
"Sory~" Mika menyeringai canggung melihat baju yang di kenakan Abian sudah basah membentuk pulau kecil karena terkena cairan ingusnya. "Gue terbawa suasana tadi, jadi ya lo maklumin lah ya"
"Gak!" Abian menghela nafas menahan emosi. "Muka lu ngeselin banget sumpah"
Mika mengulum bibir ke dalam, berusah mengendalikan dirinya yang hampir tertawa geli.
Membuat Abian kesal seperti ini benar-benar seru menurutnya.
Abian mengalihkan pandangan dari Mika, kini diam lama menyorot ke arah rumah nenek Mika yang tampak ramai saat ini.
"Lagi ada acara kumpul keluarga" Bisik Mika.
"Gue tau" Balas Abian tenang. "Abang lo yang ngasih tau"
Mika mengernyit samar. "Tuh orang ngomong apa aja sama lo?"
"Gak banyak, cuman itu doang" Jawab pemuda itu tenang.
Keduanya jadi diam lama, Mika sendiri sudah asik memandang wajah tampan pemuda yang berdiri di sampingnya ini, sedangkan Abian entah apa yang ia pikirkan, kedua alisnya tampak mengernyit dalam.
"Acara kumpul keluarga.. "
'Acara macam apa sih sampe nih cewek lari keluar rumah sambil nangis-nangis?'
"Hm?" Mika sedikit mengikis jarak, ingin mendengar lebih jelas apa yang Abian katakan. "Lo ngomong apa?"
Abian menoleh menatap datar kedua mata Mika. "Gak ada"
Mika mengerjap dua kali, agak bingung dengan Abian yang terasa seolah menyembunyikan sesuatu.
"Oh iya, lo nge-chat gue tadi, katanya ada hal penting, apa?"
Abian mengangguk. "Lo sepupunya Embun kan?"
Mika diam sebentar, entah kenapa perasaanya jadi tidak nyaman. "Iya"
"Nih" Kata pemuda itu sembari menyodorkan sebuah dus kue mungil yang tampak cantik. "Buat Embun"
Perlahan binar di kedua mata Mika meredup, berganti dengan pandangan sendu yang samar, gadis itu berusaha menutupi perasaan kacaunya dengan tersenyum manis di depan pemuda itu.
Padahal baru beberapa saat lalu hatinya terasa mulai membaik, tapi kini... Ia malah kembali di beri luka yang lebih nyeri dari sebelumnya?
Abian berdehem pelan, Mika mengangkat alis saat melihat kedua pipi cowok itu sampai memerah malu. "Lo gak perlu ngomong kalau ini dari gue, takutnya dia gak Terima"
Gadis itu mendesah pelan, berusaha mengntrol perasaanya."Lo bahkan gak mau sekedar basa-basi semacam ngomong 'gue minta tolong' sama gue" Balasnya datar.
Abian tertegun, baru menyadari itu. "Gue-.. "
"Tapi gak papa, karna ini elo yang minta jadi bakal gue turutin" Mika menyela cepat.
Abian kembali menutup rapat mulutnya, tidak tau harus mengatakan apa, hanya bisa terus memandang Mika yang tertunduk diam.
"Buat gue, gak ada?"
"Ha?"
"Kuenya, buat gue.. Gak ada?"
Abian mengerjap bingung. "Um. gak ada cuman buat Embun doang, kenapa? Lo mau juga?"
Mika mengangguk antusias. "Mauuu"
"Yaudah sih" Abian melangkah dengan santai melewati Mika begitu saja menuju pada motor besarnya yang terpakir tepat di belakang gadis itu. "Elo tinggal beli sendiri" Katanya sambil bergerak naik ke atas motor. "Gue balik dulu"
Mika terdiam di tempatnya, speechless mendengar ucapan Abian. "Lo-...Wahhhh"
"Ha?" Abian menoleh saat hendak mengenakan helem, menatap Mika tidak paham. "Apa?" Tanya cowok itu saat melihat Mika yang sudah melotot tajam padanya.
"BRENGSEK, TAI LO!" Teriak Mika emosi, lalu mengacungkan jari tengah pada Abian.
Abian ternganga shock, terdiam kaku memandang Mika yang sudah berlari pergi kembali masuk ke dalam rumah itu setelah berhasil membuatnya hilang kata.
***
"Buat lo" Kata Mika tidak mau berbasa-basi dia ingin segera mengakhiri hal menyebalkan ini, Embun mengernyit melihat dus kue yang di berika Mika padanya.
"Lo waras?" Tanya Embun dingin."kayaknya ada yang salah sama otak lo"
Mika menghela nafas pelan, mencoba tetap tenang setelah menerima perkataan seperti itu. " Ck! Dahh diem terima aja napa sih"
"Kok lo maksa?!"
"Ssssst, brisik lo nih gue taruh sini, dah ya" Kata Mika malas, setelah menaruh dus kue itu di atas meja depan Embun, Mika lantas segera beranjak pergi begitu saja.
Embun menggigit bibir bawahnya greget, ingin membentak Mika yang bersikap seenaknya namun ia tak berdaya saat masih banyak orang di sekitarnya. "Dasar gila" Cibir nya kesal.
Sedikit penasaran, gadis itu tertarik untuk melirik pada dus kue yang di berikan Mika padanya. Merasa heran dan curiga tiba-tiba di perlakukan begini.
Mereka tidak seakrab itu untuk memberikan hadiah kecil semacam ini.
