
"Hati ku sendiri yang sudah siap terluka, menjadi harga mahal yang harus ku bayar, karena nekat mencintaimu"- Mika Tianna.
***
2022
Pemuda yang duduk di sudut kafe sejak sejam yang lalu, tampak menutup sebuah buku Diary bersampul biru itu.
Ia tersenyum, meraih secangkir kopi di atas meja lalu mulai menyeruput pelan.
"Ahh sory bro gue telat, hujanya lebat banget jadi kejebak macet gue"
Seorang pemuda yang lainya tiba-tiba datang dengan rusuh.
"Loh Americano punya gue mana, lo gak mesenin buat gue? Ini yang lo maksud bestfriend forever?"
"Mesen sendiri sana, gak usah bikin jijik" Balas cowok tampan yang berusia 22 tahun itu keki, ia kemudian meletakan kembali cangkir itu di atas meja.
"Lo yang bayar kan?"
"Hm"
"Oke" Galang menyengir senang, kemudian memanggil pelayanan kafe.
Abian mengamati itu dalam diam. Beberapa saat, hingga akhirnya memutuskan untuk bertanya. "Gimana hubungan lo sama tuh cewek?"
Galang menoleh setelah si pelayan beranjak pergi. "Yaa gitu deh, gak ada harapan lagi" Cowok itu menempelkan punggung pada sandaran kursi dengan santai. "Udahlah gak usah di bahas" Katanya dengan intonasi suara yang stabil, namun Abian melihat jelas sorot sedih di kedua mata sahabatnya itu.
Bian mengangguk memahami, pemuda itu kemudian menoleh pada dinding kaca di sampingnya, Diam memandang teduh curah hujan di luar sana.
"Sejak kapan lo nulis diary?"
Bian melebarkan mata, tersentak pelan lalu menoleh, dengan cepat merebut buku biru itu dari tangan Galang. "Sejak tadi" Jawabnya datar.
"Wihhh kek cewek aja lo"
"Emang cowok gak bisa nulis Diary juga?"
Galang mengerjap dua kali, meringis sambil menggaruk belakang kepalanya bingung. "Ngg..hehehe-"
"Norak lo, dah gak usah bacot!"
Galang terkekeh pelan."Masih sensian aja lu bro"
Bian tidak menanggapi, cowok itu malah terfokus pada buku diary di tangannya.
Galang terheran-heran melihat gurat wajah Bian yang.. Entahlah tidak dapat di artikan olehnya.
"Beneran punya elo?" Tanya Galang lagi masih belum yakin.
Bian melirik sekilas, lalu menggeleng pelan.
"Terus punya sia~... '
"Mika"
..~Pa?" Galang seketika langsung menutup mulut rapat-rapat.
Suasana seketika menjadi hening dan suram.
Ahh mungkin hanya Galang yang merasakan begitu.
Bian malah terlihat santai seolah baik-baik saja.
"Elo.. Manggil gue kesini, bukan untuk dengerin lo curhat kan?" Tanya Galang hati-hati, pemuda itu mengamati lekat wajah sahabatnya beberapa saat kemudian menyeringai lebar. "Eheiiii enggak dong gak mungkin lah, sejak kapan lo-.. "
"Lang"
"Eh ya?!"
Bian tersenyum tipis, menaruh buku diary itu di atas meja lalu menatap kembali ke arah dinding kaca yang di penuhi bintik-bintik hujan.
"Dulu gue.. Punya banyak kesempatan" Bian menjilat bibir bawahnya, tiba-tiba merasa canggung saat matanya mulai memanas. "Tapi karena nggak nyadar gue jadi nyia-nyiain semua itu, dan sekarang.. "
Bian menoleh, membalas pandangan sendu yang di berikan Galang padanya. ".. Semua jadi kacau"
...Mika Tianna, saat ini banyak sekali harapan yang gue panjatkan pada Tuhan, berharap Ia mau bermurah hati memberi satu kesempatan saja.
