
Di sebuah gudang, yang letaknya tak jauh dari kantin sekolah.
"Mik"
"Hm?"
Vannya menatap Mika yang tengah santai mengisap Vape, sambil menatap serius HP di tangannya.
"Nanti malam free nggak?"
"Hn"
"Clubbing kuy"
Mika menoleh sekilas lalu kembali menatap HP sambil menggeleng pelan. "Males"
"Elahh elo mah males mulu, sekali doang juga"
Mika terkekeh geli."Diam deh"
Vannya berdecak kecil, akhirnya menyerah juga.
Di antara circle mereka memang hanya Mika lah yang paling susah di ajak ke tempat seperti itu.
Mungkin dia akan mau memasuki club jika mendapat kabar kalau salah satu temanya sudah tepar karena mabok.
"Eh lo kenal gak sama anak kelas 11 IPS 3 yang nama Alya?"
Ketiga gadis di situ menoleh dengan tampang bingung pada seorang cewek berambut panjang bernama Jingga yang tengah memasang gurat serius, dikedua mata tajamnya itu jelas memanjarkan sorot marah yang kentara.
"Gak tuh, kenapa emang?" Balas Sheron acuh, lalu kembali melanjutkan game di HP yang sempat ia pause.
Jingga berfecak kesal lalu mengumpat kasar, Vannya dan Mika sampai saling pandang bingung dan merasa sedikit ngeri melihat keadaan Jingga saat ini.
Jingga itu orangnya cuek paling tidak suka hal ribet, pribadinya yang lebih tenang dari pada yang lain membuatnya menjadi orang yang paling jarang marah, tapi... Sekalinya marah-
"Anj*ng!"
Mika terlonjak kaget saat meja di depannya tiba-tiba di tendang kasar oleh Jingga yang sudah termakan emosi.
Jingga sekalinya marah nyeremin banget ngalahin Riana Antoinette.
CANDA! gak sampe segitunya.
Tapi emang nyeremin sih.
"Weisss boleh juga tendangan lo, Messi aja sungkem kalau liat"
Jingga langsung menoleh, mendelik tajam ke arah Vannya dengan muka yang sudah memerah menahan emosi.
Vannya menelan ludah gugup lalu menyengir bodoh.
"Lo pikir gue ngelucu Van?"
Vannya merapatkan bibir lalu menggelengkan kepala panik.
Mika meringis melihat itu, kemudian menyikut pinggang Sharon yang sejak tadi duduk tenang di sampingnya tak juga berhenti bermain game, Mika bermaksud meminta Sharon untuk mengajak Jingga bicara baik-baik.
"Bentar-bentar dikit lagi nih, dikit lagi bakal menang gue" Kata Sharon tak terduga membuat Mika mendelik gemas.
"Kenapa sih Ga, cerita dulu lah ada masalah apa, kayaknya parah bener masalah lo sampe emosi banget kayak begini" Kata Mika tenang menarik Jingga mendekat, mencoba meredam amarah temanya itu.
Vannya mengguk membenarkan ucapan Mika.
Jingga melirik itu, kemudian menghela nafas berat. "Gini loh, tuh pela*ur sinting yang namanya Anya itu, bisa-bisanya dia ngelapor sama cowoknya kalau si Gilang udah ngelecehin dia"
"HA?!"
Jingga mengguk meyakinkan saat ketiga temanya itu tampak terperangah. "Kemarin Gilang di hantam rame-rame, cowoknya si Anya itu bawa teman"
"Tapi si Gilang beneran gak lecehin tuh cewek kan?"
Jingga menjitak kasar jidat Vannya yang baru saja melontarkan pertanyaan itu. "Gilang emang brengsek, doyan gonta-ganti cewek tapi gak pernah sampe *****-grepein anak orang, gayanya aja yang sok" Jingga menyisir rambutnya kebelakang. "Gue pernah sekali nyium dia di pipi, eh tuh bocah malah langsung teriak histeris ngancem bakal ngadu ke emaknya, modelan kek gitu mau ngelecehin cewek?" Gadis itu tertawa remeh.
Mika tampak mengernyit."Terus sih Anya ini siapanya Gilang, kenapa sampe berani nuduh kayak gitu?"
"Anya suka sama Gilang, udah berapa kali nembak tapi sih Gilangnya nolak, yaa mo gimana lagi kan, Gilang mah cuman mau sama cewek yang belum ada pawangnya." Jawab Jingga kalem. "Terus gitu deh, tuh cewek gak Terima dan malah ngedrama gak jelas bikin jijik"
Sharon meletakan HP di pahanya lalu merogoh permen karet di saku seragamnya. "Terus keadaan cowok lu gimana?"
