
Oke kita lanjut lagi bahas si curut (anak kelelawar) itu.
Sesuai saran bapakku, aku memasukkan curut itu kedalam kandang burung, awalnya normal-normal saja, tidak ada pertikaian atau apapun, karena merasa mereka akan baik-baik saja didalam kandang yang sama, akupun meninggalkan mereka ke kamar untuk mengambil handuk persiapan mau mandi.
Sebelum masuk kekamar mandi aku iseng mampir bentar buat liat curut itu, pas aku liat ke kandang itu, aku dapat lihat kalau curut itu bangun dari tidurnya dan mulai berjalan kemana-mana berusaha mencari jalan keluar. Anak burung yang melihat adanya pergerakan lain didalam kandang pun merasa penasaran, dan dia mulai mematuk-matuk si curut kecil, karena merasa kesakitan, si curut pun mengeluarkan suara teriakan kecil yang menandakan kalau dia itu kesakitan.
Kasihan, aku segera mengeluarkan dia dari dalam sangkar burung dan dengan bodohnya aku malah membawanya kedalam kamar mandi. Bapakku yang menyadari si curut tidak ada didalam kandang tentu saja memanggilku dari luar.
“vi, hilang anak kelelawarnya” teriak bapakku dari luar sana.
Kaget karena tiba-tiba dipanggil, aku segera membasuh mukaku yang berisi busa sabun sebelum akhirnya menjawab.
“ya pak, ni anak kelelawarnya ada sama aku, tadi didalam kandang dipatuk sama anak burungnya, makanya aku bawa kesini” balasku.
“oh, oke oke” sahut bapakku lagi dari luar sana.
Selesai mandi, aku keluar kamar mandi sambil membawa si curut ditanganku, dan akupun membawanya kekamarku. Aku meletakkan curut itu diatas meja belajarku sementara aku mengenakan pakaian.
Sejak tadi aku terus memikirkan mengenai kandang yang akan aku jadikan rumah buat si curut. Sampai akhirnya mataku tertuju kepada sebuah kotak tempat boneka yang dikasi oleh mantanku, memang sih kotaknya itu kecih, tapi cukup lah buat mengurung si anak kelelawar, yah walau aku harus ngeluarin boneka itu dari dalam kotak sih, tapi tak apa.
Sejak selesai makan malam aku selalu memainkan si curut, entah menjadikannya bros di baju, atau kadang meletakkannya di tanganku. Sungguh tu curut sangatlah kecil dan imut, aku senang memainkannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, jadi akupun kekamar untuk tidur, tidak lupa juga aku memasukkan curut ke dalam kotak yang sudah aku isi air, pisang, dan kain untuk dia tidur bergelantungan.
Saat pagi hari aku terbangun dan lagi-lagi mendapati curut itu hilang, aku sudah mencari diseluruh areal kamarku, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya, sampai-sampai aku ini pasrah dan mulai melakukan aktifitasku bersih-bersih. Saat aku menyapu kamar adikku, aku melihat sesuatu yang mencurigakan disana, dan benar saja, aku melihat curut itu bergelayutan disana.
Aku memasukkannya kedalam kotaknya lagi dan meninggalkannya menyelesaikan aktifitasku yang lainnya. Selesai semua kegiatan ku dirumah, akupun kembali melihat sicurut kecil, karena merasa kasihan berada didalam kandang kecil, jadi aku melepaskannya di pohon jambu yang ada dihalaman rumah.
Keesokkan harinya aku melihat ke pohon jambu dan menemukannya bergelayutan di salah satu ranting pohon, cukup sulit untuk ditemukan memang karena warnanya yang sama dengan dedaunan kering yang ada disana.
Karena menurutku dia sudah aman, maka aku tetap melanjutkan kegiatanku seperti biasa, sampai sore harinya aku lihat keatas pohon lagi dan si curut tidak ada, aku tidak panik sih, karena kalau itu tidak ada, maka ada 2 kemungkinan. Pertama curutnya pindah ke ranting yang lain, kedua curutnya dimakan burung.
Sampai keesokan harinya saat semua orang ada didapur untuk sarapan, lalu ibukku bertanya.
“ada yang mindahin kelelawarnya? Tadi pagi ibuk lihat di sapu lidinya” tanya ibuk.
“aku nggak tau buk, setauku ada dipohon sih kemaren” jawabku.
“gak tau” jawab mangta adikku.
“siapa yang nyapu halaman tadi pagi? Harusnya pas nyapu itu kelihatan kelelawarnya” tanya ibukku lagi
Sementara aku dan adikku saling tatap, kemudian kami menggeleng bersamaan, kompak kami bertiga menoleh ke bapak. Sementara bapak? Masih asik dengan kopinya.
“pak?” tanya ku.
“lalu kemana perginya?” tanya ibuku masih penasaran.
“entahlah, aku gak tau. Ah, mungkin udah dimakan oleh roxy dan broni” jawabku sambil mengendikkan bahu.
“wuah kita sepemikiran” balas mangta sumringah.
Seperti biasa, setiap kami memiliki pemikiran yang sama, kami pasti akan melakukan ‘tos’, sebagai tanda kekompakan kami sebagai saudara.
“mungkin” jawab ibukku sambil berjalan meninggalkan kami kedapur bawah, tak sampai 5 menit disana, tiba-tiba.
“vio, mangta, sini-sini, kelelawarnya ada di sini, nempel di pisaunya, ibuk kira apaan gerak-gerak pas mau ngambil pisau tadi, ternyata kelelawarnya” teriak ibukku dari bawah. Sementara aku sama adekku hanya saling tatap, lalu aku turun kebawah untuk mengambil tu curut kecil.
“vio kira udah mati” kataku sambil mengambil curut itu dari pisau yang dipegang ibukku.
Akupun membawa curut itu dapur atas dan menunjukkannya ke bapak.
“hidup tu?” tanya bapakku.
“iya hidup” jawabku
“kuat juga, kirain bakal mati. Lepas aja vi, kasian soalnya kita nggak bisa ngasi makan” kata bapak.
“okey pak, kalau gitu aku lepas di kebun” kataku.
“taruh di pohon pisang aja” teriak ibuku dari bawah.
“iya buk” jawabku
Akupun berjalan keluar dapur dan menuju kebun, dibelakangku si roxy dengan setia mengikuti, aku terus mencari pohon pisang yang menurutku cocok untuk ditempati oleh kelelawar itu.
Cukup lama mencari, akhirnya aku bisa menemukan pohon yang cocok, yakni pohon pisang yang ada dibelakang sanggah rumahku. Akupun melepaskannya disana, dapat kulihat dia memanjat keatas, setelah melepas itu, aku kembali kerumah dan tidak lupa aku memanggil anjingku agar ikut pulang.
Sampai dirumah akupun ditanyain sama ibuk dan bapak, bahkan adekku yang baru keluar dari pertapaannya di toiletpun ikut bertanya.
“dimana kamu lepas?” tanay ibuku
“dipohon pisang dibelakang sanggah” jawabku enteng.
Setelah mendengar jawabanku, semuanya pun kembali pada kesibukannya masing-masing.
Sekian kisahku mengenai si anak kelelawar, semoga kali ini kisahnya tidaklah membosankan. See you