I love My bully girl

I love My bully girl
Rara pingsan



Jam menunjukan pukul 08:00 malam. Seusai mandi, Rara langsung membaringkan tubuhnya. Seluruh badannya serasa pegal,mungkin efek saat latihan karate tadi.



Rara membuka Novel yang baru bisa di belinya tadi, saat Fikra mengantar nya pulang. Membaca sinopsisnya yang terlihat sedikit berbeda dari versi watpaad nya.



Sinopsis dalam novel itu mengingatkan Rara pada Akram, Bedanya, kisah dalam novel tersebut berakhir pada si pria yang jatuh Cinta pada si wanita.



Ngomong-ngomong tentang Akram. Rara tersadar, kalau di sekolah matanya tidak pernah melihat sosok Akram, baik itu di kantin maupun di tempat lain. Tumben, biasanya Akram datang ke kantin hanya sekedar menyiksa Rara.



Rara menggeleng. Tidak ada gunanya memikirkan hal yang tidak penting sama sekali.



Aktifitas membaca yang di lakukannya, membuat kelopak mata Rara berat dan akhirnya tertutup. Bukunya jatuh dari tangannya, tergeletak di lantai.



Baru beberapa detik kelopak matanya tertutup, suara dengkuran halus sudah terdengar dari bibir Rara. Sepertinya dia benar-benar kelelahan.



--------



Segerombolan cowok dengan jaket serba hitam, berkumpul di sebuah tempat di mana satu bulan ini menjadi markas tetap mereka. Pembahasan mereka terlihat serius.



"Dia udah gak ada. Jadi gak usah di pikirin" usul salah satu temannya. Ferdi mengacak rambutnya frustasi, dendammnya masih belum tuntas.



"Dan ini semua gara-gara Akram"Nada suaranya terdengar emosi, mengingat kematian gadis yang dari tadi fotonya selalu dia tatap lewat ponselnya, menumbuhkan dendam yang semakin besar dalam dirinya.



"Tenang aja, kita bakalan bantuin lo"Temannya mencoba menenangkan.



"Caranya?"



"Orang terdekatnya, orang yang sangat berarti dalam hidupnya"



Ferdi berdiri, dia tersenyum sinis. Paham maksud temannya.



"Gue ngerti maksud lo"



-------





Lagi dan lagi, penyiksaan terhadap Rara kembali di lakukan oleh Akram. Kali ini bukan dengan menyiramnya sesuatu atau hal yang membuat fisik Rara kesakitan, tetapi dengan menjadikan Rara sebagai babu.



Rara sampai di hukum gara-gara di suruh oleh Akram membeli minuman dan minumannya harus di beli di luar sekolah. Jadi Rara terpaksa manjat pagar, namun dia kepergok ketua osis dan dia di bawa ke ruang BK.



Dan Rara berakhir di bawa tiang bendera, merasakan sensasi panas yang menjalar di tubuhnya. Matahari begitu terik, apalagi siang-siang begini.



Hanya Akram seorang di sini, teman-temannya dia perintahkan masuk kelas saja. Dia tertawa mengejek, tertawa di atas penderitaan Rara, padahal hukuman ini di sebabkan karnanya.



Niat awal Akram memang ini, ingin melihat Rara di hukum. Akram tidak tau kenapa dia sangat senang membuat Rara menderita, dan itu sama sekali tidak membuatnya bosan. Padahal selama ini, Akram selalu gonta-ganti target, tapi kali ini tidak.



Rara harus tahan. Sebentar lagi bel pulang bunyi, keringat sudah bercucuran di pelipisnya, panas sekali.



Mata Rara tiba-tiba berkunang-kunang, perut dan kepalanya sakit. Hingga tiba-tiba tubuhnya jatuh ambruk di tanah.



Akram melihatnya, meskipun sempat kaget tapi setelah itu ekspresinya kembali santai. Dia hendak berdiri dan pergi, tapi tidak jadi.



"Jahat banget dong gue ninggalin dia"



Akram celingak-celinguk, tidak ada orang selain dirinya dan Rara,bahkan koridor pun sepi. Akram juga sedikit tidak tega membiarkan Rara tergeletak pingsan di tanah.



"Ribet!"



Akram menggendong gadis itu menuju ruang UKS, membaringkannya di ranjang.



"Ini petugas UKS pada ke mana sih?!"



"Minyak anginnya di taro di mana lagi?"



"Ribet amat, nih cewek"



Akram keluar dari UKS, berhenti di ambang pintu. Matanya menangkap sosok gadis yang berjalan di koridor, Akram segera meneriakinya, membuat gadis tersebut menoleh.



"Gue kak?"Tanya gadis itu, yang rupanya Citra.



"Lo temennya cewek itu kan?"Akram bertanya, Citra menoleh ke arah cewek yang di maksud Akram. Tampa menjawabnya, Citra berjalan cepat menghampiri Rara.



"Lo apain dia lagi? Memangnya lo gak bosan ngusik hidup orang lain?"Citra emosi, melihat keadaan Rara yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, membuat Citra berpikir bahwa pelakunya pasti Akram.



"Gak, kalau orang lainnya dia"Jawab Akram, Citra menggeram kesal.



"Dasar gak punya hati, iblis"Umpatnya kesal. Akram mengacuhkannya, dia pergi dari ruang UKS, tidak mempedulikan teriakan umpatan Citra.



