
Saat ini Rara dan Citra berada di Kantin. Sebenarnya Rara membawa bekal, tetapi tiba-tiba Citra datang ke kelasnya dan mengajaknya ke kantin, maka dari itu Rara membawa bekalnya dan memilih memakannya di kantin saja.
Ritual makan Rara terganggu atas kedatangan dua orang cewek yang tiba-tiba menggebrak meja Rara dan juga Citra.
Citra menatap tajam Cyka dan Seli begitupun sebaliknya. Sedangkan Rara tetap santai dan melanjutkan ritual makannya, menganggap seakan Cyka dan Seli adalah makhluk tak kasat mata.
"Woe cewek culun!"Bentak Cyka, dia langsung melempar bekal Rara sampai jatuh ke lantai. Rara masih terus sabar.
"Apa-apaansih, kak"Citra emosi.
"Apa? Lo mau juga"Seli ikut membentak.
Rara berdiri, langsung menggandeng tangan Citra untuk-agar keluar dari kantin. Namun rambutnya yang terasa lengket akibat Cyka yang tiba-tiba menyiramnya dengan juz alpukat menghentikan langkah Rara. Citra membulatkan mulutnya, terkejut.
"Udah mulai berani yah lo?!"
Rara mengepalkan tangannya, selama ini ia sudah menahan kesabaran setengah mati. Menuruti apa kemauan mereka, menerima apa yang mereka lakukan, tapi kali ini mereka sudah keterlaluan.
"Mau kalian apa?"Tanya Rara pelan. Tidak ingin dulu membuat emosi Cyka dan Seli naik.
"Cih, pake nanya lagi"
"Beliin gue minum. Pake. Uang. Lo!"Perintah Cyka.
"Gak"
"Lo ngelawan yah!"Bentak Seli, telapak tangannya akan menampar pipi Rara jika saja Rara tidak menahannya.
"Jangan buat gue jadi orang jahat"Sinis Rara, tangan Seli di cekal kuat membuat si empunya meringis.
"Shh"
Rara membuang kasar tangan Seli lalu setelahnya keluar kantin, mengabaikan tatapan para murid yang menatapnya terkejut, mungkin baru melihat sosok Rara yang seperti sekarang.
-------
Mungkin sudah rutinitasnya setiap pulang sekolah, jika tidak mampir untuk latihan karate, maka Rara akan mampir ke rumah Citra, itu pun Citra yang selalu mengajaknya.
"Jadi ngikutin saran gue, nih"ucapan Citra sama sekali tidak menghentikan aktivitas Rara yang sedang memasak mie instan.
"Tapi kenapa kak Rara gak tonjok aja, tadi gue geram banget"Rara menghiruakan ocehan Citra. Mie instan yang sudah matang di pindahkan Rara pada mangkok yang sudah tersedia di atas meja.
"Loh, kita kan cuman berdua? Kenapa mangkoknya ada tiga?"Tanya Citra saat melihat ada tiga mangkok yang tersedia di atas meja.
"Buat Fikra"Jawab Rara.
Citra menatap Rara, sambil tersenyum jail. Rara tentu menyadarinya, cuman dia tidak peduli. Citra selalu seperti ini, sering gak jelas.
Tepat saat Rara dan Citra sudah duduk di kursi, Fikra turun dari atas dalam keadaan rambut yang basah, mungkin habis mandi.
"Mau makan mie gak bang?"Tawar Citra.
"Enggak"
"Padahal udah di bikinin sama kak Rara"Ucap Citra, Fikra yang tadinya menolak kini berubah pikiran. Dia ikut duduk di samping Rara, melahap mie yang memang di siapkan untuknya.
"Katanya gak mau"Sindir Rara dan langsung di tatap sinis oleh Fikra.
"Bilang aja suka"Gumam Citra, Rara tidak terlalu jelas mendengarnya, tetapi Fikra mendengarnya dengan jelas.
"Ngomong apa tadi?"
"Bener, kan?"Citra menaik-naikkan kedua alisnya.
"Diem"
"Ahaha, tuh kan"
Rara yang memang tidak mengerti dengan apa yang ke dua saudara ini bahas, hanya diam saja.
--------
Di rumah Akram, ada Kito dan teman-temannya yang berasal dari sekolah lain. Akram yang mengajak mereka, katanya ada yang ingin di bahas mengenai ucapan Ferdi kemarin saat menelponnya.