.. Kesempatan buat mengutarakan satu hal sama elo, nggak banyak..
..Hanya mau bilang kalau, Gue benar-benar cinta sama lo"
***
2019
Banyak hal yang Mika sukai, namun lebih banyak lagi hal yang dia benci.
Karena hal yang ia benci lebih banyak, maka dari itu tidak perlu di bahas karena merepotkan.
Jadi... Mari kita lihat apa saja yang di sukai oleh gadis 17 tahun yang di takuti oleh hampir seluruh cowok di SMU Glory itu.
Pertama, Mika menyukai makanan pedas.
Kedua, Mika menyukai makanan manis.
Ketiga, Mika menyukai suhu dingin.
Keempat, Mika suka tidur seharian saat hujan.
Dan yang terakhir dan yang paling utama.
Mika menyukai Abian Daniel.
Laki-laki berambut hitam legam yang memiliki iris mata tajam itu berhasil menarik perhatian seorang Mika Tianna sejak pertama kali mereka bertemu.
Sebuah awal yang sangat manis menurut Mika.
Sebab saat itu..
***
SMU GLORY
Sekolah yang di kenal ketat akan kedispilan itu berhasil menempati posisi ke dua sebagai sekolah Favorit di jakarta.
Di kenal memiliki siswa-siswi teladan, berprestasi yang hampir setiap saat membawa pulang penghargaan,
Dan juga sebagai bonus, para pelajar di sekolah itu memiliki Visual yang tidak dapat di tampik oleh siapapun.
Sangat sempurna bukan.
Yaaa...
Mika sangat mengapresiasi kerja keras para guru yang berusaha menutupi kebusukan sekolah ini.
"Kejadian kayak gini bagus di jadiin bahan buat vlog sih kalau kata gue"
Gadis itu bergumam, matanya terus mengamati kekacawan di depan sana.
Lagi-lagi perkelahian.
Dan yang menjadi peran utamanya adalah Eden Malewa si berandalan sekolah dan Galang Pradana Perkasa si ketua OSIS abal-abal. (Kalau kata Mika sih begitu)
Semua orang heboh, heboh menyoraki jagoannya masing-masing, mereka bahkan sampai membuat formasi mengelilingi dua pemuda itu yang menjadi objek utama di tengah lapangan sana.
"Hm, inilah wujud asli para murid sekolah Favorit" Mika menyeringai."Videoin ah sebagai dokumentasi" Ucap gadis itu asik sendiri.
Mengeluarkan HP dari saku rok sekolahnya, Mika langsung memulai aksinya tanpa menunda-nunda.
"Wihh seru nih, anjir parah kacau bener tuh muka bonyok semua" Katanya tertawa senang.
"Ini si Galang masih menjadi misteri kenapa dia bisa di pilih sebagai ketua OSIS, padahal modelannya kayak gorila kesurupan"
"Emang ya nih dua bocah gak pernah akur" Mika menggeleng miris.
"AYO DEN HAJAR, DIKIT LAGI UDAH PINDAH ALAM TUH BOCAH!!"
"JANGAN KASIH KENDOR SAUDARA!!"
Dua pemuda bernama Dean dan Raka bersorak paling heboh.
Mika melirik, tidak heran sih dua mahluk gila itu selain teman sekelas, juga adalah sahabat karib si cowok bernama Eden itu.
"Orang kalau udah sahabatan kadar kegilaannya beda-beda tipis ya" Katanya mulai berteori.
"HEH MINGGIR DONG, GAK USAH CAPER DI DEPAN KAMERA GUE DEH!" Teriak Mika kesal pada orang di depanya yang tiba-tiba menghalangi.
Siswa yang entah siapa namanya itu, sempat terlonjak kaget, namun tanpa menoleh segera bergerak menepi dengan jantung yang memompa gila.
Tanpa di lihat pun ia sudah tau siapa pemilik suara itu.