Jingga berdecak kesal."badanya memar, tuh muka udah bonyok semua" Jawabnya dingin kemudian meraih jeket kulit yang terletak begitu saja di lantai kemudian mengenakannya. "Lu semua ikut gue"
"Lah kemana?" Vannya berdecak, menatap semangkuk mie bakso di tangannya. "Belum abis nih"
Mika berdehem kencang saat melihat kilatan tajam yang terpancar dari kedua mata Jingga. "Dah ah, nanti beli lagi sama Kang ujang" Bapanya segera menarik tangan Vannya untuk beranjak.
Sheron sudah sumringah."mau kemana nih, nge damprat tuh cewek?"
Mika menggeleng tegas."Aturanya sih harus 'lebih' dari itu"
Vannya dan Sheron sudah bersorak heboh, Jingga hanya diam saja dengan gurat serius.
***
"Ngapain lo?"
Mika tanpa sadar menahan nafas dengan kedua mata yang melebar tertegun. "Eh?" Katanya gelagapan.
Cowok jangkung itu sudah berdiri tegap di depan pintu kelas, lengkap dengan gurat wajah yang tampak tak bersahabat.
Bisa-bisanya Mika lupa kalau cowok yang ia suka ini, juga termasuk murid 11 IPS 3.
"Eng.. Anu-.. Itu apa namanya-.."
"Ngomong yang jelas" Kata Abian kalem, kemudian melirik ketiga gadis yang berdiri di belakang Mika. "Gak usah buat aneh-aneh di kelas gue"
Mika menelan ludah gugup, lalu tersenyum pahit saat pemuda itu berlalu pergi dari hadapanya entah mau kemana.
"Apa nih, gue perhatiin lo sejak suka sama tuh cowok malah jadi lembek kayak anak kucing begini" Cibir Sharon, di angguki oleh Vannya seolah membenarkan.
Jingga melirik, melihat Mika tak dapat membalas dan hanya menyeringai lebar. "Elo Mik kalau ragu-ragu mending gak usah" Kata Jingga datar.
Mika masih diam di depa pintu kelas, bahkan saat ketiga temanya sudah masuk lebih dulu untuk mencari cewek yang bernama Anya itu.
"Sialan!" Mika mengumpat, kemudian dengan ragu-ragi memilih beranjak pergi menuju kantin sekolah alih-alih ikut masuk ke kelas itu mengikuti teman-temannya.
"Iya ya, kok gue jadi gini, kenapa gue harus peduli sama tanggapan Abian kalau sampe tau gue macem-macem sama teman sekelasnya." Mika menghela nafas, terus melangkah gontai tanpa memperhatikan jalan di depannya.
"Gue harap pas udah balik dari kantin, si Jingga udah selesai sama tuh cewek." Kata Mika pelan, lalu bergerak menyelipkan anak rambutnya di balik telinga.
"Kenapa sama si Jingga dia ngapain?"
Mika mengerjap dua kali, lalu mendongak."Apa!?" Kata Mika tidak santai saat melihat keberadaan Gilang di depannya.
"Weissss santai dong, gue cuman nanya" Kata Gilang yang sempat termundut kecil sebab kaget dengan respon dari cewek di depannya ini.
Mika berdecak pelan."Ternyata bener" Katanya memperhatikan detail wajah Gilang.
"Apa?"
"Muka lo bonyok semua, makin jelek lu"
Gilang mendelik mendengarnya."Sembarangan, eh gue bonyok-bonyok begini malah kelihatan keren, lebih LAKIK!"
Mika tersenyum kecut dengan alis yang terangkat tinggi. "Iyain aja deh"
"Teman-teman lo mana?" Sebuah suara lain menyeletuk.
Mika sedikit memiringkan kepala ingin melihat siapa cowok yang berada tak jauh di belakang Gilang. "Eh, ada ayang?"
"Ha?" Gilang menyorot ngeri dengan tingkat kepedean Mika yang melewati batas wajar.
Mika tak mengindahkan tanggapan Gilang, fokus gadis itu sudah tertuju pada pemuda tampan yang melangkah mendekat hingga berdiri tepat di samping Gilang.
Abian meringis, melihat binar di kedua mata Mika. "Kenapa lagi lo? Aneh"
Mika tersenyum lebar, kemudian tanpa pikir panjang langsung maju ke depan hendak memeluk Abian namun dengan cepat cowok itu menahan kepalanya, mendorong gadis itu menjauh. "Isss kenapa sih, cuman mau peluk doang, pelit!" Kata Mika cemberut.
