I Love You, But..

I Love You, But..
Apa itu keluarga?



Mika cukup bisa menahan jika orang tuanya bertengkar hampir setiap saat karena masalah sepele.


Namun.. Asalkan mereka tidak pernah memutuskan untuk berpisah, Mika masih memiliki banyak harapan di hatinya semoga keluarganya bisa harmonis suatu saat nanti.


Mika benci rasa kecewa, apalagi jika perasaan menyedihkan itu di sebabkan oleh penghianatan.


***


"Mah ada panggilan masuk nih! " Teriak Mika dari ruang tengah.


"Dari siapa? Kamu aja yang angkat bilangin Mama lagi sakit!" Hanggini-Mama Mika dari dalm kamar tidur balas berteriak.


Mika menggaruk kepalanya kesal, dengan ogah-ogahan meraih HP mamanya di atas meja lalu menerima panggilan telpon itu.


"Halo?"


"Bun-.. "


"Maaf ya, ini dengan anaknya Ibu Hanggini"


Hanya beberapa saat, tidak ada balasan dari sebrang sana.


Mika mengernyit samar. "Emm halo?"


"O-oh iya"


"Om, ada perlu sama Mama saya?  Mau saya sampain?" Tanya Mika saat mendengar suara serak berat itu.


"O-oh gak usah, gak pa-pa dek, lain kali ajah"


Samar-samar Mika mendengar helaan nafas dari orang itu.


"Kalau boleh tau, mamamu sakit apa?"


Mika merapatkan bibir, Tiba-tiba kesal orang ini terlalu banyak tanya dan tidak segera mengakhiri percakapan ini.


"Gak tau om- AH YA AYANG KENAPA? HA NIKAH? SEKARANG? OH IYA BENTAR.. om maaf ya aku tiba-tiba di panggil sama pacar aku namanya Abian, bye om"


Mika langsung menutup sabungan begitu saja kemudian melangkah ke arah kamar orang tuanya sambil misuh-misuh.


"Siapa sih, bikin curiga aja" Gumam Mika kesal.


Mika meremas HP Hanggini yang ia genggam di tangan kanannya.


Kenapa.. Nama kontak orang itu harus seperti itu.


'Ayah'


Mika mengumpat dalam hati, kakeknya sudah lama meninggal jadi tidak mungkin dia yang menelfon Mama nya.


Lalu siapa?


Papa? Tentu saja tidak mungkin.


Mika pernah melihat nama kontak Papa di HP mama, di situ tertulis jelas nama lengkap Papa, benar-benar bukan pasutri yang romantis.


"Kenapa? Kok mukanya kusut gitu?" Tanya Hanggini heran saat Mika berdiri di sisi kanan ranjang.


"Gak pa-pa, nih HP mama" Kata Mika menyodorkan benda pipih itu.


"Siapa yang nelfon.?" Tanya wanita paruh baya itu terdengar serak.


Mika diam sesaat menatap lamat-lamat wajah Mamanya.


"Ayah"


"Ha?"


"Orang yang barusan nelfon itu... Ayah" Kata Mika dingin, rahangnya mengeras saat melihat jelas perubahan gurat wajah Mamanya.


"O-ohh.. Hm"


Mika menggigit bibir bawahnya keras, lalu beranjak keluar dari kamar begitu saja.


Mika dari dulu terbiasa menebak-nebak.


Insting nya hampir tidak pernah meleset.


Dia termaksud orang yang punya kepekaan yang tinggi.


Dan semua itu, bukan lah hal yang menguntungkan bagi hidupnya.


****


"Ayah?"


Pemuda tampan bernama Abian itu melangkah tenang menghampiri seorang pria paruh baya yang tampak bengong di gazebo belakang rumah.


"Kenapa yah? Mikirin apa?"


"Bian"


"Hm?" Abian mengernyit saat melihat tatapan tak dapat di artikan dari Ayahnya.


"Kamu.. Punya pacar?"


"Ha?!"


"Kalian mau nikah?"


"Jangan denger omongan syaiton, mereka doyan nge-prank" Balas Abian acuh, setelah tercengang beberapa detik.


***


Tolong jelaskan arti sebenernya dari ikatan keluarga.


Apakah, keluarga itu... Kedua orangtua yang sering bertengkar setiap saat karena masalah sepele?


Saudara yang sering bertengkar dan acuh tak acuh.


Orang tua dan anak yang sering berbeda pendapat.


Alih-alih keluarga, kita lebih pantas di sebut orang asing yang tinggal di bawah atap yang sama.


"Dari mana aja sih mas, jam segini baru pulang!?"


Aku menghela nafas, Lagi-lagi menjadi saksi pertengkaran kedua orang tua ku.


"Kenapa sih, aku ini baru pulang loh Ma, cape seharian lembur kerja" Balas Papa dengan suaranya yang rendah.


"Kamu di telfon gak di angkat, gak ngabarin juga, gimana aku gak curiga."


"Curiga apa sih kamu? udah lah"


"Tuh kan kamu tuh selalu ngalihin topik"


Langkahku bergerak dengan santai menuruni tangga, mengabaikan dua orang dewasa yang sedang adu debat.


Entah siapa yang benar dan salah.


Melewati mereka, aku berjalan menuju dapur hendak mengambil air minum.


Suara mereka semakin meninggi.


Aku mencoba tenang dan mempercepat langkah.


