I love My bully girl

I love My bully girl
Akram luluh



"Kak Rara?"



Langkahan Rara berhenti, dia menoleh ke belakang. Sosok kakak beradik berjalan menghampirinya, Citra tersenyum dan Rara ikut tersenyum membalas.



"Kenapa kak Rara masih pake kaca mata? Rambutnya juga kenapa di kepang dua, sih?"



"Kalau lo gak suka sama penampilan gue, gue gak masalah. Karna ini diri gue yang sebenarnya"



Setelah itu, Rara pergi meninggalkan mereka berdua. Sebenarnya Rara tidak berniat menyinggung perasaan Citra, tapi dia sedikit kesal karna Citra yang terus bersikukuh agar Rara mengubah penampilannya.



Fikra menatap kepergian Rara, menyusulnya, berusaha menyesuaikan langkahnya dengan Rara.



"Kayaknya gue salah" Citra bergumam.



---------



Perkataan Citra gak usah lo pikirin. Dia kayak gitu karna dia enggak ingin lo di bully terus.



Rara membuang gulungan kertas dari Fikra, mengambil kertas baru lalu menulis sesuatu juga di sana, kertas itu di gulung lalu di lempar pada Fikra.



Gak pa-pa. Gue aja yang terlalu baperan



Fikra menoleh ke belakang, dan tepat saat itu juga Rara tersenyum padanya. Hati Fikra berdenyut, ada apa dengannya?



------



Bel istirahat berbunyi. Untuk ke kantin, Rara tidak perlu berpikir berkali-kali lagi. Rara pasrah saja Jika memang dia akan di bully di kantin, Rara sudah terbiasa di perlakukan seperti itu.



"Lo yakin mau ke kantin?"Nada suara Fikra terdengar khawatir. Rara tersenyum, menghargai pertanyaan Fikra.



Rara berjalan menuju kantin, kantin terdengar ramai. Sepertinya Akram dan teman-temannya sedang tidak di kantin, Rara bersyukur pada tuhan untuk itu.



Rara membawa satu mangkok bakso ke meja yang sama sekali tidak ada penghuninya, dan itu lebih baik. Dari pada gabung dengan yang lain, yang akhirnya malah di usir.



Sedang asyiknya memakan bakso, kedatangan Citra menghentikan ritual makan Rara.



"Boleh duduk sini kak?"Citra bertanya takut.



"Gak ada yang larang, duduk aja"



Baru akan memasukan suapan pertamanya setelah Citra datang, tapi lagi-lagi Citra menghentikannya.



"Kak Rara masih marah?"



"Marah? Untuk?"



"Karna, karna tadi pagi"



"Mungkin"Rara tersenyum jail.



"Maaf kak" Citra menunduk. Merasa bersalah, Rara juga merasa kasihan melihat Citra yang tampak merasa bersalah. Padahal Rara tidak marah sama sekali, hanya sedikit.. Kesal, itupun kesalnya hanya tadi pagi.



"Becanda, gue gak marah"



"Beneran?"



"Iya"



Setelah itu tidak ada percakapan lagi. Citra memasukan suapan pertamanya di dalam mulutnya, sambil senyum-senyum sendiri.



"Em, kak? Gue boleh ngajak lo gak?"



"Ke mana?"



Citra mengunyah dulu bulatan baksonya, sebelum melanjutkan omongannya.



"Ke rumah paman gue"



"Untuk?"



"Paman gue kan guru karate, dan setiap hari jum'at sampai minggu, gue biasanya di ajari karate sama paman gue"



"Terus?"



"Kak Rara mau gak di ajarin karate? ini kan hari jum'at, jadi kita bisa latihan bareng. Biar lo kuat, dan gak di tindas mulu"



Rara menatap Citra, lama. Dan itu membuat Citra merinding, apa dia salah bicara lagi?



"Makasih tawarannya"Ucap Rara, Citra menunduk. Membuang nafas kasar, dia kecewa, tapi dia juga tidak bisa memaksa Rara.



"Gue mau banget"Lanjut Rara, Citra langsung kegirangan. Dan itu membuat Rara tersenyum, turut bahagia.



-----



"Gak mau ke kantin? Nyari kesenangan gitu" Tawar Kito.



Saat ini mereka tengah berkumpul di Rooftoop, mencari udara segar. Sekalian Akram ingin merokok agar guru tidak mengetahuinya.



"Kali ini gue ngasih kesempatan cewek itu bebas. Jadi jangan ada yang berani menyentuhnya" Akram membuang putung rokoknya yang sudah tidak bisa di hisap lagi. Mengabaikan tatapan bingung teman-temanya.



"Kemarin dia nolongin gue pass di keroyok"Akram menjelaskan. Mencoba menjawab kebingungan teman-temannya.



"Pantesan muka lo lebam. Siapa lagi yang ngeroyokin lo?" Seli bertanya.



"Fardi sama teman-temannya"Jawab Akram santai. Dia mengambil satu Batang rokok lagi lalu membakarnya dengan api. Setelah itu kembali mengisapnya.




"Kita bakalan bales dia"



"Tentu"



---------



Kali ini Akram kembali mendapatkan nilai seratus atas tugas yang di berikan guru. Dan lagi-lagi Akram mendapat pujian, tentu itu menjadi kesenangan sendiri bagi Akram.



Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Akram yang baru saja ingin keluar dari kelas di tahan oleh panggilan Cyka.



"Apa?"



"Lo percaya kalau Clara nyelamatin lo tulus?" Pertanyaan yang sedari tadi ingin di ajukan oleh Cyka, sejak di Rooftop tadi, Cyka khawatir jika saja Akram luluh pada cewek tersebut. Apalagi sampai timbul Cinta? Big no!



"Lo cemburu?"Akram asal bertanya. Cyka gugup, kenapa Akram tiba-tiba menanyakan hal itu? Apa Akram tau perasaan Cyka terhadapnya?



"Haha. Lo lucu banget sih"



"Gue serius Akram"



"Gue gak tau. Tapi kemarin Clara benar-benar nolongin gue, gue gak tau dia tulus atau enggaknya"



"Siapa tau kan, itu cuman akal-akalan dia doang biar lo luluh sama dia" Entah niat apa yang tersirat di dalam hati Cyka. Yang jelas dia mempunyai firasat buruk, firasat bahwa suatu saat nanti Akram bakalan jatuh Cinta pada Clara. Entah dari mana datangnya firasat itu, datangnya tiba-tiba.



"Mungkin. Tapi, tenang aja gue gak bakalan pernah luluh sama cewek itu"



"Cinta? Bisa saja kan?"Pertanyaan tersebut keluar secara refleks dari mulut Cyka, ia langsung di lempar tatapan tajam oleh Akram.



"Gak akan. Gue gak bakalan pernah suka sama cewek itu"



Saat mendengar ucapan Akram, suasana hati Cyka menjadi lega.



--------



Seperti ajakan Citra tadi, saat ini Rara berada di rumah paman Citra. Dan Fikra juga ikut, dia tidak ikut latihan, sepertinya cowok itu sudah ahli dalam bidang karate. Fikra hanya menonton saja saat paman Arman mengajarkan berbagai macam gerakan pada Rara.



Rara juga terlihat serius mempelajarinya, Citra juga hanya menonton saja. Sebab gerakan yang di ajarkan pada Rara sudah pernah di lakukan oleh Citra.



Satu jam berlalu, setelah Rara di ajarkan berbagai macam gerakan, paman Arman memerintahkan Rara agar melawan Fikra menggunakan gerakan yang telah di ajarkannya. Fikra hendak menolak, takutnya Rara malah terluka, tapi paman Arman tetap bersikukuh agar Fikra menuruti kemauannya. Karna itu Fikra pasrah.



Fikra sudah tiba di hadapan Rara. Kali ini Rara tidak menggunakan kacamata, rambutnya di kuncir satu.



Rara sudah mulai menendang, tapi Fikra menghindar. Rara hendak memukul, lagi-lagi gak kena, yang pasti Fikra hanya menghindar terus tampa adanya perlawanan.



"Gak asik. Lo gak ngelawan" Rara jengkel.



"Gue takut lo malah terluka"



"Emang kenapa? Lo khawatir"



"Gue gak berani ngelawan cewek" Fikra beralasan.



"alasan, gue yang cewek aja selalu lo lawan" Citra menyahut, langsung di tatap sinis oleh Fikra.



Fikra membuang nafas"oke, terserah lo"



Fikra mulai menendang secara tiba-tiba. Ia berharap Rara bisa menghindarinya, tapi nyatanya yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang Fikra harapkan. Rara terkena tendangan, dan itu membuat Fikra panik. Tubuh Rara tertendang kebelakang, untungnya Fikra dengan cepat menangkapnya sehingga tubuh Rara tidak menyentuh kerasnya tanah.



Cekrek



"CITRA!"



-------



Jam tujuh malam Rara baru pulang dari rumah paman Citra. Tadi dia sempat ketiduran sampai jam enam, dan dia baru pulang setelah jam tujuh.



Rara masuk rumah dan sudah mendapati ayah serta ibunya tengah menonton televisi bersama.



"Kamu dari mana aja Rara?"Tanya Fitri, dia langsung menghampiri anaknya. Memastikan bahwa keadaan anaknya baik-baik saja.



"Dari rumah temen, di ajak latihan karate"



"Ber---"



"Gak di bayar kok"



Fitri tersenyum. Dia suka jika Rara berniat untuk latihan karate, jadi Rara bisa membela dirinya jika saja penjahat atau preman mengganggunya.



"Gol! Mah bolanya masuk gawang"Bandi, ayah Rara heboh sendiri saat tim bola kesukaanya berhasil mencetak gol.



Dan yang membuat Rara makin geleng-geleng kepala. Ibunya juka ikutan heboh, Rara sudah tau jika ayah dan ibunya bertemu hanya karna saat itu menonton pertandingan bola, dan mereka berdua mendukung tim yang sama.



Setiap hari mereka berdua bertemu, dan hanya membahas tentang bola saja. Sampai akhirnya Bandi melamar Fitri karna makin hari perasaan Bandi untuk Fitri muncul. Hingga mereka berdua menikah, dan lahirlah Rara. Mungkin Rara harus berterima kasih kepada orang yang mengadakan pertandingan bola tersebut karna telah mempertemukan ayah dan ibunya.



"GOL lagi! Yeay"



Rara tertawa melihat ke dua orangtuanya, benar-benar kekanakan.



"Dasar ABG"