"Ck jadi gak mood gue" Mika mendengus, mengakhiri rekaman Video nya kemudian membalikan badan, niat ingin beranjak ke kantin karena perutnya sudah terdengar bergemuruh.
Namun..
BRAK!
Kecelakan kecil itu pun tak bisa di cegah.
Tiba-tiba saja dari arah berlawanan seorang gadis berlari dengan Wajah panik, entah apa yang memenuhi pikiranya hingga menjadi tidak fokus dan dengan ceroboh menabrak orang di depanya.
Atau mungkin, matanya tidak berfungsi dengan baik.
"Anj*ng woy HP gue retak" Mika mengumpat, menatap nanar layar hpnya yang sudah tidak berbentuk.
"Akh!"
Mika melirik saat mendengar erangan pelan itu, lalu menghela nafas merutuki nasib buruknya saat ini.
"Kenapa harus dia sih" Bisiknya kesal, karena jadi tidak bisa menghantam wajah orang yang sudah membuat hpnya rusak seperti itu.
"Lo gak pa-pa? Ayo sini gue bantuin"
Mika memasukan HP nya ke dalam kantung rok, kemudian berdiri sambil menepuk-nepuk bagian bokongnya guna menyingkirkan debu di sana.
"Gak perlu" Embun membalas datar, berdiri sendiri kemudian kembali berlari memasuki kerumunan yang masih heboh bersorak atas pertarungan yang masih berlangsung.
Mika menoleh menatap Embun yang nekat menghampiri Eden yang sudah kesetanan memukul Galang tanpa henti.
"Tolol, dia bisa aja kena pukul" Mika mencibir, kemudian segera membuang muka tidak mau peduli banyak.
Gadis itu hendak beranjak namun belum juga mengambil dua langkah seseorang entah siapa tiba-tiba menghalangi jalan.
"APA LAGI SIH, GUE TONJOK L-!! "
"Berisik cewek Ampas"
Kalimat dengan intonasi yang begitu dingin berhasil membuat Mika terdiam begitu saja.
Gadis itu mendongak, menatap siapa orang yang memberinya kalimat tajam barusan.
Kedua orang itu saling memandang beberapa saat, Mika sampai menebak-nebak apa yang tengah di pikirkan cowok jangkung di depanya ini.
"Elo Mika kan?"
"Hn"
"Cewek berandalan kayak lo, harus jauh-jauh dari Embun"
"Ha?"
Mika melebarkan mata, mendapati gurat cowok ini tampak mengerikan.
"Wahhh ada apa nih, tanpa lo suruh pun gue bakal jauh-jauh dari dia"
Cowok itu terlihat samar mengangkat sebelah alis mendengar jawaban Mika, Ia diam sebentar kemudian mengangguk pelan.
Hingga setelahnya tanpa Mika duga-duga, cowok itu tiba-tiba saja mengcengkram kerah baju Mika lalu menghempas kasar gadis itu menyingkir dari hadapanya.
"Minggir"
Speechless..
Mika sampai tercengang, terdiam kaku di tempatnya bahkan hingga cowok itu berlalu melewatinya dengan santai dan berbaur di kerumuan itu.
Tadi sebelum melewati Mika, cowok itu dengan kurang ajarnya malah mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
'Lain kali jangan halangi jalan, Embun jadi jatuh karena elo'
Wahhh, jadi Mika yang salah?! Pemuda itu berhasil membuatnya kehabisan kata.
Gadis itu menunduk, entah apa yang ia pikirkan, namun pada beberapa saat setelahnya dengan perlahan bibir mungil itu tertarik membentuk senyuman lebar.
"Ini yang gue cari" Bisiknya pelan dengan mata yang berbinar senang bagai anak kecil yang baru saja menemukan mainan ajaib tanpa ia sengaja.
***
Katanya, ada beberapa hal yang perlu di lakukan cowok untuk memikat hati seorang cewek. Yaitu dengan memberikan perlakuan manis yang dapat membuat si cewek menjadi nyaman.
