
Sudah dua hari Akram tidak pernah lagi mendatangi Rara. Dua hari itu pula, Akram tidak pernah lagi menyiksa bahkan menyusahkan Rara. Bahkan selama dua hari ini, Rara tidak pernah melihat Akram di kantin. Rara biasanya hanya melihat Akram di lapangan saat bermain basket saja.
Saat ini Rara berada di perpustakaan. Biasanya ke mana-mana dia selalu bersama Citra, tapi entah ke mana cewek itu. Tadi juga Rara sempat mencari Citra di kelasnya, tapi kata teman kelasnya Citra tidak hadir. Izin katanya, Rara juga tidak sempat bertanya sama Fikra tadi.
Rara keluar dari perpustakaan, saat memasang sepatunya. Ia tidak sengaja melihat Cyka. Tatapan mereka bertemu, Cyka menghampiri Rara. Rara yang sudah selesai mengikat tali sepatunya langsung berdiri.
"Gue liat-liat dua hari ini lo hidup teneng yah?"Tanya Cyka, ke dua tangannya melipat. Menatap tidak suka ke arah Rara. Sedangkan Rara hanya menunjukkan wajah datar.
"Lo mau cari muka sama Akram?"Tanyanya lagi.
Dahi Rara mengernyit"maksud lo apa?"tanyanya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan arah pembicaraan Cyka.
Cyka berdecih"lo gak usah pura-pura gak tau deh. Lo sengaja kan, nolongin gue buat cari muka di depan Akram. Iya kan?"Cyka membentak pada kata terakhir.
"Gue emang sengaja. Tapi niat gue cuman nolongin lo doang, bukan buat cari muka di depan Akram. Lagian gak ada gunanya juga"Balas Rara. Baru kali ini Rara berani melawan pada Cyka, selain di kantin saat itu.
"Lo udah berani sama gue? Lo udah gak takut sama gue? Oh..gue tau, lo ngode biar gue sama Akram kembali bully lo. Gitu?"
"Bilang aja. Gak usah pake ngode"
Rara menatap kesal Cyka. Tatapannya tidak bersahabat, seperti ada dendam di dalam matanya. Selama ini dia sudah sabar menerima siksaan Cyka dan teman-temannya. Dan kali ini, Rara tidak akan tinggal diam lagi. Ia sudah lelah di perlakukan seenaknya.
"Lo gak usah sok berkuasa di sekolah ini. Lo juga bukan siapa-siapa di sekolah ini, jadi lo gak usah banyak tingkah"Balas Rara. Cyka terdiam, telapat tangannya dia angkat ke udara, bersedia mendarat di pipi Rara. Tapi, Rara menahannya lalu menghempasnya. Cyka semakin emosi di buatnya.
"Dulu gue emang diem aja saat lo perlakuin kayak gitu. Karna saat itu gue sama sekali gak punya pendukung. Tapi sekarang udah beda, gue udah punya dua pendukung"
Cyka masih diam.
"Sekali lagi lo nyentuh gue. Gue gak bakalan tinggal diem aja. Inget!Rara yang dulu udah beda"Rara mengakhiri ucapannya. Dia memperbaiki letak kaca matanya, lalu berjalan cepat menuju kelasnya.
Jujur jantung Rara berdenyut hebat saat mengatakan itu pada Cyka. Dia gak nyangka bisa seberani itu. Bangga. Itu yang sedang di rasakan oleh Rara sekarang.
Sedangkan Cyka, tangannya mungkin sudah terkepal kuat.
_______
Dari arah lapangan, Akram melihat dua orang gadis tengah berbincang di depan perustakaan. Salah satunya adalah Cyka. Selesai basket, Akram duduk di pinggir lapangan sambil meneguk satu botol air mineral. Sesekali memperhatikan dua gadis tersebut.
Dari arah samping, Kito datang dan langsung menepuk bahu Akram. Membuat Akram menoleh ke arahnya.
"Minta minum dong boss, gue haus"Pinta Kito. Dia juga habis basket, dan itu membuatnya ikut kelelahan.
Akram melemparkan botol airnya yang tinggal setengah. Kito menangkapnya dan langsung meminumnya dengan sekali tegukan.
Akram masih penasaran dengan apa yang di perbincangkan Cyka dan Rara. Bahkan fokusnya tidak luput dari sana, mata Akram juga sempat menangkap Cyka hendak menampar Rara, tapi Rara menahannya.
"Liat apaansih?"Tanya Kito. Menyadarkan Akram.
"Udah lama juga yah, kita gak bully tuh cewek"Ungkap Akram. Kito terkejut, setelah apa yang di lakukan Rara pada mereka, apakah Akram berniat ingin membully Rara kembali.
"Udah lah boss, dia udah baik sama kita. Jadi gak usah lagi lah bully tuh cewek. Cari target lain aja"Bujuk Kito. Dan itu membuat Akram terdiam.
