
"Heh!"
Mika melirik malas, lalu membuang muka tak peduli banyak. "Apa?!"
"Weisss santai dong"
Mika mendelik mendengar ledekan itu. Ini orang baru turun dari gunung udah ngeselin aja." Gak jelas lo"
"Tuh cowok siapa?" Ghaly menoleh, memandang lama motor Abian yang baru saja berlalu pergi dari rumah Mika. "Bukan pacar elo kan?"
"Kalau pacar gue kenapa emang?" Mika mengernyit keki. "Banyak nanya lo"
"Gue abang lo" Ghaly berdehem pelan, lalu dengan tenang memasukan kedua tanganya pada masing-masing kantung celana."laen kali kalau mau bawa pacar ke rumah, minta izin gue dulu"
"Dih!"
Ghaly mendelik tajam atas respon spontan yang di berikan Mika padanya. "Dah dih dah dih, kalau di bilangin tuh denger-dengerin."
"Gak usah sok jadi abang yang posesif"
"Posesif? Siapa? Gue? Biasa aja tuh"
"Iyain deh" Kata Mika terlanjur muak.
Ghaly melebarkan mata saat Mika dengan santainya melongos masuk ke dalam rumah melewati Ghaly begitu saja yang sejak tadi berdiri di depan pintu menenteng tas Avtech Kadavu di punggungnya "Heh! Adek macam apa lo, ini bantu bawain barang-barang gue, capek nih"
"Hah? Sory gak denger!" Teriak Mika masa bodo.
...----------------...
"Mika"
"Iya ma?" Gadis itu menoleh sekilas, lalu kembali fokus menatap layar HP nya.
"Besok kita ke rumah nenek"
Kalimat yang di lontarkan Hanggini barusan, berhasil membuat Mika terdiam tanpa sadar menahan nafas. "Ha?"
"Besok kan weekend, bisa kan?" Ujar Hanggini lagi, Mika melirik diam-diam menggigit keras bibir bawahnya merasa ragu.
"Kok diam?"
"Ma-.. " Mika memberi jeda, menelan ludahnya gugup. "Mika gak bisa"
"Lah kok-"
"Ada tugas, Mika harus ngerjain tugas" Mika langsung menyela cepat ucapan Mamanya itu.
Hanggini mengernyit, jelas sekali tidak percaya dengan alasan yang di berikan Mika. "Tumben" Kata wanita paruh baya itu sambil menelisik gurat wajah Mika lamat-lamat, setaunya sudah sangat lama sejak Mika SMP kels 1, dia tidak pernah lagi peduli dengan pekerjaan sekolahnya "Ngerjain tugas di hari libur? Gak usah bohongin mama, emangnya kenapa sih kamu tuh selalu aja berusaha menghindar setiap kali di ajak ke rumah nenek"
Mika menunduk, layar hpnya sudah lama mati kini menampilkan wajah Mika yang tampak murung. "Mika gak suka aja" Katanya pelan.
"Gak suka?"
"Iya" Mika menoleh, memandang lurus wajah Hanggini. "Mika gak suka hadir di acara kumpul keluarga kayak gitu" Katanya dingin menyembunyikan suaranya yang nyaris bergetar.
"Emangnya kenapa?" Hanggini mengernyit dalam, heran dengan ucapan anaknya itu. "Kamu tuh payah, Mama perhatikan dari kecil sampai udah gede kayak gini, kamu gak bisa berbaur dengan orang lain, padahal ini keluarga kamu sendiri loh, apa sih yang kamu takutin"
'Gue..rasanya pengen teriak sekarang juga'
Mika mengehela nafas, sedikit kecewa dengan ucapan Mamanya itu. "Dah lah, mama gak bakal paham"
"Ngomong apa sih kamu?" Suara Hanggini sedikit meninggi terdengar seakan sudah muak. "Pokoknya kita pergi"
Mika memainkan lidah di dalam mulut, hampir saja mengeluarkan umpatan kasar. "Iya ma" Katanya pasrah.
Apa Mamanya tidak sadar?
Mika pergi ke tempat itu hanya akan mendengar cibiran tak sedap dari kerabat-kerabatnya.
...****************...
Dan di sini lah dia sekarang.
Berdiri diam tampak bodoh dan menyedihkan di tengah-tengah orang-orang yang memandangnya remeh. "Iya tante" Kata Mika sambil tersenyum tipis.