Gilang ternganga lebar, tak percaya dengan apa yang ia lihat. "Mik? elo masih aman kan, sejak kapan lo sok imut gini?" Katanya tak terima."kalau sama gue lo udah kayak singa lepas kandang tau gak, kenapa giliran sama Bian lo-.. "
"Gak tau deh, gak tau deh, gak tau deh" Kata Mika masa bodo.
Gilang mencibir. "Dasar bucin, hayolo si Bian lagi naksir sama teman sekelasnya"
Satu-satunya cewek yang berhasil menarik perhatian Abian Daniel.
Embun Fredeela.
Mika diam lama, kemudian memaksakan senyum manis terukir di wajahnya.
Abian mengernyit halus memandangi gurat tak terbaca cewek pendek di depannya itu, apa maksudnya, "Apa?"
"ha?"
"Gue gak tau apa yang lagi lo pikirin sampe tiba-tiba melototin gue kayak gitu" Jelas Abian pada Mika.
Mika refleks mengerucutkan bibirnya lucu sambil melirik Gilang sinis.
Abian mengerjap melihat itu, kemudian setelahnya terdengar pemuda itu menghela nafas pelan lalu menoleh pada Gilang di sampingnya yang sudah terdiam terperangah melihat keadaan Mika.
"Heh!"
"Eh? ha?" Balas Gilang sedikit linglung. "Apa?" Tanya pemuda itu saat melihat gurat kesal yang di tunjukan Abian.
"Elo berisik njing!"
"Lah?"
Abian kembali menatap Mika. "Elo ini..." Abian memainkan lidah di dalam mulut, mengamati kedua pipi Mika yang sudah memerah. "Bego, mau aja di akalin sama dia"
Setelan mengucapkan demikian, pemuda itu langsung beranjak pergi tanpa menoleh sedikitpun.
Mika menatap itu dalam diam, melupakan keberadaan Gilang yang masih di dekatnya.
"Woy"
Mika memutar mata malas. "Apa lagi sih, mending lo pergi sebelum gue jambakin rambut lo"
Gilang berdecak. "Cuman mau nanya elahhh sensian terus lo sama gue"
"Yaudah sih cepetan"
"Jingga mana?"
Mika menoleh, menatap Gilang sebentar. "Gak tau"
"Ck! Oke deh, bye"
"Dih!" Mika mendelik pada Gilang yang beranjak pergi setelah mengibaskan rambut ala-ala iklan sampo. "Sarap tuh orang".
***
"Elo kemana sih tadi?"
Mika melirik, lalu berdehem pelan. "Ada urgent mendadak, jadi gak bisa join bareng" Jawabnya mencoba sesantai mungkin menjawab pertanyaan Sharon.
Vannya mengangkat sebelah alis."alah alasan lo doang, paling pergi nyisulin si Bian"
Mika memutar bola mata jengah."nggak njing" Balasnya jujur, toh memang benar, dia memutuskan pergi ke kantin dan bukan menemui Abian, mereka bertemu tanpa sengaja. "Dah lah, terus gimana tadi, dah beres"
Jingga diam saja, kini lebih dulu memasuki mobil.
Sharon mengangguk, kemudian berujar tenang. "Hm, tuh cewek sampe nangis gak karuan, si Jingga emang gak tanggung-tanggung kalau ngebales orang yang udah cari masalah sama dia." Katanya.
Vannya mengangguk, lalu meludahi permenkaret dari mulutnya sembarangan. "Yakin lo gak ngikut sama kita?" Tanya cewek berwajah lembut itu pada Mika.
Mika menggeleng tegas. "Males"
"Elahh buset, itu mulu alasan lo"
Sharon menepuk pelan pipi Vannya. "Gak usah maksa Nape sih, terserah Mika dong dah yok masuk mobil." Katanya sambil mendorong Vannya agar segera beranjak. "Mik kita duluan ya, lo hati-hati pulangnya" Sambungnya sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam mobil.
"Yoi, jangan sampe mabok loh, gue lagi mager buat nge jemput lu pada ke club"
Vannya membuka kaca mobil, lalu mengacungkan jempol pada Mika. "Gue jamin bakal mabok lagi kali ini"
Mika mengumpat kasar."Serah lo" Katanya pasrah.
Akhirnya setelah melempar bacotan satu sama lain, mobil Jingga akhinya berlalu keluar dari halaman sekolah.
Mika memandangi itu dalam diam beberapa saat, kemudian menghidupkan ponselnya hendak menghubungi Abang nya.
"Kebiasaan" Cibirnya kesal saat panggilannya di tolak berkali-kali. "Gak ada aklak dasar! Punya abang kok gini amat"
Mika menghela nafas, kemudian melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. "Terpaksa pesan gojek lagi"
Mika terus melangkah gontai, hari sudah sore, dan tubuhnya sudah terasa lelah, ia benar-benar ingin segera sampai rumah dan langsung tidur pulas di kasur kesayangannya.
