudah terlanjur terjebak dengan senyuman dan sorot menenangkannya itu.
“Kamu baru bangun Ze?”
“Bahasamu baru sempat, sok sibuk amat anak gadis mamih ini.”
“Sana sarapan, adik-adikmu tadi pagi udah pada sarapan, tinggal kamu yang belum tuh,” sambung mamihku.
“Ya mih, sebentar Ze mau bersih-bersih dulu.”
Selesai bersih-bersih dan sarapan, aku pergi keluar untuk mem-photocopy. Tidak ada tempat fotocopy yang dekat dengan rumahku. Sehingga aku harus berkendara ke tempat lain. Hal itu yang sebenarnya membuatku sangat malas jika ada tugas perfotocopy an.
Selagi menunggu tukang fotocopy menyelesaikan pesananku, aku mengamati para orang yang berlaluan di jalan, yap memang itu hobiku, mengamati orang-orang. Cukup aneh memang, tapi aku lebih suka mengamati dari jauh dari pada untuk bergabung di tengah keramaian.
Daerah di sini sangatlah ramai, karena daerah ini banyak sekali asrama dan kost para pelajar, dan pada dasarnya daerah ini merupakan daerah yang strategis, dekat dengan sekolahan dan juga universitas.
Di tengah aku mengamati lalu lalang orang-orang beraktivitas, lagi-lagi ada satu titik yang membuatku menajamkan penglihatan ini. Aku tidak sedang berhalusinasi kan? Disana, di titik yang menjadi titik fokusku nampak seseorang yang membuat semalam aku tidak dapat tidur.
Jantung ini langsung saja berdetak tak terkendali, sembari mata ini terus mengikuti pergerakkannya. Dia menyebrang, mendekat ke arahku. Ya! Tidak salah lagi itu benar-benar dia. Apakah ini sebuah takdir, untuk mendekatkanku dengan dia? Ah, kurasa aku sudah gila dan terjebak dengan perasaan ini. Padahal aku sering ke daerah ini, tapi mengapa aku baru melihatnya.
Kurasa dengan melihat dia di daerah ini memudahkanku untuk mencari tau lebih lanjut tentang dia. Yah, aku harus segera dapat informasinya.
“Kak, permisi. Halo kak!” Lamunanku buyar, saat sang tukang fotokopi memanggilku, kurasa pesananku sudah jadi.
“Eh, ya kak maaf. Sudah ya?” Jawabku dengan sedikit meringis.
“Sudah kak, ini.”
“Berapa kak, totalnya?”
“15 ribu kak.”
Aku segera membayar dan kembali pulang. Diperjalanan menuju pulang aku menelusuri setiap tepi jalan, barangkali aku bisa melihatnya kembali di sini. Benar kata sebagian orang, cinta itu bisa membuat seseorang itu gila. Lihatlah diriku aku sangat malu pada diriku sendiri dan aku sangat-sangat malu jika Zoya mengetahui perasaanku ini. Aku seperti menjilat ludahku sendiri.
Tiba di rumah, aku langsung saja mencari informasi cowok berwajah menenangkan itu. Ah, kurasa sebutan itu teralalu panjang, baiklah aku akan memanggilnya crush ku untuk sementara ini, sampai aku menemukan namanya.
Aku mencari di sosial media, dan ya akhirnya aku menemukan dia di salah satu postingan feed di kelasnya, tapi sayang tidak ada tanda menandai username di postingan tersebut. Tidak masalah aku akan mencarinya di pertemanannya. Tapi ini sangatlah susah karena beberapa orang mengunci sosial media mereka. Hufft, sang Hazzel tidak akan mudah menyerah, aku akan mencarinya sampai dapat.