
"Ngapain kalian?"
Abian Daniel, cowok tampan berkepribadian buruk itu berdiri menjulang di depan pintu kelas, menatap nyalang pada tiga cewek yang terlihat memojoki seorang gadis yang bernama Alya, teman sekelasnya. "Bukanya tadi gue udah peringatin? Apa yang buat kalian gak bisa cerna omongan gue dengan baik?" Pemuda itu berbicara dengan intonasi yang tenang, namun gurat wajahnya nampak sebaliknya, dingin begitu tidak bersahabat.
"Otak atau telinga kalian yang rusak?"
Galang yang sejak tadi berdiri di belakang Abian hanya bisa memiringkan kepala ingin melihat keadaan di dalam sana, namun yang ia dapati, malah membuat kedua mata cowok itu nyaris melompat keluar.
Jingga berada di tengah kelas, tanganya nampak jelas tengah menjambak kasar rambut panjang Alya yang sudah bercucuran air mata.
"Tuh anak batu banget sih di bilangin" Gumam Galang geregetan juga cemas. Padahal Galang sudah mengatakan kalau ia baik-baik saja, tapi Jingga itu... Kenapa selalu seperti ini.
"Ha?!" Jingga mendorong kasar kepala Alya begitu saja, menepuk telapak tanganya jijik lalu melirik Abian sekilas."Sejak kapan? Dia beneran ngomong gitu?" Tanya Jingga pada kedua temanya yang lain.
"Ngigo kali, dah lah" Jawab cewek berambut sebahu bernama Sharon itu masa bodo.
"Gila dia, padahal gak ada yang pernah ngajak ngomong" Timpal Vannya santai.
Abian mendelik, mengatur nafasnya yang memburu. Ingin rasanya meramas habis wajah-wajah jelek itu. "Keluar!" Desis cowok itu dingin.
"Oke" Jingga melirik Alya yang terduduk di ubin kelas tak berdaya."seenggaknya gue udah cukup puas" Ujarnya yang kemudian beranjak pergi setelah menyempatkan menedang kaki Alya dengan sengaja.
Vannya dan Sharon melempar senyum mengejek, kemudian ikut melangkah keluar.
Suasana kelas jadi begitu hening.
Galang yang semakin merasa tidak nyaman berdehem pelan lalu menggaruk kepalanya canggung." Elo gak pa-pa bro?"
Abian terdengar menghela nafas, lalu mengumpat pelan. "Gue gak mau reputasi gue sebagai ketua kelas hancur hanya karena tingkah cewek lo yang kurang ajar itu" Abian kini menoleh memeberi tatapan mengancam pada Galang yang sudah ketar-ketir di tempat."Jadi sekali lagi gue minta, lo jaga baik-baik tuh 'hama', kalau perlu karungin sekalian"
Galang tida bisa menanggapi banyak, ia cuman tersenyum kaku dan menghindari sorot menusuk yang terus di hujami Abian padanya.
"Eh tapi kok, tumben si Mika gak gabung kali ini" Kata Gilang baru menyadari.
Abian mengangkat alis, diam sebentar lalu melongos masuk ke dalam kelas tidak peduli.
***
Ada apa dengan hari ini?!
Abian terjebak, di situasi yang mana ia hanya dapat diam dan mengamati tingkah orang-orang yang tidak berguna ini.
"YANG MONSTER ITU ELO!"
Mika semakin merapat padanya, Abian mengernyit merasa risih lalu berusaha melepaskan diri dari pelukan erat gadis itu.
Harusnya dia mengikuti kata hati yang mengatakan tidak perlu balik kesekolah mengambil barangnya yang tertinggal, dan akhirnya Abian malah bertemu si gadis luar biasa annoying ini.
"Bian, tolongin gue" Alya kembali berujar lirih matanya melotot berang pada Mika."Dia itu gila, dia cewek jadi-jadian"
"Ngomong apa sih" Mika berbisik keki. "Makin nyebelin, muka lo itu, minta gue injak ya"
"Elo emang sinting, diam aja!" Abian yang mendengar ocehan gadis itu, langsung menegurnya.