Melewati parkiran, langkah kakinya sontak terhenti kemudian menoleh, tepat ke arah dua insan yang saling berhadapan sedang mendebatkan sesuatu.
"Kali ini aja Embun, kenapa lo selalu nolak gue, gue cuman mau anterin lo pulang itu aja kok"
"Gak perlu, gue bakal pulang bareng sama Eden." Gadis bernama Embun itu menyorot datar, kemudian berujar kembali dengan tenang."harusnya.. Lo udah tau itu Bian, jadi lo gak perlu repot-repot ngajakin gue pulang bareng"
"Tapi Em-.."
"Gue gak mau denger apa-apa lagi, gue males debatin hal yang gak penting"
Abian tampak diam, namun bahkan saat Mika tidak berdiri di dekat pemuda itu, Mika bisa melihat dan merasakan jelas rasa kesal yang tengah cowok itu bendung.
"Coba aja kalau gue yang lo tawarin pulang bareng, di jamin elo gak bakal dapet penolakan Bian" Bisik Mika lirih, lalu menghela nafas. "Cinta sepihak itu, manis-manis asem"
Mika memainkan lidah di dalam mulut, sedang menimbang-nimbang suatu hal yang tiba-tiba terlintas di pikiranya.
"Atau gue aja yang ngajakin dia pulang bareng?" Mika mengetuk dagunya menggunakan jari telunjuk, lalu melirik ke arah Abian. "Karena kalau nungguin dia yang nawarin sama gue duluan, sampe abad berikutnya juga gak bakal kejadian"
Gadis itu mengangguk yakin, senyumnya merekah lebar seketika, kedua kakinya langsung melangkah girang ke arah Abian tanpa beban.
"Kenapa sih? Kenapa lo lebih milih cowok sampah kayak dia"
Mika sontak menghentikan langkah saat mendengar kalimat itu terlontar dari Abian sambil menunjuk tepat pada seorang pemuda jangkung yang entah datang dari mana terlihat melangkah tenang ke arah Embun.
"Lo berisik banget" Kata Embun tampak muak.
"Jelas-jelas gue lebih baik dari dia, cowok miskin pecundang kayak dia gak guna Embun, apasih yang lo lihat dari dia?"
Mika merapatkan bibir, tertegun melihat Abian yang tampak hilang kendali. Yaaa sebenarnya Mika tidak terlalu kaget melihat sikap Abian yang seperti ini.
Abian itu kenyataanya bukan cowok yang lemah lembut, tenang kalem dan berakhlaq mulia.
Dia hanya manusia biasa yang banyak kurangnya. Sejak awal ketemu cowok itu, Mika sudah bisa menilai jika Abian adalah cowok sombong arogan, dan egois.
"Embun, udah selesai?"
Embun menoleh ke arah samping, pada cowok bernama Eden Malewa itu, Satu-satunya sahabat Embun sejak kecil. "Udah, pulang yuk"
Eden mengangguk kalem, tak lupa tersenyum lembut ada gadis bermata sayu itu. "Hm, ayo pulang" Balasnya tenang kemudian menyempatkan melirik kecil pada Abian.
Mika menghela nafas, memandang Embun dan Eden yang sudah beranjak pergi begitu saja, gadis itu melirik Abian, kemudian memilih mendekati pemuda yang tengah menahan luapan emosinya itu.
"Bi-.. "
"Ngapain sih, muak gue liat lo terus"
Baru juga Mika hendak menyapa, Abian sudah lebih dulu memberinya kalimat kurang menyenangkan.
Gadis itu terkekeh merdu, membuat Abian mendelik melihat itu. "Gila lo ya, kenapa lo malah di sini ha? Seru? Seru ngeliatin gue di gituin sama mereka!" Kata Abian meluapkan emosinya, kedua matanya melotot tajam, namun Mika... Sangat menikmati gurat wajah pemuda itu sekarang.
Ketampanannya meningkat drastis.
"Kenapa lo malah senyum-senyum kayak gitu? Minta gue tonjok?!"
Mika menggeleng pelan, kemudian menjawab tenang pertanyaan Abian. "Gue senang"
Abian meringis, ngeri sendiri mendengar jawaban aneh dari gadis sinting di depanya itu.
"Kali ini, tanpa repot-repot ngerusuh dulu biar dapet perhatian lo..., elo malah udah lebih dulu nyadar kalau gue ada di dekat lo"
Abian diam, memandang binar di kedua mata Mika. "Gue gak ngerti" Katanya kesal kemudian berlalu pergi.
Mika hanya memandangi itu tanpa berkomentar apapun.
***