Semacam..
-Menjadikan si perempuan itu sebagai prioritas.
-Tunjukan kasih sayang padanya.
-Memberinya perhatian.
-Memberikan pujian bahkan untuk hal-hal kecil.
-Buat dia tertawa hingga melupakan hal-hal buruk yang ia alami saat itu.
-Atau jadilah suporter nomor satu untuknya.
Yaa kurang lebih seperti itu lah.
Tapi!
Untuk seorang gadis modelan Mika yang udah 'gatal-gatal' duluan kalau ada cowok yang megang tanganya atau natap dia lembut tentu saja beberapa hal-hal yang di sebutkan di atas itu tidak lah berlaku.
Seorang Abian Daniel tidak perlu melakukan semua itu untuk, membuat Mika jatuh hati.
Cukup hanya dengan menyebutnya 'cewek ampas'
Mungkin tipe cowok ideal Mika itu, yang suka ngasarin dia.
Gila?
Tidak apa-apa jika ada yang menilainya seperti itu, bahkan Mika sendiri tidak berpikir kalau dia masih waras.
"Lo gila?"
"Menurut lo?"
"Iya" Bian mengangguk pelan, meringis melihat senyum Mika semakin lebar. "Lo dari tadi natap gue mulu, gak bosen?"
"Malah makin demen gue sama lo" Jawab Mika santai, lalu terkekeh pelan.
"Gue risih" Kata Bian blak-blakan, menutup buku komik di tangannya lalu melirik seisi kelas. "Mending lo keluar dari kelas gue sekarang juga"
Mika cemberut, lalu spontan menampar keras lengan Bian hingga membuat cowok itu mengaduh kesakitan, terlihat jelas ia mendelik tajam pada gadis berambut Mullet di depannya itu.
"Kok gue di usir sih, kan jam istirahat belum selesai"
"Gue bisa setres duluan kalau nungguin jam istirahat selesai baru lo mau pergi dari hadapan gue" Bian menghela nafas, memejamkan mata sebentar lalu kembali mendelik tajam pada Mika yang sudah cengar-cengir di depannya.
"Kenapa lagi lo?"
Mika cekikikan."lo ganteng banget sumpah"
"I know" Bian memainkan lidah di dalam mulut, diam memikirkan cara agar Mika mau beranjak pergi dari kelasnya ini.
Bian tidak tahan, semua mata tertuju pada mereka berdua sejak tadi.
Seberpengaruh itu seorang Mika Tianna.
Kalau kata Gilang sih, 'Resepnya apa bro, sampe bisa buat cewek modelan ke Mika nempelin elo mulu?'
Bian pun tidak paham.
Dia tidak pernah melakukan interaksi dengan gadis ini.
Oh mungkin hanya sekali.
Saat itu untuk pertama kalinya Bian mengajak Mika berbicara, bukan apa-apa sih, tidak ada yang spesial, bahkan jika di ingat-ingat saat itu sikap yang di tunjukan Bian tidak ada ramah-ramahnya sama sekali pada gadis itu.
Tapi kenapa? Sehari setelahnya Mika tiba-tiba saja mulai mendekati Bian dan membuat hidup pemuda itu tidak tenang.
"Lo gak ada kegiatan lain?"
"Hm?"
"Lakuin apa aja kek, ke kantin atau ke mana, bukan malah duduk di sini liatin gue mulu" Bian menahan nafas kemudian menghembuskan pelan, matanya menyorot malas."Maksud lo apa?"
Mika mengangkat alis bingung."Apa?"
"Lo aneh, Tiba-tiba sok akrab sama gue kayak gini" Bian menelisik gurat wajah Mika. "Ada niat terselubung apa lo?"
Mika tidak menjawab, gadis itu hanya diam dengan senyum tipis.
"Ini udah hampir sebulan lo nempelin gue, kalau gue udah bener-bener muak, muka lo bisa gue tendang beneran" Kata Bian datar, wajahnya tampak serius.