"Bantuin gue laporin dia ke kepala sekolah Bian"
Abian memandang Alya sesaat, lalu beralih pada seorang pemuda jangkung berambut keriting yang tampak familiar, kini tengah berjalan tertatih-tatih ke arah Alya.
"Parah juga kondisi cowok lo" Kata Abian menelisik keadaan pemuda berpenampilan urakan itu. "Mika"
"Hm?" Mika yang sebelumnya sibuk melototi kedua sepasang kekasih itu, kini beralih menatap Abian berbinar. "Kenapa sayang?"
Sempat merinding mendengar ucapan Mika, kini Abian balik menatap gadis itu lalu tersenyum~
Senyum....
Sama Mika??!
"Makasih" Ucapan itu terdengar tulus "Gue gak perlu turun tangan buat ngabisin orang yang udah mukulin Gilang"
Mika speechless, jantungnya sudah berdebar gila.
"Sebagai balasan, mau gue anterin pulang?"
Mika mengangkat alis tinggi, melebarkan mata, tanpa sadar sudah menahan nafas.
Abian meringis melihat itu. "Gak mau?"
"MAU! mau banget loh~"
Abian mengerjap kaget, Cowok itu diam-diam menggigit bibirnya pelan "Yaudah" Katanya kemudian beranjak pergi.
Alya menggeram kesal, apa lagi saat Mika dengan kurang ajarnya memeletkan lidah sambil mangacungkan jari tengah pada mereka.
"Lo jelek" Kata Mika sebelum akhirnya berlari pergi menyusul Abian, meninggalkan Alya yang sudah memberinya umpatan kasar.
****
"Bian, mendung tuh bakal hujan deh kayaknya" Mika menatap gumpalan awan yang sudah menghitam.
Abin diam, hanya melirik sekilas gadis di sampingnya itu.
"Kita terobos aja?"
"Hm"
"Kehujanan ga pa-pa?"
"Hm"
"Tapi nanti kalau lo sakit gimana?"
Abian menghela nafas kini memusatkan perhatian penuh pada Mika yang sudah tersenyum usil.
"Lo kenapa sih?" Tanya cowok itu terdengar lelah. "Gak jelas banget"
"Lo gemesin banget kalau lagi kesel gitu" Kata Mika santai, ia kini semakin merapat di samping Abian." Eh tapi gue serius peduli sama elo tau"
"Gak butuh" Balas Abian judes, "Bisa jaga jarak gak?"
"Lah, kenapa?"
"Gue risih"
Mika langsung cemberut mendengar itu. "Kenapa sih, kok kayak jijik banget sama gue"
"Emang" Kata Abian, tidak peduli jika Mika akan sakit hati jika mendengarnya, pemuda itu kini naik ke atas motor lalu menyalakan kendaraan kesayangannya itu. "Bagus kalau lo nyadar"
Mika merapatkan bibir, merasa tertohok mendengar ucapan itu.
"Katanya jijik"
Abin berdecak pelan, menoleh memandang Mika sinis. "Cepetan, banyak bacot keburu hujan nih"
Mika membuang muka, dengan rasa dongkol bergegas naik ke atas motor hitam besar itu, kemudian dengan santainya memeluk erat pinggang Abian yang langsung berjengit kaget.
"Apaan sih lo!?"
"Ngantuk"
"Makin gila lo ya!"
Melihat respon Abian yang seperti itu, dengan isengnya Mika kini menyenderkan dagunya tepat di bahu kiri cowok itu."Nyaman banget"
Abin mendelik, berusaha melepas pelukan erat itu. "Lepas bangsat!"
"Gak mau" Kata Mika keras kepala.
"LO-!" Abian memejamkan mata erat, kemudian mengatur nafasnya yang memburu. "Gue bisa nendang elo dari atas motor sekarang juga" Abian memberi ancaman.
Namun yang namanya Mika, mana peduli dengan hal itu, ia malah semakin senang mendengarnya.
"Yaudah tendang aj-AGH!"
Abian... Memang tidak pernah main-main dengan ucapanya.
Mika meringis, sedikit merasa nyeri di bagian bokongnya. "Tega banget"
"Gue udah peringatin, salah lo sendiri" Balas cowok itu masa modo.
Mika menelan ludah, sedikit ngeri namun juga terasa nagih di saat bersamaan. "Bener, Gue...makin gila" Bisiknya sambil tertawa pelan.