"Jangan terlalu banyak bolos nya kamu, nanti malah dapet peringkat terakhir lagi"
Mika tersenyum. "Iya tante"
Tante Arum-Bunda Embun, tersenyum manis kini beralih menatap Hanggini yang duduk di sampingnya."Eh kak, si Embun kemarin dapet juara pertama di Olimpiade sains loh"
"Wahhh hebat ya" Seru Hanggini, Diam-diam melirik Mika yang diam saja memasang gurat wajah datar. "Embun emang anak baik, Mika kamu contohin dong si Embun"
"Duh si Mika tuh bisanya cuman makan tidur, udah gede kayak gini tapi pemalas, aku sampe pusing liatnya, padahal dulu waktu muda aku gak kayak begini loh, gak tau deh nih anak niruin sikap siapa"
Mika merapatkan bibir, Lagi-lagi mendengar ucapan itu dari mulut Mamanya sendiri.
Di depan semua orang Hanggini berucap seperti itu.
Bagaimna mungkin Mika tidak sakit hati.
"Kamu terlalu manjain dia, kak" Kata kerabat lainya ikut nimbrung dalam topik pembicaraan ini.
"Embun, kalau dari pengamatan kamu, Mika tuh orangnya gimana di sekolah?"
Embun diam sebentar saat tiba-tiba mendapat pertanyaan itu. "Dia... Ngeselin, banyak tingkah"
Mika menipiskan bibir, entah kenapa tidak dapat membantah kalimat itu.
"Yang pastinya kalian itu bedah jauh kan"
Mika melirik tajam, pada cewek rambut sebahu yang bernama Dian, adik sepupu Mika.
Adik? Mika mengernyit, merasa jijik sendiri dengan pikiranya.
"Kamu jangan kayak Mika ya, Embun" Kata Hanggini lembut.
Mika benar-benar tidak habis pikir.
Semenarik itu kah membicarakan kekurangan orang lain?
Mika tidak melakukan sesuatu hal yang merugikan orang-orang ini, tapi...
'Kenapa gue di perlakukan kayak gini?'
Mika ingin berlari pergi, di suatu tempat di mana hanya ada ia seorang, karena sekarang ini Mika benar-benar ingin menangis, kedua matanya sudah memanas nyaris mengeluarkan air mata.
Tidak ada yang mencoba merangkulnya, ia hanya seorang diri di sini.
Harusnya..
.. Mika tidak di sini.
Mika menggigit bibir, dadanya terasa sesak, matanya melirik ke arah gadis sebayanya yang sejak tadi duduk di samping Tante Arum.
Menyorot Mika lurus, tatapan yang seolah mengatakan kalau..
'Elo benar-benar kasihan, Mika'
Membuang muka, Mika tak sanggup menerima sorot menyakitkan yang di berikan Embun padanya.
Siapapun tolong Mika sekarang juga.
Siapapun..
Ting!
Bian: keluar, gue di depan
Bian: Abang lo yang ngasih tau kalau lo di sini.
Bian: gue ada perlu sama lo, bentar doang.
Mika melebatkan mata, jantungnya langsung berdetak kencang senyumnya langsung melebar senang seketika, gurat wajah yang suram telah hilang entah ke mana.
Cewek berpipi bulat penuh itu tanpa pikir panjang berlari keluar rumah, tidak peduli dengan suara teriakan Hanggini yang memanggil-manggil namanya.
Ibarat bertemu dengan orang yang telah lama menghilang lalu datang kembali, gadis itu langsung melesat melihat sosok Abian yang berdiri di samping motor hitam besarnya sibuk mengotak atik HP belum menyadari keberadaan Mika.
Mika yang tidak dapat lagi mengontrol perasaanya langsung memeluk Abian erat dengan senang.
Abian yaang tiba-tiba di rengkuh gadis itu tentu saja kaget setengah mati bahkan nyaris saja terjungkal ke belakang jika ia tidak dengan cepat menjaga keseimbangan tubuh.
"Eh kenapa lo?!" Tanya Abian heran refleks balas merengkuh tubuh Mika. "Otak udang, gue hampir jatoh woy! Sint-......
......Eh?" Abian mengangkat alis, terdiam kaku saat mendengar isak pelan dari gadis yang tengah memeluknya erat saat ini.
"Lo........
...Nangis?"
Mika tersenyum di balik dada bidang pemuda yang ia suka itu. "Makasih Bian, makasih udah ada di sini"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...