
Awal semester 1 kelas 11.
Saat itu di tengah sinar matahari yang terik tepat jam delapan pagi di hari Jum'at, seorang gadis dengan tinggi sekitaran 1,65 tampak tengah memeluk sebuah bola voli, berjalan tenang melewati lapangan basket.
Gadis dengan bentuk mata yang sayu namun memancarkan sorot tajam itu, bernama Mika Tianna.
"Woy woy, liat tuh"
Sekumpulan cowok di tengah lapangan basket spontan menoleh bersamaan.
"Apaan?" Tanya Gilang pada cowok bernama Tesar, anak dari pembisnis sukses tapi kerjaanya doyan ngutang sana-sini.
"Itu tuh, cantik banget gila" Tesar heboh sendiri menatap seorang gadis cantik dengan gaya rambut mullet yang melewati pinggir lapangan sambil membawa bola voli.
Gilang menoleh, mengernyit halus lalu berdecak pelan. "Oh" Balasnya acuh, kemudian lanjut berlari ke arah Abian Daniel yang sejak tadi asik memasukan bola basket ke dalam ring.
"Lo kenal lang?" Tanya Tesar penasaran sampai ikut berlari mengejar Gilang.
"Ho-oh, sekelas sama gue itu."
Tesar melebarkan mata, senyumnya merekah seketika. "Serius lo"
"Iya nyet!" Kata Gilang kesal. Pemuda itu melirik sekilas, melihat gurat wajah Tesar di sampingnya. "Naksir lo sama dia?"
"Iyalah" Jawab Tesar mantap.
Abian langsung menoleh, menatap Gilang dan Tesar bergantian, kemudian beralih pada beberapa siswa yang berhrnti bermain dan malah terus menyorot gadis pendek berwajah judes yang telah menjauh dari lapangan itu. "Ngomongin apa sih?"
"Gebetan baru gue" Jawab Tesar yang malah mendapat jitakan keras di kepala dari Gilang.
"Itu si Mika"
Abian mengangkat sebelah alis. "Mika?"
"Yoi, cewek cantik yang barusan lewat namanya Mika, temen kelasnya Gilang"
Abian diam sesaat, merapatkan bibir kemudian kembali memusatkan fokus pada ring basket. "Lo yakin Sar?"
Tesar mengerjakan dua kali, alisnya mengernyit samar. "Apaan?"
"Dia itu-.. " Abian kembali berhasil memasukan bola dalam ring, kemudian berbalik ke arah Tesar yang menunggu jawabanya. ".. Cewek jadi-jadian"
Sontak semua cowok di tempat itu menoleh dengan gurat wajah cengo.
"Ha?"
Abian tersenyum kalem, menepuk pundak Tesar akrab lalu beranjak pergi dari lapangan itu.
"Kok si Abian ngomong gitu?"
Gilang merapatkan bibir, melirik Tesar sekilas. "Mereka dari SMP yang sama" Jawabnya.
***
Mika itu..
"Tangan lo..gue patahin ya?"
Senior kelas dua belas itu melebarkan mata takut mendengar ucapan yang terlontar dari Mika."J-jangan-.. "
"Kenapa?" Mika memiringkan kepala, kedua matanya melotot tajam. "Lo tadi tiba-tiba nampar gue pake tangan kotor lo ini" Kata Mika berbisik.
Senior cewek itu menggigit bibir, dengan panik melirik sekitar harap-harap ada orang yang mau menolongnya.
Namun... Semua hanya diam, melempar sorot menyedihkan ke arahnya.
"Gak ada yang peduli" Mika tersenyum tipis. "Sekalipun lo jerit-jerit kesakitan sampe rasanya mau mati, tetap gak ada yang peduli" Lanjut Mika sambil mengelus kasar rambut panjang senior itu.
"Lo duluan"
"Ha?"
"Elo duluan yang cari masalah sama gue!" Bentak senior itu, mukanya memerah penuh, jelas sangat emosi.
"Lo kegatelan jadi cewek, cowok gue minta putus gitu aja, tanpa gue tau salah gue apa." Air mata sudah membanjiri kedua pipi cewek itu. "Karena elo, cowok gue minta putus itu karena elo, dia naksir sama lo-.."
PLAK!
Senior itu sontak terdiam kaku dengan kedua mata menyorot kosong, tiba-tiba saja mendapat tamparan keras di pipinya membuat ia hilang kata.
