I Love You, My Crazy Girl

I Love You, My Crazy Girl
ILY, MCG 4



_Flashback on      


Pada malam di mana Jie A baru sampai di Bali waktu itu. Setelah David dan Gio melihat keadaan Jie A yang tertidur lelap, mereka berdua sempat mengobrol diteras depan rumah mereka.


“Kau masih menyimpan perasaan itu?” tanya Gio sembari meminum cappucinonya.


“Entahlah” jawab singkat David, mata pemuda yang ketampanannya bahkan melebihi Gio itupun menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.


“Oh ayolah, sudah 5 tahun semenjak kamu tahu bahwa kamu bukan anak kandung dari bunda dan appa. Dan semenjak itu pula kamu mulai menyukainya kan?”.


“Iya, bahkan mungkin jauh sebelum itu aku sudah menyukainya. Tapi aku tidak bisa mengutarakannya, karena aku tidak mungkin menyakiti hati bunda dan appa yang sudah membesarkanku selama ini. Kasih sayang yang mereka berikan sangat besar hingga aku tidak mampu untuk membalas semuanya” David menatap gundah langit malam yang sepertinya tidak berhias bintang malam ini.


“Tapi dia harus tahu kalau kamu mencintainya”.


“Tidak bisa, biarlah kusimpan ini dalam-dalam. Biarkan dia terus mengangggapku sebagai kakaknya. Itu sudah lebih dari cukup” ada rasa sedih yang tergambar dari raut wajah tampan David.


“Hem menyedihkan sekali. Sudahlah hilangkan wajah sedihmu itu” hanya kata itu yang dapat Gio sampaikan untuk menenangkan kegundahan David. Karena Gio tahu pasti sangat sulit memendam perasaan yang sudah bertahun-tahun lamanya ini. Dia salut kepada David.      


Gio tahu sekitar 3 tahun yang lalu bahwa David bukanlah kakak kandungnya. Dan itu pun tidak sengaja ia mencuri dengar percakapan kedua orang tuanya dengan David. Tapi itu bukan masalah yang besar karena kedua orang tuanya sangat menyayangi David layaknya anak sendiri.


_Flashback off  


“Kamulah wanita yang beruntung mendapatkan hatinya David, Jie A” gumaman kecil Gio.  


~My Crazy Girl~


Dengan langkah sedikit cepat, Jie A berjalan menuju kelasnya. Berharap tidak bertemu dengan Juan.  


_Kelas  


“Huh syukurlah, aku tidak bertemu dengan pemuda aneh itu lagi” Jie A duduk dengan perasaan lega. Hingga sebuah tangan menyentuhnya.


“Hai? aku Valen, kamu mahasisiwi baru yah?” tanya gadis berambut pirang yang bernama Valen itu.


“Oh iya, namaku Jie A. Senang bertemu  denganmu” balas Jie A ramah.


“Iya, ngomong-ngomong aku tidak pernah melihatmu di daerah sini. Apa kamu baru pindah ke Bali juga?”.


“Benar aku orang baru disini”.


“Pantas, baiklah nanti akan kutunjukkan Bali kepadamu”.


“Oh ya? Terima kasih Valen”.


“You‘re welcome”.                              


  ***  


_Kantin  


“Sebenarnya dari mana asalmu Jie A?” Valen bertanya sambil menyantap makan siangnya.


Jie A dan Valen memilih waktu kosong untuk menunggu jam mata kuliah selanjutnya mereka di kantin.


“Aku dari Korea”.


“Hah wow, tapi kamu sangat fasih bahasa sini” pipi Valen menggelembung karena makanan yang masuk kemulutnya.


“Haha iya, karena aku sering kesini, lagi pula ibuku asli orang sini”.


“Oh yah, pantas saja. Aku juga punya mantan pacar keturunan Korea. Dia tampan tapi sekarang menyebalkan” ada duka yang terselip di wajah cantik Valen.


“Kamu pernah pacaran dengan pemuda Korea?” tanya Jie A dengan sangat hati-hati karena ia takut menyakiti hati teman barunya ini.