"Aku tau semuanya mas!"


"Kamu itu terlalu curigaan, cape saya denger kamu ngoceh gak jelas gini!"


"Gak jelas, aku yang gak jelas atau kamu mas!?"


Aku menelan ludah, tangan ku mulai bergetar pelan.


Hal ini sudah terjadi sejak aku kecil, menyaksikan pertengkaran antara orang tuaku.


Tapi... Bahkan sampai sekarang pun aku masih belum bisa terbiasa.


Aku selalu mencoba untuk  menutup telinga, berusaha tidak peduli.


Tapi..


"Lipstik siapa ini mas, AKU DAPET INI DI BAJU KERJA KAMU, KAMU SELINGKUH KAN?! JUJUR!"


Mataku melebar terperangah,  jantungku berdetak kencang, entah kenapa kakiku bergerak dengan sendirinya berlari keluar dapur ingin menghampiri orang tua ku, berharap bahwa hal yang ku dengar barusan itu tidak benar adanya.


"Kenapa diam? Ayo jelasin kalau ini nggak benar? Alasan apa yang bakal kamu pakai buat ngebela diri?"


Aku panik, kenapa Papa terus diam dan terus menatap kosong lipstik yang tergeletak di lantai setelah di lempar kasar Mama yang sudah termakan emosi.


"KENAPA DIAM-! "


"AKU GAK TAU, AKU GAK TAU ITU PUNYA SIAPA!"


"Pah... " Aku memanggil lirih, mataku terasa pedih dan mulai memburam karena air mata yang mulai membendung.


Papa menoleh, wajahnya tampak panik menyadari keberadaanku. "Mika, kamu kok belum tidur?" Tanya pria itu lembut hendak mendekatiku.


"Kamu lihat Mika, kamu lihat kelakuan Papa mu ini, dia udah gak sayang sama keluarganya lagi!"


"Jangan bicara sembarangan kamu Hanggini!"


"Kenapa?! Takut anak mu akhirnya tau sifat busukmu yang begini?!"


"Mah.. Pah.. Udah-.. "


"Kita cerai aja mas"


"HANGGINI!"


Aku terdiam, terpaku menatap Mama tidak menyangka, kenapa bisa kalimat itu terlontar dari mulutnya.


Apa saat mengatakan itu, Mama sempat memikirkan perasaan anak-anak nya?


Tidak..


Aku seharusnya tidak lupa kalau, orang-orang Dewasa itu.


Egois.


***


"Lo gila?!"


Sebuah suara berat tiba-tiba menyeletuk sinis, Aku melirik sekilas seorang pemuda jangkung yang tau-tau sudah berdiri di dekat pintu kamar dengan kedua tangan yang sibuk memegang nampan yang di atasnya nampak jelas sepiring nasi dengan beberapa lauk dan juga segelas air putih.


Ia mendekat, Aku dengan tenang berlagak meraih HP kemudian mulai mengutak-atik nya.


"Kamar lo bau banget njir!"


Aku mendengus, mood ku semakin buruk mendengar ucapanya itu, aku semakin tidak yakin kalau dia adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang berusia 23 tahun.


"Diam deh, bacot banget" Balas ku ketus, yang jadi mendapat jitakan di kepala darinya.


"Elo tuh di kasih tau yang bener malah ngebantah, tuh gorden sama jendela kamar lo buka biar udara seger masuk"


"Gue suka kayak gini, ini kamar gue lo gak usah berisik"


Ghaly Saputra, anak pertama di keluarga ini sekaligus menjadi satu-satunya saudara ku.


Dia menyebalkan, tidak pernah ada ucapan manis darinya yang terlontar untuk ku.


Dia selalu melakukan hal-hal yang memicu perdebatan.


Hidupku tidak pernah tenang karenanya.


Namun, Walau demikian, sekalipun aku tidak pernah benar-benar memebencinya.


Karena..


"Kayaknya gak ada satu aja ucapan gue yang lo turutin deh, semuanya lo bantah"


Aku diam, berharap agar ia segera berhenti mengoceh.


"Nih makan, elo dari pagi ngurung diri di kamar" Katanya sembari meletakan nampan itu di atas nakas samping kasur ku.


"Elo tau diri dikit kek, udah di kasih lambung gratis sama Tuhan bukanya lo rawat malah lo siksa kayak gitu" Katanya lagi belum mau berhenti.


Aku merapatkan bibir, melihat pantulan bayang Aly di kaca yang tampak berjalan menuju pintu kamar hendak keluar.


Namun saat di ambang pintu ia berhenti dan berbalik. "Gak usah sedih, gue abis beli es krim tinggal ambil aja di kulkas, tapi setelah lo ngabisin makanan yang gue bawa" Katanya yang akhirnya keluar dan menutup pintu kamar sampai berdentum cukup keras.


Ya.. Itu alasan kenapa aku tidak pernah sedikitpun membenci nya meski semenyebalkan apa tingkahnya.


Dia selalu seperti ini.


Semalam, orangtuaku bertengkar, kali ini lebih parah dari sebelum-sebelumnya.


Hal yang Mika harapkan tidak pernah terjadi, akhirnya terlontar juga dari bibir Hanggini-mamanya sendiri.


Entah bagaimana nasib keluarga ini kedepanya nanti.


Apa Mika harus berhenti berharap.


Sekarang semuanya telah nampak sia-sia.


***