"Lo gila?" Mika menginjak kaki Senior cewek itu keras hingga ia menjerit nyaring karena kesakitan."Cinta.. Buat lo hilang akal sehat"
"AAAASA-SAKIT!!"
"Otak lo itu, buang aja gih" Mika menendang tubuh cewek itu hingga jatuh terlentang di tengah koridor."udah gak guna soalnya"
Setelah berujar sepeti itu, Mika memutuskan berlalu pergi tanpa memperdulikan banyak pasang mata yang memperhatikannya tak terbaca.
Tidak ada yang berani berkomentar, mereka semua hanya diam dan kembali pada aktifitas masing-masing seolah tidak pernah ada yang terjadi.
Seseorang menyorot itu dari jauh.
"Sampah" Bisik nya terdengar jijik."Gak pernah berubah dari dulu"
"Liatin apa lo?"
Abian menoleh, seketika tersenyum manis ada gadis cantik di sampingnya. "Gak, bukan apa-apa, ayo ke kelas"
Embun diam sebentar, lalu menganggu mengiyakan.
***
"Mika" Pak Edi-Guru BK itu memijit pelan dahinya, kepalanya terasa sakit saat melihat Mika yang lagi-lagi masuk ke ruangan ini. "Kamu sudah lima kali bolos dalam seminggu ini, kamu juga melanggar peraturan sekolah dengan mewarnai rambut kamu kayak gitu, tarus tadi.." Pak Edi menghela nafas."kamu ini monster atau apa ha?! Senior kamu hampir semua udah kamu pukulin sampe nyaris masuk rumah sakit"
Mika merapatkan bibir, mengalihkan pandangan. "Namanya juga anak muda pak"
"Gak usah ngejawab kamu"
Mika langsung menutup rapat mulutnya.
"Mau jadi apa kamu di masa depan nanti kalau kelakuan kamu dari sekarang kayak gini!?"
'Pengangguran'
"Jangan pernah berpikir jadi pengangguran, kasian orang tua kamu"
Mika spontan mengangkat alis tercengang. "Bisa baca pikiran pak?"
Pak Edi mendelik. "Beneran mau jadi pengangguran kamu?"
Mika ter mundur kecil, lalu tersenyum kaku.
***
"Mika"
"Hm?" Gadis itu menoleh, memandang penuh tanya pada Jingga yang duduk di sampingnya."Apaan?"
"Tuh" Jingga memberi isyarat lewat lirikan mata pada seorang pemuda jangkung berwajah tampan yang duduk di pojokan kantin. "Dia suka sama lo"
Jingga mengangguk.
"Gak" Tolaknya begitu saja.
"Lah kok? Dia banyak duit gob*lok!"
"Tapi.. " Mika menopang dagu, menyorot Jingga lempeng."Utang nya di kantin itu tak terhingga"
"Elah cuman gitu doang, kebanyakan milih lo"
"Berisik!"
"Gue takutnya lo doyan cewek njing!"
Mika langsung mengumpat kasar mendengar ucapan itu.
***
Mika hidup sesuai dengan caranya sendiri.
Memikirkan pendapat orang lain, hanya akan menghambatnya mendapat kebahagiaan.
Tidak ada yang berhasil mengerti jalan pikiran Mika, hingga membuat beberapa kalangan orang merasa tidak senang dengannya.
Mika cukup peka, tapi terlalu malas untuk peduli.
"Woy!"
Gadis itu melirik, kemudian mengumpat kasar. "Gue nunggu sejam, bukanya abang grab yang datang ini malah daki kecoa"
"Lo ngomong apa?!"
Mika mengangkat sebelah alis saat pemuda berwajah sangar itu berdiri tepat di depannya. "Daki kecowa" Jawabnya jujur.
"Lo ngomongin gue?"
"Najis"
Pemuda itu lantas tertawa kencang hingga membuat Pak Yanto-satpam sekolah tersentak bangun dari tidurnya sebab kaget dengan suara mengelegar itu.
Mika menguap lepas, setelahnya melirik seorang cewek yang sejak tadi bersembunyi di balik tubuh pemuda itu.
"Siapa lo?" Mika melotot pada cewek yang sejak tadi terlihat terus mengintip memberinya tatapan sinis. "Jelek lo"
"WOY!"
