I love My bully girl

I love My bully girl
Salah sangka



"Ngapain lo di sini?"Tanya Akram.



Di sini, Rara melihat lima orang pria. Akram, Kito dan tiga orang lagi tidak di ketahui oleh Rara.



"Cyka di dalem, dia di iket"Jawab Rara, nafasnya tersengal-sengal. Wajahnya nampak khawatir.



"Lo Clara?"Tanya Alex. Rara mengangguk kaku, dia sama sekali tidak mengenal cowok yang kini sedang mengajaknya bicara.



"Lo bully cewek sebaik dia?"Alex bertanya, tatapannya tidak bersahabat. Kito yang melihatnya langsung menenangkan Alex yang memang memiliki sifat gampang emosian.



"Pikirin Cyka dulu, dia masih ada di dalem kalau lo lupa"Ucap Kito yang akhirnya bernafas lega sebab Alex masih mau mendengarnya.



"Dan lo Clara, mending lo balik"Perintah Kito.



"Gue punya kemampuan bela diri, jadi gue bisa bantuin kalian"Bujuk Rara.



"dengan lo di sini, lo malah bikin kita-kita nambah repot tau enggak!"Rara spontan menutup matanya saat Akram tiba-tiba membentaknya.



"Gue anterin lo pulang"Ucap Alex, menggandeng tangan Rara menuju motornya. Rara hanya menurut saja, membiarkan Alex mengantarnya pulang.


Akram menatap kepergian Rara Dan Alex, sampai motor Alex mulai hilang dari pandangannya. Mengingat perbuatannya selama ini pada Rara, Akram tidak habis fikir kenapa Rara masih saja ingin menolongnya, bahkan Rara nekat menolong Cyka yang bahkan hampir setiap hari menyiksanya.



"TOLONG--AAA"Suara teriakan dari dalam menyadarkan Akram dari lamunannya. Dia langsung berlari masuk, di ikuti teman-temannya.



Akram mengintip lewat jendela, benar perkataan Rara tadi. Di dalam sana Cyka di ikat dan mulutnya di perban, ada lima orang yang mengawasi.



"Di belakang Cyka ada jendela. Sandi, Rijal lo ke jendela sana. Gue sama Kito aja yang kelabui mereka"Perintah Akram.



"Baik"



--------



Cyka menatap tajam satu persatu pria yang ada di depannya, dan yang paling di bencinya adalah Ferdi, cowok kejam dengan sejuta dendam yang tertanam dalam dirinya untuk Akram.



"Kenapa? Lo marah?"Tanya Ferdi, dia tersenyum. Cyka yakin bahwa senyumannya Itu tidak tulus.



"Lepasin gue. Mau lo apasih?"



"Mau gue? Mau gue liat Akram menderita. Gara-gara dia, gue kehilangan orang paling berarti di hidup gue"



Cyka tidak meresponnya, dia harus mencari cara agar lepas dari kurungan Ferdi.



"TOLONG-mphh"Baru berteriak, mulut Cyka sudah di perban. Tidak tau lagi harus melakukan cara apa? Mulutnya saja sudah di perban, bagaimana caranya bisa teriak.



Ferdi mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya, mencari kontak seseorang lalu menelponnya.



Drtt



Suara deringan ponsel terdengar di telinga Ferdi, keningnya mengernyit. Lagi, Ferdi menelpon dan suara deringan ponsel kembali terdengar.



"Akram-Akram. Rupanya lo udah dateng. Keluar lo sekarang!"



Cyka yang mendengar nama Akram di sebut langsung memberontak, membuat kursi yang di dudukinya ikut bergoyang.



"Lo bisa diem!!"Ferdi membentak, dan Cyka terpaksa diam.



Dari arah pintu, sosok Akram keluar. Tatapannya setajam semurai, di belakangnya ada Kito.



Tatapan Akram fokus ke arah Sandi dan Rijal yang sudah berada di jendela belakang Cyka. Perlahan Sandi membuka jendelanya, lalu memukul empat orang cowok yang dari tadi berada di sisi Cyka sampai kehabisan tenaga.



Ferdi terkejut, dia pikir Akram datang hanya bersama Kito saja. Rupanya dia membawa dua orang lagi.



"Lumayan juga"ucap Ferdi. Entah ucapannya berniat memuji atau meremehkan.



Sandi dan Rijal segera membuka ikatan dari tubuh Cyka. Ferdi hanya diam menyaksikannya, dia sudah menyiapkan perangkap untuk Akram dan teman-temannya.



Akram, Kito, Sandi dan Rijal membawa Cyka keluar. Akram berumpat kesal, saat menemukan segerombolan cowok mengepungnya. Akram meyerahkan Cyka pada Kito, menyuruh Kito agar mengamankan Cyka.



Akram, Rijal dan Sandi yang akan melawan. Namun baru akan melawan, suara mobil polisi terdengar. Di belakang mobil polisi itu terdapat motor yang di tunggangi Alex dan Rara. Rara turun dari motor, begitu pun Alex. Mereka berdua mengikuti langkah polisi.



Ferdi langsung lari saat melihat lima orang polisi mengepung markasnya. Tujuh orang anak buahnya di tahan polisi.