Embun berdehem pelan, tiba-tiba jadi merinding. "Kalau di buang membazir, g-gue terpaksa terima ini" Kata gadis itu bergumam sendiri.
"Embun?"
"Eh iya Bun?" Embun tersentak pelan, refleks menoleh cepat pada wanita paruh baya itu.
Arum mengangkat sebelah alis melihat respon itu. "Lagi mikirin apa sih sampe kaget begitu?" Arum tersenyum geli. "Udah jam segini, kamu pulang duluan ya, tuh Eden udah di depan nungguin kamu"
Embun mengerjap bingung. "Eden? sejak kapan?"
"Barusan nyampe, Bunda yang minta buat jemput kamu"
Arum melirik itu, sedikit penasaran namun tidak ingin mempertanyakan nya. "Sampe rumah langsung belajar ya, jangan langsung tidur dulu" Pinta wanita itu lembut namun penuh penekanan.
Embun diam sesaat, lalu mengangguk patuh."iya Bun"
Lagi..
Embun tidak bisa menolak.
"Hati-hati"
Embun tidak lagi menoleh, ia terus melangkah keluar dari rumah itu.
Hingga tepat saat akhirnya kedua mata Embun berhasil menangkap sosok pemuda jangkung tegap yang berdiri tak jauh di depannya, tengah melempar senyum ceria seperti biasanya.
Barulah Embun bisa benar-benar bernafas lega.
Dia akhirnya bisa bebas, walau hanya untuk sesaat.
***
SENIN!
Hari yang menyebalkan.
"Kamu telat lagi Mika"
"Iya bu" Jawab Mika santai, kemudian bergerak cepat membekap mulutnya yang nyaris menguap lepas di depan guru BP itu. "Maaf, lain kali gak ngulang"
"Dah basi" Bu Fitri, selaku guru Bk SMU Glory kini sudah siap memberi hukuman pada murid-murid yang terlambat di senin pagi. "Saya udah bosan denger alasan kamu yang itu-itu aja" Wanita yang berusia 30 tahun itu tampak memijit pelan pangkal hidungnya. "Sekarang juga kamu pergi bersihin wc cowok, sampe bersih total, nanti saya cek kerjaan kamu, jadi jangan coba-coba buat bolos dan gak ngerjain hukuman yang saya kasih"
Mika meringis, kenapa harus wc cowok? Tempat yang kotornya minta ampun, Bau menyengat dari tempat itu bahkan bisa tercium dari luar.
"Bu-"
"Selanjutnya!" Teriak Ibu Fitri mangacuhkan Mika yang terus menatapnya memohon.
Mika merapatkan bibir, tatapanya tajam menusuk ke arah kepala Ibu Fitri. Dengan perasaan dongkol gadis itu akhirnya beranjak pergi menuju wc cowok sambil misuh-misuh.
"Buset baunya" Mika dengan cepat menjepit kedua lubang hidungnya dengan menggunakan kedua jari, tepat saat tiba di depan wc cowok itu.
"Siapa sih yang pipis tapi gak nyiram, awas aja kalau sampe gue nemu ta*" Katanya menggerutu.
Mika mengernyit, kemudian mulai melangkah masuk ke dalam tempat itu sambil mengumpat kasar berkali-kali.
"Gini banget hidup gue" Kata Mika sambil mulai mengepel ubin wc itu.
"Padahal tadi malem gue udah bertekat buat bangun pagi, sampe masang alarm segala, tapi kok masih aja kayak gini, heran!"
"Itu karna kebiasan buruk lo udah mendara daging, jadi susah buat di ubah"
Suara serak berat yang familiar tertakap oleh pendengaran Mika, Membuat gadis itu menghentikan aktivitas nya begitu saja lalu menoleh dengan kedua mata yang berbinar senang. "Kok lo di sini?" Tanya Mika basa-basi.
Abian mengangkat sebelah alis, lalu melangkah tenang menuju wastafel yang berada tak jauh di sebelah Mika. "Menurut lo?, ini wc cowok"
Mika menahan senyum."Kalau mau pipis, pipis aja sih gak usah malu-malu gitu"
"Dih!" Abisan mendelik. "Gak ada yang malu, gue amang mau pipis kok"
"Yaudah sanah"
"Bentar, mau nanya dulu sama lo"
Mika memiringkan kepala, lalu mengerjap dua kali. "Nanya apa?"
"Yang kemarin, udah lo kasih sama Embun? Dia terima?"
Mika tidak tahan untuk tidak memutar kedua mata jengah, setelah mendengar itu. "Udah"
"Dia terima?"
"Hm"
Abisan mengernyit melihat respon Mika yang berubah drastis. "Biasa aja dong muka lo" Katanya kesal dengan gurat jutek yang di tunjukan gadis itu.
Mika tidak menjawab, gadis itu kini kembali melanjutkan hukumannya yang sempat tertunda.
Abian memandang gadis itu lama, lalu mengangkat kedua bahu tidak peduli. "Makasih" Ucap pemuda itu pelan.
Mika yang mendengarkan itu diam-diam memejamkan kedua mata erat. "Cuman gitu doang, jangan gampang baperan bangsa*t!" Bisik gadis itu pada dirinya sendiri.
Mika menghela nafas, kamudian menoleh pada salah satu pintu wc yang baru saja tertutup.
"BIAN!"
"..... "
Tidak ada jawaban, Mika tersenyum miring melihat itu.
"PINTUNYA GUE DOBRAK YA!"
"JANGAN GILA WOY!"
Tawa Mika langsung lepas seketika.
Sanangnya~
***