Mika tertawa, tidak dia bukan menganggap ucapan Bian itu sebuah guyonan semata.
Mika sangat-sangat sadar kalau ucapan Bian itu tidak main-main.
Tapi..
Tujuan Mika memang untuk itu, membuat Bian hilang kendali.
"Yaudah sih, tinggal tendang aja" Balas Mika santai, sampai membuat orang-orang yang mendengarnya menggeleng tak habis pikir.
Tidak waras~
"Gak ada otak"
Mika merapatkan bibir saat mendengar suara itu. Embun berjalan melewatinya dengan santai menuju bangku bagian belakang paling pojok kemudian tidur di sana.
Seseorang menyusul, pemuda jangkung dengan garis wajah yang tajam itu tampak membawa bekal makanan di tangannya.
"Bentar lagi jam istirahat selesai, lo gak usah tidur napa sih"
Mika menyorort itu, Eden Malewa terlihat menjitak kepala Embun hingga membuat gadis mungil itu mengaduh pelan.
"Lo tinggal bangunin gue kalau guru udah masuk kelas" Balas Embun terdengar Samar-samar.
Eden menggigit bibir gemas, kini mengelus lembut rambut panjang gadis itu. "Iya deh, tapi nanti jangan kebo, gue yang repot kalau pak Juan ngamuk"
Embun menjulurkan tangan ke depan wajah Eden lalu mengacungkan jempol.
Mika tersenyum samar, sebenarnya walau sering kesal pada sepupunya itu, tapi Mika akui terkadang dia 'sedikit' merasa lega melihat Embun bisa mendapat sahabat setulus Eden.
Mika mengulum bibir ke dalam, segera mengenyahkan pikiran konyol itu lalu mengalihkan pandangan pada cowok yang duduk di depannya.
Gadis itu tertegun, melebarkan mata mendapati Bian yang tampak jelas memandang ke arah pojok kelas, tepat di mana Embun dan Eden berada.
Tatapan yang begitu dalam yang sekali lihat bisa langsung membaca jelas perasaan pemuda itu. Mika mengerjap tersadar lalu meringis tiba-tiba merasa canggung sendiri dengan perasaan asing di hatinya.
Perasaan tidak nyaman ini benar-benar merepotkan.
"Bi-.." Mika menggantungkan kalimatnya, ia terdiam memilih menutup rapat kembali mulutnya, gadis itu menatap Bian sebentar lalu perlahan beranjak keluar dari kelas itu.
Selama kakinya terus melangkah di tengah koridor yang ramai. Pikiran gadis itu penuh dengan segala umpatan.
'Sialan tuh cowok, malah suka sama sepupu gue!'
'Rival gue gak ada yang laen? Perasaan itu itu mulu dah!'
'Eh tapi Bian bego banget, masa naksir sama cewek yang kejebak friendzone, nyari-nyari penyakit hati emang'
"Ngelamun mulu"
Mika tersentak pelan, segera menguasai diri lalu menatap lurus cowok yang, tau-tau sudah berdiri di depanya sambil mengumbar senyum manis yang membuat Mika merinding.
"Dari mana nih?"
Mika diam.
"Ngapelin temen gua lagi kan?"
"Siapa temen lo?"
"Abian"
Mika mengangkat alis."Baik banget si Bian mau temenan sama debu kemoceng"
Galang mengumpat tertahan. "Manis bener omongan lo, jadi tersipu gue"
Mika tersenyum ngeri."Itu maksudnya semacam isyarat minta gue ludahin muka lo?"
Galang menyeringai lebar kembali mengumpat dalam hati. "Mau bel masuk nih, gimana kalau kita ke kelas bareng"
Mika memutar mata malas, kemudian tanpa kata, gadis itu melangkah melewati Galang masa bodo.
"Heh, gak gandengan?"
"Mati aja lo!?"
Galang tertawa.
***