------



Rara tampak mengerjapkan matanya saat hidungnya di olesi minyak kayu putih. Perlahan dia bangun sambil memegang pelipisnya yang masih terasa sedikit pusing.



"Udah bel pulang?"Tanya Rara pada Citra.



"Udah dari tadi"Jawab Citra"ini tas kakak, tadi abang Fikra yang bawain"Citra menyodorkan tas ransel milik Rara kepada pemiliknya.



"Makasih"kata Rara, Citra hanya tersenyum simpul.



"Pulangnya bareng gue aja yah?sama kak Fikra juga"Tawar Citra. Rara menatap jam dinding UKS yang menunjukkan pukul tiga sore.



"Oke"



--------




"Kak Akram masih sering nyiksa kak Rara?" Tanya Citra. Lewat eskpresi wajah Rara, Citra sudah pasti mengetahui jawabannya.



"Kenapa gak di lawan? Lo kan udah lumayan ahli dalam bela diri"Benar kata Citra, setelah dua hari latihan, Rara sudah sedikit mengetahui gerakan-gerakan bela diri.



"Lo tau sendiri kan, Akram itu anak kepala sekolah. Dia bisa aja ngeluarin gue dari sekolah"Jawab Rara, sambil meneguk juz jeruk yang barusan di hidangkan oleh pembantu rumah Citra.



"Yang kepala sekolah kan bapaknya, bukan kak Akram"Benar juga ucapan Citra. Kalau pun Akram memintanya, kepala sekolah gak mungkin mengeluarkan Rara jika tidak memiliki pelanggaran.



"Mulai besok, kalau masih di usik sama kak Akram, kak Rara harus ngelawan. Biar kak Akram gak ngelunjak"Citra menyarani. Rara hanya diam, lebih tepatnya tidak bisa membalas ucapan Citra yang menurutnya memang benar.



"Udah jam tujuh, gue pulang dulu"Pamit Rara. Citra mengangguk, mengantar Rara turun sampai ke gerbang.



"Bang Fikranya lagi gak ada, jadi gak bisa nganterin kak Rara"



"Gak pa-pa"Setelah berpamitan. Citra kembali masuk, dan Rara berjalan kaki menuju jalan raya untuk mencari taksi.



Syut



Rara menoleh ke belakang saat merasa ada yang melintas di belakangnya. Rara tetap tenang, mungkin itu cuman perasaannya saja.



Lagi dan lagi Rara merasa ada yang mengikutinya, Rara menoleh ke belakang memeriksanya, tidak ada orang di sana. Rara mempercepat langkahnya, tepat saat itu juga ia melihat sosok Fikra berlari ke arahnya.



"Woe, jangan lari lo!"Teriak Fikra. Dia berhenti tepat di samping Rara.



Fikra tiba-tiba panik dan bertanya soal keadaan Rara, tentu Rara heran. Ada apa dengan Fikra.



"Lo gak pa-pa, kan?"



"Emang gue kenapa?"



"Tadi di belakang lo ada cowok pake jaket hitam, tapi pas gue teriak dia langsung lari"



"Hah!"Pantas saja dari tadi Rara merasa ada seseorang yang mengikutinya. Tapi cowok yang di maksud Fikra itu siapa? Kenapa cowok itu mengikuti Rara, apa maksud dan niat cowok itu sebenarnya pada Rara.



Rara benar-benar tidak mengerti.



"Gue anterin lo pulang!"Perintah Fikra, dia langsung menggandeng tangan Rara menuju mobilnya yang tidak berada jauh darinya.



Rara masuk ke dalam mobil, begitupun dengan Fikra. Fikra mulai mengendarai mobil dan membawanya menuju rumah Rara.



--------



Tepat saat Akram keluar dari kamar mandi, ponselnya yang berada di atas kasur berdering. Akram meraihnya dan menatap nama si pemanggil.



"Gak penting"Akram menolak panggilannya, tapi ponselnya kembali berdering dengan nama panggilan yang sama. Akram terpaksa mengangkatnya.



"Apa kabar, bro"



"Gak usah banyak bacot, maksud lo apa nelpon gue?!"



"Santai, kita PDKT dulu"



"Gue matiin"



"Ettt, jangan dulu. Lo perlu dengerin omongan gue"Ada jeda sedikit dari kalimatnya " lo bakalan kehilangan orang yang berarti dalam hidup lo"



Akram menyimak ucapan Ferdi, mencoba memahami maksud dari ucapannya.



"Pertama temen-temen lo, setelahnya pacar lo"



"Lo jangan macem-macem sama gue. Maksud lo apa tadi? Pacar?"



"Haha. Cewek yang nolongin lo dari gue, siapa lagi kalau bukan pacar lo"



"Lo ngomong apaan anj*ng?"



"Gue bakalan rebut satu persatu orang yang berarti dalam hidup lo, seperti lo ngerebut Tania dari gue. Camkan itu!"



"Maksud lo ap-"



Tut.



"Woe, akhh sialan"



"Ngapain si cewek culun itu di bawa-bawa?"



"******* emang si Ferdi"


.


.


.



jangan lupa tekan suka dan favorit yah,karna itu salah satu cara agar aku tetap semangat! oke?



next gk nih?