"Rara yang maksa gue buat bawa polisi. Katanya tadi dia liat, anak buah Ferdi ada banyak"Jawab Alex, memecahkan kebingungan Akram.



Akram menatap ke arah Rara. Cowok ini menghampirinya, semakin mendekat hingga membuat Rara ikutan mundur.



"Lo kenapa baik banget?"



"Ini bukan siasat lo kan?"



"Hah?"Rara bingung. Apa maksud dari perkataan Akram?



------



Hening. Satu kata yang menggambarkan suasana antara Rara dan Akram. Tadi, saat Rara di landa kebingungan atas perkataan Akram yang tidak jelas, Akram langsung menariknya. Memaksa Rara naik di atas motornya.



Sudah sepuluh menit mereka berkeliling-keliling. Rara saja bingung, ke mana Akram akan membawanya pergi. Angin malam benar-benar membuat Rara kedinginan, apalagi kecepatan motor Akram lumayan cepat.



"Em.. Kita udah lima kali lewat jalan ini"Ungkap Rara, Akram menghiraukannya. Itu membuat Rara mendengus kesal.



"Gue mau pulang Akram.."Rara mengucapkannya dengan nada manja. Dan itu secara tidak sadar. Entah bagaimana ekspresi Akram sekarang, Rara tidak mengetahuinya sebab helm yang di pakai Akram itu full face.




"Emang lo tau di mana rumah gue?"Rara bertanya. Ia dapat melihat dari kaca spion, bahwa Akram menggeleng. Berarti tidak tau. Rara memutar bola matanya, Akram melihatnya. Tidak ada yang mengetahui bahwa sekarang ini Akram sedang menahan tawanya.



"Makanya kasi tau gue"



"Jalan anggrek, no. 21"



Tidak ada lagi yang bersuara, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. hingga di lampu merah, Akram tiba-tiba menge-rem mendadak motornya, membuat kepala Rara terbentur helm.



"Aww, hati-hati dong"Jengkel Rara. Dia mengusap-ngusap keningnya, agar rasa sakitnya bisa hilang.



"Makanya, pegangan"



"Di mana? Di pundak"Tanya Rara. Dia menaruh ke dua telapak tangannya di atas bahu Akram. Akram langsung menyingkirkannya.



"Lo pikir gue tukang ojek!"



"Yang bilang lo tukang ojek juga siapa?"



"Pegangannya di pinggang gue, bukan di bahu gue"



"Lo mau modus?"



"Siapa juga yang mau modus!"



Pip pip



Suara klakson dari belakang menghentikan perdebatan mereka. Ke duanya menoleh ke belakang, banyak pengendara lain yang mengomel sebab motor Akram belum juga jalan padahal lampu sudah berubah hijau.



Akram yang menyadarinya segera menjalankan motornya. Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sudah sampai di rumah Rara.



Rara turun dari motor, tampa berpamitan pada Akram. Akram pun begitu, saat Rara turun dari motornya dia langsung pergi tampa mengatakan sepatah kata pun, pada Rara.



--------



Setelah motornya sudah masuk ke dalam bagasi. Akram turun dari motor, melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.



Di ruang tamu, ada ayah Akram sedang menonton. Akram menghampirinya, menyalimi tangan Bimo.



"Dari mana?" Tanya Bimo.



"Dari nyelamatin temen Akram pa, tadi dia di culik"



"Siapa yang nyulik dia?"



"Ferdi"



"Anak itu. Masih aja buat ulah"Bimo memijat pelipisnya. Kelakuan Ferdi masih saja belum berubah.



"Aku ke kamar dulu"Pamit Akram.



"Iya, sana kamu istirahat. Udah makan kan?"



"Udah"



Bimo mengangguk. Menyuruh Akram Untuk istirahat.



---------



Akram berdiri di balkon kamar, menatap langit malam. Menikmati serpihan angin yang menerpa wajahnya. Akram tiba-tiba teringat kejadian di motor tadi bersama Rara. Baru tadi dia dan Rara bisa berbicara dengan Akrab. Bahkan perdebatan kecil pun terjadi.



Biasanya Akram tidak suka dengan orang yang sok dekat dengannya. Apalagi sok kenal. Tapi saat berbicara dengan Rara tadi, Akram merasa sudah dekat dengan Rara. Dia juga tidak tau kenapa. Apa mungkin karna Rara tetap baik meskipun sering di siksa olehnya?



Sudut bibir Akram melengkung ke atas, perdebatan kecilnya dengan Rara tadi terngiang di telinganya.



Apa Akram sudah luluh pada gadis itu? Atau Rara memang sudah merencanakannya dari awal untuk membuat Akram luluh padanya?



Akram masuk kembali ke kamarnya. Kenapa dia jadi memikirkan Rara.



"Inget, lo itu cowok, dengan nyakitin cewek sama aja lo nunjukin sikap BANCI lo!"



Tiba-tiba Akram teringat perkataan Alex padanya.



"Lo bully cewek sebaik dia?



Akram membalikkan tubuhnya ke samping. Perkataan Alex benar-benar membuatnya merasa... Entahlah. Semacam rasa khawatir dan.. Rasa bersalah.


.


.


.


.



jangan lupa favorit yah!


dan jangan lupa tekan suka


oke?next or no?



di komenyah:)