Valen menghentikan aktivitas menyantap makanannya dan ia menatap Jie A dengan tatapan senduh “iya, dan kemarin malam dia baru mutusin aku dengan alasan yang tidak masuk akal. Padahal kami sudah pacaran selama 3 bulan dan dengan seenaknya dia mengakhiri ini begitu saja, seperti tidak ada artinya hubungan yang selama ini kami jalani” setetes air bening berhasil lepas dari mata Valen.


Jie A berusaha menenangkan Valen dengan mengelus punggungnya “Jahat sekali pemuda itu. Dia menyia-nyiakan gadis sebaik dan secantik kamu Valen. Oh dan maaf karena aku sudah membuatmu sedih” Jie A menyesali pertanyaannya.


Jie A menatap Valen aneh dan yah sedikit takut “Oh jadi seperti ini jika seorang wanita sedang sakit hati. Menyeramkan sekali” gumamnya dalam hati.


“Kamu menakutkan Valen” tatap Jie A ngeri.


“Haha sorry Jie A, sudah membuatmu takut” Valen mulai ceria kembali.


Dan kedua gadis cantik itu pun tertawa bersama hingga jam mata kuliah berikutnya dimulai. Hari yang indah.  


~My Crazy Girl~  


Jie A sangat bersyukur hari ini. Karena ia tidak bertemu dengan pemuda aneh dan menyebalkan itu hingga suara tanda pesan masuk dari handphonenya berdering.


From : +62812xxxxx  


‘Datang kebelakang gedung fakultas sekarang juga!


Nona gila’


by : Juan.


“Apa?! pemuda ini sungguh menyebalkannnn” teriak Jie A kesal.  


Tringg… pesan masuk kembali menyapa handphone Jie A dari nomor yang sama pula.


From : +62812xxxxx  


‘Cepatlah, aku tidak punya waktu untuk menunggu orang gila sepertimu nona.      


Cepat!!!’


Jie A yang saat itu hendak pulang, ia mengurungkan niatnya dan mulai berjalan menuju halaman belakang gedung fakultasnya. Tapi saat Jie A hampir sampai, ia malah diam dan..  


“Loh kenapa aku malah menuruti permintaan pemuda aneh itu. Sungguh menyebalkan” Jie A merutuki dirinya sendiri dan ia hendak berbalik tapi sebuah tangan kekar menariknya hingga masuk kesebuah ruangan yang ada di belakang gedung.


“Hei lepaskan aku, bodoh! Atau aku akan...” perkataan Jie A terputus.


“Atau kamu akan apa?” suara itu tidak asing bagi Jie A.


“Kamu pemuda aneh, lepaskan” teriak Jie A kesal.  


Walaupun posisinya sekarang pemuda yang menarik Jie A itu membelakanginya dan pencahayaan yang terbatas diruangan itu. Tapi Jie A tidak akan pernah melupakan suara yang sangat menyebalkan itu.


“Dengan suara saja, kamu sudah tahu aku ini siapa” Juan mulai memutar tubuhnya dan menatap kearah Jie A “Apa sebegitu terpesonanya kah kau nona hingga kau sampai hafal dengan suaruku hemm” Jie A menepis tangannya tangan Juan darinya.


“Dasar aneh, jangan ke ge‘eran kamu. Ma.. mana mungkin aku terpesona sama kamu” seburat warna merah muncul di pipi gadis manis itu.  


Juan hanya tersenyum melihatnya “Bagaimana dengan syarat yang aku katakan kemarin padamu?”.  


Jie A langsung tersadar dan gadis manis itu langsung berpikir keras. “A a a aku...” lidah Jie A terasa kelu seketika.


“Tenang saja, aku tidak akan menyuruhmu yang berat-berat”.


“Baiklah aku setuju. Tapi hanya untuk satu bulan oke.”      


Juan tersenyum senang mendengarnya..“Kena kau” ucapnya dalam hati.                             


  ***


To be continue.....


....


....


....