"ANJ-..." Mika langsung mengusap-usap telinganya yang terasa berdengung. "Sialan lo, muncrat nih" Kata cewek itu kesal.
"Berani banget lo ngatain cewek gue kayak gitu!"
"Berani lah!"
Mika mengernyit saat cowok di depannya ini sudah mendelik tajam padanya. "Cewek lo?"
"Iya!"
"Doyan janda lo?"
Cewek yang sejak tadi bersembunyi itu seketika maju dan langsung mendorong keras bahu Mika jelas tidak terima dirinya di katai seperti itu.
"Elo lon*te!"
Mika diam, memandangi cewek itu lama.
"Elo sama tiga teman lo itu sama aja, Sama-sama murahan dasar norak!"
Mika refleks menarik sudut bibir tersenyum miring mendengarnya.
"Jadi elo?" Mika melangkah maju, kemudian dengan kasar meraih kerah baju cewek itu. "Alya kan"
Pemuda yang sejak tadi diam sontak langsung melangkah maju, mendorong Mika menjauh lalu mencengkram erat kerah seragam cewek itu. "Kalau iya kenapa Ha?!" Katanya belagu, diam-diam menarik cewek yang bernama Alya itu kembali berlindung di belakangnya. "Elo cewek jangan kebanyakan tingkah, gue bisa habisin lo dengan gampang kalau gue mau"
"Oh"
BRUK!
Hanya hitungan detik.
"KYAAAA!!" Alya spontan menjerit sangat nyaring, apa yang baru saja dia lihat sangat di luar nalarnya.
bagaimna tidak?!, Mika baru saja membanting kasar pemuda itu ke tanah begitu saja.
Alya kehabisan kata, tidak berkedip saat melihat pacarnya mengaduh kesakitan dan hanya bisa terus terbaring di atas tanah.
"Kenapa?" Mika menepuk kedua telapak tangannya guna menyingkirkan debu yang hinggap di situ. "Lo.. Pengen kayak gitu juga?" Mika menoleh pelan, lalu tersenyum tipis."Hm?"
Alya menggeleng keras."lo gila"
"I know" Mika mengulurkan tangan hendak meraih rambut panjang Alya."Elo mau balas dendam kan atas apa yang teman-teman gue lakuin sama lo tadi?"
Alya terus melotot tajam, mencoba mempertahankan keberaniannya yang menipis.
"Tapi sayangnya lo salah bawa orang buat jadi temeng" Mika tiba-tiba tertawa geli. "Gue heran, kok bisa modelan kek gini bikin Gilang babak belur."
Mika mengangkat sebelas alis saat Alya tiba-tiba menepis tanganya kasar. "Singkirin tangan lo dari rambut gue"
"A-ahhhh makasih dah ingetin gue, anjir ketombe lo nempel semua di tangan gue" Mika dengan gurat jijiknya langsung berlagak mendibas-ngibaskan telapak tangannya panik.
Mendengar ucapan kurang ajar itu spontan membuat Alya mengumpat kasar dan nyaris menjambak rambut Mika namun dengan cepat Mika memelintir tangan Alya lalu menampar kerasa pipi cewek itu.
"Elo bikin jijik" Mika melotot tepat di depan wajah Alya. "Bener-bener bikin jijik, sampah!"
"S-sakit.."
"Lo nangis?" Mika menggelengkan kepalanya pelan."Jangan~" gurat wajahnya di buat se menyedihkan mungkin."ngeri..lo makin jelek "
"Lo... Makin gila ya"
Suara itu... "Bian?" Mika terhenyak kemudian menoleh spontan.
Abian sudah berdiri di sana tepat tak jauh di belakang Mika, memandang gadis itu jijik.
Mika melotot, hingga~
"Abian tolongin gue" Mika tiba-tiba saja sudah tersedu-sedu berlari ke arah Abian lalu memeluk pemuda itu erat. "Mereka mau mukulin gue" Katanya mengadu.
Alya terdiam di tempatnya, ternganga lebar melihat Mika yang dalam sekejab berubah drastis seperti itu.
Abian mengernyit, memandangi Mika tanpa kata.
"Mereka itu monster" Kata Mika sambil menunjuk ke arah Alya dan pacarnya yang sudah melotot tajam pada cewek itu.
"YANG MONSTER ITU ELO!!"
***