"Lo inget ucapan Alex? 'Dengan nyakitin cewek, lo sama aja nunjukin sikap banci lo'"Ucap Kito. Mengulangi ucapan Alex beberapa hari yang lalu.
"Gue juga salah di sini. Maka dari itu gue gak mau nargetin cewek lagi. Gue saranin nih ya, kita gak usah lagi bully cewek. Lagian ucapan Alex tempo hari ada benarnya"
Akram berdiri. Membuat Kito ikut berdiri.
"Lo mau ke mana?"Kito bertanya.
"Ke Clara"
________
Kebetulan saat ini Fikra ada di kelas. Rara akan bertanya perihal kenapa Citra tidak hadir. Rara menghampiri Fikra yang tengah sibuk bermain ponsel.
"Fikra?"
"Iya?"
"Citra kenapa enggak sekolah?"Tanya Rara.
"Tapi saat gue telpon, dia gak angkat"
"Hp nya lobet mungkin"
"Jadi, yang jagain dia siapa?"Tanya Rara. Karna setaunya, Citra hanya tinggal berdua dengan Fikra. Orang tua mereka lagi menjalani bisnis di luar negeri selama lima bulan.
"Ada bibi inem"
Baru akan bertanya lagi. Tapi tiba-tiba seseorang datang dan langsung menarik tangan Rara. Rara tentu terkejut, tapi di sisi lain, Fikra ikut menarik tangannya. Mencegah orang tersebut membawa Rara.
Mereka bertiga menjadi pusat perhatian. Utamanya Rara.
"Lo mau bawa Rara ke mana?"Tanya Fikra dingin. Tatapan matanya yang seperti elang tertuju pada pria tersebut. Akram.
"Bukan urusan lo!"Tampa basa-basi. Akram langsung menarik tangan Rara keluar kelas. Fikra menendang meja,membuat semua orang terkejut.
Rara sedikit berlari karna langkah Akram yang lumayan panjang. Bahkan Rara memberontak dan berusaha melepaskan cekalan tangan Akram dari pergelangan tangannya. Tapi tetap saja, tidak bisa.
Akram membawa Rara ke rooftop, menyuruh Rara duduk di kursi kayu yang memang sudah tersedia di situ. Akram melangkah mendekati Rara, membukukan badannya. Mensejajarkan wajahnya dengan wajah Rara.
Takut?tentu. Rara takut saat berhadapan dengan Akram. Rara bisa saja melawan, tetapi Akram cowok. Tentu Akram yang lebih kuat.
"Ini siasat lo kan?"Bisik Akram. Rara merinding saat nafas Akram menerpa wajahnya.
"Siasat apa?"
"Lo udah dua kali bantuin gue. Itu siasat kan biar gue luluh sama lo?"Bentak Akram, ia mencekal lengan Rara. Rara meringis, cengkraman Akram benar-benar sakit.
"Lo sama Cyka sama aja, selalu nganggep gue buruk. Emang gue pernah apain lo sampe lo selalu berpikiran buruk tentang gue!"Bentak Rara. Akram menguatkan cengkramannya, membuat Rara meringis.
"Le..lepas Akram. Sakit"Air mata Rara jatuh. Tampa sengaja. Akram terkejut melihatnya, biasanya jika melihat Rara menangis ekspresinya biasa-biasa saja. Tapi kali ini..beda.
"Hiks"
Akram melepaskan cekalan tangannya dari pergelangan Rara. Dia membuang muka.
Bug
Dari arah pintu rooftop . Fikra keluar dan langsung memberi Akram tinjuan. Perilaku Akram benar-benar sudah keterlaluan. Akram hanya diam saja.
Fikra menghampiri Rara. Langsung menarik tubuh Rara ke dekapannya. Dia menenangkan Rara. Akram yang melihatnya langsung membuang muka.
"Brengsek lo!"
_______
Hari ini Rara memutuskan untuk menjenguk Citra. Dia hanya ikut di Fikra saja, itu pun Fikra yang mengajaknya. Di dalam mobil hanya terjadi keheningan. Mereka berdua sama-sama pendiam. Jadi akan sulit untuk memulai pembicaraan.
Untuk memecah keheningan,Rara menyalakan musik. Memutar lagu kesukaannya-imagination.
Fikra menoleh ke samping, melihat Rara bersenandung mengikuti tiap lirik lagu.
"Lo suka lagunya?"Fikra bertanya. Membuat Rara menghentikan senandungnya.
"Suka banget. Kalau gue lagi gabut, gue pasti putar lagu ini. Emang lo juga suka?"
"Suka"
"Apanya?"
"Lo-nya"
.
.
.
gimana part ini?udah bagus gak?jangan lupa tekan suka dan favorit yah:)
see you