"Sampe kapan lo mau duduk di situ?" Abian mendesah berat."Sini buruan, atau lo mau gue tinggal?"
"Masih mau nganterin gue pulang?"
"Iya" Jawab Abian terdengar ogah-ogahan.
Tidak memperdulikan gurat wajah Abian yang terlihat sangat tidak ramah, Mika dengan senyuman merekah segera kembali naik dan duduk nyaman di atas motor itu.
Abian diam-diam mengamati gerak-gerik cewek itu dari spion motor, setelah memastikan Mika selesai mengenakan helem dengn benar barulah ia langsung menarik gas pergi beranjak keluar dari sekolah itu.
***
Motor Abian berhenti tepat di depan rumah minimalis itu.
Hujan turun dengan derasnya, Mika dengan cepat bergegas turun dari motor kemudian berlari menuju gerbang rumah dan membukanya.
"Ayo masuk, kalau maksain pulang sekarang gak baik" Kata Mika pada Abian yang masih berada di tengah guyuran hujan menatap datar gadis itu dari balik kaca helemnya.
"Kok diam aja sih ayo sini" Kata Mika membujuk lagi.
Abian diam lama, menatap Mika yang menunjukan gurat khawatir di wajahnya.
Pemuda itu mengernyit. "Gak usah lebay" Abian tidak paham kenapa Mika bersikap sampai segitunya.
"Lah! Gue serius ya Abian"
Abian menipiskan bibir, mengalihkan pandangan kamudian berdehem pelan. "Berisik" Ujarnya jengah.
Mika yang awalnya tetapi begitu kesal kini seketika tersenyum lebar saat Abian akhirnya mau masuk ke dalam perkarangan rumahnya.
"Mau minum apa? Yang anget-anget mau ya"
"Hm"
Mika hanya tersenyum tipis saat Abian tidak menatapnya sama sekali bahkan untuk melirik nya sidikitpun tidak.
Jelas cowok itu tidak peduli.
"Duduk dulu gih, istirahat bentar"
Abian melirik sofa di ruang tamu itu, kemudian menatap Mika ragu-ragu."Baju gue basah"
"Gak pa-pa sayang"
"Apaan sih lo, ngeri banget gue dengernya" Balas Abian jadi merinding setiap mendengar Mika mengucapkan satu kata itu.
Mika malah tertawa geli kesenangan. "Yaudah aku ke dapur dulu ya"
Abian mengangguk pelan, melirik Mika sekilas lalu mengalihkan pandangan pada ubun lantai yang tampak bersih mengkilap itu. "Ganti baju dulu sonoh"
"Ha?" Mika yang nyaris berbalik pergi jadi terdiam memandang Abian lama. "Apa?"
"Baju lo.. Ganti" Cowok itu menghela nafas pelan."kelihatan jelas banget"
"Hitam"
Mika mengerjap dua kali, kebingungan sendiri dengan apa yang menjadi maksud dari ucapan cowok di depannya ini.
"O-oke" Balasnya mengiyakan perkataan Abian. Mengernyit dalam, Mika akhirnya berbalik pergi menuju kamarnya.
Abian melirik itu, kemudian diam-diam mengumpat kasar. "Bisa gila gue" Rutuknya.
Di balik itu, Mika yang telah berada tepat di depan lemari baju, masih memikirkan apa yang di katakan Abian.
"Kelihatan jelas?"
Cewek itu tanpa sadar sudah menggigit pelan bibir bawahnya."apaan?"
Mengambil piyama bergambar pororo dari dalam lemari, Mika kini berjalan menuju kasur, melempar sbarangan baju ganti itu lalu mulai melepas satu-persatu kancing seragamnya.
"Apa ya?"
Melirik, entah apa yang membuat Mika tertarik untuk menoleh ke arah kaca rias yang berada tepat di sampingnya.
Gadis itu terdiam kaku.
Hingga sedetik kemudian kedua matanya sontak melebar kaget hingga nyaris menjerit kencang saat melihat pantulan bayangnya di kaca itu.
"Jadi.. Yang dia maksud kelihatan jelas itu.....
"............ "
"BRA GUE!!"