"Ferdi ngancem gue"Ungkap Akram.
"Sialan tuh anak, maunya apa sih?"Rijal emosi.
"Cewek yang mana?"Tanya Kito, karna setaunya Akram tidak pernah dekat dengan cewek mana pun, selain dengan Cyka dan Seli.
"Lo inget kan, gue pernah cerita kalau Clara pernah nolongin gue dari kroyokan Ferdi. Karna itu mereka ngira kalau Clara pacar gue"
"Jadi maksud lo, dia bakalan nyakitin Clara?"Tanya Kito lagi.
Rijal, Sandi, dan Alex menatap bingung pada mereka berdua. Cewek yang mereka berdua bahas membuat pertanyaan muncul di kepala mereka. Clara siapa?
"Clara siapa?"Akhirnya Sandi bertanya.
"Cewek yang sering kita bully di sekolahan"Jawab Akram.
"Gila! Lo bully cewek? " Tanya Alex kaget, dia baru tau kelakuan Akram di sekolah adalah membully cewek, benar-benar gila.
"Inget, lo itu cowok, dengan nyakitin cewek sama aja lo nunjukin sikap BANCI lo!"Lanjutnya.
"JANGAN SEKARANG. GUE LAGI PUSING!"Teriak Akram, yang dia pikirkan sekarang adalah Clara, cewek culun yang selalu dia bully di sekolah. Kenapa Clara harus di jadikan korban dari masalah pribadinya dengan Ferdi.
Drtt
Ponsel Akram berbunyi, membuatnya harus segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, sel?"
"Ram, Cyka di culik sama Ferdi"
"Lo di mana sekarang?"
"Gue lagi di mobil"
"Lo pulang aja, jangan ke mana-mana. Biar gue yang urus"
"Ok"
Panggilan di putus secara sepihak, Akram mengusap wajahnya. Ancaman Ferdi benar-benar terjadi, dan target pertamanya adalah Cyka.
"Ke markas Ferdi sekarang! Cyka di culik"
--------
Sepulang dari mini market, tiba-tiba sebuah mobil hitam melintas di depannya. Rara kaget karna kecepatan mobil itu secepat kilat.
"Clara!! Tolo---aaa"suara tersebut berasal dari mobil tersebut. Rara kaget, karna seseorang tersebut menyebut namanya.
"Kayak suaranya Cyka"Tebak Rara.
"Jangan-jangan tadi itu..."Rara mulai tidak tenang, dengan cepat dia memberhentikan sebuah taksi lalu masuk ke dalam taksi tersebut. Meminta supir taksi agar mengikuti mobil hitam yang sudah berada jauh darinya.
Rara meminta supirnya agar menambah kecepatan mobilnya. Hingga kini mobil hitam tersebut berhenti, Rara mengintip lewat kaca mobil. Dia terkejut saat seorang gadis keluar dan di paksa masuk ke dalam sebuah bangunan tua.
"Itu beneran Cyka"
Rara memberikan uang rupiah kepada sopir taksi. Lalu segera menyusul masuk ke dalam.
Dia bersembunyi di belakang tembok, lalu mengintip ke dalam. Ada dua orang yang berjaga, badannya besar-besar. Rara harus memancing mereka berdua agar bisa masuk, tapi caranya bagaimana.
"Hay"Rara memunculkan badannya, tersenyum manis pada dua orang bertubuh besar.
"Siapa lo?!ngapain lo di sini?"Bentak salah satu di antara mereka.
"Mau nyelamatin cewek yang kalian bawa itu"
"Tangkap dia"
Rara berlari keluar, di ikuti oleh dua pria itu. Rara melawannya sendiri, mengeluarkan kemampuan karatenya yang di ajarkan oleh paman Arman.
Saat melihat dua pria itu kewalahan, Rara segera berlari menuju sebuah ruangan, berniat untuk memancing dua pria itu. Saat di rasa dua pria itu sudah masuk dalam pancingannya, Rara segera mengunci ruangan tersebut, mengurung dua orang itu di dalam.
Rara kembali masuk ke dalam bangunan, mengintip lewat cela-cela di mana di sana ada Cyka di ikat di sebuah kursi. Tiba-tiba sebuah tangan besar membekap mulut Rara, membawa Rara keluar dari gedung.
"Ngapain lo di sini?!"Tanya orang itu.
------